Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Bertemu


__ADS_3

Pipit tiba di bandara Charles de Gaulle Perancis pukul 19.00 waktu Perancis. Saat tiba di bandara, Pipit sudah di jemput oleh orang suruhan kakak iparnya. Seorang laki-laki asli Perancis, dengan badan kekar dan tampang seram itu menjemput Pipit. Untung saja pria itu bisa berbahasa Indonesia, jadi Pipit tidak begitu susah untuk berkomunikasi. Karena bahasa Perancis Pipit masih tergolong ecek-ecek.


Saat sudah bertemu dengan orang suruhan Seno, Pipit segera menghidupkan kembali ponselnya. Ia mencari keterangan waktu antara Perancis dan Jakarta. Ah, rasanya tidak mungkin jika ia menghubungi kakak iparnya sekarang, karena di Jakarta saat ini sudah pukul 1 dini hari.


" Selamat datang di Perancis, nona. " sapa orang suruhan Seno itu dengan menggunakan bahasa Indonesia meskipun dengan aksen Perancis.


" Terima kasih. Wow, anda bisa bahasa Indonesia ternyata? Saya pikir saya harus berusaha keras supaya saya bisa berkomunikasi dengan anda. Ha...ha...ha..." sahut Pipit sambil tertawa.


" Terima kasih juga, nona. Tuan muda sudah mempercayakan anda kepada saya. Sekarang, nona mau saya bookingkan hotel, atau nona mau menemui suami nona dulu? " tanya laki-laki itu.


" Pengennya ya langsung bertemu dengan suami saya. Tapi...saya tidak tahu harus menemuinya dimana tuan. " jawab pipit dengan wajah yang menyendu.


" Anda tidak perlu khawatir, nona. Percayakan semua sama saya. "


" Tuan tahu dimana suami saya? " tanya Pipit dengan wajah yang berubah ceria.


Laki-laki itu menampilkan senyum tipis. " Mari ikut saya nona. Saya akan mengantar anda ke tempat yang anda mau. " ujar laki-laki itu sambil mempersilahkan Pipit dengan mengulurkan tangan kanannya dan tangan kirinya ia taruh di belakang punggung, dan badan sedikit membungkuk.


" Ah, iya. Terima kasih banyak, tuan. " sahut Pipit sambil berjalan terlebih dahulu. Dan laki-laki tadi berjalan tepat di belakangnya.


Pipit dengan penuh semangat berjalan keluar dari bandara dan menuju mobil sang orang suruhan yang berada di tempat parkir.


Setelah masuk ke dalam mobil, orang suruhan Seno segera menjalankan mobilnya dan menuju tempat di mana Bryan berada. Pipit memandangi jalanan Perancis dengan takjub. Selama perjalanan, matanya menuju ke jalanan terus.


Saat mobil berhenti di sebuah jalan, yang mana jalanan itu nampak ramai oleh pejalan kaki, dan ada taman yang luas di dekat jalan itu, Pipit tersadar dari rasa takjubnya.


" Kok kita kesini tuan? " tanya Pipit.


" Bukankah Anda mengatakan ingin bertemu dengan suami nona? "


" Hah? Apa suami saya ada di tempat ini tuan? " tanya Pipit.


Laki-laki itu mengangguk. " Tempat ini adalah tempat favorit tuan Bryan saat ia datang ke negara kelahirannya nona. "


Pipit mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap ke sekeliling tempat itu. " Lalu bagaimana caranya saya mencarinya tuan? Sepertinya, tempat ini begitu luas dan lumayan ramai. "


" Saya akan membantu nona untuk mencarinya. Nona mau menunggu di sini, atau mau keluar melihat-lihat? "


" Saya akan ikut mencarinya tuan. " jawab pipit lalu ia segera membuka pintu mobil dan keluar tanpa menunggu laki-laki itu membukakan pintu untuknya. Bahkan laki-laki itu masih berada di dalam mobil.


" Kita mulai dari arah mana tuan untuk mencarinya? " tanya Pipit dengan tidak sabar.

__ADS_1


Laki-laki itu kembali tersenyum tipis. Nona muda di sampingnya ini terlihat begitu lincah dan ceria. Laki-laki itu jadi teringat oleh adik perempuannya yang hampir sama dengan nona mudanya ini.


" Anda cukup mengikuti saya saja nona. Tidak akan lama, kita akan bertemu dengan suami Anda. " jawab laki-laki sambil tersenyum.


Pipit mengangguk dan segera mengikuti langkah laki-laki itu. Laki-laki itu berjalan tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Seakan-akan dia sudah tahu pasti dimana Bryan berada. Sedangkan Pipit, mulai dari awal ia berjalan menapaki taman itu, matanya tidak tenang. Kepalanya memutar, menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang untuk mencari sosok suaminya.


Sesekali ia menyipitkan matanya, mencoba melihat dengan jelas orang-orang yang ada di sana.


" Ini gimana nyari Abang bule kalau kayak gini. Semua laki-laki yang ada di sini bentukannya hampir sama semua kayak bang bule. Wajahnya bule semua, rambutnya keemasan semua. " gerutu Pipit.


Laki-laki suruhan Seno hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan Pipit.


" Eh, tuan...tuan, tunggu sebentar. " ujar Pipit.


" Ada apa, nona? " tanya laki-laki itu sambil membalikkan badannya.


" Itu, tuan. Seperti...suami saya. " Pipit menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan di depannya. Pipit yakin itu suaminya biarpun ia hanya melihat dari belakang.


Laki-laki itu tersenyum, " Anda benar sekali nona. Itu memang tuan Bryan. "


" Baiklah tuan, saya akan menemuinya sesuai cara saya. " jawab pipit dengan seulas senyum.


" Baik, tuan. Dan terima kasih banyak. "


" Sama-sama nona. " jawab laki-laki itu sambil sedikit menundukkan badannya.


Pipit lalu berlari kecil meninggalkan laki-laki itu menyusul langkah seorang laki-laki yang Pipit duga adalah Bryan.


Setelah berada di jarak yang cukup dekat, Pipit memelankan langkahnya mengikuti kemana laki-laki itu berjalan. Pipit memang tidak berniat memanggil atau menyapanya dulu. Ia ingin memandang laki-laki yang ia cintai itu dari belakang sembari mengikuti langkahnya. Menyamakan langkah mereka, dan menyamakan gaya berjalannya dengan suaminya itu.


Sambil senyum tipis yang selalu menghiasi di kedua sudut bibirnya, Pipit terus mengikuti langkah Bryan. Sungguh bahagia rasanya. Rasa rindu setelah dua minggu tidak bertemu, tidak berkomunikasi, membuatnya merasakan rasa rindu yang teramat sangat. Kalau ia tidak menahan diri, ingin sekali ia menubruk laki-laki itu dan memeluknya dengan erat dari belakang.


Membayangkan hal , semakin melebarlah senyum Pipit. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menaruh kedua tangannya di belakang punggung.


Tiba-tiba, Bryan berhenti, lalu duduk di salah satu bangku kosong yang ada di taman itu. Pipitpun menghentikan langkahnya dan berdiri di kejauhan sambil terus memandang tanpa henti laki-laki yang telah mengisi relung hatinya. Ia melihat Bryan mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang beberapa saat. Setelah menelepon, ia terlihat menatap layar ponselnya dalam diam.


Pipit kembali menyunggingkan senyumnya. Ia melangkah mendekat, lalu berucap, " Bonne nuit monsieur. Puis je- m'asseoir ici? " tanya Pipit.


( Selamat malam tuan, bolehkah saya duduk di sini? )


" S'Il te plait. " jawab Bryan tanpa menoleh sedikitpun, tapi ia menggeser duduknya hingga ke ujung bangku.

__ADS_1


( Silahkan )


Pipit duduk di samping Bryan sambil terus tersenyum dan menatap ke arah Bryan.


" Vous este seul? " tanya Pipit kembali. Ia berharap Bryan mengenali suaranya dan menoleh ke arahnya.


( Apakah tuan sendiri? )


" Hem. " jawab Bryan.


Pipit tidak merasa puas. Ia sedikit melongokkan tubuhnya untuk melihat apa yang sedang di lihat oleh Bryan di layar ponselnya yang membuatnya sibuk. Ia tersenyum setelah melihatnya.


" Wow, I'ambiance est tellement bonne ici. " ujar Pipit kembali.


( Wah, enak sekali suasana di sini. )


Bryan merasa ada yang aneh semenjak ia mengijinkan seorang perempuan duduk di sebelahnya.


" Kenapa harum parfumnya bisa sampai sini? " gumam Bryan. " Suaranya juga, kenapa sangat mirip? Ah, apa gue udah mulai gila? " lanjutnya.


Pipitpun mendengar gumaman Bryan itu. Ia menahan supaya ia tidak tertawa. Ia menoleh ke sembarang arah dan mengulum senyumnya.


" Pourquoi vous parlez - vous monsieur? " tanya Pipit kembali.


( Kenapa anda bicara sendiri tuan?)


Bryan yang sudah benar-benar kepo, menoleh ke arah Pipit. Bukannya senang, Bryan justru mengusap wajahnya kasar.


" Kenapa wajahnya juga sama? Oh, Tuhan....Apa aku memang sudah benar-benar gila?" ujar Bryan. Ia kembali menatap layar ponselnya.


" Apa sudah puas hanya dengan melihat gambarnya? " tanya Pipit. Kali ini ia menggunakan bahasa Indonesia.


Bryan menghentikan aktivitasnya menscroll ponsel untuk melihat foto-foto Pipit.


" Cantik ya. Istrinya ya tuan? Atau kekasihnya? " tanya Pipit kembali.


Kali ini, Bryan kembali menatap lekat. Mendongakkan kepalanya karena Pipit tengah berdiri di hadapannya dengan tubuh sedikit membungkuk melihat ponsel Bryan. Menatap Pipit lekat-lekat.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2