
Malam menjelang. Bryan dan Pipit sudah kembali ke hotel kembali setelah makan malam. Bryan saat ini sedang sibuk dengan ponselnya, mengatur jadwal konsultasi pasien dan juga jadwal operasi bersama asistennya saat ia kembali beberapa hari lagi.
Sedangkan Pipit, ia sedang berada di dalam kamar mandi. Menggosok gigi, membersihkan mukanya, dan berganti baju tidur. Ia kini sedang mematutkan diri di depan cermin. Ia membolak-balikkan tubuhnya.
" Terlalu seksi nggak sih? " ucapnya bermonolog sambil memperhatikan penampilannya yang sedang mengenakan lingerie yang siang tadi sempat ia beli. Lingerie berwarna peach yang hampir senada dengan warna kulitnya itu, membuat ia seperti sedang nak**.
" Duh, Pipit...kok kamu malah jadi kayak wanita malam gini sih? " ucapnya kembali.
" Eh, tapi kan di depan suami sendiri. Bukan laki-laki lain. Nggak masalah kali ya. " ia bertanya dan di jawab sendiri.
" Kira-kira Abang bule mikir kalau aku ini gadis gampangan nggak sih kalau aku pakai baju kayak gini? Terus aku yang nyerang duluan? " ucapnya kembali sambil menggaruk kepalanya.
" Nggak lah pastinya ya kan? Dia pasti malah seneng. " ucapnya kembali. Ia mengambil sisir, lalu menggerai rambutnya dan ia sisir hingga halus.
" Udah deh kayaknya. " ucapnya setelah melihat penampilannya kembali.
Pipit memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri pintu. Saat tangannya berada di atas knop pintu, ia tidak langsung membukanya. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar-debar.
" Entar kalau Abang bule beneran khilaf gimana? Terus dia benar-benar minta first night sekarang gimana? " ucapnya agak takut membayangkan malam pertama yang orang-orang bilang akan sakit itu. Meskipun ia sering menggoda suaminya, tetap saja ia takut dengan first night. Sebenarnya, ia juga belum siap. Ia memakai lingerie ini hanya untuk menggoda mengerjai suaminya saja.
" Duh Pipit...Itu resiko kamu sendiri. Kan kamu yang mancing ikan. " jawabnya sendiri.
" Nggak apa-apa lah, kalau Abang bule khilaf. Khilaf sekarang ataupun nanti juga bakalan sama sakitnya. " ujarnya kembali. " Bismillahirrahmanirrahim...." doanya. " Semoga jika nanti Abang bule khilaf dan membuat ituku sakit, aku tidak sampai menghajarnya. " lanjutnya.
Lalu ia membuka pintu kamar mandi perlahan, sebelum benar-benar keluar, ia melongokkan kepalanya, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan suaminya. Setelah melihat jika suaminya sedang sibuk dengan ponselnya di sofa, ia sedikit lega. Paling tidak, suaminya itu tidak menyadari jika ia sudah keluar dari dalam kamar mandi.
Pipit keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintu depan perlahan. Lalu berjalan sambil berjinjit dan dengan kaki yang polos, menuju ke mini bar.
Bukannya tidak mendengar dan tidak tahu jika istrinya keluar dari kamar mandi. Bryan mengetahuinya, cuma saja ia sedang mengetik pesan. Saat mendengar pintu kamar mandi di tutup dan sekelebat melihat istrinya berjalan, Bryan mendongakkan kepalanya untuk melihat sang istri.
__ADS_1
" Ya salaaammmm....." gumam Bryan terkejut dengan yang di pakai istrinya yang masih kecil dan juga nakal itu. Bryan hanya melihat penampilan sang istri dari belakang, yang artinya, ia hanya melihat penampilan punggung sang istri. Itu saja sudah membuat si Merryll ( kalau kata Pipit) agak terlonjak.
Bryan mengusap wajahnya kasar. Ia menggelengkan kepalanya untuk memfokuskan perhatiannya lagi ke ponsel. Urusannya dengan sang asisten belum selesai. Masih ada beberapa jadwal lagi yang harus di atur.
Tapi yang terlihat di layar ponselnya justru penampilan sang istri tadi. Bayangan itu menari-nari di pelupuk matanya.
' Fokus, Bryan. Fokus. Dia hanya menggodamu. Selesaikan pekerjaanmu sekarang. Ini lebih penting. Ingat, ingat dengan tujuan kamu. Kamu tidak boleh terpancing sekarang. Tunggu sampai kalian benar-benar sah. Bukankah kamu ingin merasakan dengan yang sudah benar-benar sah menjadi milikmu? ' batin Bryan menyemangati dirinya sendiri.
Sedangkan di depan meja mini bar, Pipit sesekali melirik ke arah Bryan. Ia mulai kesal karena Bryan tidak melihatnya. Ia harus cari cara supaya Bryan melihatnya.
Pipit berdiri dari duduknya, lalu berjalan mondar-mandir seolah ia sedang membereskan sesuatu. Ia terlihat cuek. Sedangkan Bryan yang sesekali mengintip aksi sok sibuk istrinya dari sofa hanya bisa mengucap istighfar dalam hatinya.
Masih belum mendapatkan reaksi dari suaminya, Pipit makin kesal. Ia berjalan menuju ke ranjang yang berhadapan dengan sofa yang di duduki oleh Bryan.
" Ponselku dimana ya? " ucap Pipit pura-pura mencari ponselnya. " Abang lihat ponsel Pipit nggak? " tanyanya pada sang suami, tapi sengaja tidak melihat suaminya.
" E hem. " Bryan berdehem menetralkan suaranya yang pastinya sudah agak berubah karena menahan sesuatu. " Ini, di atas meja sini. " jawabnya.
Dan benar dugaannya, sang suami memandang ke arahnya. Mata Bryan terlihat melotot dan duduknya menjadi tidak nyaman saat melihat dada Pipit yang terekspos bebas. Dua gunung kembar yang putih dan nampak menonjol itu terekspos dengan jelas saat Pipit membungkukan badannya untuk mengambil ponselnya. Mungkin hanya ujungnya saja yang tidak nampak dari pandangan Bryan. Karena baju tidur yang Pipit kenakan hanya bertali kecil dengan bagian dada berenda dan bermodel rendah. Mungkin jika saat itu Pipit tidak memakai br*, maka Bryan akan melihat dengan jelas dan utuh gunung kembar itu.
Bryan menelan salivanya dengan susah payah. Ia terlihat lumayan resah. Sedangkan Pipit, tersenyum tipis melihat reaksi Bryan. Sepertinya, pancingannya sukses besar. Lalu ia kembali berjalan menuju ke mini bar dengan berlenggak-lenggok. Duh, si Pipit ini niat banget membuat Bryan kalang kabut.
Bryan mencoba kembali memfokuskan diri dengan ponselnya. Tapi ini lebih sulit dari yang tadi. Pikirannya sama sekali sudah tidak mau di ajak memikirkan jadwal-jadwal yang terbengkalai karena cutinya yang lumayan panjang. Yang ada di pikirannya adalah bergumul dengan sang istri di atas ranjang, mendengarkan desa**n dari mulut mungil istrinya, dan menikmati setiap sensasi yang tercipta.
Bryan sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia meletakkan ponselnya di atas sofa, lalu berdiri dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang berdiri di depan kulkas untuk mengambil minuman.
Sampai di dekat sang istri, Bryan langsung memeluk istrinya dari belakang, lalu menelusupkan kepalanya di pundak Pipit. Ia memberikan kecupan-kecupan ringan di pundak istrinya yang terbuka. Kemudian berpindah ke leher jenjang sang istri. Mengecup, menji***, dan menggigit serta meninggalkan beberapa tanda di sana.
Satu tangannya ia gunakan untuk menutup pintu kulkas, lalu ia membalikkan tubuh Pipit dan menguncinya di depan kulkas. Ia meraup bibir tipis dan seksi milik Pipit. Mengecupnya, menciumnya, dan melu***nya. Pipitpun melakukan hal yang sama. Ia membalas setiap perlakuan suaminya. Ia bahkan membuka mulutnya sehingga Bryan bebas mengeksplor semua isi mulutnya. Lidah mereka saling berbe***.
__ADS_1
Ciuman mereka semakin memanas, dan Bryan mengangkat sedikit tubuh Pipit tanpa melepas pagu*** bibir mereka. Membawa Pipit berjalan menuju ke ranjang. Saat sampai di tepi tempat tidur, Bryan mendorong tubuh Pipit hingga jatuh telentang di atas tempat tidur. Bryan masih tidak melepas bibirnya. Tapi tangannya mencoba meraih selimut yang masih terselip di bawah kasur. Saat ia berhasil meraih selimut itu, ia agak menahan tubuhnya agak merenggang dari istrinya. Lalu ia melepas pagut*** bibir mereka dan menggulung tubuh Pipit dengan selimut. Dan membuat tubuh Pipit tertutup sempurna.
" ABAAAAANNGGGGG.........." teriak Pipit tidak terima.
Bryan bangkit dari duduknya dan sedikit tersenyum ke arah istrinya. " I am sorry, honey. Belum saatnya kita melakukan hal itu. Cukup sampai sini saja. " ucapnya.
Lalu Bryan berlalu meninggalkan Pipit yang menatapnya kesal masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang di lakukan Bryan di dalam kamar mandi. Yang pasti, cukup lama ia berada di sana.
" Abaaanggg....Lepasin selimutnya....Pipit engap....Panas ini baaaangggg...." teriak Pipit dari luar. " ABANG JAHAAAAATTTT....." lanjutnya.
Pipit berusaha melepas selimut yang menggulung tubuhnya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, tapi masih belum berhasil. Yang ada, ia malah terjatuh dari atas ranjang. Untung selimutnya tebal, jadi badannya tidak Sakit.
" Awas kamu bang. Tunggu pembalasanku. " ucap Pipit kesal. Ia diam sekarang. Tidak lagi mencoba melepas selimutnya, sampai akhirnya ia tertidur pulas di dalam gulungan selimut di atas lantai.
" Sepertinya gue nggak boleh lama-lama berada di Perancis. Gue akan mengajaknya pulang setelah ke makam ayah sama ibu. Tidak baik jika gue harus satu kamar sama bini gue kalau gue harus tersiksa setiap hari seperti ini. " ucap Bryan bermonolog di dalam kamar mandi di sela-sela kegiatannya. " Uuuhhh.... Aaahhhhhh.... Mmmmpptt...." suara-suara aneh keluar dari mulut Bryan.
***
bersambung
Guys.... kira-kira bang bule ngapain coba di kamar mandi????😄😄😄😄🤫🤫🤫....
Oh iya....dari kemarin, banyak dari para reader yang keceh badai minta triple bahkan 4 sampai 5 kali up dalam sehari...
...Othor jawab nih......
Bukannya othor nggak mau kasih up yang banyak tiap harinya...tapi waktu yang tidak memungkinkan untuk menulis banyak....bikin double tiap hari aja othor udah pontang panting nyari waktunya... soalnya, othor kerja, di tempat kerja, othor cuma bisa nulis pas waktu istirahat aja...itupun nggak bisa dapet 1000 kata...pulang dari tempat kerja, harus ngurus suami sama anak dulu...baru habis itu bisa nulis...itu aja syukur-syukur masih bisa nambahin kata yang siangnya othor tulis di tempat kerja, sama nambahin 1 episode lagi...😔😭
Jadi intinya, othor belum bisa kalau up 3/4/5 kali sehari yah...maafkan othor ya man-teman semua...
__ADS_1
Sekalian nih othor mau bilang, untuk hari ini, semisal othor cuma bisa up 1 kali, tolong di maafkan yah.... soalnya othor nggak sempat mikirin ide buat next episode nya....tapi othor tetap usahain...moga aja bisa kasih double kayak biasanya...🙏🙏🙏🙏
Salam lope-lope sekarung selalu buat kelean-kelean semua...😍😘😘