Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Berusaha


__ADS_3

" Mmmmpppnggg......" Pipit menggeliat dari tidurnya. Tangannya turun dan mendarat di atas kasur. Lalu ia meraba-raba sekitarnya sebelum akhirnya ia membuka matanya. Ia sangat terkejut saat membuka mata, pemandangan di sekeliling bukan rumah sakit. Melainkan mirip seperti kamar hotel.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka dari luar. Pipit mengarahkan pandangannya ke pintu yang baru terbuka.


" Baang..." panggil Pipit saat melihat siluet suaminya.


" Udah bangun? " tanya Bryan sambil menghampiri Pipit di ranjang.


Pipit bangun dari tidurnya dan duduk. " Kita dimana ini bang? Kok seperti di hotel. " tanya Pipit.


" Kita memang di hotel. " sahut Bryan enteng sambil berjalan menuju ke meja dan menaruh tas plastik di sana.


" Kok???" Pipit terlihat bingung. " Bagaimana bisa kita di hotel? " Pipit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Pipit nggak ngerasa pergi ke hotel loh. Tadi seingat Pipit, Pipit kan tidur di pangkuan abang. "


" Mungkin kamu berjalan sambil tidur. Jadinya tidak ingat. " sahut Bryan.


" Ihh, nggak ya. Pipit mana pernah tidur sambil jalan. Eh, jalan sambil tidur. " ucap Pipit tidak terima.


Bryan tersenyum lebar. Ia kembali mendekati istrinya, duduk di sampingnya, dan mengecup pipi Pipit sekilas.


" Aku menggendongmu. " ucap Bryan sambil mengacak rambut Pipit.


" Apa? Nggak mungkin..." sahut Pipit sambil mencibir. " Mana mungkin Pipit nggak tahu kalau Abang bule gendong. Pipit nggak terasa apa-apa kok. " bela pipit.


" Ck. Kalau pengen terasa, nanti setelah surat nikah kita keluar, dan setelah acara resepsi pernikahan kita, aku pastikan akan membuatmu menjerit di malam pertama kita. " sahut Bryan.


Bug


Pipit memukul wajah Bryan menggunakan bantal. " Bisanya cuma ngomong doang. Kredit mulu. " cibir Pipit.


" Lagian kamu tidur udah kayak orang pingsan. Andai ada gempa bumi berskala 20 skala Richter aja kamu pasti nggak tahu. Tahu-tahu, udah kerubuhan atap rumah. " ujar Bryan.


" Biarin. Kan ada abang yang nolongin, yang gendong Pipit keluar dari rumah sebelum atapnya roboh. " sahut Pipit.


" Eh, bang ..Ibu? Ibu gimana? Ayo kita kembali ke rumah sakit. " lanjutnya sambil buru-buru membuka selimut dan turun dari ranjang.


" Keadaan ibu masih sama. Aku baru saja menghubungi dokternya. Mending sekarang kamu mandi dulu, ganti baju, terus makan. Aku udah beliin makan. Tadi pagi kamu sarapan cuma sedikit. " ujar Bryan sambil memegangi lengan Pipit karena Pipit hampir jatuh.

__ADS_1


Pipit menggeleng.


" Honey, ayolah. Aku juga belum makan. Tadi pagi aku sarapan cuma sedikit. Apa kamu tega membiarkanku kelaparan? Karena aku tidak akan makan jika kamu tidak makan. " ucap Bryan dengan akting memelas.


Pipit akhirnya mengangguk lalu pergi masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Pipit keluar dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dan handuk kecil yang menggulung rambut panjangnya ke atas.


Bryan menelan salivanya susah payah melihat penampilan Pipit. " Honey, kenapa tidak memakai pakaianmu ? " tanya Bryan sedikit kesal karena Pipit telah memancing gair**nya.


" Hem? " sahut Pipit tanpa dosa dia malah mondar-mandir.


" Pakai pakaianmu honey. Kita harus buru-buru kembali ke rumah sakit kan? Kalau kamu tidak segera memakai pakaian, kita akan lama ke rumah sakitnya? " pinta Bryan memelas.


" Kenapa harus lama? Habis makan siang, kita kan langsung ke rumah sakit. " sahut Pipit masih sambil melongok ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.


" Tapi kalau kamu hanya menutupi tubuhnya dengan handuk itu, aku harus menidurkannya kembali. Dan itu akan memakan waktu cukup lama. " sahut Bryan sambil menunjuk bawah perutnya.


" UPS. " Pipit menutup mulutnya dengan telapak tangannya. " Sorry abang. Pipit nggak ada maksud menggoda Abang. Pipit masih tahu diri. Ibu lagi sakit parah. Nggak mungkin Pipit ngajakin Abang macem-macem. Cuma masalahnya, Pipit mau ganti baju pakai apa? Masak Pipit pakai baju yang tadi lagi? " sahut Pipit. " Dari tadi, Pipit mondar-mandir nyari tas Pipit nggak ada. "


" Tadi aku udah ambilin baju kamu, aku taruh di almari yang ada di kamar mandi. " jawab Bryan.


" Dalemannya? "


" Udah juga. "


Di kamar, Bryan sudah menyiapkan makanan mereka yang tadi ia belikan.


" Ayo cepat kita makan. Damar sudah menunggu di depan. " ujar Bryan. Lalu mereka makan siang bersama di kamar itu.


Pukul tiga sore, Bryan dan Pipit kembali ke rumah sakit bersama dengan Damar.


" Apa dokter mengatakan sesuatu? " tanya Bryan ke Seno.


" Dokter bilang kondisi ibu masih sama seperti tadi pagi. " jawab Seno. Bryan menghela nafas berat.


Pipit duduk bersebelahan dengan kakaknya juga mama Ruth. Mereka saling berpegangan tangan seolah saling menguatkan. Suasana hening.


Brak


Bunyi pintu di buka dengan agak kasar. Seorang suster keluar dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


" Dokter Bryan..." panggil suster tadi


Bryan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri suster yang baru keluar tadi. " Ada sus? "


" Maaf dok, dokter Samsul meminta anda untuk masuk ke dalam. " ucap suster. Tanpa berpikir panjang, Bryan mengikuti suster itu masuk ke dalam. Perasaannya sungguh tidak enak melihat raut wajah cemas dari suster tadi.


" Ada apa sama ibu? " tanya Pipit dan Armell bersamaan.


Seno yang juga melihat raut wajah suster tadi, juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia berusaha untuk tenang supaya istri dan adik iparnya tidak ikut panik.


Sedangkan di dalam ruang ICU, dokter Samsul dan Bryan sedang mencoba menolong sang ibu. Bu Ani tadi tiba-tiba gagal nafas. Monitor jantung tadi sempat berbunyi nyaring menandakan jantung Bu Ani berhenti berdetak.


" 150 Joule. " teriak dokter Samsul. Asisten dokter Samsul menambah kekuatan defribelatornya.


Duk


Dokter Samsul menekan alat itu di atas dada Bu Ani. Sedangkan Bryan, setelah dokter Samsul memancing jantung Bu Ani dengan defribelator, ia menekan-nekan dada ibu memancing jantung sang ibu supaya kembali berdetak.


Jeduk....jeduk...jeduk....


Jantung Bu Ani kembali berdetak meski lemah. Bryan menyeka keringat sambil bernafas lega, begitu juga dengan dokter Samsul. Perawat segera memeriksa tekanan darah Bu Ani. Tekanan darahnya masih begitu rendah.


" Suster, berikan suntikan XX ke infus ibu. Untuk menambah tekanan darahnya. Dan menaikkan denyut jantungnya. " pinta Bryan. Meskipun ia bukan dokter di situ, tapi kepala dokter di rumah sakit itu sudah memberikan wewenang kepadanya melakukan apapun di sana.


Suster yang di suruh mengangguk, lalu menyuntikkan obat yang di maksud Bryan ke infus ibu Ani. Bryan dan dokter serta beberapa perawat masih berada di sana untuk memantau ibu Ani.


Tiba-tiba Bu Ani membuka matanya. Beliau memandang Bryan, lalu mengulurkan tangannya yang lemah.


Bryan melihat itu, lalu ia mendekat dan memegang tangan Bu Ani. Karena sepertinya Bu Ani ingin mengucapkan sesuatu, Bryan mendekatkan telinganya ke wajah Bu Ani.


" Bryan, pa...mit...kan ke a..nak a...nak i...bu. " ucap bu Ani sangat lirih bahkan hampir tak terdengar. " Ja..ngan me..nung...gu la...ma un...tuk me...res...mi...kan per...ni..ka...han ka...li...an. " lanjut beliau.


" Iya ibu. Bryan akan segera menyelenggarakan resepsi pernikahan dan memberitahu semua orang, kalau Pipit adalah istri Bryan.


Lalu terdengar suara nyaring dari layar monitor. Tiiiiittt......


Semua kembali panik. Semua kembali berusaha menolong ibu Ani, termasuk Bryan. Tapi sepertinya, usaha mereka kali ini tidak membuahkan hasil.


Dokter Samsul menggelengkan kepalanya. Bryan mengangguk, mengerti dengan kondisi di sana. Lalu dokter Samsul mengumumkan waktu kematian ibu Ani.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2