Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Rencana


__ADS_3

" Makasih Abang... Untuk malam yang indah ini. " ujar Pipit ketika mereka masih di dalam mobil, tapi sudah berada di depan rumah keluarga Adiguna.


" Sama-sama honey. Aku bahagia jika kamu bahagia. " sahut Bryan lalu mengecup kening Pipit. " Aku masih ada sesuatu untukmu. " ucapnya sambil mengambil sebuah paper bag dari jok belakang mobilnya. Lalu ia berikan ke Pipit.


" Apa ini bang? " tanya Pipit sambil menerima paper bag itu.


" Buka saja. "


Pipit lalu membuka paper bag itu. Di dalam paper bag, ada sebuah kotak yang warnanya sama dengan kotak yang Bryan gunakan menyimpan cincin saat acara lamaran yang tertunda tadi. Tapi bedanya, kotak yang ini jauh lebih besar.


" Kok seperti kotak perhiasan. Jangan bilang, Abang juga membelikan kalung seperti di film-film itu. Abang, Pipit nggak begitu suka pakai perhiasan. Apalagi kalung. Kenapa harus menghamburkan uang. " protes Pipit dengan wajah memelas.


" Di buka dulu. Siapa tahu isinya bukan kalung. " sahut Bryan.


Pipit menurut. Ia membuka kotak itu. Dan matanya membelakak saat melihat isi kotak itu.


" Nggak salah ini bang? " tanya Pipit sambil mendongak untuk memandang Bryan. Bryan tersenyum. " Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan. " Pipit menghitung. " Abang, beliin cincin Pipit sembilan biji? Sepuluh sama yang ini? " tanya Pipit untuk meyakinkan sambil mengangkat tangan kanannya.


Bryan mengangguk.


" Buat apa cincin sebanyak ini bang? Satu ini aja udah lebih dari cukup. "


" Dulu aku pernah janji sama kamu, akan membelikan kamu cincin 10 biji. Biar semua jari-jari kamu ada cincinnya semua. Maaf, baru menepatinya sekarang. " ujar Bryan.


" Abang, bukannya dulu abang cuma bercanda? "


" Aku tidak pernah bercanda dalam hal apapun kalau itu menyangkut dirimu. Anggap saja cincin-cincin itu adalah mahar tambahan untuk pernikahan kita. "


" Tapi Pipit tidak bisa memakainya semua. Kalau Pipit pakai semua di jari-jari Pipit, nanti yang ada orang akan bilang kalau Pipit ini anaknya Tessi. " ucap Pipit.


" Ha ..ha ..ha .. Tidak sebegitunya juga honey. Kamu tidak harus memakainya semua secara bersamaan. Kamu bisa pakai satu-satu secara bergantian. Tapi untuk cincin yang ini, kamu harus selalu memakainya. Kapanpun, dan kemanapun. " ucap Bryan dan dengan menunjuk cincin yang tadi ia sematkan di jari manis Pipit..


" Karena cincin ini, adalah tanda jika kamu sudah bersuami. Biar tidak ada laki-laki lain yang mendekatimu. " tambahnya posesif.

__ADS_1


Pipit mengangguk dan tersenyum. Lalu ia menutup kembali kotak perhiasan itu dan di masukkan ke dalam paperbag, sambil berucap, " Akan Pipit simpan cincin-cincin ini. "


Melihat Pipit selesai memasukkan kotak perhiasan itu, Bryan keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Pipit. Setelah pintu terbuka, Pipit turun dari mobil dengan di bantu oleh Bryan karena ia sedang mengenakan high heels.


" Setelah empat puluh hari ibu, kamu siap kan untuk mengadakan resepsi pernikahan? " tanya Bryan. " Aku sudah menentukan tanggalnya. " lanjutnya sambil menggandeng tangan Pipit dan berjalan masuk ke dalam rumah.


" Bukankah empat puluh harinya ibu tinggal dua minggu lagi bang? Apa tidak terlalu cepat? Kan banyak yang harus kita persiapkan. "


" Kamu tidak perlu khawatir masalah itu. Untuk tempat resepsinya, aku akan menggunakan ballroom hotel milik keluarga Permana. Temanku yang tadi. Mereka juga menyediakan WO. Yang kebetulan adalah milik adik Athar. Aku menggunakan WO itu. Mereka yang akan mengatur semuanya. Kita tinggal memilih konsepnya, tanggalnya, serta memilih undangannya. Acara lamaranku yang tertunda tadi, adalah hasil karyanya. Adik Athar yang menyiapkan semuanya. " jelas Bryan.


" Pipit ikut baiknya bagaimana aja. Emang tanggalnya kapan itu bang? " jawab pipit.


" Satu minggu setelah acara empat puluh harinya ibu. "


Pipit mengangguk tanda mengerti.


Bryan mengecup punggung tangan Pipit yang ia genggam. " Weekend ini, aku akan mengajakmu bertemu dengan pihak WO untuk memilih konsep resepsinya, juga memilih model undangan. Lalu esok harinya, kita akan memilih gaun pengantin. "


🧚


🧚


" Lo kapan bawa bini Lo ke apartemen? " tanya Seno. Saat ini, Seno dan Bryan sedang menikmati makan siang berdua di sebuah restoran. Sudah lama mereka tidak makan bersama seperti ini. Karena kesibukan masing-masing.


" Gue nggak bakalan bawa bini gue ke apartemen. Gue bakalan langsung bawa dia ke rumah. " jawab Bryan.


" Oh iya, gimana pembangunan rumah Lo? Gue lihat udah selesai. "


" Iya, udah selesai. Tinggal bersihin, terus mengisinya sama perabotan. "


" Lalu bagaimana dengan unit apartemen lo? "


" Mungkin gue jual aja. Lagian, buat apa ada apartemen kalau udah punya rumah? Ya nggak sih? " ujar Bryan lalu menyendok makanannya.

__ADS_1


" Lo bener banget. Ibarat orang, buat apa masih menghidupi pacar jika sudah ada istri. " sahut Seno.


" Ada-ada aja Lo. "


" Lo jadi pakai WO adiknya si Athar? " tanya Seno


" Hem. " Bryan mengangguk sambil menelan makanannya. " Gue lihat, WOnya lumayan bagus. Sekalian acaranya gue adakan di ballroom hotelnya. "


" Lo nggak mau pakai ballroom hotel Adiguna group? Lumayan, buat pengiritan biaya. "


" Ck. Gue nggak semiskin itu. Gue masih mampu buat sewa gedung. Lagian, ballroom hotel si Athar, gue dapet diskonan dari nyonya Vera. Di tambah lagi, gue dapet gratisan kamar presiden suit untuk first night gue. Lo tahu kan, gimana kamar presiden suit di sana? Hotel Lo aja kalah. " ledek Bryan.


" Ya jelas kalah lah. Hotel gue kan kamarnya emang nggak punya yang presiden suit. Kita punyanya cuma suit room. Buat kalangan menengah bro. Kalau hotel keluarga Permana itu kan buat kalangan atas.


Yah, Adiguna group memiliki sebuah hotel yang tidak terlalu besar seperti hotel Permana. Karena Adiguna group memiliki banyak usaha di bidang lainnya yang lebih besar. Hotel, hanya sebagian kecil saja. Sedangkan keluarga Permana, usahanya memang di seputar hotel dan tempat perbelanjaan. Jadi, mereka mempunyai beberapa hotel yang tersebar hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Juga pusat perbelanjaan.


" Oh iya, gue mau menyampaikan perkembangan perusahaan lo yang di Perancis. Nick yang gue utus langsung untuk merapat ke perusahaan lo. Dan so far, perkembangan lumayan signifikan. Harga sahamnya terus naik setiap harinya. Meskipun kenaikannya masih tergolong kecil, tapi setiap hari mengalami kenaikan. "


" Syukurlah kalau begitu. Gue nggak begitu berharap sama perusahaan itu. Karena gue nggak tahu gimana mengurus bisnis. Syukurlah kalau di tangan Lo, perusahaan itu bisa maju. "


" Meskipun begitu, Lo tetap harus hadir sebagai pemilik saat ada rapat tahunan dengan para pemilik saham yang lain. "


" Lo tahu, gue nggak ngerti. Gue rasa cukup Lo aja yang dateng. "


" Nggak bisa gitu lah. Gimanapun juga, Lo kan pemiliknya. Sedikit-sedikit Lo harus belajar lah biar tahu ngurus perusahaan. Atau setidaknya, Lo tahu dikit lah tentang perkembangan perusahaan lo. "


" Gue bilang nggak bisa ya nggak bisa. Gue nggak suka. Gue lebih suka dan jauh lebih suka sama pekerjaan gue yang bisa nolongin orang banyak. Udahlah, perusahaan gue serahin ke elo. Titik. Jika ada hasilnya, Lo kirim aja ke rekening bini gue. Biar buat dia sama anak-anak gue. Oh iya, besok gue bakal suruh salah satu dari anak gue buat belajar bisnis. Biar perusahaan itu dia besok yang urus. " seru Bryan.


" Serah elo deh. " jawab Seno pada akhirnya.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2