Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Bucin juga


__ADS_3

" Honey, apa kau bahagia menikah denganku? " tanya Bryan.


Saat ini mereka sedang duduk berdua di sofa sambil menonton TV. Pipit yang sedang menonton TV lebih tepatnya. Saat ini, ia sedang asyik menonton film terbaru dari Marvell. Sedangkan Bryan hanya menemaninya karena Bryan tidak pernah tertarik dengan film-film seperti itu. Bryan berbaring dengan posisi kepalanya berada di atas pangkuan Pipit.


" Hem? " tanya Pipit menunduk sebentar memandang suaminya.


" Aku bertanya, apa kau bahagia menikah denganku? "


" Tentu saja aku bahagia. Abang ini kenapa bertanya seperti itu? " sahut Pipit.


" Cuma ingin bertanya saja. Aku takut kalau ternyata kau tidak bahagia menikah denganku. " jawab Bryan sambil memindah posisinya menjadi duduk.


Pipit langsung menoleh ke arahnya. " Bagaimana mungkin Pipit tidak bahagia jika mempunyai suami seperti abang bule? Udah tampan, hidungnya mancung, bibirnya seksi, tubuhnya atletis, perhatian pula. " ucap Pipit sambil menelusuri wajah Bryan.


Bryan tersenyum, lalu mengambil tangan Pipit yang sedang menyusuri wajahnya dan mengecupnya lama.


" Kalau abang, bahagia tidak menikah sama Pipit? "


" Sangat. " jawab Bryan sambil menatap mata coklat nan bening milik istrinya dalam-dalam.


Lalu Bryan mendekatkan wajahnya ke Pipit, menelusuri wajah Pipit dengan pandangannya, dan seketika pandangannya jatuh ke bibir mungil milik istrinya itu.


Ia melu*** bibir itu dalam-dalam, menyes**nya, menelusuri tiap inchi mulut istrinya. Pipit yang juga telah terpengaruh dengan sensasi yang selalu di berikan oleh suaminya, berusaha mengimbangi ciuman suaminya.


Tiba-tiba Bryan menyudahi ciumannya. Dan seketika, Pipit langsung menoleh ke arah TV.


" Lah, kok udah tulisan banyak terus jalan naik- naik lagi. Abang siiihhhh....Habis kan filmnya. Jadi nggak tahu endingnya deh. " gerutu Pipit sambil mengerucutkan bibirnya dan menghadap suaminya.


Bryan tertawa sambil mencubit bibir Pipit yang mengerucut. " Lucunya istriku. Cup..." Bryan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Pipit.


" Kamu tenang saja. Kamu bisa nonton di internet. " lanjut Bryan.


" ihh, mana seru. Tadi Pipit nontonnya kan udah dapet separo lebih. Kalau harus ngulang lagi nggak seru. "


" Kalau nonton online di internet kan bisa kamu cepetin, honey. " bujuk Bryan. Tapi Pipit menggeleng dengan masih tetap cemberut.


Lalu tiba-tiba sebuah ide jahil mampir di otak cerdas Pipit.


" Abang harus tanggung jawab ya. " ujar Pipit dengan seringai liciknya.

__ADS_1


" Tanggung jawab bagaimana? " kedua alis Bryan saling bertautan.


Pipit duduk di pangkuan suaminya dengan menghadap suaminya.


" Wow, honey..." seru Bryan sambil tersenyum tipis.


" Abang pasti suka sama tanggung jawab yang harus Abang tanggung. " ujar Pipit sambil mengerlingkan sebelah matanya. Lalu menyerang bibir Bryan tanpa aba-aba.


" Engghhh....." terdengar lenguhan dari mulut Bryan yang membuat Pipit tersenyum dengan nakalnya. " Honey, kamu mau melakukannya di sini? " tanya Bryan saat ciuman bibir mereka terlepas. Dan bibir Pipit berpindah ke lehernya.


Tanpa menjawab, Pipit terus melancarkan aksinya. Ia terus memberikan sentuhan ke suaminya yang membuat ular piton Bryan berubah wujud menjadi anaconda.


Bryan merengkuh tubuh Pipit dalam dekapannya dan menarik kepala Pipit agar sejajar dengannya. Dengan rakus, Bryan membelit lidah Pipit.


Dan tiba-tiba...tok...tok...tok...


Ceklek


Tapi suara pintu yang di ketuk, bahkan pintu itu sudah di buka dari luar, sepasang suami istri itu masih tetap sibuk dengan aktivitasnya seolah tak mendengar semua suara yang ada.


" ASTAGHFIRULLAH HALADZIM........" teriak Seno dan Armell bersamaan.


" Mbak Mell...Bang Seno....Aaaaa ada baby Dan juga...." seru Pipit lalu buru-buru turun dari pangkuan suaminya menghampiri baby Dan yang berada dalam gendongan mommy nya. Dan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


" Kalian ini... seperti tidak punya kamar saja. Kenapa harus bercumbu di luar seperti itu. " gerutu Seno.


" Ck. Memangnya kenapa kalau gue bercinta di sini? Atau di dapur? Atau di ruang tamu sekalian? Rumah, rumah gue sendiri. Masalah buat elo? " sahut Bryan kesal.


" Daripada cuma di ruang tamu, sekalian aja noh di teras. " sahut Seno sambil menunjuk keluar rumah dengan kepalanya. Lalu ia menghenyakkan pantatnya di sofa tunggal ruangan itu. " Biar bisa di tonton live sama para tetangga. Terutama ibu-ibu yang suka heboh kalau lihat bule kayak elo. " lanjutnya.


" Eh, siapa yang suruh Lo duduk? Ha? Tamu nggak punya etika. Belum juga di suruh duduk udah duduk duluan. " sahut Bryan masih dengan nada kesalnya.


Armell yang saat itu juga hendak mendudukkan tubuhnya di sofa dekat suaminya, langsung membatalkan niatnya. Ia langsung kembali berdiri.


" Kamu kenapa berdiri lagi, baby? Ayo duduk. " tanya Seno sambil menarik tangan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


" Kan belum di persilahkan duduk sama tuan rumahnya mas. " jawab Armell.


" Tuh, bini lo aja ngerti. " sahut Bryan.

__ADS_1


" Abang!!!" seru Pipit sambil memelototkan matanya. Ia menghampiri kakaknya dengan menggendong Danique.


Bryan sontak menoleh ke arah istrinya. Ia langsung menelan salivanya dengan susah payah saat melihat tatapan tajam istrinya.


" Mbak Mell kesini, Pipit yang minta. Emang nggak boleh ya, Pipit undang mereka kesini? Ya maaf kalau gitu. Pipit udah lancang undang mereka tanpa ijin Abang yang notabenenya adalah pemilik rumah ini. " ujar Pipit dengan mimik wajah sendunya.


' Akting terussss..... Untung istriku tidak suka berakting seperti dia. 'batin Seno sambil melirik ke arah adik iparnya.


" No, honey... Don't cry. " ucap Bryan mendekati istrinya dan mengelus pipi Pipit. " Aku minta maaf. Bukan maksudku seperti itu. Rumah ini memang aku yang beli. Tapi aku membelinya atas nama kamu. Kamu kan juga udah lihat sertifikatnya. " rayu Bryan yang membuat Seno ingin tertawa terbahak-bahak.


Ia tidak menyangka jika sahabatnya yang tidak pernah mau jatuh cinta pada seorang wanita, kini malah sangat bucin dengan adik iparnya.


" Bukan sama Pipit bang kalau mau minta maaf. Tapi sama mbak Mell, juga sama bang Seno. " ucap Pipit dengan mata puppy nya.


Bryan menghela nafas panjang sambil melirik ke arah Seno. Dan Seno memandangnya sambil mengangkat sebelah alisnya. Bryan lalu memutar bola matanya malas.


" Abang, nggak minta maaf? Kalau Abang nggak mau minta maaf, Pipit mau pulang ke rumah mereka aja. " Pipit pura-pura beranjak berdiri, tapi Bryan langsung menarik tangannya hingga Pipit kembali duduk di sampingnya.


" Aku akan minta maaf sama mereka. " ujar Bryan sambil menatap lekat ke arah istrinya.


Lalu ia menarik nafas dalam-dalam, " Maaf. " ucapnya tanpa mau melihat ke arah Seno. " Armell, duduklah. " pinta Bryan. Kali ini , ia melihat ke arah Armell.


" Terima kasih. " jawab Armell, lalu ia duduk setelahnya.


" Ha ...ha....ha...." terdengar suara Seno yang tertawa terbahak-bahak. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


" Kenapa lo malah tertawa? Ada yang lucu? " tanya Bryan masih dengan nada sarkas.


" Gue ketawa, karena ternyata lo bisa bucin juga. Kualat Lo. Ha...ha...ha..." sahut Seno.


" Honey, kamu lihat? Dia menertawakanku. Kakak iparmu yang songong itu menertawakan suamimu ini. " adu Bryan ke Pipit.


" Ya kan nggak masalah kan kalau Abang bucin? Ada yang salah? Atau Abang malu kalau di bilang Abang bucin ke Pipit? " Rajuk Pipit.


Membuat Bryan menepuk jidatnya sendiri sedangkan Seno semakin tertawa lepas. Seno berpikir, akhirnya ada juga yang senasib dengan dirinya. Bucin dengan sang istri yang kadang luar biasa aneh moodnya. Mau hamil atau nggak, sama saja.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2