Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Jahilnya Pipit


__ADS_3

" Mbak, Pipit jemput ibu di pasar dulu ya " pamit Pipit ke Armell.


" He em. Hati-hati di jalan. " jawab Armell yang sedang mencuci botol susu milik Danique. Sedangkan si bayi gembul nan ganteng dan gemesin itu sedang berada di pangkuan sang Daddy di teras depan.


Setelah berpamitan sama kakaknya, Pipit segera keluar dari rumah. Di teras depan, ia melihat si kecil sedang bermain dengan Daddy-nya.


" Halo, gembul. Onty pergi dulu yah. Bye gembulllll...." ucap Pipit sambil menoel pipi Danique. " Ihhhhh....gumush ...gumush...." Pipit mencubit pipi Danique lembut.


" Bang, Pipit pergi dulu jemput ibu ya. Assalamualaikum..." pamit Pipit ke Seno.


" Waalaikum salam... Hati-hati nyetirnya. " sahut Seno.


Pipit mengacungkan jempolnya ke Seno , lalu segera keluar dari pekarangan rumah dan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.


" Lah, Abang bule ngapain di sini? " tanya Pipit agak terkejut karena melihat Bryan sedang bersandar di kap mobilnya.


" Katanya mau jemput ibu di pasar. Abang nungguin kamu lah. Kan Abang juga nggak tahu pasarnya di mana. "


" Yang mau jemput ibu kan Pipit, bang. Abang mau ikut? " tanya Pipit.


" Hem. " jawab Bryan. " Nggak boleh? "


" Iyaaa boleh sih....Tapi abang yakin mau ikut ke pasar? "


" Yakinlah. Kan mau jemput ibu. Abang juga pengen tahu tempat jualan ibu di mana. "


" Yakin ya? Jangan merengek minta balik kalau udah sampai sana. " ucap Pipit memberi ultimatum. Lalu ia berjalan menuju ke pintu mobil bagian kemudi.


" Ayo bang kalau mau ikut. "


" Ya ayo. Kamu sini. Ngapain kamu di situ. Abang aja sini yang nyetir. " ujar Bryan sambil menghampiri Pipit.


" Kan abang belum tahu pasarnya di mana. Entar nyasar lagi. Kayak waktu nganterin Pipit ke sekolah dulu. " protes Pipit. " Udah lah, Abang sana. Pipit aja yang nyetir. Entar pulangnya, gantian abang yang nyetir. " lanjutnya sambil mendorong tubuh bryan.


Akhirnya mau tidak mau, Bryan berjalan menuju pintu samping sopir. Setelah mengenakan seat belt, Pipit segera menjalankan mobilnya.


" Abang perhatiin jalannya ya. Biar entar kalau pulang abang hafal lewat mana. " ujar Pipit sambil menyetir.


Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di depan gerbang pasar. Pipit segera membuka seat belt'nya dengan senyum menyeringai. Ia seperti mendapatkan sebuah ide menarik untuk mengerjai sang suami bulenya.


" Abang kok pakai sepatu putih sih? " protes Pipit saat memperhatikan penampilan Bryan. Bryan saat itu mengenakan kaos oblong press body, celana pendek selutut, dan sepatu sneaker berwarna putih.


" Terus, harusnya kalau ke pasar pakai apa? Emang nggak boleh gitu ke pasar pakai sepatu? " tanya Bryan heran sambil menggerakkan kakinya dan kedua tangannya di dalam saku celana pendeknya.


" Bukannya nggak boleh bang. Tapi sayang aja, sepatu putih bersih kayak gitu di bawa ke pasar. Pasar tuh jalannya becek loh. Kotor. " sahut Pipit. " Abang tungguin sini bentar. Pipit beliin sandal jepit. " ujar Pipit sambil berjalan meninggalkan Bryan.


Pipit segera mencari toko sandal terdekat. Karena ia sudah cukup hapal dengan pasar itu, jadi tidak memakan waktu yang lama untuk mendapatkan sapasang sandal jepit untuk Bryan.


" Abaaanggg...." panggil Pipit dari kejauhan sambil memperlihatkan sepasang sandal jepit berukuran jumbo untuk Bryan dengan senyuman manisnya.


Lalu Pipit sedikit berlari kecil menghampiri Bryan.

__ADS_1


" Nggak usah pakai lari-lari. Entar jatuh. " ujar Bryan.


Pipit kembali menampilkan senyum manisnya sambil menaruh sandal yang ia beli tadi di dekat kaki Bryan.


" Ayo bang, cepetan di lepas sepatunya, terus pakai sandalnya. " pinta Pipit. Dan Bryan mengangguk. Lalu ia jongkok, untuk melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal jepit. Selesai berganti, Bryan memasukkan sepatunya ke dalam mobil.


" Udah, yuk. Kasihan entar ibu nunggunya lama. "


" Okeh. " Pipit mengacungkan jempolnya. " Tapi beneran ya, Abang entar jangan mengeluh. "


" Iya iya ah bawel. Ayo cepetan. " ucap Bryan sambil mendorong tubuh Pipit supaya cepet jalannya.


" Kita lewat sini bang. " ajak Pipit setelah melewati pintu utama masuk ke dalam pasar.


" Emang ibu jualan apa? " tanya Bryan.


" Jualan perabotan dapur. Ada gelas, piring, mangkuk, penggorengan, dan masih banyak lagi. " jawab Pipit sambil terus berjalan.


" Kalau jualan kayak gitu, kok lewatnya jalanan kayak gini? Bukannya yang belok kanan tadi ya? " tanya Bryan karena daerah yang di lewati mereka becek, kumuh, bau amis.


" Beda bang. Kios ibu memang lewat sini jalannya. " elak Pipit. " Abang hati-hati aja jalannya. Di sini suka tiba-tiba ada kecoak lewat. "


Mendengar kata kecoak, Bryan langsung memegang kaos bagian belakang Pipit. " Jangan asal bicara kamu ya. " ancamnya.


" Di bilangin. Siapa juga yang asal bicara. "


" Emang nggak ada ya jalan lain selain lewat penjual ikan kayak gini? " ucap Bryan sambil sesekali menutup hidungnya menggunakan punggung tangannya. Bryan nyesel kenapa tadi ia tidak memakai masker.


" Tapi abang belinya di mall. Ikannya di es, jadi nggak bau amis kayak gini. "


" Tapi ikannya nggak seger. Udah di awetin. Kalau ini kan masih baru. " jawab Pipit tidak mau kalah.


" Duh, aya lalaki kasep. Bule nye'. Jelas deui. " ucap seorang ibu-ibu penjual ikan sambil mencolek pipi Bryan genit.


Bryan bergidik merasakan pipinya di colek sama ibu-ibu yang tangannya jelas bau amis khas ikan. Ia segera mendorong Pipit supaya berjalan lebih cepat. Sedangkan Pipit menahan tawanya.


" Aduh abang...beneran Casanova nye...Sampai ibu-ibu penjual ikan aja naksir sama abang. " goda Pipit membuat Bryan mendelikkan matanya.


" Beli air mineral dulu bentar. Buat ngilangin bau amisnya. " ucap Bryan saat melewati penjual makanan dan minuman.


" Rek meuli naon, kasep? " tanya abang-abang penjual.


" Kamu aja yang beliin. Abang nggak ngerti bahasa mereka. Kayak bahasa planet. " Bryan menarik lengan Pipit supaya maju ke depan.


" Kang, hoyong ngagaleuh cai mineral. Aya? " tanya Pipit.


" Aya, aya neng. Antosan sakedap. " jawab si penjual.


Lalu penjual itu memberikan sebotol air mineral ke Pipit. Pipit membayarnya lalu memberikan botol minum itu ke Bryan.


" Udah, ayo cepetan jalan lagi. Biar cepet sampai di kios ibu. "

__ADS_1


" Nggak di bersihin dulu mukanya bang? "


" Entar aja kalau di kios ibu. Abang pengen cepet pergi dari sini. " ujar Bryan datar.


Sebenarnya Pipit kasihan sudah mengerjai Bryan, tapi sudah kepalang tanggung juga udah mau sampai di kios ibu.


Tak berapa lama, sampailah mereka di kios sang ibu. Bryan langsung mengucurkan air mineral tadi di mukanya.


" Kenapa suami kamu pit? "


Pipit tersenyum menahan tawa, " Itu tadi di colek sama ibu-ibu penjual ikan. "


" Ibu-ibu penjual ikan? " tanya ibu mengernyitkan dahinya.


" Ibu udah selesai beberesnya? "


" Udah. Tinggal ngangkat ini aja. " jawab ibu sambil menunjuk ke tumpukan baskom.


" Biar Bryan aja yang angkat Bu. " seru Bryan setelah selesai membasuh mukanya. Lalu ia mengangkat tumpukan baskom tadi.


" Nah, selesai. Kita pulang sekarang. Ibu udah pengen main sama Danique. " ujar sang ibu sambil tersenyum. Beliau mengambil tasnya, lalu Pipit menutup pintu rolling kios sang ibu.


" Bu, kok lewat sini? Bukannya lewat sana ya? " tanya Bryan bingung ketika sang ibu mertua malah ke arah berlawanan dari yang ia lewati tadi.


" Kan jalannya emang lewat sini. Lewat sana tadi juga bisa tapi agak jauh, terus harus melewati para penjual ikan. Tempatnya bau amis. " jawab sang ibu. Dan spontan Bryan memberikan tatapan tajam ke arah Pipit. Sedangkan Pipit segera pura-pura menoleh ke arah lain.


" Emang tadi nak Bryan tidak lewat sini? " tanya sang ibu.


" Bry tadi lewat jalanan yang baunya istimewa Bu. Pipit bilang, hanya itu jalan satu-satunya biar sampai ke kios ibu. " adu Bryan.


" Dasar kamu ya. " ibu langsung menoleh ke arah Pipit, lalu menjewer telinga Pipit.


" Aduh..duh .duh .duh .. Sakit Bu. " pekik Pipit sambil memegang telinga yang di jewer sang ibu. " Ibu, ampun. Telinga Pipit bisa putus ini. Kalau telinga Pipit putus, entar nggak ada cowok yang mau sama Pipit. Masak iya cantik-cantik budh**. " lanjutnya.


" Emang mau cari cowok lagi kamu? Tuh, cowok kamu. Halal. " jawab sang ibu sambil menunjuk ke arah Bryan dengan dagunya.


" Iya Bu maaf. " ujar Pipit.


" Jangan minta maaf ke ibu. Minta maaf ke suami kamu, yang udah kamu kerjain. " ujar sang ibu. Pipit sedikit melirik ke arah Bryan. Dan Bryan malah menjulurkan lidahnya.


'. Sial. Senjata makan tuan. ' umpat Pipit.


***


bersambung


Jangan lupa LIKE.....LIKE....LIKE.....


Hai ...hai ...hai....jujur nih, kok viewer novel othor yang ini nggak sebanyak novel othor yang " My Handsome Police " yak? Kenapa coba? Hari ini malah viewer nya turun drastis... Apa cerita Pipit sama Bryan kurang nampol di hati pembacakah?


Othor jadi syedihhh... Kurang semangat gitu buat nulis...😭😭

__ADS_1


__ADS_2