Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Cerita Damar part 1


__ADS_3

Hari berganti Minggu, dan Minggu berganti bulan. Sekarang Pipit sudah mulai masuk kuliah. Ia sudah memiliki banyak teman di kampus barunya. Bryan bangga terhadap Pipit, karena ternyata Pipit lolos tes seleksi masuk universitas itu pure karena usahanya sendiri. Tanpa bantuan atau nepotisme dari pihak manapun.


Karena Pipit belum sempat mengurus dan membuat SIM, jadinya Bryan masih mengantar dan menjemputnya. Bukannya belum sempat Pipit membuat SIM, tapi Bryan yang sedang sangat sibuk. Setiap hari ada jadwal operasi, dan jam prakteknya di perpanjang oleh pihak rumah sakit karena saking banyaknya pasien Bryan. Dan ia tidak mengijinkan Pipit pergi mengurus SIM sendiri, harus dia yang menemani.


Hari ini, Pipit pulang dari kampus masih agak siang. Ia pulang dengan taksi online karena Bryan tidak bisa menjemput. Ia masih harus praktek, karena Pipit pulang tidak seperti biasanya.


Dengan menggendong tas ransel kecilnya, dan beberapa buku tebal dalam dekapannya, ia masuk ke dalam pekarangan rumah Seno. Sebenarnya nyonya Ruth sudah merayu dan membujuknya untuk tinggal di rumah besar. Tapi Pipit menolak dengan halus. Bukannya tidak mau dan tidak ingin, tapi Pipit merasa, jika ia tinggal di rumah besar, maka ia akan sangat jarang bertemu dengan Damar.


" Iya, Bu...Damar akan segera pulang secepatnya. " ucap Damar kepada sang ibu melalui panggilan teleponnya.


" Pokoknya kamu harus segera pulang. Dia tiap hari nangis terus nyariin kamu. Badannya juga lemes. " ujar ibu Damar.


" Kalau sakit, lemes, tinggal ibu bawa ke dokter aja. Nanti uangnya Damar kirim Bu. "


" Tapi dia itu tanggung jawab kamu. Pokoknya kamu pulang secepatnya, terus bawa dia ke Jakarta. Ibu curiga, dia itu sedang hamil. " ucap sang ibu.


" Apa Bu? HAMIL? " Damar begitu terkejut mendengar ucapan sang ibu. Ia mengusap wajahnya kasar.


" Siapa yang hamil bang? " tanya Pipit yang sedari tadi secara tidak sengaja mendengar ucapan Damar.


Damar menoleh ke sumber suara. Ia sangat terkejut mendapati pertanyaan itu dari seseorang yang Ia sangat hapal suaranya.


" Pip-Pipit...Non..." sapa Damar gugup, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


" Siapa Pipit Dam? " tanya sang ibu lewat panggilan telepon yang masih tersambung.


" Oh, itu bu, adik majikan Damar. " jawab Damar sambil menggosok tengkuknya.


" Oh..." jawab ibunya.


" Damar tutup dulu teleponnya bu. Damar harus kembali kerja. " pamit Damar.


" Ya udah, tapi beneran, kamu pulang secepatnya, jemput istri kamu. Minta ijin sama majikan kamu. "


" Iya Bu. Damar usahakan. Damar akan pulang secepatnya. " jawab Damar sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.


" Kok jam segini udah pulang, non? " tanya Damar berusaha mengalihkan perhatian Pipit, karena sedari tadi Pipit memandanginya dengan beribu pertanyaan.


" Oh, kebetulan jam terakhir dosennya nggak bisa hadir. " jawab Pipit. " Ibu ya bang yang telepon tadi? " tanyanya kembali.


" I-iya. " jawab Damar gugup. Gagal sudah usahanya mengalihkan perhatian Pipit.

__ADS_1


" Ibu Abang sakit lagi? Kok Abang di suruh pulang lagi. "


" Ng-nggak. Itu...Itu...apa namanya...Ibu nyuruh pulang karena saudara ada yang mau nikah. " jawab Damar beralasan dengan susah payah.


" Oh .." Pipit manggut-manggut. " Terus yang hamil tadi siapa bang? Kok bang Damar kaget gitu kayaknya pas di kasih tahu. "


" Ha? " Damar di buat super terkejut saat mendengar pertanyaan Pipit kali ini, sampai-sampai ia memelototkan matanya.


' Duh, aku mesti jawab apa ini? ' tanya Damar dalam hati.


" Siapa yang hamil bang? "


" Kucing...Iya, kucing peliharaan. "


" Kucing? " tanya Pipit sambil mengernyit.


" Iya, kemarin waktu pulang, aku nemu kucing di jalan. Karena kasihan, aku bawa kucing itu pulang, dan meminta ibu untuk merawatnya. Terus tadi ibu bilang, kucing itu hamil. " jelas Damar memberikan alasan.


" Oh. " Pipit manggut-manggut. " Pipit masuk dulu ya bang. Mau mandi, biar wangi, nggak bau asem. " lanjutnya sambil tersenyum manis.


Damar mengangguk sambil tersenyum. Lalu Pipit meninggalkannya di luar sendiri. Setelah Pipit masuk ke dalam rumah, Damar mengusap wajahnya kasar sambil menggeram.


" Kenapa urusannya jadi makin runyam gini? Masak iya cuma sekali melakukan itu dia bisa hamil sih? Si*l! " gerutu Damar sambil mengumpat.


Waktu itu, Damar di minta pulang oleh sang ibu, karena ibu mengatakan kalau dirinya sedang sakit. Karena khawatir, Damar segera meminta ijin ke Seno dan pulang ke kampung halamannya.


Sampai di kampung halamannya, Damar mendapati sang ibu yang nampak sehat walafiat. Lalu Damar bertanya kepada sang ibu kenapa sang ibu berbohong.


" Maaf, Dam. Ibu terpaksa memintamu pulang dengan cara begini. " ujar sang ibu


" Sebenarnya ada masalah apa Bu? "


" Damar, ibu minta maaf sebelumnya. Hutang budi keluarga kita ke pak Baskoro, harus kita bayar. "


" Pak Baskoro? "


" Iya, pak Baskoro yang dulu nolongin ayah kamu ketika ayah kamu mengalami kecelakaan waktu itu. Beliau mengajak kami berbesanan. "


" Maksudnya Bu? "


" Pak Baskoro punya seorang anak perempuan. Anak perempuan satu-satunya, namanya Imelda. Dulu kalian pernah bertemu. Dan saat itu, si Imel jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Seminggu yang lalu pak Baskoro datang kesini dan meminta anaknya untuk di nikahkan sama kamu. Karena kami tidak enak hati, kami menerima ajakannya untuk berbesanan. "

__ADS_1


" Apa Bu? Kenapa ibu dan ayah memutuskan secara sepihak gini? "


" Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Baskoro tidak meminta bayaran berupa uang kepada keluarga kita. Kamu bayangkan saja, jika pak Baskoro tidak membantu ayah waktu itu, kita bisa kehilangan ayah untuk selama-lamanya. Lagian, apa lagi yang kamu cari? Imel gadis yang baik, cantik, sopan, berhijab. Perempuan seperti apa yang kamu cari? "


Damar mengusap wajahnya kasar. " Setidaknya ibu bisa bertanya kepadaku terlebih dahulu sebelum memutuskan. Damar ingin memilih sendiri pasangan hidup Damar Bu. "


" Sampai kapan kamu mau memilihnya? Berkali-kali ibu bertanya, jawaban kamu sama. "


" Saat ini, Damar sedang dekat dengan seorang gadis bu. Damar sangat mencintainya. "


" Baru dekat kan? Belum berhubungan? "


Damar menggeleng, " Dia adik bos Damar. Jadi mana berani Damar berhubungan dengannya. " jawab Damar lirih.


" Ya sudah, mau nunggu apa lagi. Toh cinta kamu bertepuk sebelah tangan. "


" Dia juga mencintai Damar Bu. Dan Damar sudah memutuskan untuk berjuang mendapatkan restu dari bos Damar. "


Ibu menghela nafas panjang. " Tapi undangan pernikahanmu dengan Imel juga sudah di sebar. Kita tidak bisa merubahnya. Bagaimanapun juga, kamu harus menikah dengan Imel lusa. "


" Tapi Bu...."


" Kamu mau membuat keluarga kita malu? Malu dengan warga, juga malu dengan keluarga besar pak Baskoro. Pak Baskoro sekarang sedang sakit keras. Dia mengidap penyakit jantung koroner. Dokternya bilang, kemungkinan usia pak Baskoro tidak akan lama. Dan beliau menginginkan melihat cucunya sebelum dia meninggal. Jadi setelah menikah, kamu harus berusaha keras. " potong ibu.


" Bu...." protes Damar.


" Maaf, Damar, semua sudah di putuskan. "


Damar menghela nafas panjang. " Damar tidak bisa membawanya ke ibukota Bu. Damar akan menikahinya, tapi dia akan tetap tinggal di sini. Itu permintaan Damar. Jadi tolong ibu mengerti, maka Damar akan menuruti keinginan ibu. " jawab Damar pasrah atas keputusan orang tuanya. Lalu ia beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya. Merebahkan tubuh lelahnya di sana, dan pikirannya.


***


bersambung


...Cerita Damar ternyata seperti itu guyss.... insyaallah besok othor lanjut lagi cerita selanjutnya tentang Damar.. Bagaimana Damar bisa membuat istrinya hamil...Dan akan seperti apakah hubungannya dengan Pipit kelak?...


...Tetep stay tune di sini ya guys........


Jangan lupa....LIKE...LIKE....LIKE...


__ADS_1


Wajah sedihnya si babang Damar karena harus menikah dengan perempuan lain...


__ADS_2