
Dan drama kehamilanpun di mulai semenjak hari itu. Bryan sering di buat kalang kabut oleh tingkah istrinya. Kini kehamilan Pipit sudah menginjak usia 9 minggu.
Jauh berbeda dari wanita-wanita hamil lainnya, yang justru akan bermanja-manja dengan suaminya,ingin selalu di perhatikan, minta makanan yang aneh-aneh, mual dan pusing tiap pagi hari. Pipit justru sangat sehat. Ia tidak pernah pusing maupun mual-mual. Hanya porsi makan Pipit saja yang bertambah banyak. Karena ia sering merasa lapar.
Justru yang mengalami morning sickness adalah Bryan. Setiap pagi ketika jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi, Bryan pasti akan mengalami pusing yang amat sangat. Kalau sudah pusing, maka perutnya akan mulai mual seperti di aduk-aduk, dan akan berakhir dengan muntah-muntah dan tubuhnya melemas.
" Honey......" teriak Bryan memanggil Pipit yang ada di lantai satu. Ia masih rebahan di atas kasur.
" Sayaaaaaanggggg....." panggilnya lagi dengan lebih keras.
Brak
Pintu kamar di buka dengan sedikit kasar karena Pipit buru-buru. Ia sudah hapal betul rutinitas suaminya jika sudah berteriak seperti itu.
" Udah mulai pusing bang? " tanya Pipit menghampiri Bryan.
" He em. " jawab Bryan sambil mengangguk pelan. " Pijitin dong honey .." rengek Bryan manja. Nah, satu lagi yang aneh. Memang Pipit tidak suka bermanja-manja. Tapi justru Bryan yang selalu minta di manja dan di perhatikan.
" Ini sebenarnya yang hamil siapa sih? Kok yang manjanya nggak ketulungan malah kamu bang. " gerutu Bryan sambil memijat perlahan kepala Bryan.
Bryan mengalungkan kedua tangannya di pinggang Pipit sembari Pipit memijit kepala dan pelipisnya.
" Ya kamu dong honey yang hamil. " Jawab Bryan sambil mengelus perut Pipit. " Lihat aja, perut kamu udah agak melendung. Anak kamu ini pengennya di manja sama kamu, tapi lewat Daddy-nya. "
" Iya. Dan sepertinya anak kamu ini akan lebih sayang ke bundanya daripada sama Daddy-nya. "
" Kok gitu? Nggak bisa gitu dong honey..." protes Bryan.
" Buktinya, seharusnya Pipit yang mengalami morning sickness, Pipit nggak tuh. Kan malah Abang yang mengalaminya. Itu berarti anak kamu lebih sayang ke bundanya karena tidak mau bundanya kesakitan. " jawab Pipit sambil mengelus perutnya.
Jawaban Pipit membuat Bryan cemberut. Bahkan memajukan bibirnya beberapa mili.
" Duh, lucunya suamiku kalau lagi cemberut gini. Jadi pengen Pipit kuncir bibirnya. " goda Pipit sambil mencubit bibir Bryan yang di majukan itu.
" Honey..." seru Bryan. " Perutku rasanya sudah mulai di aduk-aduk. " lanjutnya.
Pipit dengan segera mengusap-usap perut suaminya. Karena memang begitu caranya untuk mengurangi rasa mual suaminya. Meskipun pada akhirnya Bryan tetap muntah, tapi tidak terlalu parah.
" Udah pengen muntah belum bang? " tanya Pipit setelah beberapa saat.
" Sepertinya. " jawab Bryan yang langsung duduk dan turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Pipit segera mengikuti dari belakang.
Hoek....Hoek ..Hoek....
Bryan mulai mengeluarkan isi perutnya dan Pipit memijit tengkuk Bryan supaya lebih mudah suaminya untuk muntah.
__ADS_1
Setelah selesai mengeluarkan semua isi perutnya, Bryan membasuh mukanya dan berkumur-kumur. Setelah selesai, Pipit memapah tubuh Bryan dan kembali ke dalam kamar.
Pipit merebahkan tubuh suaminya di kasur dan meninggikan posisi bantalnya. Bryan menutup matanya, merasakan tubuhnya yang sangat lemas.
" Apa benar-benar menyiksa bang? " tanya Pipit yang merasa sangat kasihan kepada suaminya. Seharusnya dirinya lah yang mengalami semua itu.
Bryan tersenyum tipis, masih dengan matanya yang tertutup, Bryan menjawab, " Lumayan. Tapi aku bersyukur, karena yang mengalami ini aku, bukan kamu. Mungkin kalau kamu yang mengalami ini, aku akan semakin tersiksa karena tidak bisa melihat kamu kesakitan karena perbuatanku. "
" Makasih banyak, Abang bule ku sayang. Cup. " ucap Pipit lalu mengecup kening Bryan. " Abang tidur aja lagi. " tambahnya sambil mulai membelai-belai kepala Bryan. Jika sudah begitu, maka Bryan akan tertidur kembali, dan akan terbangun ketika jam dinding berada di pukul setengah sembilan. Dan di saat bangun, Bryan akan kembali sehat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
🧚
🧚
" Pagi menjelang siang dok. " sapa Kalila ke Bryan.
" Hem. " sahut Bryan.
" Masih mengalami morning sickness? "
" Iya. " jawab Bryan sambil menghempaskan pantatnya di atas kursi kebesarannya. " Lil, nanti tolong mintakan obat ke dr Ratna. Obat yang dulu sudah habis. Kalau perlu, mintakan yang dosisnya lebih besar. " pinta Bryan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
" Dokter ini ada-ada saja. Dr Ratna memberikan obat itu sudah ada aturannya. Dokter Bryan kan juga seorang dokter. Dokter terkenal lagi. Masak iya tidak mengerti hal itu. "
" Ahh ..." Bryan mendesah sambil memejamkan matanya. " Benar-benar sangat menyiksa. " keluhnya.
" Dia? Dia sangat sehat. Bahkan dia sangat kuat. Sedikitpun dia tidak pernah mengenal kata lelah. Dia selalu bersemangat. Bahkan, setiap hari, dia membersihkan seluruh sudut rumah. Membuat pembantuku hanya berdiam diri mengawasi istriku. " sahut Bryan sambil tersenyum tipis.
" Itu artinya, anak anda adil. Dia benar-benar menyayangi kalian berdua. Dia ingin kedua orang tuanya merasakan kehadirannya. Jika istri anda sudah mengandungnya, membawanya kemana-mana sampai hingga nanti perutnya membuncit, kesusahan jika ingin bergerak, bahkan tidur saja akan sangat tidak nyaman, maka sekarang anda merasakan morning sickness. Jadi ibunya tidak benar-benar kesusahan. " ujar Kalila dengan senyuman tipisnya.
" Apa dulu waktu kamu hamil, suamimu juga sepertiku? "
" Tidak dok. Suamiku sangat sehat. Tapi aku yang merasakan penderitaan orang yang sedang hamil. Suamiku hanya mampu menangis di saat aku sakit. " jawab Kalila sambil memasukkan data pasien yang sudah mengantri ke dalam komputer.
" Anda harus bersabar dok. Bukankah hal ini juga karena kelakuan anda sendiri? Jadi jangan pernah mengeluh. " tambah Kalila.
" Iya, kau benar. Ini karena ulahku yang sudah membuat istriku hamil. " jawab Bryan. " Dan sekarang, tolong panggilkan Wahyu. " pinta Bryan.
" Apa yang anda inginkan saat ini dok? " tanya Kalila dengan wajah penuh kecurigaan.
Bukan tanpa alasan Kalila menatapnya dengan penuh kecurigaan. Tapi setiap Bryan menyuruhnya memanggil Wahyu, salah satu OB di rumah sakit tempatnya bekerja, Bryan pasti akan memintanya mencarikan sesuatu yang seharusnya gampang untuk di dapat, akan menjadi sangat sulit. Seperti hari sebelumnya, Bryan meminta Wahyu untuk membelikannya brownies merk A, tapi ia tidak ingin brownies itu di beli di outlet yang ada di ibukota. Wahyu harus membelinya langsung di toko utamanya yang ada di kota Bandung.
" Cepatlah kau panggilkan dia. Aku sudah sangat menginginkannya. " desak Bryan.
" Baiklah. " jawab Kalila. Lalu dia segera meraih gagang telepon untuk memanggil Wahyu.
__ADS_1
Tak berapa lama, Wahyu sudah berada di dalam ruang praktek Bryan. Dengan suasana hati yang ketar ketir, Wahyu bertanya ke Bryan, " Maaf dok, kenapa dokter memanggil saya? "
" Yu, aku ingin sekali makan ketoprak. " sahut Bryan.
Plong. Rasa hati Wahyu. Bryan hanya ingin makan ketoprak. Dan makanan itu, ada di kantin rumah sakit.
" Iya dok. Akan saya belikan secepatnya. "
" Tapi aku ingin kau belikan yang ada di Jakarta Selatan. Ketoprak C yang terkenal itu. Belikan yang pedas. "
Cleguk. Wahyu menelan salivanya dengan susah payah.
" Kenapa harus ke Jakarta Selatan dok? Itu kan jauh. " ucap Kalila.
" Jauh bagaimana? Aku tidak menyuruhnya membeli di luar kota kan? " sahut Bryan tidak terima.
" Cepat Yu, belikan. Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja. Buat uang lelah kamu. Oh iya, pinjam saja mobil rumah sakit. "
" Baik dokter. " sahut Wahyu. Ia lalu segera mengambil uang yang ada di atas meja, dan berlalu dari ruangan Bryan.
" Cepat, kau mulai panggil pasiennya. " titah Bryan.
Lalu kalila mulai memanggil pasien satu demi satu. Dengan telaten dan teliti seperti biasanya, Bryan memeriksa pasiennya satu persatu.
Setelah dua jam lebih, akhirnya Wahyu kembali dengan membawa pesanan Bryan. Sebungkus ketoprak.
" Masih ada pasien? "
" Tidak ada dok. Itu tadi yang terakhir. " jawab Kalila.
" Baiklah, aku mau makan ketoprak ku. Dan maaf aku melupakanmu karena aku hanya menyuruh Wahyu membeli satu bungkus. Ha ...ha ...ha..." ujar Bryan sambil tertawa terbahak-bahak.
Bryan lalu menikmati ketoprak yang Wahyu beli tadi dengan sangat lahap. Kalila melihatnya sambil menggelengkan kepalanya karena Bryan sangat lahap seperti orang yang sangat kelaparan.
Pas ketika suapan terakhir, handphone Bryan berbunyi. Bryan segera mengangkatnya.
" Iya ma. "
" Bry, cepetan kamu kesini. Istrimu....." ucap Nyonya Ruth.
Tanpa menunggu penjelasan dari nyonya Ruth, Bryan mengakhiri panggilan itu dan segera beranjak keluar dari ruang prakteknya. Ia begitu cemas dan khawatir.
" Kenapa dengan istriku? Ya Allah, semoga istriku baik-baik saja. " gumam Bryan sambil terus berjalan meninggalkan gedung rumah sakit.
***
__ADS_1
bersambung