Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Apa mulai posesif?


__ADS_3

Selesai olahraga, Bryan segera mengajak Pipit kembali ke apartemennya. Selama Bryan berolahraga, Pipit juga ikut berolahraga karena Bryan memaksanya. Tapi meskipun Bryan memaksanya, Pipit hanya melakukan olahraga sedikit-sedikit. Ia malah asyik menikmati pemandangan indah di pagi hari, yaitu tubuh atletis suaminya yang sedang berolahraga dengan keringat yang mengucur.


Flash back on


" Ayo cepetan olahraga. " ajak Bryan. Pipit malah menggelengkan kepalanya. " Katanya tadi mau ikut kesini karena mau olahraga. " lanjut Bryan, dan Pipit tetap menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Bryan kembali turun dari atas treadmill. Ia menghampiri Pipit yang sedang duduk di atas treadmill yang ada di sebelah treadmill yang di gunakan oleh Bryan.


" Ayo bangun. " ujar Bryan sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk menarik tangan Pipit. Pipit langsung menyembunyikan tangannya ke belakang saat Bryan hendak mengambil tangannya.


" Males baaang...." rengek Pipit.


" Mau sehat nggak? "


" Ya mau lah. "


" Makanya ayo kita olahraga biar sehat. "


" Selama ini, Pipit olahraga cuma kalau di sekolah ada jam olahraga, tetap sehat kok. Itupun kalau gurunya nggak merhatiin, Pipit diem aja. Itu olahraganya cuma seminggu sekali loh bang. "


" Ck. " Bryan berdecak sambil menggaruk pelipisnya. Istri yang keras kepala memang. " Honey, saat ini kamu mungkin belum ngerasain yang namanya sakit karena males berolahraga. Tapi nanti saat usia kamu menginjak 40 tahun, kamu akan menyesal. Kolesterol tinggi, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, asam urat tinggi...itu hanya beberapa penyakit yang masih tergolong ringan untuk di obati. Terus bagaimana dengan penyakit yang lainnya yang lebih bahaya? " cecar Bryan.


" Ihhh, kok malah jadi nakut-nakutin sih. Nggak baik tahu bang. Karena ucapan itu bisa menjadi doa yang mujarab. " protes Pipit.


" Siapa yang nakut-nakutin? Abang bicara fakta. Kamu juga kan anak kedokteran. Pasti tahu dong. "


" Ck. " Pipit berdecak kesal dan mengerucutkan bibirnya.


" Abang kuncir bibirnya, mau? " goda Bryan. " Abang kalau kuncir bibir, istimewa loh. Apalagi sama kamu. Nggak pakai kuncir rambut, tapi pakai bibir Abang. "


Pok


Pipit melempar handuk yang sedari tadi dipegangnya ke Bryan, membuat Bryan terkekeh pelan.


" Makanya ayo bangun, olahraga, kalau nggak mau bibirnya di kuncir. " ucap Bryan. Pipit langsung berdiri dari duduknya, lalu menaikkan kedua kakinya ke atas treadmill.


" Hish ...Punya suami kok cerewetnya minta ampun. Terlalu banyak aturan. " gumam Pipit. Ia lalu memencet tombol yang ada di alat tersebut. Ia mulai berlari kecil. Ia mengatur kecepatan ringan, setara dengan berjalan. Sedangkan Bryan, ia sudah kembali berlari dengan kecepatan lumayan di atas alat treadmill nya.


Pipit tidak terlalu fokus dengan alat treadmill dan gerakan kakinya karena ia sibuk melirik ke arah Bryan yang terlihat sangat seksi di mata Pipit. Sambil sesekali menelan salivanya susah payah karena tubuh seksi itu. Apalagi ketika kaos oblong yang di kenakan oleh Bryan basah karena keringat yang mengalir. Perut kotak-kotaknya tercetak jelas dan membuat Pipit kembali menelan liurnya yang hampir menetes.


Hishhh ...nggak segitunya kali thoooorrrr.....Mana ada liurku menetes...Enak aja... ( protes Pipit )


Karena ketidak fokusan Pipit dengan gerakan dan kecepatan alat treadmill, membuat kaki Pipit terseok-seok.


" Baaaangggg........Tolongin.... Pipit mau jatuh ini ..." teriak Pipit.

__ADS_1


Bryan langsung menoleh seketika. Karena terkejut dan khawatir, ia langsung meloncat dari atas alat treadmill nya yang masih berjalan dan membuatnya hampir terjatuh.


Bryan segera berlari ke arah Pipit, lalu mengangkat tubuh Pipit dari alat treadmill.


Hap


Bryan berhasil mengangkat dan membebaskan tubuh mungil milik Pipit dengan sekali gerakan. Ia tetap mendekap tubuh mungil itu karena ia merasa Pipit sedang ketakutan saat ini. Jantung Pipit terasa berdetak dengan cepat. Bryan bisa merasakan itu karena lengannya kebetulan berada di atas dada Pipit. Sedangkan tangan Pipit memegang erat lengan Bryan yang ada di atas dadanya itu.


" Gara-gara abang nih. " protes Pipit sambil menetralkan nafasnya.


" Kok? " Bryan menjauhkan tubuhnya dari Pipit dan menatap bingung ke arah Pipit.


" Makanya, abang kalau olahraga harus pakai baju yang ketutup, pakai kaos panjang kedodoran, terus pakai celana panjang juga. Jangan pakai baju kayak gini lagi. Bisa bikin orang celaka kan kalau gini? " cerocos Pipit tanpa henti.


Dasar si Pipit, matanya aja yang tidak bisa di jaga, kok malah jadi nyalahin baju si Bryan 🤦🤦


Bryan menyipitkan matanya semakin tidak mengerti apa yang di katakan oleh istrinya itu.


' Perasaan dari dulu, gue selalu pakai baju kayak gini kalau mau nge-gym. Semua baik-baik saja. Kenapa gadis ababil ini malah meributkan bajuku mulai dari dia bangun tidur tadi. ' gumam Bryan dalam hati.


" Ya udah, kita udahan aja olahraganya. Kita kembali ke kamar sekarang. " ajak Bryan sambil menggandeng tubuh Pipit.


Baru satu langkah mereka berjalan, Pipit menghentikan langkah mereka. " Tunggu dulu. "


" Ada apa lagi? "


" Kenapa masih mikirin jaket sih? Udah ayok kita kembali ke apartemen. "


" Abang. " teriak Pipit. " Pakai jaketnya dulu. Kalau abang nggak pakai jaket, kita mendingan nggak usah balik ke apartemen. Entar bibi Abang nggak balik-balik ke Perancis. " lanjutnya lalu ia menyedekapkan kedua tangannya. Entahlah, Pipit merasa tidak rela jika ada perempuan lain yang memandangi tubuh suaminya.


" Iya, iya bawel. " sahut Bryan. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan mengambil jaket yang tersampir di atas kursi. Ia lalu memakainya, dan segera kembali menghampiri Pipit.


" Udah. "


" Bagus. " Pipit mengacungkan sebelah jempolnya. " Mulai besok dan seterusnya, abang harus pakai jaket saat mau dan setelah nge-gym. Awas kalau nggak. "


" Iya. Udah, cepetan. " ujar Bryan sambil sedikit mendorong tubuh Pipit agar cepat berjalan.


Flash back off


Setelah selesai mandi dan bersiap untuk kegiatan masing-masing, Bryan dengan memakai celana panjang bahannya berwarna navy dan kemeja lengan panjang berwarna senada, dan Pipit dengan blouse berkerah lengan panjang bahan satin, dan celana panjang bahan, keluar dari kamar bersama-sama. Mereka hendak membuat minuman.


" Abang mau minum apa? " tanya Pipit saat mereka sudah berada di dapur.


" Jahe panas aja. " jawab Bryan sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya, memastikan apakah operasi hari ini jadi apa tidak.

__ADS_1


Pipit segera membuatkan jahe panas untuk sang suami, dan membuat teh panas untuk dirinya sendiri. Saat Pipit selesai membuat minum dan menyajikan segelas jahe panas di hadapan Bryan duduk, paman dan bibi Bryan datang menghampiri.


" Bonjour mon oncle..." sapa Pipit ke paman Bryan. Bryan langsung menoleh ke arah sebelah saat mendengar istrinya sedang menyapa sang paman.


" Bonjour.. " jawab sang paman. Lalu duduk di kursi kosong.


" Paman mau jahe panas seperti abang? Pipit buatkan. "


" Boleh. "


" Bibi juga mau Pipit buatkan? "


" Hem. " jawab sang bibi.


Pipit tersenyum, lalu segera kembali ke meja masak untuk membuatkan minuman untuk paman dan bibi Bryan.


" Bry, pagi ini, paman dan bibi akan kembali ke Perancis. Kami mengambil penerbangan pagi. " ucap sang paman.


" Kenapa cepat sekali paman? Bukankah paman baru tiba kemarin? " tanya Pipit.


" Bibimu bilang ingin cepat pulang. "


" Ohhh...Bibi tidak betah di sini? " tanya Pipit yang ia layangkan ke sang bibi.


" Di sini udaranya tidak baik untuk kesehatan. " ucap bibi asal.


" Bry akan memesankan taksi online untuk paman sama bibi. Maaf, Bryan tidak bisa mengantar karena akan ada operasi. Dan istri Bry juga segera berangkat ke kampus. " ujar Bryan.


" Tidak masalah, asal jangan lupa buat bayar tiket pesawat untuk kami. " sahut sang paman. Memang itulah penyebab paman mau di ajak ke Indonesia oleh istrinya. Untuk meminta uang dari Bryan.


" Apa uang yang dulu Bryan berikan untuk memperbaiki usaha milik papa yang paman hancurkan sudah habis? Apa perusahaan itu kembali tidak beroperasi? " tanya Bryan.


" Usaha papamu sangat tidak menguntungkan. "


" Paman jangan asal bicara. Perusahaan itu papa bangun dari nol, dan hanya dalam hitungan tahun, perusahaan itu maju pesat di tangan papa. Dan sekarang, paman menghancurkannya begitu saja. " ujar Bryan sambil menghela nafas kesalnya.


Pipit meraih tangan Bryan dan menggenggamnya, memperingatkan kalau Bryan jangan terlalu terpancing emosinya.


" Abang habis ini ada operasi besar. Jadi jangan kacaukan mood Abang hanya karena omongan paman. " ujar Pipit dalam bahasa Indonesia, jadi sang paman dan bibi tidak memahami bahasa itu.


Bryan menoleh ke arah Pipit dan melihat wajah istrinya yang cantik itu. Lalu ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Kini hatinya terasa lebih ringan. Memang kehadiran Pipit sangat membantunya.


Beda lagi dengan hati Pipit. Hati kecilnya merasa berat jika paman Bryan pulang ke Perancis segini cepatnya. Ia masih ingin berlama-lama berada di dekat suaminya. Jika paman dan bibi Bryan kembali, maka ia juga harus kembali ke rumah Seno bukan? Kembali ke kehidupan nyatanya, dan meninggalkan dunia sandiwaranya.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2