
" Apa???" pekik Seno saat mendengar penuturan dari sahabatnya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengacak-acak rambutnya.
Rupanya Bryan sudah menceritakan kejadian yang ia dan Pipit alami di kampung.
" Kenapa hal ini bisa terjadi? Bry...Lo ya..." teriak Seno geram.
" Gue juga nggak tahu bakal kayak gini kejadiannya. Sen, please jangan marah-marah aja Lo. Kita di sini udah tertekan, jangan Lo tambahin. Tolongin kek. " sahut Bryan di seberang.
" Kenapa lo nggak jelasin ke warga kejadian yang sebenarnya? "
" Udah, Seno....Gue sama adik ipar lo udah jelasin sampai berbusa nih mulut, tapi warga tetap kekeh sama pendirian mereka. " jawab Bryan. Ia menghela nafas sebentar. " Sekarang posisi kita di sini terjepit. Maju salah, mundur juga salah. Adik ipar Lo nangis kejer nih. "
Seno memejamkan matanya sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam. " Terus sekarang, apa yang mau kalian lakuin? " tanyanya.
" Gue sama Pipit sepakat mengikuti kemauan warga. Gue bingung mesti ngapain lagi, sedangkan ancaman warga kayak gitu. " sahut Bryan.
" Lo jangan macem-macem ya. Pipit itu adik gue. Dan gue tahu siapa Lo. " ancam Seno.
" Sen, Lo harus ngertiin posisi gue dong. Dan Lo dengerin baik-baik ya, gue tahu Pipit itu ipar Lo. Adik Lo. Dan Lo juga tahu, gue ini sahabat Lo. Kalau gue berani berkomitmen serius dengan adik Lo, nggak mungkin gue bakal macem-macem sama dia. Kalau sampai gue macem-macem, gue tahu, Lo bakal nembak jidat gue, terus Lo deportasi gue ke Niagara. " sahut Bryan serius, tapi juga ia selingi dengan candaan.
" Bryan..."
" Iya...Iya tuan muda Adiguna. Gue janji, gue bakalan berubah, demi adik ipar lo. Gue bakalan serius ngejalanin rumah tangga gue sama adik ipar Lo. Gue bakalan insyaf jadi Casanova. "
" Gue pegang janji Lo. Sampai gue tahu Lo masih suka celup sana celup sini, gue sendiri yang bakal tembak mati burung Lo. " ancam Seno.
" Iya, mister. Sekarang, Lo bantuin gue buat bicara sama istri Lo, sama ibu mertua Lo juga, yang bentar lagi jadi mertua gue. Mereka kasih waktu ke kita sampai entar sore. Kalau bisa, Lo bawa ibu kesini lah. Kasihan Pipit, masak ia mau nikah tapi nggak ada keluarganya. Meskipun cuman nikah siri. "
" Gue bakal bantuin lo, karena lo sahabat gue. Dan Lo harus ingat, setelah Lo mengucapkan ijab Kabul, Lo harus menghormati gue. Jangan suka asal sama gue. Karena gue udah jadi kakak Lo. He..he...he..."
" Iya, bang ..Iya ..."
" Ih, geli gue denger Lo manggil gue Abang. "
" Ck! Makanya cepetan Lo kasih tahu ibu sama bini lo. Jangan nyerocos terus. "
Tut ...Tut ..Tut ...
__ADS_1
" Oh, dasar calon adik ipar nggak tahu sopan santun. Awas Lo kalau udah jadi adik ipar gue. " gumam Seno saat mendengar panggilannya di akhiri oleh bryan.
" Ada apa mas? Siapa yang telepon? " tanya Armell yang baru saja masuk ke dalam kamar dan baby Dan yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya. Saat ia masuk ke dalam kamar tadi, ia mendengar suaminya sedang mengumpat seseorang.
" Baby, tidurkan baby Dan dulu. Setelah itu baru kita bicara. " titah Seno. Armell segera berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar baby Dan. Seno segera membantu membuka pintu itu, dan Armell masuk ke dalam kamar baby Dan, dan segera meletakkan baby Dan di atas ranjangnya perlahan.
Dengan perlahan, Armell kembali ke kamarnya, dan Seno segera menutup pintu penghubung itu kembali.
" Duduklah di sini, baby. " ajak Seno sambil menepuk pinggir ranjang yang kosong di sebelahnya.
" Ada apa sih mas? Kelihatannya kok serius banget. " tanya Armell sambil mengerutkan keningnya.
" Baby, aku akan menceritakan sesuatu. Aku harap kamu bisa menyikapinya dengan bijak. Dan jangan terlalu terbawa emosi. " ujar Seno hati-hati karena yang ada di kepalanya saat ini, istrinya itu pasti akan langsung mencak-mencak.
" Udah sih mas... cepetan cerita, nggak usah terlalu panjang juga prolog'nya. " protes Armell.
Seno menarik nafas dalam-dalam lalu berdehem kecil. " Baby, terjadi sesuatu sama Pipit. "
" Apa? Pipit kecelakaan?? " tebak Armell dengan nada tinggi.
" Baby, dengerin dulu suamimu ini bicara sampai selesai, jangan main potong. Ck. Jadinya salah paham nantinya. " protes Seno.
" Baby, Pipit tidak kecelakaan. Dia baik-baik saja. "
" Oh, syukurlah. " kini Armell bisa bernafas lega.
" Pipit di gerebek warga dan sekarang, ia harus menikah sama Bryan. "
" Oh, nggak pa-pa yang penting Pipit baik-baik saja. " sahut Armell dengan entengnya, dan justru malah membuat suaminya melongo.
" Baby, kamu yakin? " tanya Seno memastikan sambil mengerutkan keningnya dan menatap dalam-dalam wajah santai istrinya.
" Iya. Pipit cuma mau nikah sama Bryan, gitu kan? " ucapnya ringan.
Tug...tug ....tug....Satu detik....dua detik ... suasana lengang.
" APA???" pekik Armell kencang sambil bangkit dari duduknya. " Pipit mau nikah sama dokter mesum yang kayak teh celup itu?? Nggak... nggak.... nggak..." ujar Armell sambil berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir.
__ADS_1
" Bagaimana bisa adik aku nikah sama Sariwangi?? " gumam Armell.
Seno memijat pelipisnya karena pening. Ia lalu bangkit dan menghampiri istrinya itu.
" Baby, tenangkan diri dulu. Kamu jangan kayak gini. Kamu kan nggak boleh stress baby. Ingat, kamu harus menyusui si kecil. Kalau kamu stress, ASI-nya mampet entar. " Seno mencoba menenangkan istrinya dengan menepuk-nepuk perlahan pundak istrinya.
" Baby, tarik nafas dalam-dalam....hembuskan...." Seno menyuruh istrinya melakukan relaksasi. Armell mengikuti instruksi suaminya. " Sekali lagi baby...Tarik nafas dalam-dalam.... hembuskan..."
" Kalau kamu stress, bukan cuma anak kita yang kasihan. Tapi aku juga, bakalan lama puasanya. Lampu merahnya jadi makin panjang. " gerutu Seno yang terdengar di telinga Armell.
Plak
Armell menggaplok punggung suaminya.
" Aduh baby. Tangan kamu keras sekali. " protes Seno.
" Makanya jangan asal menggerutu. Enak-enak aja yang di pikirin. "
" Ya kan aku puasa udah satu bulan lebih beb. Kangen tahu nggak. Kalau kamu stress kan masa nifasmu jadi makin panjang. "
" Siapa yang ngeluarin rumus kayak gitu? Nggak ada hubungannya ya stress sama masa nifas. Kalau sama datang bulan tuh, baru ada hubungannya. "
Seno tersenyum, " Alhamdulillah, bentar lagi bisa buka puasa. " canda Seno. Sengaja tadi dia membuat suasana santai untuk sang istri, jadi istrinya itu tidak terlalu tertekan dan pikiran.
" Udah lebih relax kan? " tanya Seno, dan Armell mengangguk. " Ya udah, ayo kembali duduk. " Seno menggiring istrinya untuk kembali duduk di tepi ranjang.
" Akan aku ceritakan kejadiannya, jadi kamu tenang dulu. " lanjutnya dan Armell kembali mengangguk.!!!
Seno menarik nafas panjang, lalu ia mulai bercerita mulai dari awal sampai akhir. Dan Armell terlihat begitu sedih dan semakin sedih kala ia mendengar bahwa warga sampai mengancam adiknya. Sungguh keterlaluan para warga itu.
" Kasihan Pipit mas. " ujar Armell dengan mata berkaca-kaca. " Rasanya kok berat ya mengikhlaskan Pipit menikah dengan teh celup itu? "
" Bryan, baby...."
" Ck! Aku lebih suka memanggilnya Sariwangi. " jawaban Armell membuat Seno mendesah pelan. Bakalan makin ramai nih keluarga Adiguna ketambahan anggota baru yang juga gesrek. Dan sudah bisa di pastikan, istrinya ini akan sering adu mulut sama adik iparnya.
" Ibu harus tahu masalah ini mas. Ayo kita kasih tahu ibu. " ajak Armell sembari berdiri dan menarik tangan Seno.
__ADS_1
***
bersambung