
Sudah tiga hari berlalu semenjak meninggalnya sang ibu. Semua masih tetap berada di sana. Tuan dan nyonya Adiguna, Bryan, Pipit, Seno, Armell, juga Danique. Dion dan Damar, seno suruh kembali ke Jakarta terlebih dahulu karena Dion harus membantu Rezky mengurus perusahaan karena ia dan papanya sedang tidak ada di tempat. Damar, ia juga suruh kembali karena damar punya istri yang sedang hamil yang juga membutuhkan dia.
Dan selama tiga hari itu pula Armell dan Pipit di rundung kesedihan. Meskipun terkadang mereka sudah bisa tertawa, tapi terkadang mereka juga meneteskan air mata. Bahkan hampir tiap malam, Pipit terbangun di tengah malam dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
" Bang, Abang sudah ijin dari rumah sakit selama 4 hari. Abang balik aja ke Jakarta dulu. " pinta Pipit kala mereka berada di dalam kamar hendak tidur malam.
Bryan meraih tubuh sang istri dan memeluknya, menyenderkan kepala Pipit ke dadanya.
" Aku akan kembali ke Jakarta sama kamu. Kita akan di sini sampai tujuh harinya ibu. " jawab Bryan lalu mengecup kening Pipit. Pipit melingkarkan tangannya ke tubuh Bryan.
" Abang kan udah nggak kerja 4 hari...Kalau abang di pecat gimana? " ucap Pipit sambil mendongakkan kepalanya menatap Bryan
Bryan mengecup hidung Pipit lalu berkata, " Kamu takut suamimu ini jadi pengangguran? "
" Bukan gitu bang .. Kerjaan Abang kan menyangkut nyawa orang banyak. Kalau pasien abang butuh Abang gimana? "
" Kamu nggak perlu khawatir. Di rumah sakit itu, masih ada tiga dokter spesialis bedah sepertiku. Jadi sementara, pasienku sudah di alihkan ke salah satu dari mereka. Sekarang, kamu tidak perlu memikirkan apapun. Aku di sini ingin menemanimu. " ucap Bryan.
" Makasih banyak Abang buleku. Pipit sangat bersyukur, di saat Pipit mendapatkan cobaan seperti ini, ada Abang yang selalu berada di samping Pipit. " ucap Pipit sambil tersenyum mendongakkan kepalanya menatap Bryan. Lalu ia mengecup rahang Bryan sejenak.
" Jangan mancing-mancing gajah yang sedang terlelap, honey. " gurau Bryan.
" Lagi tidur ya bang? " tanya Pipit sambil menatap gajah Bryan yang bersembunyi di balik boxer.
" Nyenyak banget. Makanya kamu jangan membangunkannya dengan tingkah nakalmu. "
" Kapan Pipit pernah nakal sama Abang? " ujar Pipit sambil tangannya yang mulai nakal.
__ADS_1
" Honey.... please... Tangannya jangan nakal. " pinta Bryan sambil memegang tangan nakal Pipit. " Please, honey. Jangan membuatku menderita lagi. Kamu tahu nggak, kalau kamu godain aku, terus gajahku bangun, aku sangat tersiksa. Aku tidak bisa melampiaskan gair**ku. " ucap Bryan memelas.
" Kalau Abang tidak bisa melampiaskan kan salah Abang sendiri. Punya istri di anggurin. Padahal Pipit juga udah siap loh bang. Atau jangan-jangan....Abang nggak cinta beneran ya sama Pipit??? " ujar Pipit setengah merajuk.
" Hishhh...pakai merajuk lagi ..Siapa bilang aku nggak cinta beneran sama kamu? Hem? " Bryan mencubit hidung lancip nan mungil milik Pipit. " Aku cinta sama kamu. Banget malah. Jangan pernah menganggap atau berpikiran kalau aku tidak mau melakukannya denganmu karena aku tidak mencintaimu. Aku hanya menahannya sebentar. Aku pasti akan melampiaskan semuanya nanti saat kita sudah benar-benar sah. Aku ingin menjadikanmu sebagai perempuan paling istimewa di dunia ini. Aku ingin calon-calon bayiku tercetak setelah kamu sah secara agama dan negara menjadi istriku. " ujar Bryan sambil mengangkat wajah Pipit supaya menatapnya.
" Jangan pernah meragukanku. " pintanya, lalu perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Pipit, dan melum** lembut bibir itu. Hampir saja Bryan kebablasan kalau saja ia tidak mengingat kalau istrinya itu masih dalam masa berkabung.
" Tidurlah, sudah malam. " ucap Bryan setelah menyudahi kegiatannya. Kegiatan yang membuatnya candu. Kegiatan yang akan membuatnya aneh jika melewatkannya.
Bryan membenahi bantal Pipit, lalu menyuruh Pipit untuk tidur. Lalu ia juga ikut merebahkan tubuhnya sambil memeluk tubuh istrinya.
🧚
🧚
Tak terasa, tujuh hari telah berlalu. Di hari ke delapan, semua sudah bersiap untuk kembali ke ibukota. Damar dan Dion juga sudah kembali ke kampung itu untuk menjemput majikan mereka.
Pipit dan Armell menatap rumah itu dalam-dalam dengan setetes air mata. Seno merangkul pundak Armell dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Begitu juga Bryan. Ia menyeka air mata yang menetes di pipi istrinya, lalu menggandengnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Mobil yang di kendarai Damar dan Dion mulai berjalan meninggalkan kampung halaman Pipit dan Armell. Selama perjalanan, tidak banyak mereka berbicara. Mereka semua hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan tanpa sadar, Pipit jatuh tertidur dengan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.
" Apa istrimu masih sering terbangun di tengah malam? " tanya mama Ruth.
" Masih ma. " jawab Bryan sambil menoleh ke arah istrinya yang sedang terlelap.
" Kasihan dia. Ia pasti begitu kehilangan ibunya yang sama sekali tidak pernah mengatakan tentang penyakitnya. Padahal mereka tinggal bersama. Pipit pasti sangat terpukul. " ujar mama Ruth sambil membelai rambut pipit.
__ADS_1
" Iya ma. Setiap malam, entah karena dia mimpi buruk atau apa, dia pasti akan langsung terbangun dan menangis. " sahut Bryan.
" Sebaiknya sampai Jakarta nanti, kamu ikut menginap di rumah dulu. Temani istrimu. Paling tidak sampai dia lebih ikhlas dan benar-benar menerima kenyataan. " sahut tuan Adiguna.
" Papamu benar. Temani istrimu sampai dia tenang. " tambah mama Ruth.
" Iya ma. Bryan akan ikut menginap di rumah. "
" Ngomong-ngomong, apa sudah ada kabar dari pihak KUA soal pengajuan pernikahan kalian? "
" Belum pa. Mereka bilang paling tidak kita di suruh menunggu kurang lebih satu bulan. Karena ternyata lagi musim kawin. Banyak pasangan yang mengajukan juga. " jawab Bryan.
" Kamu gimana Yon? " tanya tuan Adiguna ke Dion yang sedang fokus mengemudi.
" Gimana apanya tuan? " tanya Dion tanpa menoleh.
" Ck. Dasar tidak peka. Maksudku, kapan kamu juga mendaftarkan pernikahan dengan pasanganmu? Jangan cuma di bawa keluar masuk hotel kalau punya pasangan. Ajakin lah ke jenjang yang lebih serius. Masak kamu kalah sama Bryan? Dia yang Casanova kelas kakap saja bisa insyaf dan menetapkan hatinya ke seorang gadis yang masih polos. Kamu yang cuma Casanova kelas pondok labu aja sok jual mahal. " ejek tuan Adiguna.
" Itu karena hati saya belum menemukan yang pas tuan. Makanya saya masih mencoba kesana kemari. Kalau dokter Bryan insyaf karena dia sudah menemukan sarang yang tepat dan pas. " sahut Dion.
" Hei, jangan asal bicara kamu. Aku belum pernah mencoba milik istriku. Bisa-bisanya kamu bilang aku sudah menemukan sarang yang pas. Aku memilih dia bukan karena dia pas untuk peliharaanku. Tapi karena hatiku yang hanya bisa nyangkut ke dia. " protes Bryan.
" Kadang aku kasihan sama putri kecilku. Dia masih terlalu polos mendapatkan suami buaya sekelas kamu. " ujar tuan Adiguna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Papa jangan asal bicara. Meskipun dia masih kecil, dia tidak sepolos yang papa kira. Bryan aja bisa di buat bermain solo berulang kali dalam semalam. " ujar Bryan keceplosan.
" Ha ...ha ..ha .. seorang Casanova bermain solo??? Ha...ha...ha .." ledek tuan Adiguna sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
***
bersambung