Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Hukuman untuk dua alasan


__ADS_3

" Mau ngapain kamu? " tanya Bryan karena ia merasa tidak nyaman dengan posisi istrinya. Jika saat ini ia sedang tidak marah, maka ia akan senang dengan posisi ini. Tapi kali ini, ia merasa kurang nyaman.


" Mau....." jawaban Pipit sengaja ia potong. Ia kembali mengerlingkan matanya sebelah.


" Mau ini. " ucap Pipit selanjutnya ia membungkam bibir suaminya dengan ciumannya. Bryan ingin sekali menarik tengkuk Pipit untuk memperdalam ciuman mereka. Tapi ia masih terlalu gengsi karena ia masih merasa cemburu karena istrinya belum menjawab pertanyaannya. Bahkan Bryan tidak membalas ciuman istrinya.


Saat merasa suaminya tidak merespon, Pipit menjauhkan bibirnya dari bibir suaminya.


" Rupanya suamiku ini benar-benar marah karena cemburu berat. " ujar Pipit sambil mengelap lembut bibir Bryan yang basah karena ulahnya.


" Tapi....kenapa kok aku merasa ada yang mengeras di bawah sana. " ucap Pipit selanjutnya sambil menatap bagian bawah Bryan.


' ****!!' umpat Bryan dalam hati karena bagian bawahnya tidak bisa di ajak kompromi. Bryan menghela nafas kasar lalu mengusap wajahnya dengan kasar pula. Ia bahkan menoleh ke arah lain. Ia tidak ingin menghadap istrinya. Karena jika ia menghadap istrinya, sudah di pastikan kalau pertahanannya akan runtuh hanya dalam hitungan detik.


" Abang buleku sayang, sepertinya beneran marah nih. " ujar Pipit karena suaminya masih saja mendiamkannya.


" Bang, tadi saat Pipit hendak ke auditorium, nggak sengaja ketemu sama Roy. Dia ternyata kuliah di universitas itu juga. Cuma bedanya, dia ambil jurusan ekonomi manajemen. Jadi, selama ini kami tidak pernah bertemu karena letak gedung kami sangat jauh. " jelas Pipit.


" Tapi kelihatannya dia sangat senang bertemu denganmu lagi. " sahut Bryan dengan nada datar.


" Aku nggak tahu kalau itu bang. Cuma dia tadi sempat bilang, kalau dia memutuskan untuk kuliah di Jakarta karena dia tahu kalau Pipit sekarang tinggal di Jakarta sama mbak Mell. "


" Jadi beneran dia masih ngarepin kamu. "


" Ya nggak tahu juga bang. Mungkin saja. Soalnya dulu dia katanya cinta mati sama Pipit. Bahkan saat dia nembak, terus Pipit bilang masih punya pacar, dia mau jadi pacar kedua Pipit. Yang penting Pipit mau jadi ceweknya. " jelas Pipit dengan polosnya


' Double ****!!' umpat Bryan dalam hati sambil mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa ada laki-laki seperti itu? Rela menjadi yang kedua. Sudah benar-benar tua nih dunia.


" Dia tahu, kalau kamu sudah bersuami? "


Pipit menggeleng, " Pipit nggak tahu. Tapi kayaknya sih dia nggak tahu. "


" Kalau dia tidak tahu, kenapa kamu tidak memberitahunya? " tanya Bryan.


Pipit menunduk. Ia tahu ia salah karena ia tidak memberitahukan tentang pernikahannya. Ia kembali memutar otak agar suaminya tidak kesal lagi.


Pipit menaikkan tangannya, mengelus dada suaminya perlahan dengan gerakan menggoda. Kali ini, ia harus berhasil merayu dan menggoda suaminya. Ia sudah tidak mau memikirkan apa yang akan dia alami jika sampai suaminya itu tergoda.


" Maaf. " cicitnya. " Pipit janji, jika sampai Pipit bertemu dengannya lagi lain kali, Pipit akan bilang kalau Pipit udah nikah. Kalau Pipit adalah seorang istri dari seorang dokter bule yang tampan dan keren. " rayu Pipit.

__ADS_1


" Tidak akan pernah ada lain kali. " ujar Bryan sambil menatap Pipit tajam.


Pipit asal mengangguk tanpa tahu apa maksud suaminya. Dan iapun enggan bertanya daripada masalahnya semakin panjang. Menghadapi laki-laki yang sedang cemburu sepertinya menakutkan. Batin Pipit.


Tangan Pipit mulai naik menyusuri rahang tegas milik suaminya. Lalu menyusuri bibir suaminya yang berwarna pink itu. Bryan sempat memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri. Tapi ia segera membuka matanya kembali karena tidak ingin terperangkap dalam jebakan istrinya.


Pipit mengecup bibir Bryan lagi. Kali ini hanya mengecup. Sekedar menempelkan bibirnya ke bibir suaminya, tanpa ada pergerakan apapun. Satu detik, dua detik, Pipit menunggu reaksi dari suaminya. Tapi sepertinya Bryan memang keras kepala. Bryan tetap bertahan dan membuat Pipit menjauhkan bibirnya dari bibir suaminya.


" Ya udah deh kalau Abang nggak mau. " ujar Pipit pura-pura menyerah. Ia hendak bangkit dari pangkuan suaminya, tapi Bryan menahan pinggangnya.


" Mau kemana? " tanya Bryan.


" Mau tidur siang. Capek. Lelah hati. Mau tidur aja, daripada memendam keinginan yang nggak bisa tersalurkan. " ujar Pipit sengaja memanas-manasi suaminya.


Bryan melepas pinggang Pipit dan Pipit segera berdiri dari duduknya, berjalan perlahan meninggalkan Bryan sambil bergumam, " Awas aja kalau sampai entar malem minta jatah. Pipit balas pokoknya. "


Tapi sepertinya gumamannya di dengar oleh suaminya. Bryan berpikir sejenak. Bisa kacau dunia percintaannya jika sampai istrinya itu merajuk dan tidak mau di sentuhnya.


' Oke, honey...Kamu yang memulai. Aku akan membuatmu segera mengandung anakku. Hari ini, aku akan membuatmu hamil. Biar semua orang tahu, kalau kamu sudah bersuami. Jadi tidak akan ada laki-laki lain yang mengharapkanmu. ' batin Bryan.


Bryan lalu beranjak berdiri dan berjalan cepat menyusul istrinya yang sudah berada di anak tangga kedua hendak menuju ke kamar mereka.


" Aaaa....." teriak Pipit karena ia sangat terkejut tiba-tiba saja tubuhnya seperti melayang di udara. " Abang ngagetin aja! Pipit bisa jalan sendiri. Pipit masih punya kaki yang sehat. "


" Diamlah. Aku akan memberimu hukuman karena kesalahanmu hari ini ada dua. "


" Dua? " tanya Pipit memastikan.


" Hem. Jadi jangan pernah protes dengan apapun yang aku lakukan. "


" Tapi apa kesalahan Pipit? Kok dua? "


" Pertama, karena kamu sudah berani bertemu dengan mantan pacar kamu. Dan yang kedua, karena kamu sudah berani membangunkan ular pitonku yang sedang tidur. " sahut Bryan sambil tersenyum menyeringai.


Glek


Pipit menelan salivanya susah payah. Alamat sampai menjelang magrib kalau begini urusannya. Mana dia belum makan siang lagi. Bisa tepar dia.


Bryan membuka pintu kamar dengan sikunya, lalu menendangnya dengan sebelah kakinya supaya pintu itu terbuka lebar. Lalu kembali menendangnya untuk menutup pintu itu.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar, Bryan menjatuhkan Pipit di atas tempat tidur mereka yang luas. Lalu ia kembali berdiri dan membuka semua baju yang ia kenakan tanpa meninggalkan sedikitpun. Daaannnn..... terlihatlah tubuh sixpack milik Bryan dan ular pitonnya yang sudah siap tempur.


Pipit yang melihat itu hanya bisa menelan kembali salivanya dengan susah payah dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Meskipun sudah berkali-kali melihat tubuh polos suaminya, tapi Pipit tetap saja malu.


" Berdiri. " titah Bryan. Membuat Pipit langsung menoleh ke arahnya. " Tadi aku sudah bilang kamu harus melakukan semua yang aku minta sebagai hukumanku. Sekarang berdiri. " ujar Bryan kembali memberikan perintahnya.


Pipit menurut, ia berdiri tegak.


" Sekarang, buka bajumu. Jangan sampai ada yang terlewat. " titah Bryan kembali sembari mundur ke belakang dan menyandarkan tubuhnya di meja rias, lalu ia menatap lekat ke arah istrinya sambil menyilangkan kedua kakinya.


Pipit membuka bajunya satu persatu, mulai dari celana panjangnya, setelah celana panjangnya terlepas, ia lalu melepas kemejanya. Setelah tertinggal celana da*** dan br*, Pipit berhenti.


" Kenapa tidak kau lepas juga? Aku bilang kan lepas semuanya jangan sampai ada yang tertinggal. " titah Bryan dengan nada datar. Padahal dia saat sedang menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.


Pipit menatap Bryan sekejap, lalu memutar tubuhnya membelakangi Bryan.


" Hei, kenapa menghadap kesitu? Ayo berbalik lagi. Lihat aku. "


Pipit kembali memutar tubuhnya. Bryan rasanya ingin tertawa dengan keras melihat istrinya yang hari ini begitu menurut kepadanya.


Perlahan, Pipit melepas celana da***nya sehingga memperlihatkan hutan rimba tapi tidak terlalu lebat. Lalu perlahan, ia membuka br*nya dan menjatuhkannya ke lantai. Bryan melihatnya dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. Tubuh istrinya memang sudah menjadi candu bagi dirinya. Bahkan ular pitonnya semakin mengeras dan menegak ketika ia melihat tubuh polos sang istri. Dan hal itu, tidak luput dari pandangan Pipit. Pipit kembali menelan salivanya yang hampir menetes.


" Kemarilah. " panggil Bryan . Dan kembali, Pipit tidak bisa menolak perintah suaminya. Pipit berjalan mendekat ke arah suaminya.


Setelah Pipit berada di dekatnya, Bryan mengangkat tubuh Pipit dan mendudukkannya di atas meja rias.


" Hei, kenapa ini sudah mengeras? Padahal aku belum menyentuhmu sama sekali. " goda Bryan sambil ia menyentuh sedikit puncak d*** Pipit. " Sepertinya, hanya dengan melihat tubuh polos ku saja, kamu sudah berga****, honey. " lanjut Bryan sambil menyentuh benda keramat milik istrinya itu.


" Apapun yang aku lakukan kepadamu, jangan pernah menggerakkan tubuhnya. " ujar Bryan lalu ia mulai melancarkan aksinya. Menyentuh, mera**, memi***, mere***, bahkan menj**** puncak gunung milik istrinya yang membuat Pipit mengoceh tidak karuan sambil kedua tangannya di pegang oleh Bryan ke belakang.


" Banggg....please...jangan kayak gini...mmmm....sssshhhh...." suara serak Pipit kembali terdengar saat ia merasa tubuhnya kembali menggelinjang entah untuk yang ke berapa kalinya.


" Baaaangggg....Pipit mohon bang....Ini benar-benar menyiksa...Aahhhh.... mmmmpptt....Aaaaaaaahhhhh...." sebuah teriakan panjang kembali keluar dari mulut Pipit saat ia mengalami pelepasan entah untuk yang ke berapa kalinya.


Bryan menatap wajah istrinya yang di liputi ga**** karena ulahnya. Saat istrinya kembali menyenderkan tubuhnya di kaca rias yang ada di belakang tubuhnya, Bryan menghentikan aktivitasnya sesaat, sambil menunggu istrinya siap untuk berteriak lagi dengan senyuman jahil di bibirnya.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2