
Muka cantik dan imut milik Pipit masih di tekuk kala Bryan mengajaknya masuk ke dalam kamar setelah kepergian sang bibi.
" Ck. Muka udah lecek gitu masih aja di tekuk. Jadi tambah lecek. " ejek Bryan sambil tersenyum dan mendudukkan pantatnya di atas sofa yang ada di dalam kamar.
Pipit menatap Bryan sekilas, lalu mengubah posisi duduknya jadi membelakangi Bryan. Bryan yang melihat Pipit kesal dengannya, beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Pipit.
Bryan memegang pelan pundak Pipit dan duduk di sebelah Pipit yang sedang duduk menyerong di tepi ranjang. " Hei. Just tell me, what the thing that make you feel angry. " ujar Bryan.
" Kesel tahu nggak sama abang. " seru Pipit.
Bryan mengernyitkan dahinya, lalu bertanya kembali, " Kesal kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? " Bryan pura-pura tidak tahu. Sebenarnya Bryan sangat tahu kenapa Pipit kesal dengannya.
" Pipit kan tadi cuma mau ngerjain bibi abang. Kenapa bang bule malah ambil kesempatan dalam kesempitan? " ujar Pipit sambil memanyunkan bibirnya.
Bryan menipiskan bibirnya menahan senyumnya. " Kan tadi bilangnya kita harus berakting. Lah, kamu cium bibir abang kan? Ya abang pikir kamu mau ngajakin abang ciuman biar bibi tidak meragukan lagi soal pernikahan kita. " jawab Bryan santai. Sedari tadi ia sudah memikirkan jawaban jika istri kecilnya merasa kesal dengan kelakuannya yang memang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
" Kan Pipit cuma mau kecup aja bentar. " seru Pipit sembari mengubah posisi duduknya dengan menghadap Bryan.
" Yaa...mana abang tahu. Habisnya tadi saat Abang mulai cium kamu, kamunya diem aja nggak nolak. Jadi abang pikir, kamu ngajakin beraktingnya yang seperti itu. " sahut Bryan.
" Iihhh....Mana ada Pipit ngajakin yang seperti itu? " Pipit kembali cemberut.
" Udah dong ngambeknya. Kamu tadi juga bales ciuman abang. Jadi nggak sepenuhnya salah abang dong. " seru Bryan yang membuat wajah Pipit langsung merona mengingat ia tadi juga dengan buas melu*** bibir bryan.
" Bibir kamu tuh lagi bengkak, jadi jangan di manyunin kayak gitu. Jadi dower tuh. " ledek Bryan.
Pug
Pipit memukul Bryan dengan sebuah bantal.
" Siapa coba yang bikin bibir Pipit jadi dower gini? "
Pug....pug...pug .. serangan bantal bertubi-tubi Pipit layangkan ke Bryan. Sedangkan Bryan hanya bisa menangkis bantal itu dengan tangannya. Lalu sebuah ide usil mampir di otaknya. Bryan membalas Pipit dengan menggelitik pinggang Pipit dan membuat Pipit tertawa terbahak-bahak karena kegelian.
" Abang, stop. " pekiknya.
Tapi Bryan masih tetap menggelitiknya. Pipitpun masih berusaha menyerang Bryan dengan bantal. Dan akhirnya mereka saling bergulat di atas ranjang dengan saling serang menyerang. Suara gaduh terdengar dari dalam kamar, membuat seseorang yang sedang melintas di depan kamar yang sedang tertutup itu menghentikan langkahnya dan memasang telinganya baik-baik dan menempelkannya di daun pintu.
" Bang, ampun...ha..ha...ha..." seru Pipit yang sedang diatas ranjang, di bawah kungkungan tangan kekar Bryan.
" Makanya jangan suka memulai sesuatu. " ujar Bryan masih gencar menggelitik pinggang Pipit.
Klotak
__ADS_1
Terdengar suara dari luar. Bryan menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah pintu sebentar, lalu memberi tanda ke Pipit supaya diam sebentar. Pipit ikut menoleh ke arah pintu.
" Sepertinya sedang ada yang menguping. " ujar Bryan. " Apa perlu kita berakting lagi kali ini? " tanyanya.
" Boleh. " sahut Pipit dengan senyum menyeringai.
" Bang, masak kita mau melakukannya sekarang? Ini masih sore loh. Entar malam aja yah. " ujar Pipit akan mengeraskan suaranya karena ia sudah mulai berakting.
" Ayolah honey. Abang pengennya sekarang. Untuk nanti malam, itu urusan nanti malam. Kita bisa mengulanginya lagi. Abang udah nggak kuat ini. " sahut Bryan.
" Tangannyahhh.....bangggg...." kini Pipit membuat suaranya mendayu-dayu semerdu mungkin seolah-olah ia sedang mendapatkan serangan gerilya dari tangan Bryan.
" Aahhhh....Ssshhh...." mulut Pipit mulai mencoba untuk mendesah dan mendesis. Berulang kali ia mengatakannya. Setelah itu, ia tertawa tanpa suara sambil memegangi perutnya yang terasa kram karena tawanya. Sedangkan Bryan sedang menahan sesuatu yang lama tidak on.
Mendengar suara Pipit yang mendesah dan mendesis membuat tongkat pusakanya yang sudah terasah dengan baik selama ini menjadi on.
" Oh, honey...Kamu pintar sekali. Terusss baby....Ohhh...Ahhh...." kini Bryan yang sedang berakting. Terlihat begitu natural, karena sebenarnya Bryan memang benar-benar ingin mendesah setelah mendengar akting ******* dari Pipit.
" Masukin sekarang banggg.... Pipit udah nggak ta...hannnn...." seru Pipit.
" Tentu, honey. Bersiaplah. Kita akan terbang bersama sebentar lagi. " sahut Bryan.
Kembali Pipit dan Bryan membuat suara-suara tidak jelas dari mulut mereka, sambil terkikik pelan. Sampai akhirnya Bryan merasa ingin segera menyudahi akting mereka, karena tongkat pusakanya sudah benar-benar memberontak ingin segera keluar.
" Lebih cepat baaaangggg....." seru Pipit sambil setengah menjerit.
" Aaahhhhhh....." Pipit dan Bryan berteriak bersamaan. Lalu senyum puas mengembang di bibir keduanya saat mendengar suara sepatu melangkah meninggalkan depan kamar Bryan.
Setelah itu, Pipit tertawa terpingkal-pingkal tanpa mampu menahannya kembali. Sedangkan Bryan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.
" Abang mau ngapain? " teriak Pipit.
" Mandi. Udah sore. " jawab Bryan dari dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bryan segera meloloskan semua baju yang ia pakai, lalu menghidupkan air shower dan mengambil sedikit sabun cair di tangannya.
Setelah mengusap-usap sabun itu di telapak tangan kanannya, Bryan lalu mengarahkan tangannya ke tongkat pusakanya dan melakukan kegiatan individualnya.
" S**t! Kenapa hal ini harus terjadi kepadaku?" Umpat bryan. " Para wanita akan menertawakanku jika mereka tahu aku bersolo karier seperti ini. Sang Casanova bersolo karier? " lanjutnya sambil terus melanjutkan kegiatan bersolo kariernya.
" Awas aja kamu honey..Jika aku sudah mendapatkanmu, kamu harus membayar karier soloku ini dengan berduet denganmu sepanjang hari. " lanjutnya.
" Mmmmpptt....Aaahhhhh...." lahar dingin mencuat dari dalam tongkat pusaka Bryan.
__ADS_1
Kini ia mendudukkan dirinya di atas closet duduk karena ia merasa kaki-kakinya melemas setelah kegiatan solonya. Bryan tersenyum miris.
" Bagaimana bisa seorang Casanova sepertiku takluk dalam pesona gadis kecil sepertimu, honey. Hanya dengan mendengar suaramu saja, si Joni langsung berdiri dengan gagahnya. Padahal dulu ia hanya akan berdiri setelah melihat langsung naked body dari perempuan-perempuan yang mau menghabiskan malamnya bersamaku. " gumam Bryan.
Tok...tok...tok...
Terdengar pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
" Bang....bang bule ..." panggil Pipit dari luar. " Lama amat mandinya... Gantian dong... Pipit juga mau mandi nih. " lanjutnya.
" Hem. Iya, bentar lagi. " jawab Bryan dari dalam kamar mandi dan bangkit dari duduknya, dan kembali berdiri di bawah air shower yang telah ia nyalakan sedari tadi. Lalu Bryan melanjutkan proses mandinya.
Setelah Bryan selesai mandi, Pipit pun segera masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian yang ia bawa dari rumah tadi. Tidak butuh waktu lama, Pipit menyelesaikan kegiatan mandinya.
" Ada hair dryer di kamar mandi. Di meja dekat toilet. " ujar Bryan.
" Udah tahu kok. Tapi Pipit emang sengaja membiarkan rambut Pipit tetap basah. Kan tadi kita habis in the hoy tuh. Biar si bibi lihat kalau Pipit habis keramas. " sahut Pipit sambil menaik turunkan alisnya.
Sedangkan Bryan hanya menggelengkan kepalanya. " All out banget sandiwaranya. " gumamnya.
" Ya harus dong. Pipit nggak suka melakukan sesuatu cuma setengah-setengah. Semua harus perfect. Pipit nggak mau ya, abang masih trauma aja melihat si bibi lampir itu. "
Bryan yang tadi duduk di atas sofa, berdiri dan menghampiri Pipit. Lalu tiba-tiba ia memeluk Pipit erat. Pipit mematung saat merasakan dua tangan kekar sedang memeluk tubuhnya erat.
" Ijinkan abang meluk kamu sebentar. " pinta Bryan.
' Pakai minta ijin lagi. Udah meluk juga kan. " gumam batin Pipit.
Tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya. Entahlah, setiap berada di dekat suami bulenya ini, tubuh dan pikiran Pipit selalu tidak sepemikiran.
Bryan mengangkat kedua sudut bibirnya saat mendapati Pipit mengangguk. " Thank you. Terima kasih, karena sudah datang kemari untukku. Entah bagaimana denganku jika kamu tidak datang kesini. Terima kasih. " ujar Bryan sambil mengeratkan pelukannya dan menelusupkan kepalanya di bahu Pipit.
Lagi-lagi, Pipit hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan terima kasih dari sang suami. Bryan merasa sangat senang dan bahagia tiada tara saat melihat kedatangan istri kecilnya tadi. Semua urat-urat syaraf yang tadinya kaku, jadi melemas.
***
bersambung
Maaf ya guys ..part ini agak dikit isinya...tapi othor akan berusaha kasih double up untuk hari ini..
Jangan lupa .... like ..like...like ...vote...vote...vote ..
Jangan lupa juga, klik favorit Yach....Salam Lope Lope sekarung....Sarang Hae....😍😍😘
__ADS_1