Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Aku takut


__ADS_3

" Ayo kita naik sekarang. " ajak Roy ke temannya yang satu yang juga akan ikut mendampingi Pipit. Yang di jawab anggukan oleh temannya itu. Lalu mereka mulai beranjak menaiki takik demi takik yang ada di tebing buatan itu, mengikuti Pipit yang sudah berada di atas mereka.


Semua penonton yang ada di bawah, termasuk Bryan juga Naomi, menyiratkan ketegangan dan kepanikan di wajah mereka.


Takik demi takik Pipit naiki dengan perlahan. Bohong jika Pipit tidak merasa capek. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lelah. Orang dalam keadaan tidak sedang mengandung saja pasti akan capek jika harus memanjat dengan ketinggian lima belas meter. Apalagi Pipit yang sedang mengandung tujuh bulan. Perutnya yang buncit agak menghalangi ketika kakinya akan melangkah menaiki takik takik itu.


Peluh dan keringat mulai bercucuran dari pelipis Pipit. Tinggal dua takik lagi, Pipit sampai di tebing paling tinggi.


" Kamu mau menyelesaikannya? " tanya Roy yang sudah sejajar dengan Pipit. Roy merasa tidak tega dengan Pipit. Wajahnya sudah penuh dengan keringat. Roy yakin, Pipit pasti sangat lelah.


" Suamimu sangat mengkhawatirkanmu di bawah. Kita sudahi saja, dan kita kembali turun sekarang. " bujuk Roy.


" Kau tahu, sebenarnya aku memang sangat lelah. Apalagi aku harus membawa anakku. " sahut Pipit dengan sedikit ngos-ngosan dan terkekeh. " Tapi aku tetap harus menyelesaikannya. Kalau tidak, anakku bisa ileran. Lagian, tinggal sedikit lagi. " lanjutnya sambil menatap ke atas. Lalu ia mengelap keringat yang berada di dahinya.


" Sedikit lagi. Semangat. " ucap Pipit sambil mengelus perut buncitnya. " Ayo. " ajak pipit sembari menoleh ke Roy.


Roy mengangguk, lalu Pipit kembali menapakkan kakinya ke takik di atasnya. Satu, dua, tiga. Akhirnya Pipit sampai di atas dinding dengan selamat. Pipit tersenyum sambil mengelus perutnya. ' Akhirnya, kita bisa melakukannya nak. ' batin Pipit.


" Minum dulu, baru kita turun. " ujar Roy sambil menyodorkan sebotol air mineral yang berada di saku tas pinggangnya.


Pipit ingin menerima botol air minum, tapi kedua tangannya ia gunakan untuk berpegangan pada tali. " Aku tidak bisa melepas tanganku. " sahut Pipit.


" Kalau begitu, aku akan membantumu. Jika suamimu memarahimu karena cemburu padaku, kau harus bisa mengatasinya sendiri. " canda Roy.


" Kamu tenang saja. Karena aku sudah punya jurus jitu untuk suamiku yang sedang cemburu. " jawab Pipit. Lalu mereka berdua sama-sama tertawa. Tanpa menyadari jika orang-orang yang berada di bawah sedang memandang mereka dengan hati dan jantung yang hampir copot.


Roy menyodorkan botol air minum yang sudah ia buka tutupnya ke bibir Pipit. Dan Pipit langsung membuka sedikit mulutnya dan mulai meminum air itu.


" Sudah, terima kasih banyak. " ucap Pipit saat ia merasa tenggorokannya sudah kembali basah.


" Baiklah, kita turun sekarang. " ajak Roy.


Pipit sedikit melirik ke bawah. Dan tiba-tiba wajahnya memucat. Ternyata ia berada di tempat yang sangat tinggi. Bahkan suaminya terlihat begitu mungil di bawah sana.


" Sepertinya aku malas untuk turun. Aku di sini saja. " ucap Pipit sambil kembali menatap Roy.


" Hei, jangan bercanda kamu. " seru Roy dengan wajah paniknya. Ia melihat wajah Pipit yang memucat dan keringat yang mengucur semakin banyak di dahinya.


" Apa kamu baik-baik saja? " tanya Roy.


" Jujur, aku takut untuk turun. " sahut Pipit sambil memegang tali semakin erat.


" Hei, mana Fitria yang pemberani. Kamu bisa naik hingga di ketinggian ini dengan baik. Berarti kamu juga harus bisa turun dengan baik juga. " ujar Roy sambil memegang.bahu pipit.


Pipit menggeleng lemah. " Takut..." rengeknya lirih.


" Tapi kita tetap akan turun. Tidak mungkin kita di sini terus. Kamu pasti bisa. Suamimu sedang menunggumu di bawah. Kamu pasti berani. Kami akan menemani dan menjagamu. " ucap Roy dengan nada suara yang pasti.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu, akhirnya Pipit menganggukkan kepalanya sedikit.


Sedangkan di bawah, orang-orang yang melihat, sudah mulai kasak kusuk, membicarakan kenapa mereka tidak turun-turun juga. Apalagi Bryan. Sedari tadi ia memandang ke atas sambil sesekali menelan salivanya dengan susah payah.


Kembali ke atas


" Kita turun, sama-sama, dengan perlahan, oke? " tanya Roy ke Pipit.


Pipit mengangguk.


" Kau pijak kembali takik takik yang kamu lalui saat naik tadi. " ujar Roy memberi arahan. Pipit kembali mengangguk. Lalu Roy mengangguk ke temannya yang ada di sebelah kiri Pipit.


Dengan perlahan, Pipit mulai melangkah turun melewati takik takik itu, dengan Roy dan temannya. ada di kedua sisinya. Sedangkan tangan kiri Roy menjaga tali yang ada di punggung Pipit. Tapi tiba-tiba...Srek...


" Aaaaa..... " pekik orang-orang yang ada di bawah.


" AWAS...." seru beberapanya.


" HONEY!!! teriak Bryan.


" Fitriaaa...." teriak Naomi.


Semua yang ada di bawah berteriak ketika melihat dia atas, kaki Pipit terpeleset dari takik sehingga pijakan kakinya terlepas dan membuatnya tubuhnya menggelantung.


Dengan cekatan, Roy dan temannya segera meraih tubuh Pipit. Bahkan Roy menggapainya dan memeluknya. Wajah Pipit semakin memucat. Tubuhnyapun melemas.


" Fit. Kamu harus kuat. " ucap Roy panik karena melihat Pipit memejamkan matanya.


OMG.... Apalagi sekarang???Apa yang harus di lakukan oleh Roy dan temannya coba. Pipit mengatakan perutnya sakit tapi mereka masih di tempat yang tinggi.


" Bas, bantu aku pegang dia sebentar. Aku akan menghubungi yang ada di bawah. Sepertinya kita harus kerja ekstra. Perutnya sakit. " ucap Roy ke temannya yang bernama Bastian itu.


" Apa dia mau melahirkan? " tanya Bastian dengan wajah yang mendadak panik.


" Aku juga tidak tahu. " jawab Roy sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan buru-buru, Bastian mengambil alih tubuh Pipit dan Pipit menyandarkan kepalanya di bahu Bastian sambil tangannya sebelah memegang tali, dan sebelahnya lagi memegangi perutnya. Tubuhnya sudah benar-benar lemas.


" Beta masuk Beta..." panggil Roy dari interkomnya.


" Panggil Beta masuk. " jawab dari Beta.


" Rik, sepertinya aku sama Bastian akan melakukan pendaratan darurat. Rose sepertinya tidak sanggup melakukan pendaratan normal. Tiba-tiba perutnya sakit dan tubuhnya melemas. Tolong siapkan tenaga medis. " ucap Roy.


" Hei, bukankan suaminya adalah seorang dokter? " ujar Bastian.


" Oh, iya. Aku lupa. " jawab Roy. " Rik, berikan interkomnya ke suami rose. " pinta Roy.

__ADS_1


Tak lama, terdengar suara bariton Bryan. " Apa yang terjadi di atas sana? Ada apa dengan istriku? Kenapa kalian tidak segera turun? "


Roy menghela nafas panjang. " Dokter, istri anda mengalami kram perut sepertinya. Karena dia bilang, perutnya tiba-tiba sakit. Dan tubuhnya juga melemah. Jadi tidak mungkin buat Fitria untuk turun ke bawah sendirian. "


" APA?? " teriak Bryan. " Lalu...Lalu bagaimana ini? " tanya Bryan panik.


" Dokter stand by di bawah dengan peralatan medis yang memadai. Untuk kemungkinan terburuk. Saya di sini akan mencoba membawa turun istri anda. Tapi saya butuh ijin dari anda. Saya dan teman saya harus membawa Fitria dengan cara kami. Jadi saya harap, dokter tidak cemburu setelahnya. Karena saya pastikan, saya harus memeluk tubuh istri anda. " ucap Roy dengan senyum menyeringai.


Bryan mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia menjawab, " Lakukan apapun, yang penting istriku sampai di bawah dengan selamat. "


Sreeeeeeekkkk.... terdengar bunyi kresek dari interkom yang menandakan Roy sudah mengembalikan interkom itu ke tas pinggangnya.


" Aku akan menggunakan tangan kiriku untuk memegangi tubuhnya, dan kau bantulah aku menopang tubuhnya. " Roy memberikan arahan.


" Fit...Kau mendengarku? " tanya Roy saat ia sudah mengambil alih tubuh Pipit dari Bastian. Kini tubuh Pipit menyandar di tubuhnya.


Pipit mengangguk lemah.


" Baiklah. Usahakan tetap sadar. Jangan sampai pingsan. Kami akan membawamu turun. " ujar Roy. Pipit kembali mengangguk. " Sekarang, lepaskan tanganmu dari tali. " perintah Roy. Dan pipitpun melakukannya.


Kini Pipit memasrahkan tubuhnya ke Roy juga Bastian. Sedangkan ia masih menahan rasa sakit di perutnya.


" Sekarang. " Roy memberi aba-aba ke Bastian supaya mereka bisa melompat secara bersamaan.


Sreekk...Jleb.


Roy dan Bastian mengulur tali secara bersamaan dan membiarkan tubuh mereka turun tanpa harus melewati takik takik. Lalu setelah mencapai ketinggian tertentu, mereka mendaratkan kaki mereka kembali ke dinding. Bahkan Roy harus merelakan bahunya membentur dinding hanya supaya perut Pipit tidak menendang dinding. Terpaksa Roy sedikit memutar tubuhnya.


' Au...' jerit Roy dalam hati karena bahunya menendang takik dan pastinya lumayan membuat bahunya memar.


" Kau baik-baik saja? " tanya Bastian karena Bastian melihat bahu Roy yang terkena takik.


" Iya. Ayo kita lakukan lagi, biar cepat sampai bawah. " ucap Roy setelah ia membuka matanya.


' Sungguh berat euy cinta terpendam. ' batin Bastian sambil melirik ke arah Roy. Dirinya tahu jika Roy mencintai seorang Fitria istri dari seorang dokter bule.


" Sekarang. " ucap Roy. Lalu mereka kembali meluncur.


Saat di ketinggian tertentu, mereka kembali berhenti. Dan kembali, Roy merelakan bahunya untuk menendang dinding. Ia kembali meringis menahan. sakit.


" Fit..." panggil Roy.


" Hem. " Pipit menyahut dengan lirih.


Roy sedikit mengembangkan senyumnya karena ternyata Pipit masih sadar.


" Kita akan segera sampai bawah. Tinggal sedikit lagi. Tetap bertahan untuk sadar. " ujar Roy yang kembali di jawab anggukan dari Pipit.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2