
" Halo, assalamualaikum...."
" ..... "
" APPA??? " Pipit nampak terkejut dengan omongan orang yang menelponnya. Ponsel itu langsung terlepas dari tangannya. Untung saja ia sedang duduk di bangku di dekat suaminya. Ponsel itu jatuh di atas pangkuannya.
Kakinya dan seluruh tubuhnya tiba-tiba melemas. Ia terdiam.
" Honey, what happen? " tanya Bryan seraya memegang kedua pundak Pipit.
" Ibu......" ucap Pipit seolah tidak mampu mengatakan apa yang ia dengar. " Ib...ibu ..."
" Ada apa dengan ibu, Pit? " tanya Armell. Iapun berjalan mendekat ke Pipit.
Setetes air mata lolos dari sudut mata Pipit. Sudah tidak sabar dengan apa yang terjadi, Bryan mengambil ponsel Pipit dan melihat panggilan terakhir yang masuk.
" Tante Ira..." gumamnya setelah melihat siapa yang menelepon.
" Honey, kenapa tante-tante yang punya penginapan itu meneleponmu? " tanya Bryan.
" Ibu ...Ibu ..."
" Iya, ibu kenapa? " tanya Pipit sedikit meninggikan suaranya.
" Ibu, mbak...." Pipit meraih tubuh Armell untuk di peluknya dan menangis tersedu-sedu.
" Ada apa dengan ibu? " tanya Armell sambil menjauhkan tubuh pipit yang sedang memeluknya.
" Ibu sakit mbak. Tante Ira bilang, ibu sempat tidak sadarkan diri tadi sore di depan rumah. Dan sekarang, sekarang ibu berada di rumah sakit. Dan Tante Ira bilang, sampai sekarang ibu belum sadarkan diri. Hu...hu...hu..." ujar Pipit lalu tangisnya pecah. Bryan langsung merengkuh tubuh istrinya.
" APPA? Ibu ...ibu ..." ujar Armell sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Seno langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri istrinya yang hampir saja terjatuh karena tiba-tiba tubuhnya limbung.
" Mas....Hu...hu....ibu mas...ibu ..." tangis Armell juga pecah dalam pelukan Seno.
__ADS_1
Nyonya Ruth segera menghampiri kedua putrinya dan memeluknya bersamaan.
" Kita berangkat ke kampung ibu kalian malam ini juga. " titahnya. Pipit dan Armell mengangguk bersamaan. Diikuti oleh Bryan, Seno, juga tuan Adiguna.
Bahkan tuan Adiguna langsung menelepon seseorang. Menelepon Dion tentu saja dan mengajaknya pergi ke kampung Pipit.
" El, sebaiknya kamu hubungi damar. Biar dia yang mengantar kalian. Papa sama mama akan di antar oleh Dion. " ujar tuan Adiguna.
Seno mengangguk lalu segera menghubungi Damar.
" Sebaiknya kita siap-siap sekarang. Oh iya El, kamu hubungi Siti juga. Biar dia ikut. Kamu kasih tahu Damar juga biar dia ajak Siti. " ucap nyonya Ruth dan Seno mengangguk.
Pipit dengan di rangkul oleh Bryan, berjalan masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar untuk mempacking pakaian. Sampai di kamar, Bryan segera menghubungi asistennya dan memintanya untuk mengajukan cuti untuknya.
Selesai berkemas Bryan dan Pipit keluar dari kamar dan berkumpul dengan yang lain. Terlihat di sana, Seno dan Armell, tuan Adiguna dan nyonya Ruth, serta Dion juga Damar berada di ruang tengah. Mereka semua sudah bersiap. Lilik sudah mempacking pakaian untuk Seno, Armell, juga baby Dan.
" Sudah siap semua? " tanya tuan Adiguna. Di jawab anggukan semuanya. " Bryan sama Pipit kalian ikut papa sama mama saja. Tidak usah bawa mobil sendiri. Seno, Armell, Danique juga Siti biar satu mobil. Kembali semuanya mengangguk.
Lalu semua keluar dari rumah dan segera melakukan perjalanan ke kampung halaman Pipit dengan suasana hati yang tidak nyaman semua.
Pukul setengah tiga pagi, sampailah dua mobil itu di rumah sakit X sesuai informasi yang di berikan oleh Tante Ira. Setelah mobil terparkir, semua segera turun dari dalam mobil. Seno menggandeng Armell, dan Bryan menggandeng Pipit. Mereka masuk ke dalam rumah sakit dengan terburu-buru.
" Selamat malam, suster. Pasien atas nama Ibu Ani dari desa XX ada di ruangan mana? " tanya Bryan.
Suster yang di tanya tidak segera menjawab, tapi malah bengong menatap wajah bule Bryan dengan pandangan terkesima.
" Suster, kami bertanya. " tambah Seno karena sang suster tidak segera menjawab.
Suster itu menoleh ke sebelah. Ia semakin terbengong. Sekali lagi, ia di suguhi pemandangan yang indah. Di pagi buta begini, ia melihat wajah-wajah tampan sedang ada di hadapannya.
" Suster...." teriak Pipit. " Bisa segera di jawab nggak sih pertanyaannya. Saya tahu, suami juga kakak ipar saya ini gantengnya maksimal. Tapi kalau mereka bertanya tetap harus di jawab. " seru Pipit membuat suster itu sedikit terkejut dan menjadi salah tingkah.
" Oh ..Ah ..i-iya...maaf, tadi tanya atas nama siapa ya? " sahut suster itu dengan gugup karena ketahuan menatap suami orang.
" Ruang rawat ibu Ani dari desa XX. "
__ADS_1
" Oh, sebentar ya kak. " suster itu lalu mencari data Bu Ani dari komputernya. " Ibu Ani dari desa XX, sekarang berada di ICU. " jawabnya.
Pipit dan Armell kembali melemas saat tahu ibunya di rawat di ICU. Sebenarnya apa yang di derita sang ibu hingga harus berada di ICU. Bryan segera memeluk tubuh Pipit, dan Seno memeluk tubuh Armell.
" Maaf, sus. ICU di sebelah mana? " tanya Bryan.
" Anda lewat jalan ini, lalu nanti di persimpangan belok kanan. ICU ada di sana. " jelas suster.
" Baik, terimakasih banyak suster. " ucap Bryan lalu mereka semua segera pergi dan mencari letak ICU.
Setelah melewati jalan yang di tunjukkan oleh suster tadi, mereka menemukan ruang ICU. Bryan menghampiri satpam yang berjaga khusu di ruang ICU. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan satpam, Bryan dan keluarga di perbolehkan untuk masuk, tapi harus bergantian.
Akhirnya mereka memutuskan, Pipit dan Bryan untuk masuk terlebih dahulu karena mereka ingin Bryan yang seorang dokter spesialis, melihat kondisi ibu Ani. Mungkin dia juga bisa bertanya dan berkonsultasi dengan dokter.
Bryan dan Pipit masuk ke dalam ruang ICU. Betapa terkejutnya Pipit melihat kondisi sang ibu. Ibunya terlihat sangat kurus, rambut botak karena sepertinya rambut sang ibu rontok. Berbagai alat terpasang di tubuh sang ibu.
Bryan menggandeng Pipit untuk berjalan mendekati ranjang sang ibu.
" Ibuuuu......" panggil Pipit. " Pipit pulang Bu. Sama mbak Mell juga. Ibu bangun ya Bu .." ucapnya sambil menggenggam tangan sang ibu dan air mata yang tidak bisa ia tahan.
Sedangkan Bryan nampak melihat monitor dari alat-alat yang terpasang di tubuh mertuanya itu. Lalu mengambil pergelangan tangan Bu Ani, memeriksa denyut nadinya. Bryan bernafas berat kala melihat kondisi mertuanya. Sepertinya, kondisi Bu Ani memang tidak baik.
" Ibu...Pipit pulang Bu..." ucap Pipit sambil mengecup telapak tangan juga punggung tangan Bu Ani bergantian. " Ibu kenapa bisa jadi kayak gini? Ibu sakit apa Bu? Kenapa tidak bilang sama Pipit Bu...Hu...hu...hu...." ucap Pipit.
Bryan mengitari ranjang dan kembali menghampiri istrinya. Merengkuh tubuh yang nampak lemas itu ke dalam pelukannya. " Jangan seperti ini. Kalau ibu tahu, ibu pasti akan sangat sedih. Jangan menangis, oke. " ujar Bryan. Dan Pipit mengikuti apa yang Bryan katakan. Ia menyeka air matanya yang mengalir di pipi.
Setelah sepuluh menit berada di dalam ruangan, Bryan mengajak Pipit keluar.
" Kita keluar sekarang yuk. Biar kakak kamu bisa segera masuk dan melihat kondisi ibu juga. " ujar Bryan. Pipit mengangguk.
" Bu, Pipit keluar dulu ya Bu. Biar mbak Mell bisa masuk. Ibu segera sadar ya. Pipit akan nunggu sampai ibu sadar dan sehat kembali. Tapi ibu harus cepat sadar ya. Pipit dan Abang bule sudah mengurus surat-surat pernikahan kami di KUA. Sebentar lagi, kami akan resmi secara hukum negara dan agama. Ibu harus melihat kebahagiaan kami. " ucap Pipit lalu ia mengecup kening sang ibu dalam-dalam. Lalu ia keluar dengan di gandeng oleh Bryan.
Setelah Bryan dan Pipit keluar, giliran Armell dan Seno masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi ibunya. Sama seperti Pipit, Armell juga syok melihat kondisi ibunya.
***
__ADS_1
bersambung