Nadira (yang terlupakan)

Nadira (yang terlupakan)
*


__ADS_3

Tok tok tok...


pintu kamar Bagus di ketuk dari luar tapi Bagus malas untuk membukanya,


sebenarnya setelah kejadian waktu itu Anjani sedikit mengindari Bagus,itu membuat ia tak bersemangat menjalani hari-harinya,


"bang ini gue" suara Bagas terdengar dari luar


"gue masuk ya bang" tanpa menunggu persetujuan dari kakanya ia membuka pintu dan masuk begitu saja,


"ngapain ngetuk pintu kalau ujung-ujungnya langsung masuk" ucap Bagus kesal


"hehe lagian lu gak nyautin gue jadi ya udah gue masuk aja" ucapnya tanpa rasa bersalah, memang dasar Bagas orangnya seperti itu jadi Bagus hanya membiarkannya saja,


hening setelahnya, Bagus melihat kakaknya seperti tidak mempunyai gairah untuk hidup


"gue udah tau masalah lo sama Anjani bang,tadi bi Siti bilang ke gue kalau Anjani juga sama kayak lo, kayak gak punya gairah untuk hidup lagi"


"kalau lo emang serius sama Anjani ya perjuangin dong bang bukan malah diam kayak gini aja,ngerem aja di kamar,emang dapet solusinya setelah bersemedi di kamar ini?" kejahilan Bagas melihat kakaknya seperti itu,


"gue harus gimana Gas?

__ADS_1


Anjani menghindar dari gue,mau ngomong pun susah di tambah mamah masih kekeh enggak ngrestuin gue sama Jani,


gue harus gimana Gas?" menyugar rambutnya kebelakang,dia stres dengan masalahnya itu


"ah ela lu bang, belajar bertahun-tahun lo gak pernah setres tapi baru masalah gini aja lo udah kayak orang frustasi" ejek Bagas melihat reaksi kakaknya


Bagus menatap tajam adiknya itu yang terus-menerus mengejeknya dari tadi


" buat apa lo kesini kalau cuma mau mau ngejek gue,mending lo pergi deh pusing gue tambah ada lo tambah pusing gue" melemparkan bantal ke Bagas namun bisa di tangkap oleh Bagas sebelum mengenai tubuhnya


"lo mau dengerin saran dari gue gak?"


Bagus memicingkan kan matanya takut yang ada malah adiknya itu mengejeknya lagi


"hmm apa? awas lo ya kalau saran dari lo malah bikin gue tambah pusing" ancam Bagus karena biasanya ide Bagus selalu konyol,


"dih orang mau di kasih saran malah ngancem" elak Bagas yag langsung mendapat sorotan tajam dari kakaknya


"iya iya tu mata ampe mau keluar bang hehe"


"gini menurut gue lo harus lebih ngeyakinin mamah kalau Anjani itu yang terbaik buat lo bang, kalau perlu minta bantuan papah, kayaknya mamah nurut kalau papah yang ngomong bang" ucapnya kemudian duduk di sebelah Bagus

__ADS_1


"tapi kemarin juga papah udah bilang ke mamah kalau aku boleh menikahi Anjani dan mamah gak bisa ngelarang,tapi sampai sekarang mamah belum kasih restu sama gue" ucap Bagus frustasi


"ya coba lagi bang siapa tau kali ini mamah luluh kan kita gak tau dari pada lu ngerem bae di kamer, dapat apa lo? telor hahaha?" ujar Bagas sambil tertawa dan langsung dapet Bogeman dari kakaknya


"yaelah bang gitu aja sewot"


kini Bagus sedikit memikirkan saran dari adiknya,ya memang sejak waktu itu Bagus belum mencoba berbicara serius lagi dengan mamahnya ia terlalui fokus dengan Anjani yang mengindarinya,


"oke lah nanti gue coba,tapi gue boleh minta tolong sama lo?"


"apa? jangan yang macem-macem ya bang,gue gak mau"


"belum juga gue ngomong lo udah gak mau, gimana dih Gas " sungut Bagus emosi


"hahaha oke oke mau minta tolong apa?"


"lo bujuk Anjani ya biar dia gak jauhin gue lagi...tapi lo gak boleh terlalu deket sama Jani" ancam Bagus takut adiknya malah suka sama kekasihnya


"minta tolong pake ngancem,


lagian kalau gue mau sama Jani udah dari awal gue jadiin dia pacar, kan gue dulu yang kenal Jani dari pada elo dodol"

__ADS_1


"ya gue kan cuma jaga-jaga aja siapa tau nanti lo tiba-tiba jadi suka sama jani awas lo ya" lagi-lagi Bagus seperti itu,takut banget ceweknya di embat pikir Bagas,


suasana seketika hening, setelah percakapan tadi larut dalam pikirannya masing-masing, Bagus memikirkan bagaimana cara berbicara dengan mamahnya dan Bagas?? entahlah apa yang dia pikirkan.


__ADS_2