Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Bimbang


__ADS_3

" Tenang...Tenang..." pak kades mencoba menenangkan warga. " Fitria, seperti yang warga minta, saya sebagai kepala desa akan membuat keputusan. Kalian harus ME...NI...KAH..."


Doeng weng weng weng.......


Kepala Pipit bagai tertimpa truk tronton bermuatan. Ia terkejut bukan main. Ia memelototkan matanya sampai hampir keluar tuh bola mata. Sedangkan si dokter Bryan masih stay cool. Sebenarnya hatinya bersorak gembira saat mendengar keputusan dari pak kades. Tapi saat melihat wajah terkejut dan tak terima Pipit, hatinya tiba-tiba menyusut. Ia jadi oleng hati dan pikirannya.


" Pak, nggak bisa gitu dong.... Orang kita nggak ngapa-ngapain kok. Bapak, dan anda semua jangan asal menuduh dan membuat keputusan untuk hidup dan masa depan orang yang bahkan tidak ada hubungan darah sama kalian SAMA SEKALI!!" ujar Pipit menggebu-gebu dan nada bicara yang keras. Ia bahkan bicara sambil berdiri dan menuding semua orang yang ada di sana jari telunjuknya satu persatu.


Benar apa yang di pikirkan Bryan. Pipit pasti langsung menolak dengan keras dan tegas keputusan sang kades. Mana mungkin Pipit mau menikah dengan laki-laki seperti dirinya. Hati Bryan tiba-tiba menciut. Ia menjadi tak sepede biasanya. Tiba-tiba hatinya juga terasa pedih. Jikapun sekarang ia menikahi Pipit, ia bisa menyandang gelar suami dari gadis yang telah mencuri hatinya. Tapi tetap saja ia tidak bisa mendapatkan hati Pipit. Memikirkan hal itu, Bryan menghela nafasnya berat.


" Tuan kepala desa yang terhormat, saya juga tidak setuju dengan keputusan anda. Bagaimana anda bisa membuat keputusan tanpa memandang kami sedikitpun. Anda hanya melihat dari apa yang barusan terjadi. Dan bahkan kejadian itu tidak seperti yang anda semua lihat. Saya tekankan kembali, jangan terlalu mempercayai penglihatan yang hanya sekilas dan pendengaran yang hanya dari mulut orang lain. " ujar Bryan panjang lebar. Ia menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.


" Benar apa yang di katakan Fitria. Dia bukan anak anda, juga bukan saudara anda. Bagaimana mungkin anda memutuskan suatu hal besar tentang masa depannya. Masa depannya masih panjang, tuan. Ia baru menyelesaikan pendidikan menengahnya. Ia masih ingin kuliah, mengejar cita-citanya. " lanjutnya.


" Ayo pak ..nikahkan saja mereka. Atau kampung kita bakalan kena petaka..." ujar salah satu warga dan langsung di iyakan dengan semua yang ada di situ.


Pak kades menghela nafas panjang. Sebenarnya ia juga berat memberikan keputusan seperti ini, karena ia ingin salah satu anak dari Bu Ani menjadi menantunya. Ia sudah gagal menjadikan Armell menantunya, sekarang ia juga harus kembali gagal membuat Fitria menjadi menantunya.


" Fitria, dan tuan... Sebaiknya kalian segera menghubungi keluarga kalian. Cepat kamu kasih tahu ibumu, Fit. Biar beliau cepat pulang dan bisa menyaksikan pernikahanmu. " ujar sang kades.


" Tidak akan pernah saya memberitahu kepada ibu saya. Dan saya tidak akan pernah mau menikah. " sahut Pipit tegas.


" Usir saja dia pak kades...Usir semua keluarganya dari kampung kita. Kita robohkan rumah ini. " ujar salah satu warga kembali.


Pipit menatap tajam ke arah orang itu. Pak kades juga nampak kebingungan. Warga kembali riuh mengiyakan seruan salah satu warga tadi.

__ADS_1


" Maaf, Fit. Keputusan sudah di ambil. Kamu tinggal pilih, menikah dengan laki-laki ini, atau kamu beserta keluargamu, tinggalkan kampung ini selamanya. Dan kamu di larang keras menginjakkan kakimu di kampung ini. Meskipun hanya untuk berziarah ke makam bapak kamu. " titah pak kades.


Pipit langsung lemas kala mendengar ucapan dari pak kades. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Air matanya kembali menggenang. Ia tidak bisa dan tidak akan mungkin meninggalkan kampung ini begitu saja. Ini adalah tempat kelahiran sang ibu. Di rumah ini, dulu ibunya di lahirkan oleh sang nenek. Lalu di sini, kakak dan dirinya di lahirkan oleh sang ibu. Apalagi, makam bapaknya juga ada di pemakaman kampung ini.


" Saya kasih waktu kalian sampai nanti sore. Terserah kalian mau memberi kabar kepada keluarga kalian atau tidak. Yang pasti, kalian akan di nikahkan oleh pak ustadz Soni di balai desa sore ini. " ujar pak kades sebelum meninggalkan rumah Pipit. Pipit sudah pasrah, ia sudah tidak lagi berbicara.


" Bapak-bapak, ibu-ibu, ayo semua kembali ke rumah masing-masing. Biar petugas keamanan kampung yang menjaga mereka. " perintah pak kades.


Semua orang yang ada di situ, berangsur-angsur meninggalkan rumah Pipit. Pipit masih termenung dan menangis karena nasib hidupnya yang buruk. Ia di paksa menikah oleh warga karena mereka mengira ia telah bertindak asusila. Nama baiknya juga telah hancur. Di tambah lagi, ia harus menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak ia cintai sedikitpun. Bahkan yang ada, hanya rasa jijik jika mengingat kelakuan orang yang sebentar lagi akan mengucap ijab dan kabul atas dirinya.


Melihat Pipit menangis meraung-raung, Bryan jadi ikut merasa bersalah. Jika tadi ia tidak menggoda Pipit, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Tapi jika diingat-ingat, ibu-ibu yang pertama kali mengeluarkan suaranya tadi adalah ibu-ibu yang di lihat Bryan mondar-mandir nggak jelas di depan rumah Pipit mulai dari ketika dirinya dan Pipit sampai di rumah kemarin pagi.


Bryan mendudukkan pantatnya di sebelah Pipit. Ia menggosok-gosokkan tangannya, bingung harus bicara bagaimana dengan Pipit.


" Pipit harus gimana ini ooommm???" suara Pipit terdengar pilu.


" Sekarang bukan saatnya meminta maaf atau menyesal om. Semua sudah terlanjur terjadi. Bagaimana ini ??? Pipit nggak mau bikin ibu sedih karena harus meninggalkan rumah ini. Meninggalkan bapak di kampung ini juga. Huuu...hu...." ujar Pipit sambil menangis tersedu-sedu.


" Lalu bagaimana? Apa kamu mau menikah sama aku? " tanya Bryan dengan hati-hati.


" Pipit bisa apa lagi sekarang ooommm...selain nikah sama om....Om mau kan nolongin Pipit supaya ibu nggak di usir dari kampung ini? "


' Tentu saja gue mau. Tanpa susah payah gue bisa nikahin lo. Siapa juga yang bakalan nolak. ' suara hati Bryan yang mirip sama devil.


' Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan juga dong Bry. Masak kamu tega memanfaatkan gadis yang masih polos ini? ' suara hati Bryan yang mirip Angel.

__ADS_1


Bryan tidak menjawab pertanyaan Pipit, karena ia masih sibuk dengan hatinya.


" Ommm....eh, bang....kita nikah aja. Abang mau kan nikah sama Pipit? "


🗣️ E lah, kok kebalik jadinya. Bukannya laki-laki yang ngajakin nikah, tapi kok ini malah ceweknya yang ngajakin nikah. Suara si author.


🗣️ Si othor mah gitu ngomongnya. Keadaan genting ini thoooorrrr....Suara protes dari Pipit.


" Aku terserah kamu. Apa yang kamu mau, aku oke aja. " jawab Bryan.


Ya iyalah dia oke, kan emang itu yang dia inginkan.


" Tapi Pipit punya syarat..." suara Pipit masih sesenggukan dalam sisa-sisa tangisnya.


" Apa??"


" Kita nikahnya secara agama aja kan? Habis nikah, Pipit nggak mau satu rumah sama Abang." ucap Pipit yang langsung membuat Bryan menoleh ke arahnya. Lalu mengernyitkan dahinya, ia jadi bingung, menikah, tapi tidak mau hidup satu rumah. Pernikahan macam apa itu.


" Pipit tetap mau kuliah. Kalau Pipit keterima kuliah di Jakarta, Pipit mau tinggal di rumah bang Seno aja. Pipit takut kalau tinggal di rumah Abang, Pipit entar di apa-apain. Tapi ibu jangan sampai tahu juga. Biar ibu tahunya Pipit bener-bener jadi istri Abang. Pipit nggak mau ibu sedih karena kecewa sama Pipit untuk yang kedua kalinya. " lanjut Pipit.


Bryan mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi ia sadar, jika pernikahan ini adalah pernikahan karena keterpaksaan. Dan ia berjanji dalam hati, jika ia akan membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya antara dirinya dan Pipit.


" Oke. " jawab Bryan singkat. " Sekarang, ijinkan aku bicara sama Seno. Bagaimanapun juga, dia adalah kakak kamu. Jadi aku harus meminta ijinnya untuk menikahimu. Dan ibu, ibu juga harus tahu juga kan? Aku akan menceritakan duduk permasalahannya ke Seno, biar mereka tidak salah paham terhadap kita. " lanjutnya, dan di jawab anggukan oleh Pipit.


***

__ADS_1


bersambung


Hai ..hai... othor udah up lagi nich.... Jempolnya dong jangan lupa di banyakin....Boom like....Sama bantuin othor buat promosi in lapaknya om dokter dong guysss....makasih .. makasih...dan salam lope-lope sekarung beras....🙏🙏😍😍


__ADS_2