
Pipit dan Bryan akhirnya sampai juga di rumah Pipit. Sampai rumah, Pipit terus bergegas membersihkan rumahnya sebentar karena ia melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 9 pagi.
" Bang bule duduk aja di situ dulu, Pipit buatin minum. Mau kopi atau teh hangat? "
" Kopi aja. " sahut Bryan sambil menghenyakkan pantatnya di sofa ruang tamu rumah Pipit.
Pipit kemudian masuk ke dapur untuk merebus air dan membuatkan kopi untuk Bryan. Sambil menunggu airnya mendidih, ia menyapu lantai dapur dan mengelap meja dapur.
Nguiiiiinggggg
Bunyi ceret menggema, pertanda airnya mendidih. Pipit segera mematikan kompor dan mengambil ceret itu lalu menuangkan airnya di gelas yang sudah ada bubuk kopinya itu. Lalu ia mengaduknya perlahan dan langsung membawanya ke ruang depan.
" Ini bang, kopinya. Pipit tinggal bersih-bersih dulu ya. " ujar Pipit sambil meletakkan gelas kopi di atas meja. Bryan mengangguk. Tubuhnya terasa sangat lelah dan matanya juga terasa berat.
Pipit kembali ke dalam dan mulai menyapu seluruh ruangan dan pekarangan depan.
" Wah, calon makmum rajin bener. " gumam Bryan pelan sambil terus memperhatikan Pipit yang saat ini sedang menyapu halaman depan rumah.
Setelah selesai membersihkan bagian depan rumah, Pipit kembali ke dalam untuk segera bersiap berangkat ke sekolah. Bryan terus mengamati gerak-gerik Pipit dengan senyum tipis yang selalu terbit dari sudut bibirnya.
Selesai mandi dan bersiap, kini Pipit sudah terlihat segar dan cantik dengan seragam sekolahnya.
" Mau berangkat sekarang? " tanya Bryan kala melihat Pipit berjalan di depannya dengan menenteng sepatu sekolahnya dan menggendong tas sekolahnya.
Pipit mengangguk sambil berjongkok di depan pintu untuk memakai sepatu sneaker kesayangannya. Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Pipit yang sudah selesai memakai sepatu.
" Om...eh, Abang bule mau kemana? "
" Katanya kamu mau berangkat ke sekolah. Ya mau nganterin kamu lah. "
__ADS_1
" Ooohhh... Makasih om. Nggak usah. Pipit bawa motor sendiri aja. Abang bule mending istirahat aja di rumah, tidur noh di kamar yang deket ruang tamu. Tadi udah Pipit beresin. Abang kan pasti capek, juga ngantuk. "
" Nggak. Aku belum ngantuk kok. Nggak capek juga. Mending aku anter aja ke sekolahnya, sekolah kamu jauh gitu. " sahut Bryan sambil bersiap mau memakai kembali sepatunya.
" Pipit bilang nggak usah, baaanggg....Bang bule istirahat aja. Pipit tahu, Abang tuh capek, ngantuk lagi. Abang kira Pipit nggak lihat tadi Abang menguap terus di sofa. Mata Abang juga udah kayak panda gitu. Udah sana, masuk. Cuci tangan cuci kaki, terus masuk kamar, tidur. " ucap Pipit sambil mendorong tubuh kekar Bryan supaya kembali masuk ke dalam rumah.
" Jangan lupa, tutup pintunya. Di kunci aja dari dalam. Pipit udah bawa kunci cadangan, jadi entar kalau Pipit udah pulang bisa langsung masuk ke dalam. " pesan Pipit sambil menaiki motor maticnya. " Assalamualaikum. " pamitnya sambil menstater motornya.
" Waalaikum salam. " jawab Bryan sambil menatap punggung Pipit sampai tidak kelihatan dari pandangannya. " Perhatian banget si bocah ABG ababil itu. Jadi makin cinta. " gumamnya sambil tersenyum dan berjalan memasuki rumah, kemudian menutup dan mengunci pintunya dari dalam.
🧚
🧚
Malam telah tiba. Listrik rumah Pipit sudah pada bernyala. Sore tadi, Pipit sudah mengajak Bryan ke rumah pamannya yang ada di kampung sebelah. Ia sudah membuktikan ke Bryan kalau ia benar-benar bisa mengemudikan truck. Bryan di buat terkesima dengan kejutan dari gadis ABG ababil yang telah meninggali lubuk hatinya.
Saat ini Pipit sedang berkutat di dapur untuk membuat makan malam untuknya juga untuk Bryan.
" Iya...." sahut Pipit.
" Buruan kesini, makan malamnya udah siap ini. Abang bule kan harus ke penginapan. " ujar Pipit dengan suara lantang.
Tak lama Bryan sampai di dapur di mana Pipit berada.
" Kamu yakin, mau di rumah sendiri? Nggak mau aku temenin di rumah? Jadinya aku nggak usah ke tempat tante-tante yang dulu itu. " ujar Bryan sambil menghenyakkan pantatnya di kursi.
" Modus ya ....." ejek Pipit. " Bang, kita ini di kampung loh. Masak iya laki-laki sama perempuan berada di satu atap tanpa hubungan keluarga apapun. Yang ada di gerebek warga entar. " jawab Pipit sambil menaruh semangkuk mie rebus di depan Bryan.
" Kita makan malam pakai ini? " tanya Bryan heran karena ia sama sekali tidak pernah mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung pengawet dan obat masak ini.
__ADS_1
Pipit mengangguk, " Adanya cuma itu. Daripada lapar. Ini di kampung bang, bukan di kota yang bisa dengan mudah cari makan. Apalagi udah malam kayak gini. " jelas Pipit. " Udah sih bang. Tinggal di makan aja. Daripada nggak makan malah masuk angin. Nggak bakalan bikin mati ini. Percaya deh sama Pipit. Pipit sering banget makan mi instan, sehat-sehat aja. Masih hidup sampai sekarang. " celoteh Pipit.
Bryan masih memandang semangkuk mie rebus yang ada di depannya tanpa mencicipinya sama sekali. Sedangkan Pipit sudah mulai menikmati mi rebus buatannya itu.
" Bang..." seru Pipit yang membuat Bryan terkejut. " Ayo, di makan. Keburu dingin, entar mie-nya menggelembung, nggak enak lagi. "
" Tapi beneran, aku nggak pernah memakan makanan yang satu ini. Terlalu banyak pengawet sama micin. Nggak sehat ini. " sahut Bryan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Iiihhhh....Dasar pak dokter yah. Sekali-sekali hidup seperti rakyat kecil kenapa? Cicipi aja dulu. Kalau tetap nggak suka dan nggak nyaman buat di makannya, entar Pipit habisin. " ujar Pipit sambil mengunyah mi yang ada di mulutnya.
Bryan mulai mengambil sendok juga garpu yang ada di dalam mangkuk. Dengan ragu-ragu, Bryan mengambil sedikit kuah mi dengan sendoknya, lalu ia masukkan ke dalam mulut. Ia mengecap-ngecapkan mulutnya. " Not bad. " batinnya.
Lalu Bryan menyendok kembali kuah mi itu di campur dengan mi-nya sedikit, dan ia masukkan ke dalam mulut kembali. " Enak. " gumamnya dalam hati.
" Enak kan bang? "
" Not bad. Tapi kamu harus tanggung jawab kalau habis makan ini ada apa-apa sama diriku. " ujar Bryan sambil menatap intens ke arah Pipit.
" Iya-iya....Abang bule tenang aja. Pipit bakalan tanggung jawab. Kalau Abang sakit, Pipit bawa ke rumah sakit. Nah, kalau Abang metong, Pipit panggilin warga buat makamin jenazah abang. " Jawab Pipit asal dan masih sibuk menyendok mie-nya.
" Kamu nyumpahin aku mati? " tanya Bryan sambil menikmati mi rebusnya.
" Hish...ya nggak gitu...Tadi Abang bilangnya Pipit suruh tanggung jawab kan? Kalau keracunan makanan, kalau nggak sakit kan mati. "
" Ngeles aja kayak bajaj. "
" Lagian nih bang, kita itu tidak perlu takut dengan kematian. Karena semua makhluk hidup yang ada di dunia ini, besok juga bakalan kembali ke tanah. Hidup itu cuma sekedar mampir doang. Bertamu lah istilahnya. Kalau kita bertamu, kita harus bersikap baik, berperilaku baik juga kan. Jadi jika kita kembali pulang, yang punya rumah akan menerima kita kembali dengan tangan terbuka. Artinya, kita bakalan masuk surga. Tapi kalau di dunia perilaku kita nggak bener, kita bakalan di singkirin tuh ke neraka jahanam. " celoteh Pipit yang kini sudah menghabiskan semua mi beserta kuahnya yang ada di dalam mangkuk.
" Iya, ustadzah. " sahut Bryan. Sebenarnya Bryan mendengar ucapan Pipit agak tidak enak rasa hatinya. Ucapan Pipit itu seperti menyindir dirinya yang selama ini memang perilakunya minus.
__ADS_1
***
bersambung