
Bryan menyuapi Pipit dengan telaten. Nyonya Ruth dan Armell sudah keluar dari dalam ruangan karena Bryan sudah kembali dan tidak boleh ada orang terlalu banyak di dalam ruangan.
Karena pembukaan delapan, Pipit merasakan sakit sudah lebih sering. Bahkan saat makan di suapi sang suami, beberapa kali ia di serang rasa sakit. Hingga membuat Bryan sedikit kerepotan karena saat ia sudah bersiap untuk menyuapi, tiba-tiba perut Pipit sakit yang mengharuskan dia segera meletakkan piring untuk mengelus perut dan pinggang Pipit.
" Ganti baju rumah sakit dulu, honey. Yang khusus untuk ibu melahirkan biar nanti nggak ribet. " ucap Bryan. Pipit mengangguk. Perlahan Bryan membantunya untuk duduk tegak. Lalu Bryan membantunya melepas semua pakaian yang di kenakan Pipit dari rumah.
" Bang, ngapain br* Pipit ikutan di lepas. Jangan bilang abang masih on terus mau *****. " ucap Pipit kala Bryan hendak melepas pengait br*nya. Untung mereka sedang di dalam ruangan hanya berdua. Dokter Ratna dan suster Ayu harus ke ruang sebelah karena ada wanita hamil bermasalah dengan kandungannya dan harus segera di operasi.
" Ck. Honey, kalau melahirkan itu memang harus di lepas, jadi biar lebih leluasa bernafasnya. Kalau kamu tanya soal ularku, nih dia udah letoy. Udah jadi cacing. Bukan lagi ular. " jawab Bryan sambil menunjuk bagian bawahnya.
Pipit melihat ke bawah, oh ternyata celana jeans yang di pakai suaminya sudah tidak terlihat sesak. Berarti benar, jika suaminya itu sudah tidak dalam keadaan on. Pipit tersenyum manis menatap Bryan.
Setelah melepas semua pakaian Pipit, Bryan mengambil baju khusus yang sudah di siapkan suster ayu tadi yang berada di sebelahnya. Bryan membuka baju itu, lalu memasukkannya ke atas kepala Pipit. Dan baju itu kini sudah terpasang rapi di tubuh Pipit.
Cup
Bryan mengecup sekilas bibir Pipit. " I love you my little wife. " ucapnya dan di sambut senyuman manis dari Pipit.
" Sarang Hae, om dokter buleku, calon Daddy anakku. " balas Pipit sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan. Lalu ia membalas kecupan Bryan dengan sebuah ciuman yang dalam.
Dan tiba-tiba....
" Mmmmpptt....Ssshhhh....."
" Sakit lagi, honey? " tanya Bryan lalu ia segera mengelus pinggang Pipit. Pipit mengangguk.
" Rasanya makin sakit bang. Ssssssss......" ujar Pipit.
" Bang, Pipit rasanya pengen pup. " ucapnya lagi saat tiba-tiba ia ingin mengejan.
Bryan mengernyitkan dahinya. " Honey, sebaiknya kamu tiduran lagi. Biar aku cek lagi. " ucapnya sedikit panik. Gimana nggak panik, jika benar istrinya itu ingin mengejan karena baby mereka mau lahir, sedangkan dokter Ratna masih di ruang operasi.
Pipit kembali merebahkan tubuhnya di bantu oleh Bryan. Lalu Bryan mencuci bersih tangannya, lalu mengenakan sarung tangan medis. Setelahnya ia kembali menghampiri istrinya dan melakukan pemeriksaan dalam.
' Ah, sudah mau sepuluh. Bagaimana ini? Aku akan coba melihat dokter Ratna. ' ucap Bryan dalam hati.
" Gimana bang? " tanya Pipit masih sambil kesakitan.
" Sudah sembilan lebih. Sudah sepuluh, tapi belum sempurna. " sahut Bryan sambil melepas sarung tangannya.
" Hah? Terus gimana bang? Kenapa dokter Ratna lama? "
" Aku akan melihatnya sebentar. Dia kan ada di ruangan sebelah. " ucap Bryan. Ia lalu berlalu dan membuka pintu yang menghubungkan ruangan bersalin yang ditempati istrinya dengan ruangan di sebelahnya.
__ADS_1
Bryan berjalan mendekati Dokter Ratna.
" Apa masih lama dok? " tanya Bryan.
Dokter Ratna menoleh sebentar, lalu menjawab, " Sebentar lagi. Agak susah mengeluarkan bayinya. ada apa? "
" Pembukaan yang dialami istriku sudah hampir sempurna. Bagaimana sekarang? " ujar Bryan.
" Aduh bagaimana ini? dokter Rico juga sedang tidak praktek, dia cuti hari ini. Sedangkan dokter Siska dia sudah pulang. Jika harus menunggunya kembali kesini pasti akan memakan waktu cukup lama. " jawab Dokter Ratna dengan sedikit bingung.
" Ahhh... Bukankah kamu bisa menangani sendiri? kamu cobalah istrimu untuk melahirkan. Dulu kau juga berhasil membantu kakak iparmu untuk melahirkan. " lanjut Dokter Ratna.
" Apa? kau gila? Ini istriku yang mau melahirkan. Dan anakku yang mau lahir. Aku tidak bisa melakukannya sendiri. dan lagi jika aku membantu melahirkan kamu siapa yang akan mendampingi istriku? Aku juga ingin mendampingi istriku saat dia melahirkan. "
" Hei Jika kamu membantunya melahirkan bukankah kau juga mendampinginya? "
" Tidak.... tidak ....tidak.... Itu berbeda...jika aku membantunya melahirkan, aku harus berada di bawah, Sedangkan aku ingin mendampinginya di sisi-nya. "
" Lalu bagaimana? Ini keadaan yang mendesak."
" No. Aku akan dianggap menyalahi kode etik kedokteran jika begini. "
" Jangan membuat alasan. Semua dokter dan petinggi rumah sakit juga tahu kemampuanmu. Tidak akan ada yang menganggapmu melanggar kode etik kedokteran. Mereka semua akan memakluminya. " jawab dokter Ratna sambil terus berusaha mengeluarkan bayi wanita yang sedang ia tangani.
" Cepatlah kembali ke istrimu. Dan bantu istri mu melahirkan. Setelah aku selesai melakukan operasi ini, aku akan menyusulmu. "
" Gimana Bang? Mana Dokter Ratna?" tanya Pipit sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
" Operasinya belum selesai. sepertinya baby kita ingin Daddy-nya yang membantu melahirkan. " sahut Bryan.
" Maksud Abang? Abang yang membantu Pipit dalam proses persalinan? " tanya Pipit sambil mengernyitkan dahinya. Bryan menjawab dengan mengangguk.
" Abang bisa? Abang kan bukan dokter kandungan tapi spesialis bedah. Jangan-jangan Abang nanti mau bedah Pipit. " ujar Pipit sambil bergidik ngeri.
" Honey, Apa kau lupa? Akulah orang yang telah membantu kakakmu melahirkan. " jawab Bryan sambil mengelus perut istrinya.
" Addduuuhhhh.... Abaaaaaangggg.... perut pipit sakit lagi. " pekik Pipit. " Rasanya Pipit pengen mengejan Bang. "
" Not for now honey. Aku harus bersiap dulu. Tunggu sebentar my Baby. Daddy bersiap dulu. " ucap Bryan sambil kembali mengelus dan mengecup perut istrinya.
Lalu Brian segera kembali mencuci tangannya, mengenakan jas operasi, lalu kembali menghampiri istrinya dengan membawa beberapa peralatan melahirkan.
Tak lama, suster Ayu muncul dari balik pintu.
__ADS_1
" Dokter Ratna menyuruhku membantu mu, dok. " ucap suster Ayu.
Bryan mengangguk.
" Sudah sempurnakah pembukaannya?" tanya suster Ayu.
" akan aku lihat terlebih dahulu. Tapi istriku sudah mengeluh katanya sudah ingin mengejan. " jawab Bryan lalu ia kembali melakukan pemeriksaan dalam.
" Pembukaannya sudah sempurna. kita harus segera mengeluarkan baby ku dari dalam perut istriku. " ajak Bryan. Suster ayu mengangguk.
" Honey, kita lakukan sekarang. Ambil nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. " pinta Bryan. Dan Pipit mengikuti.
" Lakukan sekali lagi Honey. Ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan. " pinta Bryan kembali. Pipit melakukannya.
" Sekarang kita akan mulai untuk mengeluarkan baby kita. Jika aku bilang mengejan, maka mengejanlah yang kuat. " pinta Bryan. Pipit kembali mengangguk.
Bryan menempatkan diri tepat di bawah Pipit. Ranjang khusus melahirkan sudah di naikkan oleh suster Ayu sehingga bagian bawah Pipit berada di depan dada suaminya.
" Tarik nafas dalam-dalam honey...." Bryan memberi instruksi. Dan Pipit mengikutinya. " Mengejan sekarang... "
" Mmmpppttt....." suara Pipit mengejan.
Percobaan pertama, gagal. Baby mereka baru mau memperlihatkan kepalanya sedikit.
" Sedikit lagi honey. Dia sudah memperlihatkan kepalanya sedikit. " ucap Bryan memberi semangat.
" Pipit lemes bang..." keluh Pipit.
Bryan menegakkan badannya. Ia menatap ke arah istrinya. " Honey, kamu harus kuat. Oke? Baby kita sudah mau lahir. " ucap Bryan memberi semangat. Padahal ia juga tak kalah paniknya sekarang. Ia di hadapkan dengan pilihan harus mengeluarkan anaknya sendiri. Ia tidak bisa berada di samping istrinya, menggenggam tangannya erat. Membuat dirinya sebagai pegangan sang istri. Ingin rasanya Bryan berteriak lantang.
Ceklek
Pintu penghubung ruangan kembali terbuka. Dokter Ratna terlihat dari sana. Melihat dokter Ratna yang sudah berada di ruangan itu, Bryan segera melepas sarung tangannya, dan berjalan menghampiri Pipit.
" Honey, kamu harus berusaha. " ucap Bryan sambil menggenggam tangan Pipit erat. Ia mengulurkan tangannya untuk menyeka keringat yang bercampur dengan air mata dari wajah istrinya.
" Ibu .....maafin Pipit ya Bu...yang udah buat banyak dosa ke ibu....Jadi begini rasanya ketika ibu melahirkan Pipit..." racau Pipit dalam gumamannya. Tapi gumaman itu tetap terdengar oleh Bryan. Ia mengecup kening istrinya lama. Hatinya ikut sakit mendengar istrinya berucap seperti itu.
" Fitria, ayo kita coba sekali lagi, ya. " pinta dokter Ratna sambil tersenyum manis. Pipit mengangguk.
" Ambil nafas dalam-dalam..." dokter Ratna mulai memberi instruksi. " Mengejan yang kuat sekarang. " lanjutnya.
" Mmmmmppppttt......"
__ADS_1
***
bersambung