
" Abang beneran pergi kerja? " tanya Pipit sambil masih bergulung di dalam selimut. Padahal ini sudah jam delapan.
" Hm. " sahut Bryan sambil memasang dasinya.
" Ck. Pipit ke kampus ya bang???" rengeknya.
" No, honey. Kamu harus istirahat dulu. Besok baru boleh ke kampus. " jawab Bryan segera sambil menghampiri sang istri yang nampak cemberut. Bryan mengelus puncak kepala Pipit.
" Pipit kesepian kalau di rumah sendiri tanpa abang. " rengeknya kembali.
" Kamu kan bisa main ke rumah kakak kamu. Atau kamu minta kakak kamu sama Danique kesini. Sampai aku pulang kerja. "
" Hiks...Lama...." keluh Pipit.
Bryan mendesah perlahan. Entah kenapa istrinya itu semenjak di rumah Sakit kala itu menjadi sangat manja. Pipit jadi selalu ingin berada di dekatnya. Kemanapun ia pergi, Pipit pasti akan mengintili. Bahkan jika sedang tidak ada jadwal kuliah, Pipit akan ikut ke rumah sakit.
Sudah tiga minggu semenjak pulang dari rumah sakit. Dan kemarin saat Pipit pulang dari kampus, ia mengeluh perut bagian bawahnya terasa agak sakit. Jadi Bryan memintanya untuk istirahat di rumah, bahkan Bryan menyuruhnya untuk stay di tempat tidur.
" Honey...aku praktek cuma dua setengah jam, oke. " bujuk Bryan sambil menarik kepala istrinya yang sudah dalam posisi duduk ke dalam dekapannya. Lalu ia mengecup lama puncak kepala sang istri.
" Ck...Entar kayak yang kemarin-kemarin... Bilangnya hanya dua setengah jam, honey...Eeee....jam sepuluh malam baru pulang. " decak Pipit.
Bryan tersenyum, lalu mengacak rambut Pipit gemas. " I am sorry honey..Aku udah kasih kabar kan, ada operasi dadakan. Dan hari ini, insyaallah nggak ada jadwal operasi. "
" Kalau dadakan lagi, gimana? "
" Aku akan memberikannya ke temanku. "
" Pengen ikut abang.." rengek Pipit sambil memanyunkan bibirnya yang membuat Bryan gemas, lalu meraup bibir Pipit yang sedang monyong itu.
" Ihh ..Abang jorok...Pipit kan belum cuci muka, belum gosok gigi juga. Bau tahu. " protes Pipit kala Bryan melepas bibirnya. Pipit memang sedari dulu paling enggan jika ia di cium suaminya dalam keadaan dia yang belum gosok gigi karena baru bangun tidur.
" Bau wangi. Mau kamu nggak gosok gigi selama satu minggupun, tetap aku cium bibir kamu. "
" Ikut ya baaaangggg...."
' Lah...masih ingat aja ni bocah. Aku pikir setelah aku alihkan perhatiannya, akan lupa dengan keinginannya. ' batin Bryan.
" Honey, sekarang kehamilanmu sudah menginjak delapan bulan. Kamu harus jaga kesehatan kamu, juga baby kita. Jadi saat melahirkan nanti, tubuh kamu dalam keadaan fit. Di rumah sakit itu sarang penyakit. Aku tidak ingin kamu tertular penyakit apapun. " jelas Bryan.
" Tapi Pipit kesepian nggak ada abang di rumah. " rengeknya kembali.
" Mmmm....gimana kalau aku suruh sahabatmu kesini nemenin kamu? "
" Si Indomi? Boleh Abang? Beneran? " tanya Pipit dengan wajah sumringah.
Bryan mengangguk sambil tersenyum dan mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabat istrinya itu.
" Abang .." Pipit mencekal tangan suaminya.
" Ada apa? Hem? "
__ADS_1
" Kalau sama si Roy juga, boleh nggak? " tanya Pipit sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
" What? Roy? No...." sahut Bryan.
Wajah Pipit berubah jadi cemberut. " Hishhh....Abang nggak oke! Nggak prenddd!!!" protes Pipit, lalu ia menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
" Honey...jangan kayak anak kecil gini dong. " bujuk Bryan.
" Abang tuh yang kayak anak kecil. Suka cemburuan nggak jelas. "
Bryan mendesah kasar.
" Abang tuh seharusnya bilang makasih sama Roy. Kalau bukan karena dia, dedek Ndak mungkin nangkring di sini sekarang. Dia akan ada saat Pipit selesai kuliah. " gerutunya kesal.
" Kok bisa? "
" Ya kan gara-gara abang cemburu sama si Roy terus Abang khilaf nggak makein sarung ular pitonnya. Jadi nyembur bebas deh tuh bisa ular ke perut Pipit. Iya nggak? " kekeh Pipit.
Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bener juga apa yang di bilang istrinya itu. Ia bingung sekarang harus menyangkal bagaimana.
" Iya deh iya. Aku suruh Naomi ajak Roy. Tapi ingat, jangan macam-macam. " pesan Bryan.
" Hish...Abang mah. Pipit kan cuma bisa macem-macem sama Abang doang. Entar malam Pipit minta macem-macem sama Abang lagi. Oke? " goda Pipit sambil mengerlingkan matanya.
Bryan tersenyum canggung. Kenapa istrinya jadi mesum begini. Tiap malam istrinya akan selalu mengajaknya enak-enak terus.
" Ya udah, ayo aku gendong ke kamar mandi. Kamu cuci muka dulu. " ucap Bryan sambil menelusupkan kedua tangannya ke bawah tubuh istrinya.
" Nanti kamu kecapekan. "
" Cuma jalan ke kamar mandi, abang....Nggak jalan-jalan muterin mall. Lagian kalau udah hamil gede gini bukannya harus sering jalan ya? Abang kan dokter. Masak nggak tahu. " ucap Pipit menohok.
" Yes honey. Aku cuma khawatir. Aku nggak mau kamu dan baby kita kenapa-napa. "
🧚
🧚
" Rumah lu nggak terlalu gede...Tapi terlihat sangat elegan. Nyaman banget..." ujar Naomi sambil memperhatikan seluruh sudut rumah Pipit. Ia memang baru sekali ini masuk ke dalam rumah Pipit. Biasanya ia hanya sekedar mengantar sampai depan pekarangan rumah.
" Widdiihhh...ada kolam renangnya juga...Ish...Kenapa lu nggak ngasih tahu kalau ada kolam renangnya? Tau gitu kan gue tadi bawa baju renang. Lumayan bisa berenang gratis sampai sore. " protes Naomi.
" Dasar udik. " ejek Roy yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.
" Apa sih lu? Nggak jelas. " balas Naomi.
" Kamu mau berenang, Mi? Nggak usah pakai baju renang. Tinggal pakai tuh cancut sama BH kamu. " canda Pipit tanpa filter. Membuat Roy melirik ke arah Naomi sambil menelan salivanya susah payah.
Naomi mempunyai wajah yang manis, dan bodynya lumayan berisi meskipun ia agak boncel. Lumayan seksoy lah buat ukuran cewek.
" Eh, entar kalau gue cuma pakai cancut sama BH doang, ada yang kuat pulang, gimana? Habis ngeliat tubuh seksoy gue.." sahut naomi nggak kalah vulgar sambil melirik ke arah Roy.
__ADS_1
" Iddihhh...sorry...kamu bukan tipe aku. "
" Bukan masalah tipe atau kagak. Kalau laki-laki normal nih .. Laki-laki normal loh gue tekanin...Mau tipe mau kagak, kalau lihat cewek bugil juga bakalan jejingkatan..." sahut Naomi.
" Kamu pikir aku bukan laki-laki normal? Mau gue bukain sekarang? " tantang Roy tidak terima.
" Gue tahu lu laki. Tapi definisi normal atau kagak, di lihat bukan dari bentuknya doang. Tapi di lihat, dari dia bereinkarnasi apa kagak kalau lihat tubuh lawan jenis yang bahenol. Do you understand, mister? " ejek Naomi.
" Kamu..."
" Ehhh...eh..eh...Ini apa-apaan kok malah pada berantem. Kalian berdua aku minta kemari tuh nemenin aku yah. Biar nggak kesepian. Bukan malah bikin ribut. " potong Pipit sambil mengelus perutnya.
" Ini juga nemenin elu empit. Pan malah rame kalau ada yang berantem. " sahut Naomi.
" Ck. Kamu ini. Jadi berenang nggak? Aku pinjemin deh tuh lingerie aku buat kamu berenang. " canda Pipit kembali.
" What? Lingerie? " pekik Naomi. " Becande lu? Yang ada entar malah mengapung gue. Terus entar di kira ikan duyung yang kejaring. " lanjutnya.
" Ha...ha...ha..." Pipit tertawa terbahak-bahak. " Mbak Ina....." panggil Pipit ke asisten rumah tangganya.
" Iya mbak. " sahut Ina yang datang dari arah belakang.
" mbak, tolong ambilin baju renang Pipit yang ada di almari ya. Terus kasih ke dia. Biar dia bisa berenang gratis sepuasnya. " pinta Pipit.
" Iya mbak. " jawab Ina lalu ia segera naik ke lantai dua.
" Lu pinjemin gue baju renang beneran mpit? " tanya Naomi girang.
" Mau nggak? "
" Mau banget lah. " jawab Naomi. Lalu ia mencium pipi Pipit berkali-kali.
" Ihh.... INDOMIIIIII....." pekik Pipit. " Iler kamu nih nempel di pipi akyuuhhhh....Entar kalau babang bule mau nyium aku, jadi bau iler kamu kan???" protes Pipit sambil pura-pura marah.
Bukannya menyesal, Naomi malah gantian meluk tubuh Pipit erat. " Lu emang sohib Ter the best gue. Daaaannn......sohib Ter gila gue...."
" Yang pertama enak di dengernya....Tapi yang selanjutnya....bikin eneg..."
" Iya... Habisnya gue nggak pernah tuh punya sahabat yang gila kayak elu. Lagi bunting, tapi manjat tebing, berantem, manjat pohon mangga...Dan masih banyak lagi kegilaan-kegilaan yang lu lakuin. Moga aja, ponakan gue kalau lahir nanti nggak nakal kayak bundanya. " ucap Naomi sambil mengelus perut buncit Pipit.
" Amiinnn, ante..." jawab Pipit sambil bersuara mirip anak kecil. Lalu mereka berdua sambil berpandangan dan tertawa receh. Semua pemandangan itu tak lekang dari mata Roy. Selama menjadi teman juga kekasih dari Pipit semasa SMA dulu, ia tidak pernah melihat Pipit bisa bersahabat begitu dekat dengan seseorang. Tapi bersama naomi, Roy merasa Pipit begitu welcome dan hangat.
" Kamu juga mau nggak aku pinjemin kolor abang bule? " tanya Pipit sambil memandang Roy.
" Buat apa? "
" Buat berenang lah. Siapa tahu kamu nemenin berenang si Indomi. " sahut Pipit.
" Ogah..."
***
__ADS_1
bersambung