Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Makan katak


__ADS_3

" Bang, Pipit berangkat ke kampus dulu. Assalamualaikum.." pamit Pipit pagi ini.


" Honey, wait. Apa aku belum memberitahumu? " tanya Bryan setelah ia meminum kopi yang tadi di buatkan oleh istri kecilnya.


Pipit menggeleng sambil mengerutkan keningnya.


" Hari ini, kamu tidak usah ke kampus. Aku sudah memintakan ijin langsung dari dosen yang mengajar kamu hari ini. "


" Loh? Kok? Emang kita mau kemana hari ini? Ke Bali lagi? Atau ke Lombok? " tanya Pipit dengan wajah sumringah.


Bryan menggeleng, " No, honey. Ada yang lebih penting dari hanya ke Bali atau ke Lombok. "


" Lalu kemana? " tanya Pipit sambil menghampiri suaminya.


" Nanti juga kamu akan tahu. Sebentar. Jam sembilan nanti kita berangkat. " sahut Bryan.


Pipit lalu duduk di sofa sambil menunggu suaminya bersiap-siap dengan pikiran yang bertanya-tanya.


Setengah jam kemudian, Bryan keluar dari dalam kamar sudah dengan pakaian rapi, dan mengenakan jasnya.


" Ayo kita berangkat honey. " ajak Bryan.


Pipit mengangguk lalu segera mengikuti suaminya keluar dari dalam rumah.


" Bang, sebenarnya kita mau kemana sih? " tanya Pipit saat masih di perjalanan.


" Nanti juga kamu tahu. " jawab Bryan sambil menoleh ke arah pipit dan membelai pipi istrinya.


Pipit kembali menghadap ke jalanan yang ada di depannya. Ia kembali terdiam dan Bryan kembali fokus ke jalanan.


" loh, kok ke rumah sakit? " ujar Pipit sambil menengok ke kanan dan ke kiri. " Abang mau ajakin Pipit ke rumah saki? Nemenin abang kerja? "


" Hem. Belajar jadi asisten juga boleh. Biar tidak cuma praktek yang kamu dapatkan. " jawab Bryan sambil memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tertulis namanya.


" Pagi pak. " sapa Bryan ke satpam yang menjaga tempat parkir itu ketika ia sudah keluar dari dalam mobil.


" Selamat pagi, dokter Bryan. Eh, ada nona Bryan juga. " sapa satpam itu sambil menundukkan kepalanya.


" Kok nona Bryan sih pak. " protes Pipit.


" He...he...maaf non. Saya kan tahunya nona ini istrinya dokter Bryan. Tapi mau saya panggil nyonya Bryan, nona masih terlihat sangat muda. Kurang pas jika saya panggil nona. Jadi ya saya panggil nona Bryan. " sahut pak satpam itu.

__ADS_1


" Bapak tahu aja kalau saya masih muda. Pak, jangan panggil saya nona Bryan. Panggil saja nona Fitria gitu. " sahut Pipit.


" Siap. Siap nona. "


Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar obrolan istrinya dan pak satpam.


" Honey, ayo kita masuk. " ujar Bryan sambil meraih pinggang Pipit dan menggandengnya. " Pak saya masuk dulu. " pamitnya ke pak satpam.


" Oh iya, dokter silahkan. " jawab pak satpam.


Lalu Bryan membawa Pipit masuk ke dalam mobil rumah sakit, lalu membawanya naik lift ke lantai tiga.


" Loh, tempat praktek Abang bukannya ke arah sana ya? Kok kita beloknya kesini? " tanya Pipit.


" Kita mampir dulu kesini sebentar. " sahut Bryan enteng sambil tetap menggandeng pinggang Pipit. Pipit kembali diam.


Tak lama, mereka sampai di tempat yang Bryan tuju.


" Dokter Bryan..." sapa seorang suster.


" Sus, saya bisa langsung masuk? " tanya Bryan.


" Bisa dok. Mumpung jadwal praktek dr Ratna belum di mulai. "


" Sudah. " sahut dr Ratna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. " Daripada di omeli calon direktur rumah sakit. " ujarnya.


" Ck. Kamu ini. Ayo sayang kita masuk. " ajak Bryan setelah ia berdecak.


" Bang, itu bukannya dokter kandungan yang dulu nangani mbak Mell ya? " bisik Pipit sembari berjalan menuju ruang dokter Ratna.


" Hem. "


" Mau apa kita kesini? " tanya Pipit kembali.


" Ayo, silahkan duduk nona Fitria. " dr Ratna mempersilahkan sebelum Bryan sempat menjawab.


" Terima kasih, dokter. " jawab Pipit sembari tersenyum. Ia lalu duduk, di susul oleh Bryan.


" Bagaimana tanda-tandanya? Apa memang positif? " tanya dr Ratna ke Bryan.


" Sepertinya. Perubahan mood dan emosi yang tiba-tiba, lebih sensitif, dan aku juga sudah memeriksa jalan lahirnya. Sepertinya positif. Coba kamu cek pakai USG, biar lebih jelas. " jawab Bryan. Pipit hanya memperhatikan dua dokter itu saling berbicara tanpa mengerti arah dan maksud pembicaraan itu apa.

__ADS_1


" Tamunya belum datang ? " tanya dr Ratna kembali.


" Sepertinya belum semenjak bulan lalu. Karena hampir tiap malam aku menengoknya. " jawab Bryan sambil tersenyum tipis.


" Dasar bule. " sahut dr Ratna sama dengan senyuman tipisnya.


" Tamu siapa bang yang belum datang? Saudara Abang mau datang dari Perancis? Kok Abang nggak ngasih tahu Pipit. Tapi dr Ratna malah tahu sih. " ujar Pipit dengan sedikit kesal.


" See? " ujar Bryan ke dr Ratna. Dan dr Ratna mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Sebenarnya bukan tamuku honey. Tapi tamu kamu. " jawab Bryan sambil membelai rambut pipit.


" Ya udah ayo aku periksa dulu. " ujar dr Ratna. " Mari nona Fitria. " ajak dr Ratna.


" Aku mau di ajak kemana bang? " tanya Pipit sembari memegang tangan suaminya.


" Ikutlah. Dia akan memeriksamu. " jawab Bryan.


" Di periksa? " tanya Pipit sambil mengernyit. " Emang Pipit sakit apa bang kok di periksa sama dokter kandungan segala? Perut Pipit nggak sakit kok. " ujarnya sambil menggelengkan kepalanya. " Kenapa nggak abang aja yang periksa? Abang kan dokter hebat serba bisa. "


Bryan tersenyum, " Honey, aku tidak bisa memeriksamu karena dia yang punya peralatannya. Kalau aku gunakan, maka dia akan marah. Dan kamu tidak sakit apa-apa. Jadi kamu tenang saja. "


" Tapi Pipit takut bang. "


" Aku temani ayo. Aku juga ingin lihat apa yang ada di perut kamu. " ajak Bryan lalu mengambil tangan kanan Pipit dan di ajak berdiri. Pipit berdiri dan mengikuti langkah suaminya. Mereka berjalan menuju ranjang yang telah di sediakan oleh rumah Sakit untuk mengecek kandungan.


" Berbaring di situ. " pinta Bryan. Lalu ia membantu Pipit untuk naik ke atas ranjang. Ia juga yang membuka resleting celana dan menaikkan sedikit atasan Pipit. Ia tidak membiarkan asisten dr Ratna melakukannya.


Lalu dokter Ratna mengoles gel di atas perut Pipit. Dengan bersedekap, pandangan Bryan fokus ke layar monitor yang ada di depan dr Ratna.


" Sepertinya kecurigaanmu benar. " ujar dr Ratna.


Bryan mengusap bibirnya dengan kedua sudut bibirnya yang tersungging ke atas.


" Berarti benar jika kecebongku kualitas super. " gumam Bryan.


" Kecebong? " tanya dr Ratna sambil menoleh ke arah Bryan sebentar.


" Hem. Kau lihat kan, itu hasil penangkaran kecebongku. Kau tahu, aku melakukannya satu kali saat dia sedang masa subur tanpa pengaman. Dan ternyata benar-benar langsung tumbuh di sana. " jawab Bryan dengan bangganya.


" Bang, ada apa sih? Di perut Pipit ada kecebongnya? Kok bisa? Pipit nggak pernah loh bang, makan katak. Kok bisa ada kecebongnya? Bikin penyakit bahaya ya bang? Bang, Pipit kok jadi takut. " ujar Pipit sambil menarik ujung jas Bryan dengan wajah paniknya.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2