Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ketahuan


__ADS_3

Hari terus berganti. Sudah hampir 2 bulan Pipit tinggal di rumah besar keluarga Adiguna. Hampir setiap hari jika tidak ada jam kuliah, Nyonya Adiguna mengajaknya keluar. Hanya untuk jalan-jalan, atau hanya untuk ke salon sekedar memanjangkan diri.


Mereka sering ngobrol, bercerita, berbicara. Tapi lebih banyak Pipit yang bercerita. Pipit menganggap nyonya Ruth seperti ibunya sendiri. Nyonya Ruth juga sering memberikan masukan, juga saran-saran. Bahkan mereka juga membicarakan masalah pribadi Pipit juga.


Flash back on


" Sayang, bagaimana sekarang perasaanmu ke Bryan? " tanya nyonya Ruth. Pipit mendesah pelan.


" Pipit masih bingung ma. "


" Kok bingung? Apa belum ada cinta di hatimu untuknya? Apa kamu tidak ingin benar-benar membangun rumah tangga yang sesungguhnya dengannya? "


Pipit menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat mukanya. " Sebenarnya Pipit sudah mencintai bang bule ma. Tapi Pipit masih ragu dengan abang. Apa abang benar-benar menginginkan pernikahan ini apa tidak. Apa abang benar-benar berubah apa tidak. Pipit takut jika Pipit akan sakit hati apabila Abang masih seperti dulu. "


" Kalau yang mama lihat, dia sudah berubah. Dia sudah tidak bermain perempuan semenjak menikahimu. Kau lihat kan, hampir tiap hari dia datang kesini, menemanimu. Jika tidak dia hanya akan menghabiskan waktunya bersama alat-alat bedah dan pasien-pasiennya yang semakin hari semakin banyak. Dia mana punya waktu bermain dengan perempuan. " sahut nyonya Ruth sambil menggenggam tangan Pipit.


" Semoga saja ya ma. " Jawab Pipit penuh harap.


" Sebaiknya, kalian bicaralah berdua. Dari hati ke hati. Ungkapkan apa yang kalian rasakan. Tanyakan sama Bryan tentang sikapnya yang sekarang. " saran nyonya Ruth. Pipit mengangguk.


Flash back off


Hari ini, Pipit ada jadwal ke rumah sakit untuk observasi tugas dari sang dosen. Karena suaminya adalah seorang dokter terkenal di rumah sakit R, maka Pipit tidak perlu bersusah payah mendapatkan ijin observasi. Karena semua sudah di atur oleh Bryan.


Hari ini, Pipit tinggal datang ke sana, dan menemui dr. Nana. Dokter dari IGD. Tapi sayangnya, Bryan tidak bisa mendampingi Pipit, karena ia ada meeting dengan para pembesar rumah sakit, termasuk tuan Adiguna juga.


Pipit berjalan menyusuri lorong rumah sakit setelah bertemu dengan dr Nana di ruangannya. Tiba-tiba, ia kebelet ingin ke kamar mandi. Segera saja ia berjalan menuju toilet yang ada di lantai dasar rumah sakit itu.


Saat ia selesai menyelesaikan hajatnya, ia melihat seorang wanita yang tengah hamil seperti agak kesakitan dan memegangi perutnya.


" Kak, kakak baik-baik saja ? " tanya Pipit sambil memegang kedua lengan perempuan itu.


Perempuan itu tersenyum tipis, tapi Pipit tetap bisa melihat kalau perempuan itu sedang menahan sakit.


" Kakak mau ke kamar mandi? " tanya Pipit kembali.


" Tadi sudah. "


" Ya sudah, kalau begitu, mari saya antar ke tempat yang kakak tuju. "

__ADS_1


Perempuan itu mengangguk, lalu Pipit menuntun perempuan itu. Saat setengah perjalanan, tiba-tiba perempuan itu memegangi perutnya kembali.


" Kakak, perutnya sakit lagi? "


Perempuan itu hanya mengangguk.


" Mmm...Kita duduk dulu di bangku itu kak. Nanti kalau sakitnya sudah mereda, kita jalan lagi. " ujar Pipit, dan perempuan itu mengangguk.


Pipit lalu membawa perempuan itu ke bangku yang ia tunjuk tadi. Lalu membantu perempuan itu untuk duduk. Setelah perempuan itu duduk, Pipit mengelus punggung sampai pinggangnya. Berusaha mengurangi rasa sakitnya.


" Apa kakak sering mengalami ini? " tanya Pipit.


Perempuan itu mengangguk. " Dari semenjak usia kandungan saya dua bulan. "


Pipit mengangguk, ia mengamati perempuan itu. Perempuan itu nampak kurus, tidak seperti perempuan hamil kebanyakan. Dan raut wajahnya menyiratkan sebuah luka.


" Ini tadi kakak akan periksa kandungan? "


" Iya. "


" Apa kakak sudah mengatakan ke dokter kalau kakak sering mengalami sakit seperti ini? "


" Lalu apa kata dokter? " tanya Pipit dengan jiwa keponya yang tingkat dewa.


Perempuan itu tersenyum. Rasa sakit yang ia rasakan tadi sudah berkurang.


" Terima kasih. Rasa sakitnya sudah lumayan hilang. " ucap perempuan itu sambil membenarkan posisi duduknya. Ia kini menyerong, menghadap ke.pipit.


" Syukurlah kalau begitu. Besok-besok kalau terasa sakit lagi, seperti kram misalnya, kakak minta suami kakak untuk mengelus perut juga pinggang kakak. Insyaallah, rasa sakitnya akan mereda. Karena bayi, meskipun ia masih di dalam kandungan, ia juga ingin merasakan kasih sayang. " ujar Pipit.


Mendengar ucapan Pipit, wajah perempuan itu menyendu.


" Kamu tahu...Saya memang mempunyai suami. Tapi itu hanya tertulis saja. Dia tidak pernah menganggapku sebagai istrinya. Bahkan ia mungkin tidak pernah menganggap anak ini ada. " ungkap perempuan itu sambil mengelus perutnya.


" Kok begitu kak? " tanya Pipit karena kembali jiwa keponya meronta.


" Dia menikahiku karena terpaksa. Perjodohan. Ia bilang, ia sudah mempunyai gadis lain yang ia cintai. " jelas perempuan itu.


" Kakak yang sabar ya. Saya yakin, dia akan membuka matanya suatu saat. Ia pasti akan melihat betapa berharganya kakak. Kakak harus ingat, dia..." Pipit mengelus perut buncit perempuan itu. " Dia sangat butuh kakak. Jangan sampai kakak tidak memikirkannya. Karena saat ini, sampai dia berhenti menyusu besok, kakaklah sumber makanannya. Kakak harus makan yang banyak. Jadi dia juga mendapatkan nutrisi. "

__ADS_1


Perempuan itu mengangguk lalu tersenyum.


" Ngomong-ngomong, kakak kesini sama siapa? "


" Sama suami. Yah, meskipun hanya saat periksa ke dokter dia mau mengantarku, tapi setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. "


" Syukurlah kalau begitu. Sekarang, saya antar kakak ke tempat antrian dokter obygyn ya. Nanti kalau nama kakak di panggil, malah orangnya nggak ada. " ujar Pipit sambil tersenyum.


" Namaku Imelda. Panggil aja Imel. Nama kamu siapa? " tanya perempuan itu saat mereka sudah kembali berjalan.


" Nama saya Fitria kak Imel. " jawab Pipit.


" Nah, sudah sampai. Kakak duduk saja. Ngomong-ngomong, dimana suami kak Imel? " tanya Pipit sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak mendapati seorang laki-laki yang duduk sendirian. Mereka semua berpasangan.


Imel ikut melihat ke kanan dan ke kiri. " Mungkin sedang ke kamar mandi. "


" Baiklah kalau begitu, Fitria tinggal dulu nggak pa-pa kan kak? "


" Iya, nggak pa-pa. Hati-hati di jalan. Semoga kita bisa bertemu lagi. "


" Iya kak. " lalu Pipit melambaikan tangannya berpamitan.


Pipit kembali berjalan menuju keluar gedung. Baru saja ia melangkah beberapa langkah, ia seperti melihat Damar. Ia menghentikan langkahnya, ia hendak menyapa. Tapi saat kedua netranya melihat kemana arah Damar berjalan, Pipit berpikir.


" Bang Damar kok dia menuju antrian dokter kandungan ya? Siapa yang hamil? " gumam Pipit. Karena ia penasaran, ia membalikkan badannya sedikit melangkah. Di tempat antrian, ia melihat Damar mendudukkan dirinya di sebelah perempuan yang Pipit tolong tadi. Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Pipit.


' Siapa perempuan itu sebenarnya? '


' Apa hubungan bang Damar sama perempuan itu? '


' Kenapa bang Damar duduk di sebelah kak Imel? '


Hati Pipit tiba-tiba mencelos saat ia memikirkan jawaban dari semua pertanyaannya.


' Apa....Apa perempuan itu is-istri bang Damar? '


Meskipun ia saat ini sudah membuka hatinya untuk Bryan, dan Bryan pun sudah masuk ke dalamnya, tapi membayangkan jika Damar telah menikah dan bahkan istrinya sedang hamil, membuat hati Pipit terasa agak perih. Ia merasa di bohongi. Jika perempuan itu hamil sekitar 5 bulan, berarti Damar menikah sudah lumayan lama.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2