
" Saudara Ahmad Dion Husein saya nikahkan engkau dengan anak saya Leora Friska Abraham binti Malik Abraham dengan mas kawin seperangkat perhiasan seberat 1122 gram dan uang tunai sebesar satu juta dua belas ribu dua puluh dua rupiah di bayar tunai. " ucap tuan Abraham.
" Saya terima nikah dan kawinnya Leora Friska Abraham binti Malik Abraham dengan mas kawin tersebut tunai. " sahut Dion dengan satu kali tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi? Sah? "
" Saaahhhh...." ucap para hadirin tamu undangan, dengan Seno dan Bryan bersuara paling keras.
Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu Dion datang juga. Yaitu hari pernikahannya dengan Leora. Dion tersenyum lega saat usai mengucapkan ijab kabul.
Setelah beberapa saat, Leora yang hari itu menggunakan baju adat Sunda datang dengan di dampingi oleh Armell yang mengenakan kebaya Jawa dan Arvin yang mengenakan batik terlihat sangat lucu dan tampan.
Armell menggandeng tangan Leora yang terlihat lumayan gugup. Bahkan ia tidak berani menatap ke depan sampai ia di dudukkan di sebelah Dion.
Setelah mengantar Leora, Armell menghampiri suaminya dan keluarganya duduk di kursi tamu paling depan. Mereka semua nampak serasi, yang para wanita mengenakan baju kebaya, sedangkan yang laki-laki mengenakan kemeja batik.
Meskipun di awal saat memutuskan tema pakaian yang akan mereka kenakan saat menghadiri pesta pernikahan Dion, Bryan menolak keras memakai batik, karena alasan aneh saja jika wajah bule seperti dirinya mengenakan batik, tapi Pipit yang berpura-pura merajuk berhasil membuatnya mengenakan kemeja batik itu.
" Suamiku asli ganteng banget. Made in Perancis tapi pakai batik Made in Jawa terlihat makin keren. " bisik Pipit memuji suaminya sambil tersenyum menggoda.
Bryan mendekatkan wajahnya ke telinga Pipit, " Kalau mau menggoda, jangan di sini. " bisik Bryan.
Pipit tertawa sambil menutup mulutnya supaya suaranya tidak terdengar.
Setelah acara ijab kabul selesai, dan mereka sudah menandatangani buku nikah serta saling bertukar cincin, pasangan pengantin baru itu segera naik ke panggung untuk menyalami tamu undangan.
" Bang, laper. " ucap Pipit sambil mengelus perutnya.
Bryan mengerutkan keningnya, " Bukankah sebelum berangkat tadi kamu udah makan mi instan kesukaan kamu itu? Makanan yang tidak sehat yang selalu kamu konsumsi. " sahut Bryan.
" Ck. Tapi ini udah lapar lagi. " rengek Pipit.
" Tahan sebentar. Nanti setelah selesai memberikan ucapan selamat, kita akan makan. " ujar Bryan karena saat itu mereka tengah berdiri mengantri untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
" Hiks... Lama banget abang...." rengeknya kembali.
" Iya, bentar lagi. " jawab Bryan.
" Ck. " Pipit tiba-tiba merasa kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya dan kepalanya ia sandarkan di lengan sang suami karena tinggi badan Pipit hanya sebatas bahu Bryan.
Bryan menepuk-nepuk tangan pipit yang melingkar di lengannya. " Sabar. " ucapnya.
Setelah mendapatkan bagian untuk memberikan ucapan selamat, Pipit segera menuju meja-meja di mana makanan telah di siapkan. Ia mengambil semua jenis makanan yang di hidangkan. Hal itu membuat Armell, Seno, juga Bryan sendiri merasa aneh. Karena selama ini, Pipit tidak pernah makan secara berlebihan.
" Istri lo kenapa jadi rakus kayak gitu? Jangan-jangan lo nggak pernah kasih makan yang enak ke dia. " seloroh Seno sambil tetap memperhatikan adik iparnya yang membawa sepiring makanan camilan dengan berbagai jenis.
" Asal aja lo ngomong. Tiap hari juga gue kasih makanan enak buat dia. Bukan cuma enak, tapi juga bergizi dan sehat. " jawab Bryan tidak terima.
" Terus kenapa adik aku jadi rakus kayak gitu ya? " kini giliran Armell yang bersuara.
" Aku juga agak bingung. Padahal tadi sebelum berangkat, dia udah makan mi instan. " sahut Bryan.
Jawaban Bryan yang membuat Seno langsung menoleh ke arahnya. " Lo bilang selalu kasih makan makanan yang sehat ke dia? Kok dia makan mi instan. "
" Lo jangan pura-pura lupa. Tadi dia makan mi instan dimana? Rumah lo kan? Tuh, si Lilik yang selalu kasih bini gue mi instan kalau main ke rumah elo. Di rumah, mana boleh gue, dia makan mi instan. " sahut Bryan.
" Mbak Lilik padahal udah sering aku kasih tahu loh jangan terlalu makan mi instan. Tapi dasarnya mbak Lilik sama mbak Siti, katanya kalau dua hari aja nggak makan mi instan seperti hambar hidupnya. Nah, si Pipit , waktu masih di kampung dulu juga paling suka makan mi instan. Almarhumah ibu dulu udah sering ngelarang, tapi dia tetep ngeyel aja. " jelas Armell.
__ADS_1
Lalu mereka kembali memperhatikan Pipit. Kini, piring yang tadinya penuh, udah kosong. Dan sekarang, Pipit sedang beralih ke meja tempat makanan berat berada. Kembali ia mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi, dan berbagai macam lauk pauk.
Setelah piringnya terisi penuh, Pipit berjalan menghampiri Bryan, Armell juga Seno.
" Kalian nggak makan? " tanya Pipit dengan mulut penuh dengan makanan.
" Lihat kamu makan segitu banyaknya aja kita udah langsung kenyang. " sahut Bryan.
Pipit langsung menghadiahi tatapan tajam ke Bryan. " Abang ngatain istri sendiri rakus? Iya? " ujarnya dengan nada kesal.
" Siapa yang bilang kamu rakus, honey. Aku hanya bilang, makan kamu banyak. " elak Bryan.
Langsung saja Bryan mendapatkan tatapan tajam dari tiga pasang mata. Bahkan Seno langsung menyenggol lengannya. Bryan melihat ke arah Seno dan melihat Seno yang berkedip sambil memelototkan matanya melirik ke arah Pipit. Saat itu, baru Bryan sadar jika apa yang ia katakan itu salah. Makan banyak, sama saja dengan rakus kan pemirsa?
Bryan menatap istrinya sembari menelan salivanya susah payah. Sudah bisa di pastikan, istrinya sedang kesal.
Tak lama kemudian, Pipit memberikan piringnya yang masih utuh isinya ke tangan Bryan. Lalu ia berlalu dari hadapan suaminya dengan wajah kesalnya dan tanpa berkata apapun.
" Honey....." panggil Bryan. Pipit tidak menggubris panggilannya. Ia masih tetap berjalan.
" Honey, nasi kamu belum kamu sentuh sama sekali ini. " seru Bryan. Tapi Pipit tetap saja tidak memperdulikannya.
" Nih, lo makan semua. " ujar Bryan sambil meletakkan piring pipit tadi ke tangan Seno, lalu ia segera berlalu untuk menyusul sang istri.
" Hei..." baru saja Seno mau protes, tapi Bryan sudah jauh.
" Adik kamu kenapa baby? " tanya Seno sambil menatap kepergian kedua orang keluarganya itu.
" Mell juga nggak tahu mas. Nggak biasanya dia seperti itu. Pipit tuh emang suka ceplas-ceplos kalau ngomong. Tapi dia itu bukan anak yang gampang tersinggung loh. Apalagi cuma omongan kayak tadi. " jawab Armell yang juga menatap kepergian dua orang tadi.
Sedangkan di luar gedung, Bryan mengejar sang istri yang berjalan dengan begitu cepat.
Bryan mengikutinya dari belakang. Ia merasa lega saat istrinya bersandar di pintu mobilnya.
" Honey, kamu mau kemana? " tanya Bryan saat ia sudah berada di dekat Pipit. Tapi istrinya itu malah membuang muka.
" Honey, pestanya belum selesai loh. Kita juga belum pamitan sama yang punya gawe. " ujar Bryan kembali.
" Aku mau pulang. " jawab Pipit ketus tanpa mau menatap suaminya.
" Iya, kita pulang nanti setelah acaranya selesai. Kita juga belum berpamitan sama mama sama papa loh. "
" MAU PULANG SEKARANG, ATAU AKU NAIK TAKSI?" ujar Pipit dengan sangat tegas dan penuh penekanan.
Melihat ekspresi wajah istrinya Bryan tidak bisa menolak, " Oke, kita pulang sekarang. " jawab Bryan pada akhirnya.
Bryan memencet remote untuk membuka kunci pintu mobil. Saat ia hendak membukakan pintu untuk istrinya, Pipit segera menepis tangannya dan membuka pintu mobil itu sendiri.
Bryan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh istrinya. Ia mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah keluarga Abraham. Resepsi pernikahan Dion dan Leora di adakan di rumah besar keluarga Abraham karena sesuai keinginan Leora, yang meminta pernikahannya di lakukan di rumah dengan sederhana tanpa banyak tamu.
Perjalanan yang di lalui Bryan dan Pipit terasa lengang. Biasanya suasana hangat akan selalu terasa saat mereka berada di dalam mobil. Saling bercanda, saling mengejek, saling menggoda. Tapi kali ini terasa sangat dingin. Beberapa kali Bryan mengusap tengkuknya.
Tiba-tiba saat berada di jalanan yang lumayan sepi, ada segerombolan pemuda yang mencegat mobilnya. Hingga mengharuskan Bryan mengerem secara mendadak mobilnya.
" Mau apa mereka? " gumam Bryan sambil menatap beberapa pemuda yang berdiri di depan mobilnya berjajar dengan membawa senjata tajam.
" Turun. " teriak salah satu dari pemuda itu sambil mengacungkan senjata yang ada di tangannya.
__ADS_1
" Ck. Masih siang bolong kayak gini mau malak? " ujar Bryan tanpa berniat turun. Sedangkan Pipit, mengepalkan tangannya sambil menatap tajam ke arah depan.
Karena Bryan dan Pipit tidak keluar dari dalam mobil sesuai keinginan para berandal itu, para berandal itu terlihat berjalan mendekati mobil.
Dok....dok...dok...
" Keluar dari dalam mobil, atau kami hancurkan mobil kalian. " bentak salah satu berandal itu.
" Rese bener mereka. Kebetulan sudah lama aku tidak melemaskan otot-ototku. " ujar Pipit sambil meremas jari jemarinya.
Pipit hendak membuka pintu mobil, tapi tangannya di cekal oleh suaminya.
" Mau kemana kamu? " tanya Bryan.
" Mau menghajar mereka. "
" Honey, no. Bahaya. Kita akan pergi dari sini. Toh mereka bod**. Mereka berada di samping mobil kita semua. Di depan sudah tidak ada orang. "
" Aku bilang mau menghajar mereka. Abang nggak denger? Aku mau meluapkan emosiku. Lumayan da lawan nyata. Daripada cuma menghajar samsak. Atau Abang mau menggantikan posisi mereka untuk jadi sasaran emosi Pipit? " ujar Pipit sambil menatap tajam ke arah suaminya.
Bryan menghela nafas dalam-dalam sambil menelan salivanya dengan susah payah. Belum juga Bryan berkata lagi, Pipit sudah membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Bryan yang melihatnya, langsung menepuk jidatnya sendiri. Akhirnya, mau tidak mau, Bryan mengikuti istrinya keluar dari dalam mobil.
" Apa mau kalian? " tanya Bryan sambil menggandeng tangan Pipit.
" Ha ..ha...ha..." segerombolan berandal itu tertawa terbahak-bahak bersamaan.
" Bodo* apa be** lo? Lo nggak lihat, kita bawa apa? " ujar salah satu berandal itu sambil mengangkat senjatanya.
" Serahkan semua benda berharga yang kalian punya. Cepat. " bentak salah satu berandal lagi.
" Hei. Banyak bac** kalian. " seru Pipit sambil menepis tangan Bryan yang menggenggam tangannya.
" Honey...."
Dug
Pipit menendang salah satu dari berandal itu dan membuat berandal itu jatuh di atas aspal. Sedangkan berandal yang lain terbakar emosi.
" Hei. Berani banget lo sama teman kita. " bentak salah satu berandal yang lain dan tanpa aba-aba berusaha memukul muka Pipit. Dan jangan tanya, Pipit yang memang jago karate, seperti Armell, bisa menghindar dengan sangat mudah.
Pipit tersenyum miring. Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Kini, mau tidak mau, ia juga harus turun tangan.
" Ayo kalian maju semua. Saya ladeni. " seru Pipit.
" Breng***! "
Dan baku hantam terjadi di jalanan yang sepi itu dua lawan lima. Pipit dan Bryan dengan lihai menghindar dari serangan musuh dan segera membalas mereka dengan pukulan dan tendangan.
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Pipit dan Bryan bisa membuat semua berandalan itu terkapar di atas aspal dengan muka bonyok, hidung dan mulut berdarah.
***
bersambung
Maafkeun ya guys.....hari ini othor update satu episode...tapi othor udah berusaha kasih yang lumayan panjang part-nya... nggak gampang loh guys menulis 1750 kata dalam satu episode. Tapi buat kelean pada, othor tetap berusaha kasih yang terbaik....
__ADS_1
Salam lope-lope sekarung beras buat kelean semua....😘😘😘