Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ketusuk


__ADS_3

Pipit, beserta baby Paris kini telah berada di rumah semenjak dua hari yang lalu. Dan hari ini mereka mengadakan acara aqiqah baby Paris. Bryan benar-benar mengundang anak yatim-piatu piatu dari sebuah yayasan yang berada di dekat tempat tinggal mereka. Sebuah yayasan panti asuhan dengan jumlah anak mulai dari masih bayi hingga berusia sekolah menengah atas lumayan banyak.


Bryan dan Pipit juga mengundang kenalan mereka. Sore hari, rumah Bryan yang tidak terlalu luas itu, sudah penuh dengan orang-orang. Ia bahkan mendirikan tenda di depan rumah. Untung saja ia memiliki halaman depan yang lumayan luas. Jadi bisa menampung para anak panti, juga tamu undangan mereka.


Di sana sudah hadir tuan dan nyonya Adiguna yang memang sedari kemarin sudah menginap di rumah mereka. Kemudian Seno, Armell, Danique. Ada Dion, Leora, tuan Abraham dan Arvin. Ada juga Damar, istri, juga putrinya, Rezky dan Ikke, Naomi, Roy, dan beberapa teman kuliah Pipit lainnya. Ada juga Keanu Permana beserta istri dan putranya. Sayangnya, Athar tidak bisa datang karena ia memiliki bayi juga yang masih kecil. Jadi mereka tidak bisa datang ke Jakarta.


Arvin, Danique, juga putra Keanu yang bernama Toriq Malik Permana yang berusia dua tahun, dua bulan lebih tua dari Danique, bermain bertiga sambil berlarian kejar-kejaran. Membuat para mama berteriak-teriak karena khawatir jika putra-putra mereka terjatuh atau kejedot pintu bahkan meja.


Sedangkan para laki-laki juga sedang berkumpul bercengkrama entah apa yang mereka bahas.


" Mama...." panggil Arvin ke Leora sambil berlari menghampiri mamanya, lalu ia mengecup perut buncit sang mama. Kemudian beralih ke perut mommy nya. Dan kelakuan itu di tiru oleh Danique. Danique mencium perut sang mommy, lalu perut Leora. Terakhir, Toriq yang mengikuti apa yang di lakukan Arvin juga Danique, iapun ikut-ikutan. Toriq mencium perut mamanya.


" Hey, kenapa kau juga mencium perut mama? " tanya Reni, sang mama.


" Ikut bang Alvin cama Danique. Alvin sama Dan biyang, di peyut mama na, ada dedeknya. Jadi, di peyut mama ini, duga ada dedeknya cantik. " ucap Toriq dengan bahasa yang masih belepotan.


Jawaban yang membuat Reni menepuk jidatnya sendiri. Putranya itu memang sesuatu. Ia begitu pandai dan cerewet. Sedangkan Leora dan Armell, juga Pipit hanya tertawa mendengar jawaban dari Toriq.


" Sepertinya dia juga pengen punya adik. " sindir Armell.


" Tidak dulu. Terima kasih. " jawab Reni sambil mengangkat kedua tangannya. " Menghadapi satu Toriq saja dengan berbagai macam pertanyaan dan pemikirannya sudah membuatku pusing. Apalagi ada dua yang seperti dia. Bisa-bisa aku menua sebelum waktunya. " jawab Reni sambil terkekeh. " Kasihan juga sama mamanya Kean. Jika aku ada kerjaan, maka beliau yang harus menjaganya. Meskipun ada baby sitter tetap saja aku tidak tega." lanjutnya.


" Kalian lihat sendiri kan bagaimana tingkah anak aku? " kekehnya kembali.


" Apa suamimu tidak ingin punya anak lagi? " kini Leora yang bertanya.


" He...he..he... Justru dia yang takut jika aku hamil lagi. Apalagi jika dia ingat bagaimana perjuanganku melahirkan Toriq dulu. Justru dia yang merasa ngilu jika mengingatnya. "


" Jadi, dia tidak ingin punya anak lagi? "


" Iya. Dia bilang, satu saja sudah cukup. "


" Bagaimana denganmu? Apa kamu juga takut sehingga kamu juga ingin punya satu anak saja? "

__ADS_1


" Tidak. Aku tidak takut sama sekali. Aku berencana, nanti jika Toriq sudah berusia empat tahun, aku berniat hamil lagi. "


" Lalu bagaimana kalau suamimu tetap tidak ingin kamu hamil? "


" Itu bisa di atur. Jika si jabang bayi sudah ada di perutku, mau tidak mau, dia harus menerimanya. "


" Apa kak Reni selama ini tidak pernah berhubungan dengan kak Ke? " tanya Pipit dengan polosnya.


" Eits....Jangan salah...Tiap malam kita bergulat. "


" Apa kak Ke tidak pernah protes jika harus memakai sarung tiap malam? "


" Dia tidak pernah pakai sarung. Dia selalu telan****. "


" Bukan sarung itu yang Pipit maksud kak. Tapi sarung pelapis. Pengaman. "


" Iya, aku tahu. Dan tadi aku sudah bilang, dia tidak pernah pakai sarung. Lebih nikmat jika kulit dan kulit saling bersentuhan. " ucap Reni setengah berbisik.


" Kamu ikut program KB? " tanya Armell antusias.


" Suamimu tidak protes kamu pakai itu? " tanya Armell kembali. Reni menggeleng. " Hah. Suamiku justru tidak mengijinkan aku ikut program KB. Dia selalu bilang, jika pakai IU*, kalau mau berhubungan tidak enak. Ketusuk katanya. "


" Ah. tidak. Suamiku tidak pernah mengeluh ketusuk pusakanya. Dia selalu menikmati malam-malam indah kami. Tapi ya.... tergantung dokternya mungkin. "


" Juga tergantung dari suami. Sepertinya mbak Mell di bohongi sama bang Seno. Dia memang pengen segera punya anak lagi. Makanya dia tidak memperbolehkan mbak Mell ikut program KB. "


" Kalau kamu gimana Pit? Mau langsung lanjut, apa mau KB dulu? "


" Pipit mau ikut program KB dulu. Pipit udah bicarain sama bang bule, dan dia tidak keberatan. Kami akan memiliki anak lagi nanti jika Pipit sudah lulus kuliah. " jawab Pipit.


" Eh, bagaimana dengan kak Imel? Apa kakak juga ikut program KB? " tanya Pipit ke istri Damar yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.


Imel tersenyum malu-malu lalu menjawab, " Belum sempat ikut program, malah mas Damar udah terlanjur menabur benih lagi. "

__ADS_1


" Ha????" semua yang ada di situ terkejut, juga dengan Ikke yang sedari tadi juga menjadi pendengar.


" Kakak hamil lagi? " tanya Pipit. Imel mengangguk malu. Ya, ia malu tentu saja karena anak pertamanya baru berusia 8 bulan dan sekarang ia sudah hamil 2 bulan.


" Widdiihhh...bang Damar ganas juga ternyata. Ck...ck...ck...." sahut Pipit kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Balas dendam ceritanya. Jadi tiap malam bang Damar pasti menggarap sawah hingga benihnya langsung bersemi. " kini Armell yang menyahut.


" Kalau kak Leora, habis melahirkan mau terus punya baby lagi, apa mau ikut program KB dulu? " tanya Pipit.


" Aku belum tahu. Aku sih terserah Aa' aja. Kalau dia pengen punya anak lagi ya aku siap. Tapi kalau dia bilang di jeda dulu, mungkin aku akan pasang IU* seperti Reni. Soalnya aku takut, jika pakai sarung, terus sarungnya bocor, kan berabe. " jawab Leora.


Dan pembicaraan antar perempuan terus berlanjut. Hingga Bryan datang menghampiri sang istri.


" Asyik banget kayaknya. " sapa Bryan sambil mengecup puncak kepala Pipit.


" Asyik dong. Kan sama emak-emak. Saling berbagi pengalaman soal anak. Abang udah selesai bahas soal laki-laki? " tanya Pipit.


" Soal laki-laki? "


" Hm . Pembicaraan laki-laki. Bisnis, kerjaan, malam-malam syahdu. "


" Ck. Kamu ini ada-ada saja. Kita harus segera ke depan. Acara akan segera di mulai. Ustadz Yusuf sudah sampai. " ujar Bryan.


" Oh ya? Lah, anak aku di mana ? " tanya Pipit.


" Tuh, masih di monopoli sama temen kamu. Sepertinya temen kamu itu sudah pengen punya baby juga. " sahut Armell.


" Oh iya. Si Indomi yang bawa baby Paris. Bentar bang, Pipit jemput princess kita. " pamit Pipit. Lalu Pipit segera menghampiri Naomi yang sedang duduk di sebelah Nyonya Ruth dan menggendong baby Paris. Sedangkan sedari tadi, ada sepasang mata yang selalu mengamati dan memandang tiap-tiap gerak gerik yang di lakukan oleh Naomi. Tatapan bangga, tatapan suka, dan entah tatapan apa lagi yang di isyaratkan dari sepasang mata itu.


Pipit membawa baby Paris dengan Bryan di sampingnya, dan di ikuti oleh nyonya Ruth di belakang mereka, duduk di atas karpet yang ada di ruang depan, di depan sang ustadz. Setelah itu, acara aqiqah segera di mulai, dan di tutup dengan pengajian yang di sampaikan oleh ustadz Yusuf.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2