Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Doa Bryan


__ADS_3

" Baaaangggg....Pipit mohon bang....Ini benar-benar menyiksa...Aahhhh.... mmmmpptt....Aaaaaaaahhhhh...." sebuah teriakan panjang kembali keluar dari mulut Pipit saat ia mengalami pelepasan entah untuk yang ke berapa kalinya.


Bryan menatap wajah istrinya yang di liputi ga**** karena ulahnya. Saat istrinya kembali menyenderkan tubuhnya di kaca rias yang ada di belakang tubuhnya, Bryan menghentikan aktivitasnya sesaat, sambil menunggu istrinya siap untuk berteriak lagi dengan senyuman jahil di bibirnya.


" Abang jahat banget sumpah. " protes Pipit sambil memejamkan matanya dan nafas tersengal-sengal.


" Ha...ha...ha...Aku tadi sudah bilang kan, aku akan menghukummu. " jawab Bryan.


Pipit membuka matanya dan menatap tajam ke arah Bryan. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Bryan langsung melahap bibir istrinya yang sedari tadi merengek minta di cium tapi tidak ia kabulkan. Kali ini, Bryan melalap habis bibir ranum dan tipis itu.


Dan tangannya, mulai kembali menjelajah hingga ia merasai kedua pucuk milik istrinya kembali mengeras, Bryan menyunggingkan senyumnya. Istrinya benar-benar memiliki stamina yang luar biasa. Mungkin karena usianya yang masih muda membuatnya selalu berga***. Bahkan setelah berulang kali mengalami pelepasan, yang mungkin jika wanita dewasa yang mengalaminya, sudah tumbang sedari tadi, tapi istrinya ini berbeda. Meskipun sudah bergejolak beberapa kali, saat ia kembali menyentuhnya, istrinya kembali on.


Bryan tersenyum tipis sambil tetap meraup puncak gunung milik istrinya.


" Mmmm.....Ssshhhh...." istrinya kembali mende***.


Kali ini, ia ingin mengakhiri permainannya karena ia juga sudah tidak tahan. Masih dengan kepala menunduk di depan da** Pipit, Bryan memasukkan ular pitonnya yang sedari tadi sudah marah-marah ke dalam kandangnya.


Kemudian ia mulai memacu naik turun dengan irama lembut, memberikan sensasi yang lain untuk istrinya.


" Banggg....Ahhh.... Ssshhhh....mmmmppp..." racau Pipit sambil menekan kepala suaminya ke dadanya.


" Jangan di keluarkan sekarang honey. Tahan dulu. Kita pindah ke ranjang. " ucap Bryan, ia mengangkat tubuh Pipit tanpa melepas penyatuan mereka.


Di atas ranjang, Bryan menurunkan pan*** Pipit di atas guling. Bryan sengaja membuat bagian bawah tubuh istrinya lebih tinggi dari bagian atasnya. Hal itu ia lakukan, biar nanti kecebongnya bisa langsung mendapatkan pasangan yang pas di rahim istrinya.


Bryan kembali memacu naik turun bagian bawahnya. Semakin lama semakin cepat.


" Kau sangat nikmat, honey. Milikmu benar-benar sangat aku sukai. " racau Bryan.


" Mmmppp....baaaangggg..... Pipit pengen...ahh..." racau Pipit.


" Sebentar, honey. Kita keluarkan bersama-sama. Aku juga ud..dah mau keluar...Aaahhhh.....Mmmmm..." Bryan memacu semakin kencang dengan ritme yang semakin cepat.

__ADS_1


" Aaahhhhhh....." mereka berdua berteriak bersama.


Bryan tidak langsung mencabut miliknya saat kegiatan mereka usai. Ia masih setia berada di atas tubuh Pipit beberapa menit lamanya. Membiarkan sp****nya menemukan pasangan dari sel telur milik istrinya.


Setelah selang beberapa menit, Bryan mengeluarkan ular piton yang kini telah kembali ke bentuk semula dari kandangnya dan berpindah posisi ke sebelah Pipit. Memeluk tubuh istrinya yang terlihat begitu kelelahan.


" Bang, ambil gulingnya ini. Nggak enak ih. " keluh Pipit masih sambil menutup matanya.


Bryan tersenyum, sambil memperhatikan wajah kelelahan sang istri, Bryan mengambil guling yang berada di bawah Pipit. Ia lantas mengecup kening Pipit cukup lama. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh sang istri yang masih sama-sama polos.


" I love you so much, honey. " ucapnya setelah mengecup kening Pipit. Ia lalu memeluk tubuh istrinya yang masih kelelahan itu.


" Istirahatlah. " bisiknya, dan iapun ikut memejamkan matanya karena ia juga kelelahan.


Baru saja Bryan merem-merem ayam hendak tidur, tiba-tiba istrinya mengagetkannya.


" Astaghfirullah bang...." pekik Pipit sambil beranjak duduk.


" Kenapa? " tanya Bryan dengan suara malas.


" Sarung apaan? Sarung tinju? Ya enggak lah, honey. Emang kita lagi di atas ring? " jawabnya asal.


" Ihh, Abang..." seru Pipit geram sambil mencubit lengan suaminya yang tidak tertutup selimut.


" Au, sakit, honey. " pekik Bryan sambil mengelus lengan yang bekas cubitan istrinya.


" Habisnya abang ngeselin. Di tanya serius jawabnya cleneh. " sungut Pipit.


Bryan membuka matanya lebar-lebar. " Makanya kalau ngomong yang jelas. Maksud kamu sarung apaan? "


" Sarung buat di sarungin si ular pitonnya abang biar nggak nakal. Pipit kan lagi masa subur bang. " ujar Pipit setengah merengek.


" Emang kenapa kalau masa subur terus aku nggak pakai pengaman? "

__ADS_1


" Ya kalau aku hamil gimana? Abang mau tanggung jawab? "


" Ya jelas aku tanggung jawab lah. Kan aku ini suami kamu. Dan anak yang bakalan di rahim kamu itu anak aku. Ya pasti aku yang bertanggung jawab. Emang mau siapa lagi? " sahut Bryan asal.


" Abang, Pipit serius ini. Abang juga yang serius napa? "


" Aku juga serius. Lagian kamu ini, udah punya suami, mau hamil aja takut. Kalau nggak punya suami, terus tiba-tiba hamil, nah itu baru takut. " sahut Bryan.


Wajah Pipit masih nampak di tekuk. " Abang kenapa tadi asal di masukin sih. "


" Lah kan tadi yang teriak-teriak minta di masukin siapa? Kan aku tadi juga nggak masukin kan? Kamunya merengek terus minta lebih. " jawab Bryan menggoda Pipit.


" Tapi kan abang yang masih dalam keadaan sadar, harusnya ingat dong masa subur Pipit. "


" Eh, kamu juga sadar loh honey. Bahkan kamu merem melek. "


" Ihhhh....makin kesel sama Abang. " pekik Pipit geram dengan tingkah suaminya.


Bryan tersenyum, " Semua kan udah terlanjur terjadi, honey. Lagian apa yang udah terlanjur menyembur di dalam sini, mana bisa di keluarin lagi? " ucap Bryan sambil mengelus perut rata istrinya.


" Udah, yuk tidur dulu. Istirahat. " ujar Bryan sambil menarik tubuh Pipit agar kembali tidur.


" Ck. Mana bisa Pipit tidur kalau lagi galau kayak gini. " protes Pipit.


" Oke. Kalau kamu nggak mau tidur, aku temenin. Dan daripada melek tapi galau, mending aku bikin kamu merem melek lagi tapi asyik. Nggak galau Siapa tahu kalau yang di dalam sini aku tambahin lagi adonannya cepet jadi. " goda Bryan sambil kembali mengelus perut rata istrinya.


Sontak Pipit memelototkan matanya dan buru-buru merebahkan tubuhnya miring membelakangi suaminya.


" Selamat tidur, honey. Mimpi yang indah ya. " ujar Bryan lalu mengecup punggung istrinya yang masih dalam keadaan polos. Ia melingkarkan tangannya di atas pinggang istrinya sambil mengelus-elus perut Pipit sembari berdoa semoga anaknya segera tumbuh di dalam perut itu.


Bryan memejamkan matanya sambil tersenyum tipis. Mengingat kekesalan istrinya saat menyadari kalau ia melakukannya tanpa menggunakan pengaman. Padahal memang itu adalah rencananya. Membuat sang istri segera hamil. Dan ia juga harus memikirkan juga jika ternyata kali ini belum berhasil, maka ia harus mencari cara yang lain lagi.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2