
" Fitria, ayo kita coba sekali lagi, ya. " pinta dokter Ratna sambil tersenyum manis. Pipit mengangguk.
" Ambil nafas dalam-dalam..." dokter Ratna mulai memberi instruksi. " Mengejan yang kuat sekarang. " lanjutnya.
" Mmmmmppppttt......" Pipit kembali mengejan sekuat tenaga.
" Bagus...Ayo terus .. Sedikit lagi Fit..." ucap dokter Ratna memberi semangat.
" Ayo honey...Kamu pasti bisa. Bayangkan, setelah ini kamu melihat baby kita. " Bryan juga memberikan semangatnya.
" Mmmmmppppttt...." Pipit mengejan dan mengejan.
" Oek....oek...oek...." suara tangis terdengar begitu nyaring.
" Sayang, dia sudah lahir. " ucap Bryan sambil tersenyum bahagia tapi juga menitikkan air matanya. Ia mengecup kening Pipit lama. Pipit tersenyum tipis karena tubuhnya terasa sangat lemas.
" Selamat, kalian mendapatkan baby girl. Dan dia so beautiful. " " ucap dokter Ratna. Ia lalu membawa bayi merah itu ke dekat Pipit, ia tempelkan pipinya ke pipi Pipit, lalu menaruhnya sebentar di atas dada Pipit.
Pipit menatap putri kecilnya dengan begitu bahagia. Begitu juga dengan Bryan. Pandangannya juga tak lekang dari bayi mungil itu.
" Aku akan mengambilnya lebih dulu untuk di bersihkan. Lalu aku akan mengurus dirimu. " ujar dokter Ratna, lalu mengambil kembali si kecil.
" Kulitnya begitu putih dan bersih bang. Rambutnya juga coklat bahkan hampir keemasan. Hidungnya juga mancung. Sepertinya dia membawa genmu. " ujar Pipit sambil tersenyum.
" Tapi bentuk wajahnya sedikit oval, mulutnya juga mirip denganmu honey. " sahut Bryan sambil kembali mengecup seluruh wajah istrinya. " Thank you so much, honey. Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai harganya untukku. Terima kasih banyak karena sudah melahirkan putri kita. " ucap Bryan. Ia memeluk tubuh sang istri.
" Bry, kau adzani dulu putri kamu. Bisa adzan kan? " goda dokter Ratna.
" Ck. Jangan mengejekku. Aku ini memang seorang mualaf. Tapi setelah aku menjadi muslim, aku juga mempelajari ajarannya. " sahut Bryan tak terima sambil berjalan menuju tempat putrinya di letakkan setelah di bersihkan.
Saat sampai di dekat sang baby, Bryan segera mengumandangkan adzan di telinga kanan si baby Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira bagi Bryan. Ia masih tak menyangka jika dirinya telah memiliki seorang anak sekarang. Seorang anak perempuan mungil yang sangat cantik. Perpaduan antara dirinya dan sang istri.
Setelah mengadzani, ia lalu mengecup kening dan pipi si baby perlahan dan lembut.
" Keluarlah beritahu keluargamu. Biar istrimu aku urus dulu sama suster Ayu. " ucap dokter Ratna.
" Baiklah. Setelah ini, dia langsung di bawa ke ruang perawatan kan? " tanya Bryan. Dan dokter Ratna mengangguk.
" Honey, aku keluar dulu untuk memberitahu mama dan yang lain. " pamit Bryan.
Pipit mengangguk, lalu Bryan meninggalkannya setelah mengecup keningnya sebentar.
Ceklek
Suara pintu terbuka dari dalam. Semua yang sedang menunggu, segera beranjak berdiri.
" Bagaimana dok? " Armell yang membuka suara terlebih dahulu.
" Alhamdulillah. Sudah lahir. Aku menjadi seorang Daddy sekarang. Dia perempuan yang sangat cantik. " jawab Bryan.
" Dia seorang princess? " kali ini mama Ruth yang bersuara.
" Iya, ma. Dia baby girl. " jawab Bryan.
__ADS_1
" Selamat, sayang. " ucap mama Ruth lalu memeluk tubuh jangkung Bryan.
" Makasih ma. " sahut Bryan.
" Selamat, uncle. " ucap Armell saat Bryan melepas pelukannya ke sang mama.
" Thank you. "
" Selamat nak. " ucap tuan Adiguna sambil memeluk Bryan.
" Makasih pa. " ucap Bryan.
" Hei, bro. Congratulation. " kali ini Seno yang bersuara. Ia lalu menarik tubuh sahabat sekaligus adik iparnya itu ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk perlahan punggung Bryan.
" Thank you. " sahut Bryan.
" Selamat menjadi seorang ayah. Jadilah ayah yang baik untuk putrimu. " ucap Seno. Mereka berdua sama-sama berkaca-kaca. Seno merasa terharu melihat sahabatnya akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Ia juga tidak menyangka jika Bryan mempunyai seorang baby.
" Bagaimana keadaan istrimu? " tanya mama Ruth ketika melihat pelukan dua sahabat yang sudah seperti saudara kandung itu melepas pelukan mereka.
" Alhamdulillah ma. Pipit baik-baik saja. Sebentar lagi, dia akan di bawa ke kamar perawatan. Tapi kalau baby kami, sepertinya kita bisa melihatnya besok pagi. " sahut Bryan.
🧚
🧚
" Duhhh, cantiknya anak kamu sayang. " puji nyonya Ruth ketika melihat princess nya Bryan dan Pipit. Dan bayi itu kini berada dalam gendongan nyonya Ruth.
Semalam setelah Pipit melahirkan dan masuk ruang perawatan, semua berpamitan. Karena mereka belum beristirahat. Hanya meninggalkan Bryan di sana. Dan siang ini, semua kembali datang ke rumah sakit untuk melihat princess mereka.
Bryan yang berada di samping sang istri tersenyum. Begitu juga dengan Pipit. " Anak siapa dulu dong ma. " jawab Bryan penuh kebanggaan.
" Gemma....Dan mo iyat icess. " celoteh Danique sambil menarik-narik lengan granma nya. Danique sekarang sudah berusia 22 bulan. Berarti sudah hampir dua tahun. Si kecil yang juga sangat tampan itu sudah bisa berbicara. Meskipun masih cadel.
" Danique mau lihat dedek, iya? " tanya nyonya Ruth. Danique menganggukkan kepalanya lucu.
" Oke. Granma duduk dulu di sebelah granpa, oke. Danique juga duduk di sini. " ujar Nyonya Ruth.
Si kecil Danique segera turun dari gendongan sang Daddy. Ia langsung duduk di atas pangkuan granpa nya.
" Nah, Danique lihat nih dedeknya. Cantik nggak? " tanya nyonya Ruth.
" Butiii...." jawab Danique dengan bahasanya.
" Mmm, beauty ya? " tanya Nyonya Ruth. Danique mengangguk. Ia mengangkat tangannya, ingin sekali memegang pipi princess kecil itu.
Melihatnya, tuan Adiguna segera memegang tangan Danique, lalu ia arahkan untuk mengelus pipi baby yang baru lahir itu. " Pelan-pelan pegangnya, jagoan. " ucap tuan Adiguna.
Danique mengangguk antusias. Ia mengikuti saran sang granpa, mengelus pipi princess dengan lembut. Dan bayi itupun menggeliat ringan. Melihat princess menggeliat karena elusannya, Danique terkekeh.
" Danique mau nggak dedek bayi yang kayak dedek bayi ini? Yang keluar dari perut mommy? " kali ini Seno yang bertanya.
" Eyut mom, ada baby na? "
__ADS_1
" Iya. " jawab Seno dan segera mendapatkan sebuah cubitan dari sang istri.
" Nunggu Danique dua tahun dulu. " bisik Armell. Sedangkan Seno menanggapinya dengan seulas senyum smirknya.
" Oh iya...Kalian kasih nama siapa anak kalian yang cantik ini ? " tanya Nyonya Ruth.
" Pipit ingin nama depannya Paris. Salah satu kota terkenal di Perancis. " jawab Bryan.
" Pipit juga mau nama belakang Daddy-nya juga tersemat di sana. " tambah pipit. " Paris.... Ernest...Tapi kami belum memilih untuk nama tengahnya. " lanjut Pipit. " Mmmm....Apa mama punya ide? "
" Mama? Kalian ingin mama juga menyumbangkan nama untuknya? " tanya Nyonya Ruth antusias. Bryan dan pipit mengangguk sambil tersenyum bersamaan.
" Mmmmm.... bagaimana dengan Adorabella? Kita taruh di tengah. Adorabella yang artinya kecantikan yang di kagumi. Bukan hanya kecantikan wajahnya, tapi juga kecantikan hatinya. " ujar Nyonya Ruth sambil memandang dan membelai pipi bayi itu.
" Bagus ma. Jadi namanya Paris Adorabella Ernest. " sahut Pipit menggebu-gebu. " Abang suka? " tanyanya ke Bryan.
" Suka. Banget, honey. " jawab Bryan lalu ia mengecup kening Pipit. " Kita panggil dia Paris. " tambahnya. Pipit mengangguk mengiyakan.
" Setelah dia pulang, kalian harus mengadakan syukuran kelahirannya. "
" Pasti ma. Sekalian kita aqiqah. Sembelih kambing satu ekor. Yang gede ya bang, kambingnya? Biar bisa di bagi-bagi buat orang banyak. " pinta Bryan.
" Iya. Nanti seperti rencana kita dulu, kita undang anak yatim-piatu ke rumah untuk ikut tasyakuran. " sahut Bryan.
Pipit memeluk pinggang suaminya erat. Ia begitu bahagia. Bahagia menjadi istri seorang Bryan Merryll Ernest. Bahagia menjadi seorang ibu baby Paris Adorabella Ernest.
" ASI nya sudah keluar belum dek? " tanya Armell.
" Belum mbak. Keluar sih, tapi baru dikit banget. " jawab Pipit.
" Tapi tetap harus di kasih ke dedek. Biar dia terbiasa. Biar nanti juga ASI nya lancar. "
" Iya mbak. "
Lalu tiba-tiba, Armell merasa pandangan menggelap dan tubuhnya oleng. Untung saja Seno sang suami berada di dekatnya. Jadi belum sempat tubuhnya menyentuh lantai, tangan Seno sudah mendekapnya erat.
" Baby....Kamu kenapa? " tanya Seno panik. Ia mencoba membangunkan istrinya yang jatuh pingsan.
" Rebahkan tubuhnya di sini, El. " tuan Adiguna menyuruh Seno menidurkan tubuh Armell di sofa. Beliau sudah berdiri sambil menggendong Danique.
Segera Seno membopong istrinya dan membawanya ke sofa, dan menidurkannya di sana.
" Kenapa dia? " tanyanya kembali.
" Menyingkirlah dulu sebentar. Aku lihat dulu kakak ipar. " ucap Bryan yang sudah berada di belakang Seno.
" Cepat kau periksa dia. " ucap Seno setelah ia berdiri agak ke samping.
Bryan mengecek denyut nadi Armell dari pergelangan tangannya dan mengecek kesadaran Armell dari kedua kornea matanya.
" Kenapa dia? "
***
__ADS_1
bersambung