
Seno, Bryan, Athar, Pipit, Ameera, dan Armell kini berada di desa C. Ameera mengajaknya mampir ke rumah bapaknya terlebih dahulu.
Setelah beramah-tamah sebentar, mereka berpamitan ke orang tua Ameera untuk pergi ziarah ke makam Sunan Muria, salah satu auliya' di tanah Jawa.
" Mbak, kita naiknya jalan kaki apa naik ojek? " tanya Pipit.
" Ya naik ojek lah. Kalau jalan kaki, emang kamu kuat? " sahut Ameera sambil tersenyum.
" Jauh ya? " tanya Bryan yang baru pertama kali datang ke desa C.
" Tuh bang, di puncak gunung sana. " tunjuk Pipit.
" Ya udah, mana ojeknya? " tanya Bryan.
" Bentar, baru di panggilin sama sepupu aku tadi. " jawab Ameera. " Nah, itu mereka. " lanjutnya ketika melihat beberapa ojek Muria datang menghampiri.
" Eh, Ameera. Mudik yo Meer? Sue ora tahu weruh awakmu. " sapa salah satu tukang ojek. ( Eh, Ameera. Mudik ya Meer? Lama kok nggak pernah ketemu kamu. )
" Eh Wid. Iyo. Iki Karo bojoku, karo anakku. Karo konco-koncone bojoku. " jawab Ameera. ( Eh Wid. Iya, ini sama suami, sama anakku. Sama teman-temannya suamiku juga.)
" Sayang, aku boncengin kamu ya. " pinta Athar dengan sikap posesifnya sambil salah satu tangannya memeluk pinggang istrinya, dan satu tangannya lagi menggendong Kyra.
" Siapa dia? Mantan pacar kamu ya? " bisik Athar sambil melirik ke tukang ojek yang memang masih kelihatan muda.
" Astaghfirullah haladzim mas. Curigaan aja. Dia temen SD aku dulu. Nggak usah cemburu gitu. Masak aku udah punya suami yang gantengnya mirip Cha Eun Wo malah melirik yang hitam dekil gitu. " sahut Ameera berbisik balik.
' Maaf ya Wid. Aku terpaksa jelek-jelekin kamu. Kalau nggak gitu, suamiku bakalan terus cemburu. ' batin Ameera sambil melirik ke arah tukang ojek tadi.
" Jadi pergi nggak nih? " tanya Seno.
" Jadi lah mas. " jawab Ameera. " Mas serius mau boncengin Ameera? Jalannya sempit loh mas. Ramai lagi. " tanya Ameera ke suaminya.
" Iya. Aku udah tahu kok jalannya. Dan udah pernah juga kesana sama ayah sama bunda Aisyah bawa motor sendiri juga. " jawab Athar.
" Mas, saya bawa motornya sendiri aja ya. Saya mau boncengin istri saya sendiri. " pinta Athar.
" Boleh kok mas. " jawab salah satu tukang ojek.
" Kamu gimana Sen? Mau bawa sendiri apa bonceng mas ojeknya aja? " tanya Athar ke Seno.
" Gimana baby? Berani aku boncengin? " tanya Seno ke Armell.
" Berani lah. " jawab Armell.
" Lo gimana Bry? " tanya Seno ke Bryan.
__ADS_1
" Gue juga mau bawa sendiri. " jawab Bryan.
" Pipit mau bonceng mas ojeknya aja. Abang bule juga bonceng mas ojeknya juga. " sahut Pipit.
" Honey..."
" Ayo mas. Kita capcuss. " ajak Pipit ke tukang ojek sambil naik ke jok belakang motor ojek itu.
" Monggo, mister. " ajak tukang ojek satunya ke Bryan. " Kita going to Muria mountain. " lanjutnya sambil tersenyum.
" Santai aja mas. Nggak usah pakai bahasa Inggris. Saya bisa bahasa Indonesia. " jawab Bryan.
" Oke mister. Let's to the go. Mau ala-ala pembalap F1 apa mau yang kalem-kalem aja? " tanya si tukang ojek.
" Bentar. Mas yang boncengin istri saya, bawa motornya jangan ala-ala pembalap F1 seperti masnya ini ya. Kamu bawa dua nyawa itu. Istri saya lagi hamil. " ujar Bryan setengah berteriak.
" Siap, mister bule. " jawab si tukang ojek yang boncengin Pipit.
" Ayo berangkat. " ajak Seno yang sudah siap bawa motor dan Armell di boncengan.
Lalu mereka mulai melajukan motornya beriringan. Mereka membawa motor dengan pelan karena dua wanita yang ada di sana sedang berbadan dua.
" Widdiihhh....Mas...tukang ojeknya ekstrim-ekstrim ya. Gila bener bawa motornya. Jalanan di tebing kayak gini, pada salip menyalip. Ihhh, ngeri juga lihatnya. " ujar Pipit yang sedari tadi memperhatikan para tukang ojek yang melajukan motornya dengan sembarangan.
" Tapi kan mereka bawa nyawa orang loh mas. Emang nggak ada yang kecelakaan gitu? "
" Ya ada mbak. Tapi jarang. "
" Masnya jangan kayak gitu ya. Saya ngeri. Masnya nggak usah khawatir nggak kebagian penumpang. Nanti masnya pasti di bayar lebih. Suami saya itu dokter terkenal. Duitnya banyak. " ujar Pipit.
" Siap mbak. Mister bule tadi suaminya mbak ya? "
" Iya mas. Ganteng kan suami saya? "
" Ya ganteng lah mbak. Kan bule. Pasti itunya gede ya. "
" Ha....ha...ha...masnya bisa aja. Emang kalau bule itunya pasti gede ya? Saya malah nggak tahu loh mas. Soalnya saya tahunya ya cuma punya suami saya itu. Yang lainnya nggak tahu. Jadi nggak bisa ngebandingin. " sahut Pipit.
Tak lama, sampailah mereka di pangkalan ojek.
" Mas, di ntosi nggih. Mangkeh sekalian PP. " ucap Ameera ke tukang ojek itu. ( Mas ,di tunggu ya. Nanti sekalian PP ).
" Nggih mbak. " jawab salah satu tukang ojek. ( Iya, mbak)
Lalu mereka berenam mulai berjalan menuju ke makam Sunan Muria. Seno menggendong baby Dan, Athar menggendong Kyra, dan Bryan menggandeng istrinya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam makam Sunan Muria dan membaca surat Yasin dan memanjatkan doa. Setelah selesai, mereka segera kembali turun menuju ke pangkalan ojek.
" Eh, bentar deh bang. Pipit mau itu. " ujar Pipit menunjuk ke penjual sate ojek atau bakso tusuk.
" Yakin mau itu? Kan nggak higienis honey. " tolak Bryan.
Pipit langsung cemberut. Jiwa dokter suaminya muncul, dan itu membuat Pipit kesal. Ia langsung melepas genggaman tangan Bryan. Ia berjalan meninggalkan Bryan yang masih terdiam di tempat tadi memperhatikan istrinya yang sudah berlalu.
' Salah lagi kan gue? ' jerit Bryan dalam hati.
" Kenapa bini Lo? Lo apain? " tanya Seno .
" Tuh, dia minta beli itu. Terus gue bilang kalau itu nggak higienis. Eh, dia langsung marah. " ujar Bryan sambil menunjuk penjual bakso tusuk itu.
" Lo gimana sih? Perasaan bini Lo hamil udah empat bulan. Tapi Lo nggak pinter-pinter. Perempuan hamil itu adalah ratu. You know queen kan? Apapun yang dia mau, harus di turuti. " ujar Seno.
" Udah, biar Meera yang bujuk. Nanti di bawah ada penjual sate ojek kayak gitu yang enak. Bersih juga. Nanti kita minta tukang ojek buat anterin sekalian. " sahut Ameera.
" Oke. " jawab Bryan.
Lalu mereka kembali berjalan ke pangkalan ojek menyusul Pipit yang sudah sampai sana terlebih dahulu.
" Fit , nanti sampai bawah, kita beli sate ojek di tempat yang enak. Kebetulan aku juga pengen. " ujar Ameera sambil merangkul pundak Pipit.
" Beneran di bawah nanti ada mbak? " tanya Pipit dengan raut wajah yang berbinar. Ameera mengangguk sambil tersenyum.
" Ya udah yuk, kita turun. " ajak Ameera.
Kemudian mereka segera kembali ke desa C dengan di antar oleh tukang ojek tadi. Sampai di desa, Ameera meminta tukang ojek yang adalah teman SDnya tadi supaya mengantar mereka ke penjual sate ojek yang mangkal di dekat gapura naik ke makam. Pipit sangat senang saat ia sudah membeli makanan itu.
Lalu mereka kembali ke rumah Ameera. Sampai di rumah Ameera, Bryan mengeluarkan uang ratusan sebanyak 10 lembar dan di berikan ke salah satu tukang ojek tadi.
" Mas, nanti di bagi sama yang lain ya. " ucapnya.
" Sebentar, mister. Ini kebanyakan. "
" Udah, itu di bagi sama mas ojeknya yang lain. Anggap aja rejekinya mas. " ujar Bryan.
" Wah, terimakasih banyak, mister. Sering-sering ya mister kesini. He...he...he..."
Dan mereka kembali ke rumah Ameera, berpamitan dengan orang tua Ameera, lalu meneruskan perjalanan untuk bertandang ke desa L. Tempat kelahiran bapak Armell dan Pipit.
***
bersambung
__ADS_1