
" Duduk, dan diam di sini. " ucap Bryan tegas dengan tatapan mata yang tajam ke Pipit. Dan membuat Pipit langsung terdiam tanpa berani membantah. Bryan mendudukkannya di atas sofa rumah Adiguna yang berada di ruang tengah.
Bryan berlalu keluar dari dalam rumah dan kembali setelahnya dengan membawa tas kerjanya. Ia lalu berjongkok di hadapan Pipit dan membuka tasnya. Ia mengambil stetoskop dan tensimeter.
" Abang, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. " ucap Pipit hendak menolak saat suaminya sudah bersiap akan memeriksanya.
" Aku bilang, diam. " ucap Bryan kembali dengan tatapan tajamnya.
Pipit langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Bryan segera memeriksa tekanan darah Pipit, lalu memeriksa denyut nadinya, dan yang terakhir ia meletakkan stetoskopnya di atas perut Pipit yang sedikit membuncit itu.
Baru setelahnya, Bryan bisa bernafas lega. Ia melepas stetoskop dari lehernya dan menyadarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya.
" Bagaimana, Bry? Mereka baik-baik saja kan? " tanya nyonya Ruth yang sedari tadi juga terlihat sangat khawatir.
" Iya ma. Mereka baik-baik saja. " jawab Bryan.
" Kan Pipit tadi udah bilang. Pipit dan dia baik-baik saja. " ucap Pipit sambil mengelus perutnya. " Dia yang pengen manjat pohon dan makan rujak mangga dari atas pohon, jadi dia juga pasti akan menjaga dirinya sendiri juga. " lanjutnya.
" Kamu sadar nggak sih kalau yang kamu lakukan tadi berbahaya? Bahaya buat kamu, juga bahaya buat anak kita. " seru Bryan sedikit emosi.
" Pipit tahu kalau itu bahaya. Tapi itu juga bukan keinginan Pipit. Pipit nyidam, abang. Abang juga ngerasain kan, nyidam itu kayak apa rasanya. Kalau udah pengen, ya harus di turuti. Kalau nggak, anak kamu marah. Terus entar kalau udah lahir, ngeces mulu. Mau, Abang punya anak yang ileran? " sahut Pipit tidak kalah emosinya. Maklumlah namanya juga ibu hamil. Emosi yang tidak stabil.
" Ya nggak lah. Masak iya anak seorang dokter terkenal ileran. " sahut Bryan tidak terima.
" Makanya, Pipit tadi bela-belain manjat pohon biar anaknya nggak ileran. " kekeh Pipit membela diri.
" Kamu ini selalu saja bisa menjawab. Awas aja kalau lain kali aneh-aneh lagi. Mending kamu tuh kayak ibu hamil kebanyakan tuh, pengen makan apa gitu..Yang wajar-wajar saja lah kalau nyidam. "
" Bang, emang Pipit yang minta nyidam aneh-aneh? Nggak kan? Anak kamu nih yang mintanya aneh-aneh. Lagian asyik kan, bisa viral nih nyidamnya Pipit kalau di posting di buat konten. Nggak ada ibu hamil yang nyidamnya ekstrim kayak Pipit. " seloroh Pipit.
" Sini, aku mau bicara sama si kecil. " Bryan menarik tangan Pipit supaya ia mendekat.
__ADS_1
" Sayangnya Daddy, " ucap Bryan sambil mengelus perut istrinya. " Kamu jangan minta yang aneh-aneh sama bunda ya. Apalagi minta yang bahaya kayak tadi. Minta itu yang enak aja. Kayak pengen brownies, ketoprak, bolu talas, kayak itu kan enak sayang. Bikin kenyang lagi. " ucap Bryan menyebutkan semua makanan yang kemarin-kemarin sangat ia inginkan.
" Itukan kamu bang. " sahut Pipit. " Hoaaammm..." Pipit menguap. " Pipit ngantuk, mau tidur. " lanjutnya sambil beranjak berdiri.
" Ya udah, yuk pulang. "
" Nggak mau. Pipit mau tidur di sini. Dan malam ini, Pipit mau menginap di sini. Boleh kan ma? " tanya Pipit ke nyonya Ruth.
" Boleh banget dong sayang. " jawab Nyonya Ruth sambil mengelus pipi Pipit.
" Ya udah, yuk aku antar ke kamar. " ajak Bryan.
" Nggak usah, Pipit bisa sendiri. Abang mending pulang ke rumah aja. "
Jawaban yang membuat Bryan bengong.
" Udah Bry, malam ini, biar mama nemenin istri kamu. Lagian, kamu temenin dia juga kamu cuma menelan ludah aja kan? " canda Nyonya Ruth.
" Ha...haha...ha..." nyonya Ruth tertawa terbahak-bahak sambil mengikuti Pipit yang sudah berjalan terlebih dahulu.
🧚
🧚
" Bini gue di rumah nyokap Lo. Dan gue di usir nggak boleh ikut menginap di sana. " jawab Bryan dengan nada kesal.
" Heh..." tawa Seno mencibir.
" Oh iya, hampir saja gue lupa. Gue belum meluk Lo hari ini. Pantesan ada yang kurang. " ujar Bryan dengan senyum menyeringai.
Spontan Seno beranjak dari duduknya dan berlalu. Ia sudah tahu jika Bryan sudah berkata seperti itu, maka tidak hanya memeluk biasa yang Bryan inginkan. Tapi Bryan akan menduselkan kepalanya ke dada bidang Seno. Dan inilah hal teraneh yang di alami Bryan semenjak kehamilan istrinya.
__ADS_1
Melihat Seno berlalu, Bryan segera mengejarnya. Dan terjadilah drama kejar-kejaran dua laki-laki dewasa itu. Yang satu adalah seorang bapak, dan yang satu calon bapak. Mereka berlari kejar-kejaran sampai halaman belakang, dapur, bahkan membuat Lilik yang sedang membuat adonan kue, Bryan menendangnya tanpa sengaja dan membuat terigu yang semula akan di masukkan ke dalam adonan, tumpah ke badan Lilik dan lantai.
" DOKTER BRYAN........." pekik Lilik. Tapi yang di teriaki tetap berlari mengejar sahabatnya tanpa menghiraukan Lilik yang sedang menatap kesal kepadanya.
Bryan terus berlari mengejar Seno sampai kembali lagi ke dalam rumah.
" Mas, apa-apaan sih. " protes Armell yang sedang menggendong Danique dan Seno malah bersembunyi di balik tubuhnya. Seno tidak menjawab.
" Ah, kalian ini. Selalu saja. " ujar Armell saat melihat Bryan yang masih ngos-ngosan tiba di ruang keluarga.
" Baby, lindungi aku. " pinta Seno sambil menatap Bryan waspada.
" Mell, pegang suamimu. " pinta Bryan. Jujur, ia sudah capek sejak tadi harus berlari.
" Kalian ini, bisa nggak sih tiap sore nggak bikin ulah. Udah pada tua juga. Masih aja kayak anak kecil. " omel Armell.
" Baby, kau mengataiku tua? " protes Seno tidak terima.
" Kalau nggak tua apa namanya? Umurmu sudah 29 tahun kan? " sahut Armell.
" Kau itu sudah benar-benar mirip emak-emak yang suka ngumpul belanja sambil menggosip di depan gang perumahan kita aja. " ujar Seno.
" Apa mas bilang? Aku kayak emak-emak? Emang kenapa kalau aku emak-emak? Aku juga udah punya anak ini. Tapi tolong di catat ya, aku ini emak-emak milenial. Bukan emak-emak rempong. " sahut Armell lalu dia menepis tangan Seno yang berada di pundaknya dan berjalan menjauh dari suaminya itu.
Sehingga kini Seno berada tepat di depan Bryan. Ketika Seno masih dalam kondisi tidak konsen, Bryan mempergunakan kesempatan itu untuk memegang Seno dan memeluknya erat.
" Hei, lepaskan. " pekik Seno.
" Sebentar saja. " sahut Bryan masih memeluk Seno erat sambil mengendus-endus tubuh Seno.
" Ikhlas in aja mas. Uncle B meluk kamu karena itu keinginan ponakan kamu juga mas. Namanya juga lagi ngidam. " seru Armell sambil terkekeh melihat wajah kesal sang suami.
__ADS_1
***
bersambung