
" Uwaaahhh....Milih yang tajir? Dapet uang? Berarti Abang jadi gigo** dong. "
" Ck. Asal aja kalau bicara. Aku pilih perempuan yang dari keluarga terpandang, paling tidak mereka menjaga kebersihan daerah kewanitaannya. Jadi kecil kemungkinannya mereka terkena penyakit kela***. "
" Emang bang bule nggak khawatir gitu kalau tiba-tiba ada perempuan yang pernah tidur sama Abang datang bawa anak? "
" Aku berani jamin tidak akan ada wanita yang karena bermalam denganku. Jikapun ada perempuan yang datang dan mengatakan kalau dia hamil anakku, aku yakin kalau dia berbohong dan berusaha menjebakku. "
Pipit mengernyit, " Yakin bener? "
" Aku selalu bermain aman dengan pengaman kualitas terbaik. Jika tidak, aku mengeluarkan kecebongku di luar. "
" Yang namanya orang kan nggak tahu bang. "
" Tapi aku sangat yakin. Aku seorang dokter, dan aku tahu ketika aku melakukan itu apakah perempuan itu bisa hamil apa tidak. "
" Serah Abang aja deh ..Suka-sukanya Abang. " sahut Pipit yang memang tidak begitu peduli dengan hal itu.
" Kalau Pipit boleh tahu, kenapa sih Abang kok suka tidur dengan banyak perempuan? Bukannya hal itu dosa ya? "
" Dulu, aku ini seorang laki-laki pendiam. Yang tidak begitu peduli dengan yang namanya perempuan. Sampai suatu hari...." Bryan menunduk. Entah apa ia sanggup untuk menceritakan hal paling memalukan ini kepada istrinya.
" Kenapa bang? "
" Istri dari paman yang telah mengambil harta orang tuaku, pernah melakukan pelecehan terhadapku. Suaminya impot**, dan karena dia masih lumayan muda, ia butuh pelampiasan. Sudah sejak lama dia menginginkanku, tapi aku selalu menghindar. Sampai suatu saat...." Bryan merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
" Sampai suatu saat ketika aku pulang kuliah hari sudah gelap, dan paman belum pulang, bibi tiba-tiba menarikku dan membawaku ke kamarnya untuk melampiaskan nafsunya. Ia memaksaku. Aku berusaha menolak tapi ia selalu mengancamku kalau dia akan membuat paman menghentikan semua biaya hidup juga kuliahku. "
" Dia memaksa Abang melayaninya? " Pipit bertanya kemudian membekap mulutnya. Ia tidak percaya, ada seorang bibi yang tega berbuat keji seperti itu.
Bryan mengangguk, " Tapi aku menolaknya. Aku tidak peduli jika memang semua biaya untukku di hentikan. Aku berhasil kabur dari dia dan pergi meninggalkan rumah. Selama beberapa hari aku tinggal di apartemen Seno. Aku yang saat itu masih polos, benar-benar di buat trauma atas perlakuannya. Berhari-hari aku mengurung diri di apartemen Seno, hingga akhirnya Seno berhasil membuatku menceritakan semuanya. "
" Setelah bercerita kepada Seno, hatiku sedikit lega. Dia memberiku semangat untuk tidak terpuruk. Akhirnya aku kembali kuliah seperti biasa. Tapi sepertinya bibi masih kesal kepadaku. Dia memprovokatori salah satu mahasiswi di kampusku untuk menjatuhkanku. Dia membullyku habis-habisan, mengatakan kalau aku bukan laki-laki tulen, mengatakan jika aku impot**. "
Pipit masih setia mendengarkan cerita hidup Bryan dengan berjuta kejutan yang sama sekali tidak pernah Pipit duga.
" Setelah aku mencari tahu dan ternyata perempuan itu bekerja sama dengan bibiku, akhirnya aku membuat rencana untuk membalas perlakuan mereka berdua. Aku sengaja mendekati perempuan itu, kemudian mengajaknya bertemu di sebuah hotel dengan membawa bibiku tentu saja. Dan di hotel itu, pertama kalinya aku melakukan hal yang berdosa itu. Di depan bibiku, aku mencumbu perempuan itu. "
" Apa perempuan itu masih perawan saat Abang melakukannya? " jiwa kepo Pipit keluar.
" Aku sudah menyelidiki sebelumnya. Ia sudah beberapa kali melakukan hal itu dengan teman kampusnya juga. Dari awal aku sudah berkomitmen jika aku tidak akan pernah melakukannya dengan yang masih gadis. "
" Lalu bagaimana dengan bibi Abang? "
__ADS_1
" Dia kesal sekesal-kesalnya. Dan akhirnya dia merayu paman untuk mengambil rumahku dan menghentikan semua biaya untukku. Dan semenjak saat itulah aku sering bergonta-ganti pasangan. Hinaan, Bullyan yang aku terima dulu masih sangat terekam jelas di memori otakku. Perlakuan bibi saat itu, juga masih sangat aku ingat dengan jelas. Setiap aku mengingatnya, aku pasti akan mencari pelampiasan. "
Bryan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Matanya terpejam dengan berbagai beban hidup. Hati Pipit tersentuh dengan cerita hidup suaminya. Ia merasa kasihan. Ia tidak menyangka alasan dan penyebab seorang dokter tampan yang di sanjung-sanjung banyak perempuan seperti itu. Dokter Casanova itu mempunyai masa lalu sepahit itu.
" Sekarang Abang kan udah nikah sama Pipit, kalau Abang ingat hal yang dulu, terus Abang cari pelampiasan, berarti Abang selingkuh dong dari Pipit..." canda Pipit berusaha berubah suasana.
Bryan membuka matanya, mengangkat kepala yang sandarkan di sandaran sofa tadi.
" Sudah aku bilang, setelah aku berkomitmen, mengucap ijab kabul terhadapmu, aku tidak pernah melakukan hal bejat itu lagi. Aku selalu berusaha menekan keinginanku untuk melampiaskan kekesalanku saat aku mengingat masa laluku. Aku berusaha mencari hal baru yang lebih positif untuk melampiaskannya. " jawab Bryan.
" Sudah berapa banyak perempuan yang abang bawa ke apartemen ini? " tanya Pipit.
" Hanya satu, yaitu kamu. " jawab Bryan singkat.
" Percayalah. " ucapnya saat ia melihat wajah Pipit yang sangsi dengan kata-katanya.
" Serah Abang aja lah. Pipit haus, mau minum. " ucap Pipit mengalihkan perhatian. Ia mengambil botol air mineral yang ada di depannya dan membuka tutupnya dan meminumnya.
Glek ...Glek....Glek....
Botol air mineral itu kosong seketika. Suasana hening sejenak.
" Bang, kamar mandi dimana? " tanya Pipit yang tiba-tiba mendapatkan panggilan alam.
" Di kamar yang depan itu, ada kamar mandinya nggak? Kamar itu kan kamar abang. Masak Pipit masuk ke sana sih. " celetuk Pipit.
" Kenapa emang kalau masuk ke kamarku? Kamu kan istriku. Lagian, di kamar yang depan nggak ada kamar mandinya. " sahut Bryan sambil beranjak berdiri.
Pipit masih nampak ragu untuk ke kamar mandi yang ada di kamar Bryan.
" Jadi ke kamar mandi nggak? Entar keluar di situ loh. Apa mau nahan sampai pulang entar? " tanya Bryan sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkas.
Pipit mulai nggak nyaman dengan duduknya. Sungguh perutnya tidak bisa di ajak kerjasama. Keinginan alamnya semakin menjadi. Kini ia hilangkan keraguannya. Ia segera beranjak berdiri dari duduknya dan segera masuk melesat ke kamar Bryan. Bodo amat, yang penting panggilan alam segera di tuntaskan. Pikir Pipit.
Hampir setengah jam Pipit berada di dalam kamar mandi. Setelah urusan alamnya selesai, ia keluar dari dalam kamar mandi. Saat keluar, ia baru menyadari jika ternyata kamar tidur Bryan juga sangat bersih dan rapi. Aroma parfum maskulin Bryan menyeruak memenuhi ruangan. Pipit menghirupnya dalam-dalam. Seolah-olah wangi itu menenangkan jiwanya. Di atas nakas, ia kembali melihat foto orang tua Bryan. Di sisi ruangan, ada rak buku yang besar dan menjulang tinggi. Pipit mendekatinya. Ia melihat beberapa judul buku, yang semuanya mengenai kedokteran.
Pipit menyunggingkan senyumnya saat melihat foto Bryan terpampang besar di dinding kamar. Keren. Itulah yang Pipit pikirkan. Lalu ia menepuk jidatnya sendiri dan buru-buru keluar dari kamar.
Saat ia keluar dari dalam kamar, ia mencium bau masakan. Ia menggunakan hidungnya untuk mencari sumber bau.
" Bang bule lagi masak? " tanya Pipit saat melihat Bryan sedang berkutat dengan peralatan dapurnya. Peralatan dapur yang sudah cukup lama ia anggurkan, hari ini ia gunakan untuk memasak istimewa untuk sang istri kecilnya.
Bryan menoleh sebentar ke arahnya. Lalu kembali fokus ke kegiatan memasaknya. " Lama bener di kamar mandinya? Ketiduran? "
__ADS_1
" Nggak. "
" Keluar kapal selam? "
" He em. Keras banget, jadinya lama. Harus berjuang sekuat tenaga dan memeras keringat buat ngeluarinnya. "
Bryan berjalan ke kulkas, dan mengambil sebotol yoghurt dari dalam sana. " Minum ini, biar nggak sembelit. "
" He...he...he... becanda bang...Keluarnya lancar selancar jalan tol. Cuman kebiasaan aja kalau lagi menyelesaikan panggilan alam, Pipit suka lama di kamar mandinya, soalnya sambil dengerin musik, kalau nggak ya nge-game atau nonton film. He...he...he..."
" Jangan di biasain seperti itu. Buang ha*** lama-lama bisa bikin ambeien. " ujar Bryan.
" He em..." jawab Pipit. Ia lalu mendekati Bryan yang sedang sibuk dengan memakai apronnya. " Wah, pak dokter selain pakai jas warna putih, ternyata pantes juga apron ya. " ledek Pipit.
" Demi kamu. " jawab Bryan asal, tapi juga dari dalam hati yang terdalam.
" Demi kian kali. " sahut Pipit. " Masak apaan sih bang? "
" Sup galantin. Aku nggak tahu kamu suka apa. Jadi ya aku masak aja bahan yang ada di kulkas. "
" Kalau Pipit mah apa aja masuk, asalkan nggak yang expired. "
" Duduk aja di sana. Bentar lagi matang. "
" Pipit perlu bantuin apa nih? Masak iya Pipit cuma duduk doang. Pipit kan cewek. "
" Sekali-sekali duduk doang nggak pa-pa. Besok-besok gantian kamu yang masakin. " jawab Bryan.
" Iya, besok Pipit masakin mi instan lagi. "
" Bisa penuh lemak badan aku kalau tiap hari kamu masakin mi instan. Udah gitu, asam lambung aku bisa naik. Les masak besok sambil kuliah. Biar bisa masakin suami. "
" Hisss...siapa juga yang mau masakin abang tiap hari. Ngapain ada ojol makanan dimana-mana kalau masih masak sendiri. Kasihan, entar mereka nggak dapat uang. "
Dan terus berlanjutlah percakapan santai di antara mereka berdua sampai mereka menghabiskan makanan yang tadi di masak oleh sang bule Casanova.
Setelah selesai makan malam, Bryan mengantar Pipit pulang. Pipit membawa mobil barunya, dan Bryan mengikuti dari belakang dengan mengendarai mobilnya sendiri.
***
bersambung
Maaf ya para reader nya othor yang terlope-lope.... Sementara othor update tiap hari satu episode dulu yah.... nanti kalau yang like novel othor ini udah sampai 700 atau 800 like per-episode, othor janji bakalan double up tiap hari...atau bahkan triple up deh...😍😍🙏🙏
__ADS_1