
" Beneran, tadi itu laki lo? Lo nggak lagi bohongin gue karena Lo juga naksir sama die kan? " cerca Naomi.
" Bisa di pelanin sedikit nggak suaranya? Kalau kedengaran sama mahasiswa lain bisa gawat. " protes Pipit.
" Ck. Lo kenape sih? Kita ini mahasiswa ya. Bukan anak SMA, yang kalau ketahuan udah punya laki, terus di keluarin dari sekolah. So, no problem dong kalau orang lain tahu. Apalagi laki lo keren gitu. Kalau gue yang punya laki kayak gitu sih udah pasti gue gandeng kemana-mana, terus gue kasih label ' SOLD OUT '. Ya meskipun udah hampir om-om sih. " ujar Naomi dengan suara di pelankan saat kata-kata terakhirnya.
Plak
" Aooo....Sakit neeeeengggg.....Busyet dah. Tangan cewek ape tangan kuli. " protes Naomi saat Pipit memukul lengannya.
" Awas aja kamu ngatain suami aku kayak om-om. Meskipun emang udah om-om. Bahkan dulu aku manggil dia om dokter. Ha...ha...ha..." ucap Pipit sambil mengenang kembali masa itu.
" Agak...nih anak. " ujar Naomi sambil mengacungkan jari telunjuknya miring ke dahinya.
" Sialan. " protes Pipit masih sambil tertawa.
" Fit..." panggil seorang laki-laki.
" Roy? Kok kamu masih ada di sini? Nggak kuliah? " tanya Pipit.
" Sengaja nungguin kamu. " jawab Roy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Siape sih? Dari tadi kayaknya getol banget pengen nemuin elo? " bisik Naomi bertanya pada Pipit.
" Mantan aku yang gagal move on. " jawab Pipit juga berbisik.
Naomi menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Pipit. Sampai segitunya tuh laki-laki sampai di bela-belain pindah ke Jakarta. Bikin makin penuh aja ibukota. gerutu Naomi dalam hati.
" Masih ada kuliah lagi nggak? " tanya Roy.
" Ude nggak bang. " jawab Naomi. Sontak membuat Pipit menyodok lengannya dengan sikunya.
Roy tersenyum masih tetap memandang ke arah Pipit. " Kita makan siang yuk. " ajaknya.
" Mmm....aku...." Pipit bingung harus menjawab apa.
" Udah selesai kuliahnya, sayang. " tiba-tiba seorang laki-laki gagah dan tampan yang tadi jadi bahan pembicaraan sebagian mahasiswi kedokteran datang menghampirinya dengan memeluk posesif pinggang Pipit.
" Bang...Aku..." Pipit menelan salivanya dengan susah payah saat matanya bertemu dengan mata suaminya yang menatapnya tajam.
Sedangkan Naomi yang berdiri di sebelah Pipit, memandang Bryan dan Pipit bergantian dengan pandangan masih tidak percaya dan tidak menyangka.
" Kita pulang sekarang, sayang. " ajak Bryan sambil melirik sebentar ke arah Roy.
" I...iya. " mau tidak mau Pipit mengiyakan ajakan suaminya. Padahal tadi dia udah janjian sama Naomi kalau mau ke perpustakaan kota. Lebih baik ikut suaminya daripada harus terkena masalah. Karena perasaan Pipit berkata tidak enak.
__ADS_1
" Mi, aku pulang dulu ya. Kita ke perpustakaannya besok besok lagi aja. " pamit Pipit.
" I...iya... it's oke. " sahut Naomi.
" Permisi. " pamit Bryan ke Naomi sambil tersenyum.
" I...iya pak dokter.." jawab Naomi dengan pandangan kagumnya.
Lalu Bryan segera menggandeng pinggang Pipit dan membawanya pergi.
" Siapa itu? " tanya Roy ke Naomi.
Tapi Naomi hanya mengendikkan bahunya lalu segera pergi dari hadapan Roy. Dan jangan lupakan Roy, yang terlihat marah dan kesal.
Sedangkan di tempat parkir
" Bang, Pipit kan bawa mobil sendiri tadi. " ujar Pipit saat suaminya itu membawanya ke mobilnya.
" Nanti aku suruh orang ambil mobil kamu. " jawab Bryan dengan nada datarnya.
" Tapi Abang kan mau ke rumah sakit kerja. Kalau harus nganter Pipit pulang dulu kan jauh bang. " ujar Pipit kembali.
Tapi Bryan hanya diam saja dan mendorong tubuh Pipit hingga mendekati pintu. Karena Pipit masih belum masuk juga ke dalam mobil meski pintunya telah ia buka, Bryan mengangkat tubuh Pipit dan memasukkannya ke dalam mobil.
Jebles
Bryan menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area kampus. Setelah sampai di jalan raya, Bryan mengemudikan mobilnya dengan agak cepat. Ia juga menutup mulutnya sedari masuk ke dalam mobil. Membuat Pipit lumayan takut.
Hanya butuh waktu seperempat jam, mobil yang di kemudikan Bryan sampai di depan pekarangan rumah. Padahal biasanya, Pipit membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk sampai rumah perjalanan dari kampus.
Tanpa bicara, Bryan segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam rumah. Pipit sampai terbengong melihat sikap suaminya yang biasanya sangat hangat itu berubah menjadi sedingin es.
Pipitpun segera turun dari dalam mobil dan segera mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah.
" Bang...."panggil Pipit. " Abaaang...." panggilnya lagi saat suaminya tetap tidak mendengarkannya.
" Om dokter..." panggil Pipit dengan kesal. Panggilan yang berhasil membuat Bryan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
" Sekali lagi kamu panggil suamimu om lagi, aku akan benar-benar....." ujar Bryan sambil berusaha meredam amarahnya.
" Habisnya tadi di panggil Abang nggak mau menoleh sama sekali. Emang enak di cuekin? " sahut Pipit. " Abang kenapa sih dari tadi diemin Pipit mulu? Muka Abang dari tadi di tekuk aja. Tatapan Abang kayak es batu. Bikin Pipit membeku melihatnya. " lanjutnya dengan gombalan recehnya.
" Ck. " Bryan menanggapinya dengan berdecak.
" Bang, kalau udah suami istri itu, kalau ada masalah lebih baik di bicarakan berdua baik-baik. Jangan diem aja. Kalau Pipit ada salah, Abang bilang. Salah Pipit apa, biar Pipit bisa instrospeksi diri. Abang kan tahu, Pipit ini masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Jadi kurang peka sama masalah rumah tangga. " ujar Pipit panjang lebar.
__ADS_1
Bryan menghela nafasnya berkali-kali mencoba menetralisir amarahnya sambil berkacak pinggang, lalu mengusap wajahnya kasar. Belum pernah ia merasa seperti saat menghadapi kekasih-kekasihnya dulu.
" Bang...." rengek Pipit sambil bergelayut pada lengan suaminya yang sedang berkaca pinggang.
" Kamu beneran nggak tahu salahmu apa? " tanya Bryan sambil memandang Pipit yang ada di sebelahnya.
Pipit langsung menggelengkan kepalanya.
" Ck. Sejak kapan kamu bertemu dengan mantanmu itu? " tanya Bryan tanpa mau memandang istrinya.
" Mantan? Mantan yang mana? "
" Jangan pura-pura lupa kamu. Laki-laki yang berbicara denganmu dengan begitu akrab tadi di kampus, bukankah dia adalah mantan kekasihmu ? "
" Darimana Abang tahu kalau tadi adalah mantan kekasihku? "
" Daya ingat otakku ini sangat bagus kalau kamu tidak tahu. Aku masih sangat ingat wajah anak laki-laki yang boncengin kamu pakai motor ninja, yang elus-elus kepala kamu..."
" Wuahhh....Abang hebat... Padahal udah lama banget itu. Apalagi waktu itu, Abang kan belum ada apa-apa sama Pipit. "
" Siapa bilang belum ada apa-apa? Saat itu, aku tuh udah suka sama kamu. "
Mendengar perkataan suaminya, Pipit memandang Bryan dengan mengerjab-ngerjabkan matanya berulang kali.
" Jadi ceritanya, Abang buleku sayang cembokur nih? " goda Pipit sambil menoel dagu Bryan.
Bryan mencoba untuk tetap cuek.
" Hish....Abang bule jadi makin ganteng kalau lagi cembokur..."
" Apaan tuh cembokur? " tanya Bryan.
" Cemburu Abang....Abang cemburu ya sama Roy? "
" Jadi namanya Roy? " tanya Bryan masih dengan nada dinginnya.
Pipit menghela nafas dan mencoba mencari ide untuk membuat suaminya menghangat kembali.
" Sini deh bang. " Pipit menarik tangan suaminya dan menggandengnya ke sofa. Setelah suaminya duduk di sofa, Pipit melepas tas selempangnya, lalu duduk di pangkuan suaminya dengan menghadap ke suaminya.
" Mau ngapain kamu? " tanya Bryan karena ia merasa tidak nyaman dengan posisi istrinya. Jika saat ini ia sedang tidak marah, maka ia akan senang dengan posisi ini. Tapi kali ini, ia merasa kurang nyaman.
" Mau....."
***
__ADS_1
bersambung