Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Nge-date ramai-ramai


__ADS_3

" Honey, kita jalan-jalan yuk mumpung weekend. " ajak Bryan.


" Jalan-jalan kemana bang? "


" Ya terserah kamu. Kamu maunya jalan-jalan kemana. "


" Mmm....kemana enaknya ya bang??? Kalau ke puncak, bosen. Soalnya Pipit dulu tinggalnya juga di pegunungan. " Pipit nampak berpikir. " Kalau ke pantai gimana bang? Tapi ...kalau ke pantai asyiknya sore. Bisa lihat sunset. "


" Tidak masalah. Nanti kita ke pantai agak sorean. Mumpung kita lagi libur, pagi ini kita nonton dulu aja gimana? Kamu nggak usah bikin sarapan. Seharian ini kita kuliner. " usul Bryan.


" Wissshhhhh...." sahut Pipit sambil mengacungkan dua jempolnya. " Kalau gitu, kuy lah kita capcuss. " lanjutnya.


Pipit berdiri dari duduknya hendak bersiap. " Eh, bang...gimana kalau kita ajak mbak Mell sama bang Seno juga? Kita nge-date ramai-ramai. Asyik banget tuh. " usul Pipit.


" Ramai-ramai? " Bryan sepertinya kurang setuju ide dari istrinya.


" He em. " Jawab Pipit mantap sambil mengangguk. " Kan asyik tuh bang. Pipit juga mau ajakin kak Leora sama bang Dion. Biar mereka makin dekat. " lanjut Pipit.


Bryan menghela nafas panjang. Jika sudah begini, mana mungkin dia bisa menolaknya.


" Oh iya bang. Ajakin bang Rezky juga ah sama kak Ikke. Biar tambah seru. " kembali Pipit mengusulkan. Tanpa menunggu jawaban dari Bryan, Pipit sudah mengambil ponselnya dan menghubungi Leora.


Sedangkan Bryan menyerah, dan dia juga mengambil ponselnya untuk menghubungi Seno.


" Halo...Lo ada acara nggak hari ini? " tanya Bryan dalam panggilannya.


" Nggak. Kenapa emangnya? "


" Ayo kita nge-date ramai-ramai. Bini gue yang ngajakin. " ujar Bryan dengan suara lesu. Dia berharap, Seno menolak untuk nge-date ramai-ramai. Tapi dasar Seno yang usil.


Dalam senyuman seringainya, ia menjawab, " Oke. Kita nge-date ramai-ramai. Gue bilang dulu sama bini gue. " ujar Seno lalu menutup panggilan secara sepihak sebelum mendengar protesan dari Bryan.


" Abang telpon siapa? " tanya Pipit.


" Daddy nya Danique. " jawab Bryan singkat. Ia sepertinya sudah tidak bersemangat.


" Oh. Bang Seno bilang apa? " tanya Pipit.


" Dia bilang oke. "


" Bagus deh. Ini tadi kak Leora juga mau. Mau ngajakin Arvin juga. " sahut Pipit. " Abang udah kasih tahu bang Dion sama bang Rezky? " tanya Pipit selanjutnya.


" Belum. "


" Ya udah, cepetan. Hubungi mereka. " ujar Pipit.

__ADS_1


" Hem. " sahut Bryan. Baru saja ia hendak mendial nomer telpon Dion, ponselnya berbunyi. Ia melihat nama sahabatnya di sana. Di hati, Bryan berharap, Seno akan mengurungkan niatnya untuk ikut.


" Halo. "


" Bro, rencananya mau nge-date kemana? " tanya Seno.


" Bini gue pengen lihat sunset di pantai. "


" Ya udah, kita ke Bali. "


" What? Are you crazy? Kita mana bisa beli tiket dadakan kayak gini? " sahut Bryan.


" Lo lupa gue siapa. Gue ini keturunan Adiguna. Gue bisa usahakan kita berangkat secepatnya hari ini juga. "


" Ya...Ya ..Ya ..gue hampir lupa. Tapi Lo beli tiketnya yang banyak. Bini gue mau ngajakin seluruh kampung. " sahut Bryan.


" Satu kampung? Maksudnya? "


" Dia mau ajakin si Dion, Leora, Arvin, Rezky sama ceweknya juga. " jawab Bryan. " Kenapa nggak sekalian ajak Damar sama istrinya juga. " gerutu Bryan.


" Usul Abang bule boleh juga. Kita ajakin bang Damar sama istrinya juga sekalian. " teriak Pipit.


" Honey, jangan ada-ada deh. Kamu lupa, istrinya si Damar lagi hamil tua. Bentar lagi lahiran. " Bryan menjawab Pipit.


" Lo sekalian dong kasih tahu si Rezky sama Dion. Kalau Leora, tadi udah di telpon sama bini gue. " ujar Bryan.


Panggilan di akhiri.


" Honey, bawa baju ganti. Kita mau ke Bali. " ujar Bryan memberitahu istrinya.


" Apa? Ke Bali bang? " tanya Pipit sambil melongok dari pintu ruang pakaiannya.


" Iya. Seno baru usahain buat tiketnya. "


" Asyyyiiikkkk....Ke Bali...Bali....Bali....Bali....Bali....". ujar Pipit girang.


" Seneng banget. " Bryan tiba-tiba berada di belakang Pipit dan memeluknya dari belakang.


" Banget. " jawab Pipit dengan senyum lebarnya


Cup. Bryan mengecup pundaknya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Bryan melepas pelukannya dan membuka ponselnya.


" Honey, kita harus cepat. Seno udah dapet tiketnya. Satu jam lagi pesawatnya berangkat. Kita harus segera ke bandara. " Bryan memberi tahu. Lalu mereka segera bersiap dan menata baju di dalam koper.


" Lah, kak Leora? Aku belum memberitahu perubahan rencananya bang. " ujar Pipit sambil menepuk jidatnya.

__ADS_1


" Dion udah otw ke rumahnya sekalian jemput. Kita nanti di antar Damar ke bandara. " jawab Bryan lalu menarik kopernya keluar dari dalam kamar.


Tok....tok....tok....


Pintu rumah di ketuk dari luar. Bryan segera membukanya. Ia memang belum mempunyai sekuriti untuk menjaga rumahnya.


" Dok, tuan Seno sudah menunggu di mobil. " ujar Damar memberitahu.


Bryan mengangguk lalu segera mengambil koper dan memanggil sang istri.


" Biar saya yang bawa dok. " ujar Damar mengambil koper dari tangan Bryan.


Bryan mengangguk lalu ia kembali memanggil Pipit.


" Honey, cepetan. " panggil Bryan.


" Iya. " jawab Pipit tergopoh-gopoh. " Bang, ini rumahnya nanti gimana? Belum ketutup semua jendelanya. " tanya Pipit.


" Gampang. Tadi aku udah minta tolong sama pak Min. Kebetulan dia libur hari ini. Jadi aku minta dia kesini, jaga rumah kita. " jawab Bryan lalu ia segera mengamit pinggang Pipit dan mengajaknya berjalan.


Pak min adalah salah sekuriti rumah Seno ya guys.


🧚


🧚


Di dalam pesawat


" Wuahhh.... pesawatnya bagus banget ya. Gimana bang Seno bisa menyewa satu pesawat kayak gini? " tanya Pipit sambil terkagum-kagum.


" Honey, jangan udik begitu. " bisik Bryan karena melihat istrinya yang bersikap seperti tidak pernah melihat pesawat.


" Biarin napa bang ah? Kan Pipit memang baru kali ini lihat pesawat bagus kayak gini. Kemarin pas nyusulin Abang ke Perancis, Pipit naik pesawat penumpang biasa. " sahut Pipit dengan cueknya. Membuat Bryan geleng-geleng kepala.


" Ini namanya jet pribadi, honey. Seno tadi pinjam punya relasi bisnisnya yang dari London. Kebetulan rekan bisnisnya itu pas datang kesini habis buat kerjasama baru dengan Adiguna group, dan mereka sekalian berlibur di sini. Jadi Seno meminjam dulu jet pribadi mereka. "


Pipit manggut-manggut mendengar penjelasan dari suaminya. Bryan menarik tangannya dan mengajaknya duduk di salah satu tempat duduk yang berdampingan. Sedangkan Seno, sudah duduk di samping istrinya, dan baby Dan yang berada dalam pangkuannya.


Dion dan Leora duduk di bangku agak di belakang yang berjejer tiga, karena mereka juga duduk bersama dengan Arvin. Si kecil yang dulu di temukan oleh Armell. Dan kini, si kecil itu sudah berumur dua tahun setengah lebih itu. Arvin nampak bahagia bersama mamanya juga Dion. Bahkan sepertinya, Dion sudah terlihat dekat dengan Arvin.


Rezky dan Ikke juga sudah berada dalam pesawat. Mereka duduk tidak jauh dari Bryan dan Pipit. Setelah mereka semua bersiap, pramugari mengumumkan jika pesawat segera akan tinggal landas.


" Bang, berapa kita sampai di Bali? "


" Sekitar dua jam jika cuacanya bagus seperti ini. " jawab Bryan.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2