
Waktu bergulir. Sikap Damar terhadap Imel, kian hari semakin baik. Ia sudah tidak jutek dan suka marah-marah lagi. Bahkan kini, ia selalu bersikap manis kepada Imel. Usia kandungan Imel juga sudah semakin bertambah. Menurut HPL yang di sampaikan oleh dokter, tiga minggu lagi bayi mereka akan lahir.
Terakhir kali damar mengantar Imel periksa, Damar begitu antusias. Banyak hal yang ia tanyakan pada dokter. Padahal sebelumnya, ia hanya akan diam saja saat mengantar sang istri cek kandungan.
" Apa yang bisa saya lakukan supaya anak saya bisa lahir sesuai perhitungan dokter? " tanya Damar.
" Kalau itu, hanya Tuhan yang bisa menjawabnya. Saya kan hanya bisa memberikan ancang-ancang perhitungan, biar tuan dan istrinya bisa bersiap-siap. " jawab sang dokter lembut.
Damar manggut-manggut. " Lalu, apa yang bisa saya lakukan, supaya saat anak saya mau lahir, dia bisa cepat keluar? Soalnya yang pernah saya dengar, ada yang harus menunggu hingga satu hari satu malam baru bayinya keluar. Kan kasihan ibunya kalau dia tidak keluar-keluar. Bukankah akan membuat ibunya kesakitan? " tanyanya lagi.
" Kalau itu, tuan bisa membantu istri tuan untuk melakukan olahraga yang ringan-ringan. Jalan kaki di pagi hari, sering jongkok, terus sering-seringlah melakukan hubungan intim dengan istri anda. " jawab dokter.
" Uhuk...uhuk ..uhuk...." Damar tersedak oleh udara saat mendengar ucapan dokter yang terakhir kali. Damar jadi salah tingkah. Sedangkan Imel, hanya menunduk sedari tadi.
' Bagaimana bisa sering-sering berhubungan intim? Aku saja baru di sentuh satu kali. Itupun aku terus hamil gini. ' batin Imel.
' Bagaimana kami bisa sering-sering berhubungan intim? Kami saja baru sekali melakukannya. Kalau sekarang di suruh melakukannya lagi, bagaimana aku harus memulainya. ' batin Damar.
Sepasang suami istri itu malah sama-sama sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi yang mereka pikirkan adalah hal yang sama.
" Berhubungan suami istri secara intens saat dekat memasuki HPL itu sangat membantu memudahkan bayi untuk lahir. Karena jalan lahirnya akan lebih lentur saat bayi hendak lahir. " tambah dokter.
" I..iya dok. " sahut Damar gugup.
Setelah bertanya hal itu, Damar segera menyudahi sesi tanya jawabnya. Ia segera berpamitan dengan dokter dan mengajak Imel untuk segera keluar dari ruang praktek sang dokter.
Di dalam mobil, mereka hanya bisa saling diam. Damar yang sebenarnya hanya memiliki sebuah sepeda motor, dan sebelum-sebelumnya ia selalu memboncengkan istrinya saat pergi periksa, atau naik taksi, kini damar membawa mobil sendiri. Seno meminjamkan sebuah mobil perusahaan untuknya. Karena Armell yang tahu jika istri Damar sudah hamil besar dan akan melahirkan, meminta suaminya untuk meminjami mobil. Awalnya, Armell berniat meminjamkan mobilnya untuk damar, tapi Seno memberikan alternatif lain, yaitu meminjamkan salah satu mobil perusahaan untuk Damar.
Setelah pulang dari rumah sakit, Damar membawa istrinya pergi makan malam di sebuah restoran mewah. Mungkin selama ini, baru kali ini Damar mengajak makan malam bersama di luar semenjak istrinya itu tinggal di Jakarta.
Usai acara makan malam, mereka langsung kembali ke apartemen, karena hari juga sudah malam.
" Aku mandi dulu. " pamit Damar. Dan setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Imel segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Di dalam kamar mandi, damar selalu memikirkan kata-kata dokter tadi. Dan ia juga teringat akan kata-kata Rezky.
__ADS_1
" Apa aku harus mengajaknya? Tapi bagaimana aku harus memulainya? " tanya Damar bermonolog.
Sebenarnya Damar bukannya tidak ingin menyentuh istrinya. Hanya saja, ia masih malu, bingung bagaimana harus memulai, dan kadang juga masih ada rasa gengsi.
Selang beberapa saat, Damar selesai dengan aktivitas mandinya. Ia keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan celana pendek dan belum memakai atasannya, karena ia tadi buru-buru ke kamar mandi, jadi ia tidak sempat membawa kaos.
" Kamu mau ngapain bawa handuk? " tanya Damar saat melihat istrinya membawa handuk dan baju ganti dan hendak masuk ke dalam kamar mandi.
" Mau mandi. "
" Mandi? Malam-malam begini? Kamu kan lagi hamil. Nanti anakku kedinginan. "
" Tapi badanku rasanya gerah banget mas. Lengket. Kalau kayak gini, mana bisa aku tidur. " jawab Imel.
" Ck. Baiklah, tapi nggak usah pakai lama mandinya. Aku tidak mau anakku sampai kedinginan. " ujar Damar. IMEL mengangguk, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
Saat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Damar mempergunakan momen itu untuk menghubungi seseorang.
" Halo, mas. " sapa Damar.
" Mas Dion lagi main sama perempuan lagi? Katanya udah insyaf dan mau menikahi nona Leora. "
" Ck. Kamu ini sok tahu. Siapa yang bilang aku lagi main sama perempuan? Aku lagi main game cacing ini. Gara-gara kamu menelepon, cacingku jadi mati. Padahal dia sudah sangat besar. " omel Dion.
" Sejak kapan mas Dion suka game cacing? Setahuku mas Dion tidak suka bermain selain sama berkas-berkas dan perempuan. "
" Semenjak aku memutuskan untuk insyaf. Jadi aku belajar bermain game cacing. Ternyata asyik juga. Jadi keinget sama cacingku jika sudah melihat umpannya. Dia langsung bisa membesar. Ha...ha...ha .." ujar Dion.
" Mas Dion ini ada-ada saja. "
" Eh, ngomong-ngomong, kamu kenapa malam-malam begini menelepon? Bosmu nyuruh kamu ngapain? " tanya Dion.
" Ini...Ini bukan tugas dari bos mas. " jawab Damar sambil menggaruk tengkuknya. " Tapi tugas dari dokter. " lanjutnya canggung.
" Dokter? Dokter Bryan maksud kamu? "
__ADS_1
" Bukan. Tapi dokter kandungan istriku. "
" Tugas apa memangnya? "
" Dokter itu bilang, aku harus sering-sering menggauli istriku, biar anakku gampang lahirnya. "
" Terus apa hubungannya tugas kamu sama aku? Bukankah itu tugas yang gampang? Enak dan nikmat lagi. Kenapa suaramu malah galau seperti itu. " tanya Dion.
" Buatku, itu tugas yang sangat susah. Lebih baik aku di suruh menghabisi preman 10 orang daripada harus menjalankan tugas dari dokter itu. "
" Ha...ha...ha...Kamu ini aneh, Mar...Mar...Semua suami, kalau di kasih tugas seperti itu langsung gercep, nggak pakai lama. Kamu malah galau. Emang kenapa hal itu susah buat kamu? "
" Karena aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. "
" Caranya tinggal di masukin aja tuh cacing kamu. Gampang kan? "
" Ck. Bukan itu maksudku mas. Aku tidak tahu bagaimana memulai merayu istriku. Bagaimana caranya aku ngajakin dia buat begituan. "
" Ha...ha...ha...Damar....Damar...Kamu ini lucu sekali. Kamu menikah sudah lama. Istrimu bahkan sudah hamil. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu caranya merayu istrimu? " ejek Dion.
" Mas, saya baru sekali melakukannya dan dia langsung hamil dulu. Itupun karena ulah ibuku yang kasih aku jamu laknat. Hingga tanpa kesadaran penuh, aku menggauli istriku. "
" Ha ..ha...ha..." Dion tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos dari Damar. Seorang laki-laki yang tidak takut menghadapi apapun, ternyata takut untuk menggauli istrinya.
" Mas, kok malah ketawa sih. Aku telepon karena aku butuh solusi yang solutif. Bukan malah di ketawain. " protes Damar.
***
bersambung
Maaf ya guys ... kemarin cuma bisa update satu episode... kemarin agak nggak enak body soalnya...
Dan sesuai permintaan dari kelean kemarin-kemarin, othor sisipin nih cerita Damar sama istrinya. Mungkin besok-besok, othor juga selipin cerita Dion dan Leora... Othor tidak akan buat lapak sendiri untuk mereka...
Setelah cerita Bryan dan Pipit usai, othor insyaallah mau buat cerita tentang anak-anak mereka...
__ADS_1
So, jangan lupa, tetep simak terus sampai end ya....😍😍🥰😘😘