Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Bayinya laki-laki apa perempuan?


__ADS_3

" Mmmhhh......" Pipit mulai bersuara. " Abbanggg....." panggilnya lirih masih dengan memejamkan matanya. " Hauuusss bang...." suaranya kembali terdengar.


Armell langsung tersenyum saat mendengar suara adik satu-satunya. Ia segera berdiri dan mengambil air putih yang tersedia di atas nakas. Ia lalu menaruh sedotan ke dalam gelas, dan mengarahkan sedotan itu ke bibir Pipit yang masih memejamkan matanya.


Srut...srut....bunyi air yang di sedot. Perlahan, Pipit mulai membuka matanya. Ia membukanya sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan cahaya dari lampu ruangan yang terang.


" Mbak ..." panggilnya ke Armell saat ia menoleh ke samping. " Abang bule ku mana? " tanyanya lirih.


" Lagi mandi. Tuh. " jawab Armell sambil menunjuk kamar mandi dengan dagunya. Lalu terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, dan membuat Pipit mengangguk.


" Bayiku mana mbak? Dia sehat kan? Laki-laki apa perempuan? " tanyanya memberondong. Membuat Armell mengerutkan keningnya, tapi sesaat kemudian ia tertawa.


" Kenapa kok tertawa mbak? " tanya Pipit dengan wajah bingungnya. Sedangkan Seno juga tersenyum dari atas sofa tempatnya duduk saat ini.


Armell mengambil tangan Pipit dan membawanya ke atas perut buncitnya, sambil berkata " Ini, dia ada di sini. "


Pipit meraba perutnya dengan kedua tangannya, " Loh, bukannya Pipit udah lahiran ya mbak? Perut Pipit tadi sakit loh. "


Armell menyentil kening Pipit pelan, " Dasar Oneng. Calon dokter kok onengnya nggak ilang-ilang. " ucapnya. " Tadi perutmu cuma kram. Bukannya mau lahiran. " lanjutnya.


Lalu Pipit kembali mengelus perutnya dan bayinya terasa bergerak. Senyum tipis terbit dari kedua sudut bibir Pipit.


' Syukurlah kamu baik-baik saja dek. ' ucapnya dalam hati.


" Makanya dek...habis ini, udah...nggak usah aneh-aneh, ya? " pinta Armell.


Pipit mengangguk lemah. " Pipit juga maunya gitu mbak. Siapa sih yang mau membahayakan anaknya sendiri? Tapi tiap kali Pipit menginginkan hal yang ekstrim itu susah banget di hindarinya mbak. Pipit susah ngungkapinnya. " ucapnya.


" Iya, mbak tahu. Mbak juga pernah ngidam juga. Tapi mbak minta tolong sama kamu, sebisa mungkin jangan melakukan hal-hal yang berbahaya buat kamu, juga buat baby kamu. " ujar Armell.


" Kakak kamu benar. Semua orang jadi khawatir sama kamu. Apalagi suami kamu. Dia benar-benar panik. " tambah Seno yang sudah berjalan menghampiri istrinya.


Pipit mengangguk sambil berkata, " Iya bang. Maafin Pipit ya mbak. " ucapnya sambil menggenggam tangan kakaknya.


Armell tersenyum sambil mengangguk. Bryan yang telah menyelesaikan acara mandinya semenjak tadi, dan saat ia akan keluar dari dalam kamar mandi, ia mendengar kakak iparnya dan istrinya berbicara, hanya tersenyum mendengarnya.


' Semoga setelah ini kamu ngidamnya yang enak-enak saja honey. ' doa Bryan dalam hati.


Selang beberapa saat, ia keluar dari dalam kamar mandi.


" Abang...." panggil Pipit saat ia melihat suaminya keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


" Honey, kamu sudah bangun? " sapa Bryan sambil meletakkan handuknya di atas tempat handuk. Lalu ia berjalan mendekat ke arah istri mungilnya. Armell yang sedari tadi berada di samping adiknya, agak menggeser tubuhnya ke samping dan membiarkan Bryan mendekati adiknya.


Ketika Bryan sudah berada dekat dengannya, Pipit merentangkan kedua tangannya sambil berucap manja, " Peluk..."


Bryan tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya sambil mengecup puncak kepala Pipit berkali-kali. Pipit menyeruakkan kepalanya di dada sang suami sambil memeluk erat pinggang suaminya.


" Are you oke, honey? " tanya Bryan setelah Pipit melepas pelukannya.


" Yes. I am oke. Dan I am sorry ya bang....Pipit bikin ulah lagi. Dan kali ini ulahnya kebangetan. Maaf udah buat Abang dan semuanya khawatir. " ucapnya lirih sambil menunduk.


" No, honey. Semuanya kan keinginan baby kita. Jangan minta maaf sama aku. Cuma aku minta, setelah ini, jangan melakukan hal-hal yang ekstrim lagi, oke? " pinta Bryan sambil menggenggam tangan Pipit. Pipit mengangguk sambil tersenyum.


Lalu mereka saling berbicara, ngobrol selama beberapa waktu sampai akhirnya Seno dan Armell berpamitan karena tidak ingin meninggalkan Danique sendiri lama-lama.


Kini tinggallah Pipit dan Bryan berdua.


" Abaaaaaangggg....Pipit lapar..." rengek Pipit.


" Lapar? Sebentar. Aku ambilkan makananmu. " sahut Bryan. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke meja untuk mengambil makanan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Bryan membawanya ke dekat Pipit.


" Mau aku suapin? " tanya Bryan sambil tersenyum. Pipit langsung menganggukkan kepalanya. Sedikit demi sedikit, Bryan menyuapkan nasi ke mulut istrinya.


" Enak? " tanya Bryan saat melihat istrinya begitu lahap. Padahal Bryan sangat tahu jika makanan yang di sajikan untuk pasien oleh pihak rumah sakit biasanya hambar.


Setelah makanan itu habis, Bryan meletakkan piring kosongnya kembali ke atas meja dan mengambil segelas juice jambu yang juga sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


" Minum dulu. " pinta Bryan sambil menyodorkan sedotan ke bibir Pipit.


Srut....srut...hanya dalam sekejap, gelas itupun kosong.


" Abang udah makan malam? " tanya Pipit.


" Belum. "


" Ya udah, Abang ke kantin aja dulu makan malam. Abang pasti dari siang belum makan. Nanti Abang malah sakit loh. Pipit nggak pa-pa kok di sini sendirian. " ucap Pipit.


" Nggak perlu ke kantin. Tadi kakak kamu udah bawain makan malam dari rumah katanya. "


" Ya udah, Abang makan dulu kalau gitu. " pinta Pipit.


" Iya. Abang makan dulu sekarang. " ucap Bryan sambil mengusap kepala Pipit. Ia lalu berjalan menuju ke sofa, dan membuka rantang susun yang tadi di bawa oleh Armell.

__ADS_1


" Hmm... sepertinya enak nih. " gumam Bryan. Ia lalu menyuapkan nasi pertama ke mulutnya. Wah, benar-benar enak. Apalagi ia tadi hanya sarapan. Jadi sekarang ia benar-benar lapar.


Pipit memandangi suaminya yang sedang menikmati makanannya sambil menelan salivanya beberapa kali. Ia tadi memang sudah makan, dan sudah kenyang. Tapi melihat suaminya yang lahap seperti itu, tiba-tiba perutnya terasa lapar kembali.


" Abaaang...." panggilnya.


" Yes, honey..." sahut Bryan sambil mengunyah makanannya.


" Enak bang makan malamnya? "


" He em. "


" Emang mbak Mell bawain apa? "


" Cuma makanan rumahan. Ada oseng brokoli, sambal cabe hijau, sama rendang. " jawab Bryan menyebutkan lauk yang di bawakan oleh Armell tadi.


Cleguk...Pipit kembali menelan salivanya.


" Abaaang..." Pipit memanggil suaminya manja.


" Hem..."


" Boleh nggak Pipit minta makan malam abang? " tanyanya lirih. " Pipit pengen. " lanjutnya sambil menggigit kuku jarinya.


" Pfftt..." Bryan menahan tawanya. " Kamu mau makan lagi? " tanyanya.


Pipit langsung mengangguk penuh semangat. Bryan tersenyum, lalu berdiri dengan masih membawa tempat makannya ke dekat istrinya.


" Jadi dari tadi kamu lihatin Abang makan, karena kamu pengen? " goda Bryan.


Pipit melebarkan senyumnya. " Boleh? "


" Boleh dong. Kenapa nggak bilang dari tadi? Hem? Sayangnya Abang. " ucap Bryan lalu mengecup puncak kepala Pipit gemas.


" Takutnya nggak boleh makan sembarangan. Cuma boleh makan yang di sediakan dari rumah sakit. " ucap Pipit polos.


Bryan kembali tersenyum. " Siapa bilang nggak boleh? Kamu kan nggak sakit honey. Kamu hanya butuh istirahat, dan asupan makanan. Justru sangat boleh jika kamu mau makan apa saja. Kecuali kalau kamu sakit, baru tidak di perbolehkan makan makanan yang sembarangan. " jawab Bryan sambil menyendok nasi dan lauk pauknya dari tempat makan, lalu menyodorkan sendok itu ke mulut Pipit. Dengan senyum lebarnya, Pipit membuka kembali mulutnya lebar-lebar.


Dan..... klunting...bunyi sendok di letakkan di atas piring kosong Bryan. Sambil tersenyum dan menunjukkan piring yang sudah kosong di hadapan Pipit, ia berkata, " Habis. "


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2