Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Masak Abang buleku mati??


__ADS_3

" Honey, kamu kenapa sih kok masih diemin aku mulu? Nggak enak tahu di diemin sama kamu kayak gini. " ujar Bryan dengan nada memelas sambil mengelus lengan Pipit.


" Pipit ngantuk. Jangan ganggu. " seru Pipit lalu menaikkan selimut hingga terlihat tinggal kepalanya.


Bryan mendesah perlahan. Ia lalu turun dari atas ranjang dan memutuskan untuk mandi. Hari memang sudah sore saat pasangan suami istri itu sampai di rumah mereka.


Bryan mengisi bathub dan berendam dengan air hangat. Tubuhnya lumayan capek setelah berkelahi dengan para berandal tadi. Sudah lumayan lama ia tidak pernah berlatih bela diri.


Ada hal yang membuat Bryan kembali di buat tertegun dengan istri kecilnya. Pipit terlihat begitu lihai saat berkelahi. Bahkan Pipit mengalahkan musuhnya lebih banyak dari dirinya. Ia saja merasakan tulangnya seperti remuk redam. Tapi sang istri terlihat sangat santai.


Sambil berendam, Bryan memejamkan matanya. Hingga tanpa ia sadari, ia berada di dalam kamar mandi sudah satu jam lebih.


Pipit terbangun karena ia merasa ingin buang air kecil. Di tambah lagi, tubuhnya juga terasa lengket. Ia tadi tertidur dengan masih memakai kebaya. Pipit menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


Dengan agak terburu-buru, Pipit turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa memperhatikan sekitar, Pipit segera melepas baju bawahnya dan membuka tutup closet. Ia segera menunaikan panggilan alam yaitu buang air kecil.


Setelah selesai, ia menyiram closet dan segera membuka seluruh pakaiannya. Menghidupkan shower, dan berdiri di bawah shower. Menyiram seluruh tubuhnya dengan air hangat.


" Astaghfirullah..." pekik Pipit saat ia membalikkan badannya dan melihat suaminya yang tengah memejamkan matanya di dalam bathtub.


" Bang bule lagi ngapain? " gumam Pipit. " Tidur kali ya? Pipit bangunin deh... kasihan pasti kedinginan. " lanjutnya lalu ia menghampiri Bryan . Tapi ia segera berhenti. " Eh, aku kan masih telanj*** gini. Entar bikin Abang bule naf** lagi. Selesain dulu aja mandinya ah. " Pipit kembali ke bawah shower untuk melanjutkan acara mandinya.


Setelah selesai mandi, Pipit mengambil bathroop dan memakainya. Baru Setelahnya, ia menghampiri Bryan.


" Bang....Bangun bang...." panggil Pipit sambil mengelus pipi Bryan. Bryan masih belum bergeming.


" Abang bule...Bangun bang..." panggil Pipit kembali. Bryan masih tetap tak bergeming. Setelah beberapa kali mencoba membangunkan, Bryan masih tetap sama, tidak membuka matanya.


Pikiran buruk mulai muncul di otak cerdas Pipit. " Abang...." panggil Pipit dengan air mata yang mulai menetes. " Abang jadi bercanda sama Pipit dong...." seru Pipit.


Pipit kembali menggoyangkan tubuh Bryan untuk membangunnya. " Abaaang....bangun dong bang....hiks...."


Tangisan Pipit mulai menjadi keras. " Abaaang....Bangun bang...Jangan tinggalin Pipit dong bang...Hu....hu...hu...Masak iya abang buleku mati sih..." ujar Pipit.


" Abang...Masak Abang tega jadiin Pipit janda muda? Baaang....banguuunn....Kalau abang bangun, Pipit janji nggak bakalan marah sama abang lagi. Maafin Pipit bang...Kalau tadi pipit kesel sama abang... Pipit juga nggak tahu kenapa Pipit kesel sama abang. " cerocos Pipit.

__ADS_1


" Hua ........Abaaaaaangggg....." tangis Pipit semakin menjadi-jadi.


" Honey...." Panggil Bryan dengan suara serak. " Kamu kenapa menangis? " tanyanya sambil membenarkan posisi menjadi duduk. Ia membasuh mukanya dengan air yang ada di dalam bathtub.


" Ya Allah abaaang..... Alhamdulillah....." ucap Pipit sambil menyandarkan tubuhnya di pinggir bathtub karena tiba-tiba tubuhnya melemas. Tangisannya juga masih. Entah kenapa dia menjadi cengeng begini.


Melihat istrinya yang masih menangis tersedu-sedu, Bryan segera keluar dari dalam bathtub, mengambil handuk, mengeringkan tubuhnya ala kadarnya, lalu membelitkan handuk itu di pinggangnya.


Bryan berjongkok di depan Pipit, menangkup kedua pipi istrinya.


" Honey, kamu kenapa? Apa yang membuatmu menangis seperti ini? " tanya Bryan panik sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipi istrinya, dan memindahkan beberapa helai rambut basah yang menutupi wajah.


" Honey...." panggil Bryan kembali.


Lalu tiba-tiba Pipit memeluk erat tubuh polos Bryan dan menangis semakin kencang dalam pelukan suaminya.


Bryan membalas pelukan Pipit sambil mengelus punggungnya. Sedangkan Pipit masih tetap menangis tersedu-sedu.


Ketika Bryan menyadari jika istrinya masih mengenakan bathroop dan rambut basahnya, Bryan segera menggendong Pipit yang masih menangis dan di bawa ke kamar. Ia tidak ingin istrinya kedinginan karena terlalu lama berada di kamar mandi.


Sampai di kamar, Bryan membawa Pipit duduk di atas ranjang dan memangkunya. Pipit masih melingkarkan tangannya di dada Bryan.


" Hiks...hiks..." tangis Pipit mulai mereda, ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya, kemudian menangkup kedua pipi Bryan.


" Abang baik-baik saja kan? " tanya Pipit sembari mengamati wajah tampan suaminya.


" Of course, I m oke, honey. Memang apa yang terjadi denganku? Apa kamu mimpi buruk saat tidur? "


Pipit menggeleng, " Pipit kira...Pipit kira Abang meninggal...Hua....." tangis Pipit kembali pecah.


" Hei, apa maksudmu aku meninggal? " tanya Bryan bingung sambil mengernyitkan dahinya.


" Abang tadi di dalam bathtub matanya terpejam, terus nggak denger kalau Pipit masuk ke dalam kamar mandi, sampai Pipit selesai mandi. Bahkan berkali-kali Pipit panggil Abang, bangunin Abang, Abang tetep aja nggak bangun-bangun. " jawab Pipit masih dengan Isak tangisnya.


" Oh, honey....I am sorry..." ucap Bryan sambil kembali merengkuh istrinya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


" Maafin Pipit juga ya bang...Tadi pipit udah diemin Abang...udah marah-marah nggak jelas sama abang..Pipit juga nggak tahu kenapa gampang banget kepancing emosi. Bahkan Pipit ...Pipit pengen banget menghajar orang tadi. " jelas pipit lirih yang masih dalam dekapan Bryan.


" No, honey..Kamu nggak perlu minta maaf. Aku yang salah karena mulutku yang sudah keterlaluan. " ujar Bryan sambil melepas pelukannya, lalu mengecup bibir Pipit sekilas.


" Jangan nangis lagi, oke. " pinta Bryan.


" Abang juga, jangan bikin Pipit takut lagi. Pipit nggak mau di tinggal sama Abang. Pipit udah nggak punya bapak, nggak punya ibu,...Pipit cuma tinggal punya abang sama mbak Mell. "


" Hei, honey, just hear me. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu kemanapun. Aku akan selalu di sini. Bersamamu, mencintaimu, selamanya. " sahut Bryan sambil saling menatap dalam-dalam manik mata masing-masing.


Lalu ia mendaratkan ciumannya ke bibir tipis. Saling berbagi, saling melu***, dan saling memag**. Tapi tiba-tiba Pipit melepas tautan bibir mereka.


" Bang, Pipit lapar. " ucap Pipit malu-malu.


Membuat Bryan memelototkan matanya, terkejut karena tadi istrinya sudah makan banyak saat di pesta pernikahan Dion. Tapi ia langsung tersadar, tidak ingin membuat istrinya kembali marah.


" Lapar? Kamu mau makan apa? " tanya Bryan sambil membelai rambut rambut basah milik Pipit.


" Pengen makan martabak manis yang black sweet. " sahut Pipit.


" Nggak mau makan nasi? "


Pipit menggeleng.


" Oke, kalau gitu, kita ganti baju dulu. Kamu keringkan rambut dulu. Kalau rambutnya basah gini, kamu bisa masuk angin. "


Pipit langsung mengangguk dan wajahnya berbinar cerah. Perubahan mood yang sangat drastis. Tadi dia sangat sedih hingga menangis tersedu-sedu. Dan kini ia tersenyum lebar dengan mata yang berbinar.


Pipit segera bangkit dari pangkuan Bryan dan segera mengambil baju ganti dari dalam almari. Bryan masih belum beranjak. Ia masih menatap Pipit dengan mata yang terus mengikuti gerak-gerik istrinya itu. Ia merasa aneh dengan tingkah dan perubahan mood istrinya yang secara mendadak itu.


' Apakah mungkin....'


' Masak sih??? '


' Aku harus memastikan terlebih dahulu. ' batin Bryan.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2