
Bryan benar-benar menemani Pipit tinggal di rumah besar keluarga Adiguna. Ia akan pulang ke apartemen untuk berganti pakaian kerja saat pagi hari. Lalu ia akan berangkat ke rumah sakit. Pulang dari rumah sakit jika tidak ada operasi hingga malam, ia akan pulang ke apartemen terlebih dahulu baru kembali ke rumah keluarga Adiguna.
" Assalamualaikum ma..." sapa Bryan di panggilan.
" waalaikum salam. Ada apa Bry? " tanya mama Ruth.
" Bryan bisa minta tolong ma? "
" Mau minta tolong apa? "
" Ma, malam ini Bryan nggak pulang ke rumah mama. Bryan ada operasi dadakan dan operasinya akan memakan waktu yang lumayan lama. Selesai operasi pasti sampai lewat tengah malam. Tolong mama temenin Pipit ya ma. Rencananya Bryan mau menginap di rumah sakit malam ini. " jelas Bryan karena malam ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
" Oh, gitu. Iya, nanti mama temenin istri kamu. " ucap mama Ruth. " Kamu sudah memberitahu istrimu jika malam ini kamu tidak pulang ke rumah?" tanya mama Ruth.
" Sudah ma. Ya udah, Bryan tutup dulu teleponnya ma. Bryan harus segera masuk ke ruang operasi. " pamit Bryan.
" Iya, hati-hati kamu. " pesan mama Ruth. Lalu panggilan di akhiri.
🧚
🧚
Hari terus berlalu. Tak terasa, sudah tiga minggu semenjak meninggalnya sang ibu. Pipit sudah beraktivitas seperti biasa. Ia sudah masuk kuliah seperti biasa. Hatinya sudah tidak sesedih dulu. Kegiatannya sehari-hari juga sudah kembali seperti sebelumnya.
" Bang, Pipit kasihan sama Abang harus mondar-mandir tiap hari. Pipit udah nggak pa-pa kok bang kalau nggak di temenin. Pipit juga udah nggak kebangun kan di malam hari? " ujar Pipit ke Bryan. Mereka saat ini sedang duduk di bangku taman belakang rumah Adiguna.
" Kamu yakin udah nggak pa-pa ? " tanya Bryan meyakinkan setelah menyesap kopinya.
Pipit mengangguk mantap. " Iya Abang ..Pipit udah nggak apa-apa. Pipit udah bisa mengiklaskan ibu kok. Bertemu dengan teman-teman di kampus, perhatian dari Abang, dari papa sama mama, sangat membantu Pipit untuk bisa menerima semuanya. Semua memang sudah takdir Allah SWT kan? "
" Baguslah kalau begitu. Berarti mulai besok aku pulang ke apartemen? " sahut Bryan sambil mengusap kepala Pipit.
Pipit mengangguk.
" Atau kamu mau pindah ke apartemen aja? " tanya Pipit.
" Nggak ah. Pipit di sini aja dulu. Besok kalau semuanya udah clear, kita udah bener-bener sah, baru deh Pipit tinggal sama Abang bule. Kalau Pipit tinggal di apartemen sekarang, Pipit kasihan sama Abang. " ujar Pipit membuat Bryan mengerutkan alisnya.
" Kasihan, Abang musti bergulat sama sabun tiap malam. Udah capek kerja, eh.... malam-malam harus mandi air dingin. Soalnya Pipit bakalan nggak bisa kalau nggak modusin abang. Nggak tahu kenapa, tiap di kamar berdua sama abang bawaannya pengen namplok terus, sambil grep*-grep*. " ujar Pipit tak senonoh.
" Eh, ngomong-ngomong...Selama Abang nemenin Pipit di sini, Pipit nggak pernah loh macem-macem. Pipit anteng-anteng aja. Tapi kok Abang tetap aja mandi air dingin tiap malam? " tanya Pipit sambil berpikir.
" Ck. Siapa bilang? Orang tiap malam aku tidur pules kok. " elak Bryan.
__ADS_1
" Hish, beneran ya bang. Sering loh Pipit kebangun, terus Abang nggak ada di sebelah Pipit tidur. Eh, ternyata di kamar mandi lagi mandi. "
" Ck. Itu gara-gara kamu. Cuma lihat tubuh kamu yang kebalut selimut aja, udah bikin gajahku pengen bersin. " gerutu Bryan.
" Emang gajah Abang bisa bersin? "
" Bisa lah. Kalau bersin, bakalan nyemburin lahar panas. " sahut Bryan asal.
" Ha...ha...ha .." Pipit menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak.
." Awas aja kalau entar udah kelar semua, terus aku ajakin gulat tiap malam nolak ya. " canda Bryan. " Aku perkos* kamu. " lanjutnya.
Pipit jadi menggidikkan bahunya sambil menerawang.
" Kenapa kamu? " tanya Bryan setelah menyesap kopinya kembali.
" Keinget ular piton. " sahut Pipit.
" Ular piton? " tanya Bryan sambil mengernyit. " Dimana? "
" Tuh, di dalam celana abang. " jawab Pipit sambil menunjuk bagian bawah suaminya dengan pandangan matanya.
" Kok ular piton? Ini tuh lebih mirip belalai gajah tau. " bela Bryan.
" Emang kamu pernah lihat peliharaanku? "
" Ya pernah lah. Waktu Abang takut sama kecoa. Abang lagi bulet waktu itu. Otomatis mata perawan Pipit terpaksa menyaksikan pepaya bergelantung. " jawab pipit. Bryan mengusap wajahnya kala ia melihat kejadian memalukan di pagi hari itu.
" Hiiii....Pipit jadi ngeri dan ngilu bayanginnya. "
" Kok bisa ngilu? "
" Bayangin aja bang, ular piton Abang Segede itu. Kalau gigit punya Pipit apa nggak ngilu? Pasti nyeri abissss...."
" Ck. Kamu ini karena belum berpengalaman. Perempuan itu yang di cari ya yang gede dan panjang. " bantah Bryan. " Aku pastikan, kalau udah ngerasain di gigit sekali, kamu bakalan ketagihan. "
Dan terus berlanjutlah percakapan absurb itu hingga malam menjelang dan mereka memutuskan untuk tidur dan beristirahat.
🧚
🧚
Hari berganti. Sudah dua hari Bryan tidak menginap di rumah besar keluarga Adiguna. Ia sudah kembali ke apartemennya. Dan dua hari itu pula, ia tidak bisa datang untuk bertemu dengan sang istri. Pasiennya begitu banyak. Ia bahkan harus memperpanjang jam prakteknya.
__ADS_1
Rindu, sudah pasti. Bahkan hari ini, hanya untuk menelepon sang istri saja ia tidak bisa. Jadwal praktek di tambah, belum lagi ia ada jadwal operasi dua kali dalam satu hari ini. Dan jadwalnya sore dan malam.
" Ya Tuhan....Kenapa pasiennya nggak habis-habis??? " gerutu Bryan sambil mengacak rambutnya. Sesekali ia memijat tengkuknya karena capek.
" Dok...tadi waktu dokter lagi konsultasi pasien, ada telpon dari KUA. Mereka bilang, surat nikahnya sudah jadi. Dokter Bryan besok di minta datang ke KUA sama istrinya. "
" Benarkah? " tanya Bryan sumringah. Seketika rasa capek ia tadi ia rasakan menghilang.
Suster yang menjadi asistennya mengangguk. " Tadi mereka bilang sudah mencoba menghubungi ponsel dokter. Tapi tidak di angkat. Terus telepon kesini. Emang dokter mau nikah ya? " tanya suster itu. " Eh, tunggu... tunggu...kok petugas tadi bilangnya istri? Atau jangan-jangan dokter udah nikah y diam-diam. " tebak suster itu.
" Aku belum pernah cerita ya ke kamu? " tanya Bryan ke suster itu. Suster itu menggeleng. Bryan memang cukup akrab dengan suster yang menjadi asistennya itu. Mereka sudah bekerja bersama selama lima tahun. Mulai dari suster itu masih lajang, hingga kini mempunyai seorang anak balita. Bryan sudah menganggap suster yang bernama Kalita itu sebagai adiknya.
" Aku memang sudah menikah. Bahkan pernikahanku itu terjadi sudah 8 bulan yang lalu. Tapi kami menikah baru siri. Dan satu bulan yang lalu, kami baru mendaftarkan pernikahan kami ke KUA. "
" Wuahhh.... dokter Bryan tega ya. Menikah tapi diam-diam. " sahut Kalita sambil geleng-geleng kepala.
" Semua terjadi secara mendadak. Kami menikah karena kesalahpahaman dengan warga. "
" Di grebek pasti. " canda Kalita.
" Iya. Tahu aja kamu. Tapi sebenarnya aku sudah jatuh hati sama gadis itu semenjak pertama aku melihat gadis itu. Aku baru berusaha mendekatinya, eh ..Tuhan malah mempercepat langkahku. " cerita Bryan dengan wajah berseri.
Suster Kalita terlihat manggut-manggut. " Kelihatan banget kok dok. Kalau dokter memang sedang jatuh cinta. Jadi pengen kenal gadis yang beruntung itu. "
" Aku akan segera mengenalkanmu dengannya. Oh iya, tolong besok undur semua jadwalku. Jadwal praktek, juga kalau ada operasi. Aku besok mau mengurus buku nikahku. Biar bisa segera mengadakan resepsi pernikahan untuk mengenalkan istriku ke semua orang. " titah Bryan.
" Siap, dok. Cantik ya dok? "
" Cantik lah pastinya. Kamu pernah bertemu dengan istri sahabatku si tuan muda Adiguna kan? " tanya Bryan. Kalita mengangguk. " Seperti dia. Karena istriku adalah adik istrinya si tuan muda. "
" Wuahhh.... berarti masih segelan utuh ya dok? "
" Pastinya. Masak iya selama ini aku udah dapet yang bolong, punya istri juga bolong? Pengen lah kalau aku yang bikin bolong. Dan satu lagi, dia benar-benar daun muda. Jadi kalau ketemu besok, jangan pernah mengataiku pedofil. "
" Memang dia masih sangat muda ya dok? "
" Kau akan tahu besok setelah bertemu. " sahut Bryan. " Sudah, sebaiknya cepat kamu panggil pasien yang selanjutnya. Jam dua aku harus sudah masuk ruang operasi. "
" Siap, dok. "
***
bersambung
__ADS_1