Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Kamu hamil


__ADS_3

" Bang, ada apa sih? Di perut Pipit ada kecebongnya? Kok bisa? Pipit nggak pernah loh bang, makan katak. Kok bisa ada kecebongnya? Bikin penyakit bahaya ya bang? Bang, Pipit kok jadi takut. " ujar Pipit sambil menarik ujung jas Bryan dengan wajah paniknya.


Bryan dan dr Ratna tertawa bersamaan melihat dan mendengar kata-kata Pipit. Pipit menatap Bryan dan dr Ratna bergantian dengan raut wajah keheranan. Dirinya sedang sakit, tapi kok suaminya malah tertawa seperti itu.


" Abang!!" teriak Pipit dengan wajah kesalnya yang membuat Bryan dan dr Ratna langsung menghentikan tawanya.


" Abang kok malah ketawa sih. Abang seneng ya kalau Pipit sakit? Hiks..." ucap Pipit dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba saja ia sedih dan hatinya sakit.


Bryan jadi serba salah karena tiba-tiba istrinya yang memang moody an, malah menangis.


" Honey, I am sorry. Kamu jangan nangis dong. " ujar Bryan sambil mengusap air mata Pipit yang sudah mulai menetes.


Pipit segera bangkit dari rebahannya. Ia membenarkan kancing celananya dan menurunkan atasannya yang tersingkap tadi. Lalu tanpa berkata apapun, ia turun dari ranjang dan segera menyambar tasnya, dan tanpa pamit ke dr Ratna, ia keluar dari dalam ruang praktek dr Ratna.


Bryan menepuk jidatnya sendiri saat melihat kelakuan istri kecilnya.


" Selamat berjuang. " ucap dr Ratna di selingi tawanya.


Ceklek


Pintu ruangan kembali terbuka. Bryan yang sudah di ambang pintu di buat terkejut. Hampir saja hidung mancungnya terkena pintu.


" Maaf, dokter. Pipit lupa pamitan. Pipit pergi dulu. Terima kasih banyak. " ucap Pipit dari ambang pintu.


Bryan dan dr Ratna terbengong, kemudian saling berpandangan.


Jedder


Pintu ruangan kembali di tutup.


" Lebih baik kamu buru-buru dok. Perempuan yang sedang hamil itu menakutkan. " ujar dr Ratna sambil menahan senyumnya.


Bryan segera keluar dari dalam ruangan dr Ratna dan mengejar istri kecilnya.


" Honey..." panggil Bryan mengejar istrinya.


Pipit semakin mempercepat langkahnya saat mendengar sang suami memanggilnya.


" Honey...Jangan berjalan terlalu cepat. " teriak Bryan.


Pipit menulikan telinganya. Ia tetap berjalan dengan langkah cepatnya.


Bryan juga berlari kecil mengejar Pipit. " Honey... tunggu..." teriaknya kembali.


Saat mendengar suara suaminya semakin mendekat, Pipit menambah kecepatan jalannya. Bahkan kini ia sudah setengah berlari.


" Pagi, dok. " sapa seorang suster yang lewat.

__ADS_1


" Pagi. " jawab Bryan tanpa menoleh ke suster itu. Ia masih tetap berlari menyusul sang istri. Si suster yang menyapanya tadi di buat keheranan dengan sikap Bryan. Biasanya, Bryan adalah laki-laki yang selalu bersikap baik pada semua perawat. Ia tidak pernah bersikap cuek. Lalu suster itu berhenti dan membalikkan badannya melihat Bryan. Baru akhirnya ia mengerti apa yang mungkin terjadi. Ia menggelengkan kepalanya.


" Honey. " panggil Bryan. Ia akhirnya bisa menyusul sang istri. Bryan lalu meraih tangan Pipit. " Jangan berlarian seperti itu, please. " pinta Bryan.


Pipit tetap tidak mau menoleh ke arah Bryan.


" Honey, aku minta maaf kalau tadi aku tertawa. Demi Tuhan, aku tidak menertawakanmu. Dan perlu kamu ketahui, kamu itu sehat. Kamu tidak sedang mengidap penyakit apapun. " jelas Bryan.


Pipit menoleh dengan tatapan tajamnya. " Lalu kenapa Abang tadi bilang di perut Pipit ada kecebongnya? " tanyanya.


Bryan menghela nafas panjang. " Kita ke ruanganku dulu yuk. Sebentar lagi aku harus mulai praktek. Akan aku jelaskan di sana. " ajak Bryan.


Bryan mulai menggandeng tangan Pipit dan tidak ada penolakan dari Pipit. Mereka berjalan menuju ruang praktek Bryan dengan bergandengan tangan. Meskipun terlihat dari raut muka Pipit yang masih kesal dengan suaminya, tapi karena ingin mendengar penjelasan sang suami, Pipit ikut aja kemana sang suami membawanya.


" Kalila, berapa banyak pasien kita pagi ini? " tanya Bryan ke asistennya saat ia masuk ke dalam ruangan prakteknya.


" Sementara ada 15 pasien dok. " jawab Kalila sambil melihat catatannya.


" Eh, ada Pipit juga. Tumben. " sapa suster Kalila.


" Hai, kak. Iya nih, di ajakin sama bang bule. " sahut Pipit sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.


Bryan melepas jasnya dan menggantinya dengan jas dokternya. " Nggak ada jadwal operasi kan hari ini? " tanyanya sambil membenarkan kerah jas dokternya.


" Sementara nggak ada dok. "


" Siap dok. " jawab Kalila.


Bryan menghampiri Pipit yang sedang duduk di kursi dekat kursi prakteknya.


" Honey, mau aku jelasin sekarang, apa nunggu entar aku habis praktek? " tanya Bryan.


" Entar aja. Yang penting pasien dulu di utamakan. Daripada entar penjelasan abang kepotong-potong malah nggak enak. " jawab Pipit.


" Oke. Kalau begitu. Kamu nggak pa-pa nemenin aku praktek dulu? Itung-itung belajar langsung nggak cuma teori mulu. " ujar Bryan sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.


" Lil, panggil pasien pertama. Kita agak cepetan ya hari ini. "


" Siap dok. "


Lalu Kalila memanggil pasien Bryan satu persatu. Pipit sangat menikmati menemani sang suami melayani pasien-pasiennya. Bahkan terkadang Pipit langsung bertanya jika ia menemui suatu keanehan. Kadang dia juga ikut menanyai pasien. Dan tak jarang, justru si pasien lebih nyaman konsultasi dengannya daripada dengan sang dokter yang asli.


" Kak, pasiennya masih banyak nggak? " tanya Pipit tiba-tiba.


" Masih dua orang lagi. " sahut Kalila.


Setelah mendapatkan jawaban, Pipit langsung berdiri.

__ADS_1


" Kamu mau kemana? " tanya Bryan.


" Pipit lapar. Pengen makan. Jadi mau ke kantin aja. Nanti kalau Abang udah selesai, susulin aja. " jawab Pipit sambil berlalu dan membuka pintu.


" Kamu hati-hati. " pesan Bryan.


Lalu Pipit segera keluar dari ruangan suaminya dan berjalan menuju ke kantin. Sampai di kantin, dia memesan beberapa jenis makanan. Sambil menunggu sang suami.


Setengah jam kemudian, Bryan datang dengan tergopoh-gopoh.


" Abang habis di kejar anjing? " tanya Pipit sambil memasukkan camilan kripik singkong pedas ke dalam mulutnya.


" Pengen cepet ketemu kamu. " goda Bryan, lalu ia mendekatkan bibirnya hendak mengecup kening Pipit. Tapi Pipit segera menjauhkan kepalanya.


" Kenapa kok? " tanya Bryan heran.


" Pipit nggak suka ah. Pipit nggak mau di cium sama abang. " jawab Pipit.


Bryan mengernyitkan dahinya. Sabar, Bry. Bini lo lagi melihara kecebong elo. batin Bryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Udah selesai makannya? " tanya Bryan.


" Udah. Kenyang. "


" Kita pulang sekarang? "


" Pulang? Katanya Abang mau jelasin tadi maksudnya Pipit di bawa ke dokter kandungan itu apa? Terus katanya Abang, ada kecebong di perut Pipit maksudnya juga apa? Sumpah ya bang, pelajaran Pipit di kampus belum sampai membahas penyakit karena adanya kecebong di perut . " ucap Pipit panjang lebar yang membuat Bryan kembali ingin tertawa. Tapi kali ini, ia berusaha keras untuk menahannya karena ia tidak ingin istrinya kembali marah.


" Jadi kita bicara di sini? " tanya Bryan meyakinkan. Dan Pipit mengangguk.


" Oke. Akan aku jelaskan dan aku kasih tahu. " ujar Bryan. Lalu ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memberitahu istrinya. Ia yakin, istrinya itu akan sangat terkejut saat mendengarnya. Kemungkinan juga istrinya itu akan marah kepadanya.


" Honey, ..." Bryan memegang perut Pipit dan mengelusnya. " Di sini, di dalam sini, ada sebuah kehidupan baru yang berasal dari darah kita berdua. Di sini, ada perpaduan darah kamu, juga darah aku. Di sini, ada buah dari cinta kita. " ucap Bryan hati-hati sambil tangannya mengelus perut Pipit, tapi matanya menatap wajah Pipit dengan seksama.


Pipit mengernyitkan keningnya masih belum mengerti dengan penjelasan suaminya.


" Abang, bisa nggak jelasinnya jangan pakai kata-kata pujangga? " ujarnya.


Bryan kembali menghela nafas beratnya sambil memejamkan matanya sesaat.


" Honey, kamu sekarang lagi hamil. Ada anak kita di sini. " ujar Bryan singkat dan jelas.


Pipit terdiam dengan raut wajah yang tidak terbaca.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2