Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Praktek lapangan


__ADS_3

Hari terus berganti. Ibu Pipit sudah pulang ke kampung. Beliau berpamitan kepada anak-anaknya juga menantunya untuk pulang ke kampung, karena rumahnya sudah cukup lama di tinggalkan.


Setelah ibu meninggalkan rumah itu, Pipit menjadi merasa bisa bernafas lega. Ia tidak terlalu harus bersandiwara bersikap baik dengan Bryan. Ia bukan membenci Bryan dan tidak ingin bersikap baik, tapi ia hanya tidak bisa menganggap Bryan sebagai suaminya seperti yang selalu di katakan sang ibu.


Tapi berbeda lagi dengan Bryan. Meskipun sang ibu mertua sudah tidak di ibukota lagi, ia tetap memperlakukan Pipit dengan sangat baik. Karena selama ini ia memang tidak sekedar bersandiwara dalam bersikap terhadap Pipit. Ia benar-benar menyayangi istri kecilnya, menghargainya sebagai sesuatu yang sangat berharga.


Bryan menjadi lebih serius dalam bekerja. Ia sudah tidak pernah keluar malam hanya untuk bersenang-senang. Jika ia sedang galau, ia lebih memilih untuk ke rumah sahabatnya yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya. Untuk bermain dengan si kecil Danique dan bertemu sang istri tentu saja.


" Pit, besok aku akan mengantarmu untuk mendaftar kuliah. Menurut informasi yang aku terima, universitas I besok sudah mulai membuka pendaftaran. Dan untuk kedokteran, mereka hanya akan membuka pendaftaran selama satu minggu. " ujar Bryan sambil bermain dengan baby Dan.


" Universitas I? "


" Hem. " Bryan mengangguk.


" Kenapa harus universitas I? "


" Kedokteran di universitas itu adalah yang terbaik. "


" Tapi Pipit tidak begitu percaya diri. Universitas itu terkenal dengan mahasiswa yang pintar-pintar. Pipit takut kalau nggak keterima. Secara Pipit kan hanya lulusan sekolah di pinggiran. " sahut Pipit tidak begitu percaya diri.


" Berpositif thinking saja. Kamu pasti bisa. " ujar Bryan.


" Kamu tenang saja, pit. Jika kau gagal di tes masuk, maka papa akan maju. Keluarga Adiguna punya sedikit saham di sana. " ujar Seno yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja.


" Nepotisme dong jadinya. Nggak ah. Pipit ogah kalau pakai cara itu. Ya....bener juga Pipit bisa keterima di sana, tapi kan kalau Pipit kalah jauh dari yang lain karena yang lain keterima karena mereka benar-benar pintar, gimana? Nggak PD juga jadinya. " sahut Pipit.


" Ck! Kamu nggak usah pikirkan hal itu. Tidak semua yang di terima di sana murni karena hasil tes mereka bagus. Banyak nanti yang lewat jalur belakang. "


" Tau' lah. " jawab Pipit sambil mengendikkan bahunya. Ia tahu, berdebat dengan dua orang laki-laki di depannya ini tidak akan berhasil.


" Yang penting, kamu harus rajin belajar. Dan kamu nggak perlu khawatir bakalan kesusahan dalam belajar. Suamimu ini ahlinya. Dia ini meskipun terkadang agak error kelakuannya, tapi kalau cuma masalah kedokteran, jangan di ragukan. " puji Seno ke Bryan.


" Ihh, tumben Lo muji gue. " sahut Bryan heran.


" Nggak mau gue puji Lo? Mau di puji aja sama bini gue? Bentar, gue panggilin. "


" Eits, jangan... Nggak perlu bro. Kalau bini Lo yang keluar, bukannya pujian, tapi julukan anehnya yang keluar. " larang Bryan. " Iya nggak, beb? " Bryan berbicara dengan Danique yang ada di pangkuannya.


" Anak Lo ganteng banget. Jadi pengen punya anak juga gue. " ujar Bryan sambil melirik ke arah Pipit.


" Kode tuh Pit. Bang bule kamu pengen ngajakin ngadon anak. " celetuk Seno.


" Ngadon? Di kira kue apa di adon? Mau bikin donat? " sahut Pipit.


" Suami kamu pengen punya anak. Kalau nggak sama kamu, siapa lagi. Kan kamu istrinya. "


" Apaan sih Abang ini. Pipit masih kecil ya. Jangan bicara bikin anak dulu sama Pipit. Jadi ngeri Pipit dengernya. "


" Eh, dosa loh nolak suami. Dosa nggak mau ngelayanin suami. " ujar Seno kembali. Sedangkan Bryan hanya menyunggingkan senyuman kecilnya merasa jika sahabatnya ini benar-benar bisa di andalkan.


" Berarti mbak Armell dulu juga berdosa ya bang? Kan mbak Mell dulu habis nikah sama abang nggak langsung mau melayani Abang. " celoteh Pipit polos, entah sengaja menjatuhkan iparnya itu.

__ADS_1


" Kakak kamu kan nggak nolak. Abang aja yang emang belum minta. "


" Nggak minta, tapi suka nyuri-nyuri kesempatan. Mending minta sekalian. "


Jeddarr.... bagaikan di sengat petir...Gimana tuh rasanya kalau di sengat petir. Hanya Seno yang tahu. Seno mengusap tengkuknya. Kenapa malah jadi dia yang terjebak. Mati kutulah si Seno. Untung di saat seperti ini, istrinya datang menghampiri.


" Asyik banget kayaknya nih ngobrolnya. " seru Armell yang langsung duduk di sebelah suaminya.


" Baby. " sapa Seno langsung merangkul bahu Armell.


" Iya nih mbak. Lagi ngomongin mbak Mell. Abang bilang tadi, kalau nggak mau ngelayanin suami itu dosa. Terus Pipit jawab kan tuh, berarti mbak Armell juga berdosa soalnya setelah nikah mbak kan nggak langsung ngelayanin Abang. Eh, bang Seno bilang kalau dia emang belum minta. Ya aku jawab lagi, nggak minta tapi nyuri-nyuri kesempatan. " cerocos Pipit.


Armell langsung menoleh ke arah Seno. Ia melihat Seno tengah menatapnya tajam penuh dengan tuntutan butuh penjelasan.


" Suamiku sayang, maaf, waktu itu Mell keceplosan. He...he...he..." ujar Armell sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


" Kenapa hal seperti itu harus di ceritakan? " ucap Seno tegas.


" Maaf. Mell keceplosan waktu itu, nggak sengaja pas Pipit telepon, Mell ngomong. Tapi nggak semua kok yang. Swer deh. " sahut Armell membela diri.


" Dihh, berarti Abang parah nih .. nggak cuma nyuri-nyuri kesempatan buat nyium, tapi pasti yang lain juga. " ujar Pipit.


Kini gantian Armell yang memberikan tatapan tajamnya ke adiknya. Dasar, adik nggak bisa ngerem mulutnya.


Armell yakin, sang suami pasti marah kartu nya kebuka. Sedangkan Bryan malah cekikikan. " Mendingan gue, nggak di kasih nggak pa-pa juga, yang penting nggak nyuri-nyuri. " ledek Bryan.


Habislah Seno kali ini. Armell yang merasa setelah ini akan ada gunung meletus, segera mengambil tindakan, jurus meluluhkan suami yang sedang kesal.


" Mbak Mell..." Pipit di buat terkejut dengan kelakuan kakaknya. Kakaknya kenapa bisa melakukan itu di depan orang lain. Kakaknya yang dulu seorang pemalu dan polos sepertinya sudah terkontaminasi.


" Manis, sayang. " ujar Armell sambil menjilat bibirnya yang ia gunakan untuk mengecup bibir suaminya. Sedikit terangkat kedua sudut bibir Seno kali ini. Ia paling tidak bisa marah dengan sang istri lama-lama. Istrinya yang sekarang sudah pandai mengambil hatinya, dan jauh lebih berani berekspresi.


Seno yang merasa gemas dengan istrinya, langsung menarik tengkuk sang istri, kemudian ia melu*** bibir tipis istrinya.


" Aduhhhh.....mata Pipit...Ibuuuuu....Mbak Mell sama abang mengotori mata Pipit...." pekik Pipit sambil menutup matanya.


" Abang bule dokter, Pipit minta obat mata ya ntar. " tambahnya sambil berteriak ke Bryan. Sedangkan Bryan hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat sikap Pipit.


" Bang, tutup mata baby Dan. Biar nggak ikut sakit matanya ngeliat emak sama bapaknya berbuat mesum. " kini Pipit dengan hebohnya berusaha menutup mata baby Dan dengan telapak tangannya sambil matanya juga masih ia tutup.


" Eh, itu hidung Danique, honey. Jangan di tutup, nanti dia nggak bisa nafas. " protes Bryan sambil menyingkirkan tangan Pipit dari wajah baby Dan.


" Iya, tapi tutupin matanya baby Dan. "


" Honey, Danique belum ngerti masalah kayak gini. Ia paling mikirnya kalau emak sama bapaknya lagi bermain aja. " sahut Bryan.


Sedangkan Seno dan Armell yang telah menyudahi kegiatannya, hanya menyaksikan pemandangan yang ada di depannya dengan terkekeh geli.


" Buka mata kamu, honey. Mereka udah selesai tuh. " ujar Bryan.


" Beneran? " tanya Pipit sambil membuka sebelah matanya sedikit untuk mengintip. Saat ia melihat semuanya telah usai, ia membuka matanya lebar.

__ADS_1


" Bang, jangan lupa, besok kalau jemput Pipit, bawain obat mata. Kalau nggak di obati, mata Pipit bisa belekan. "


Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Mas, ke kamar yuk. " bisik Armell dan wajah Seno semakin berbinar.


" Beneran beb? " tanya Seno dengan tatapan penuh makna.


" Mumpung ada yang di titipin baby Dan. " sahut Armell sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Seno.


" Gue titip anak gue. Anggap aja kalian lagi belajar ngurus anak kalian nanti. Buat persiapan. " ujar Seno ke Bryan.


" Kalian mau kemana? "


Seno tersenyum penuh arti. " Mumpung ada malaikat lewat. Jarang-jarang di ajakin. Biasanya susah. " bisik Seno ke bryan.


" Mas..Jadi nggak nih. " teriak Armell yang sudah berada di tengah tangga.


" Jadi dong. " jawab Seno. Seno langsung meninggalkan Pipit dan Bryan begitu saja. Pipit nampak berpikir apa yang akan di lakukan kakak dan kakak iparnya, sedang Bryan yang sudah tahu maksud mereka hanya bisa mendesah.


" Dasar ipar pada nggak ada akhlak. " gerutu Bryan.


" Mereka mau ngapain sih bang? " tanya Pipit.


" Kamu mau tahu? "


Pipit mengangguk mantap.


" Panggil Siti dulu, biar Danique di jaga sama dia. Akan aku tunjukkan apa yang kakak sama ipar kamu lakukan. "


" Nggak bisa gitu, di jelasin aja? "


" Enak sekalian praktek lapangan. "


" Ih, kok pakai praktek sih. Apaan sih bang? Jiwa kepo Pipit meronta nih. " rengek Pipit. " Bilang aja sih. Tinggal bilang, mereka mau ngapain. Prakteknya entar belakangan kalau udah tahu mereka ngapain. Enak apa nggak. "


" Jelas enak. Hal paling enak dan ternikmat di dunia ini. Apalagi kalau prakteknya sama istri sendiri. Lebih enak dan nikmat kalau Seno bilang. "


Pipit yang paham maksud Bryan, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. " Dasar kakak sama kakak ipar mesum. Masih sore juga udah celup-celupan. " gerutu Pipit.


Setelah selesai menggerutu, Pipit beranjak dari duduknya.


" Mau kemana kamu? " tanya Bryan.


" Keluar. Panas udaranya di sini. Takut ada yang khilaf. " celetuk Pipit sambil terus berjalan keluar.


***


bersambung


Jangan lupa like, vote, komen....

__ADS_1


__ADS_2