
Sedari pulang dari rumah kakak iparnya, Pipit mondar-mandir di dalam kamarnya. Setelah mandi tadi, ia langsung berdandan mempercantik diri untuk bertemu dengan sang suami. Ponsel tidak pernah lepas dari tangannya. Sesekali ia melirik layar ponselnya yang sedari tadi tidak menyala sama sekali. Sesekali juga ia menengok keluar kamar. Siapa tahu sang suami datang.
Tapi ia menunggu sampai tidak terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tetap tidak ada kabar dari sang suami. Apa mungkin Bryan akan datang esok hari?
Ah. Berbagai macam spekulasi mampir di otak cerdas milik Pipit. Apa mungkin suaminya itu ada operasi mendadak sehingga tidak bisa datang?
Pipit menimang-menimang ponsel di tangannya. Ingin sekali ia menscroll layar ponselnya untuk mencari nama suaminya, tapi ia tidak cukup percaya diri. Takut mengganggu, itu alasannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk turun ke bawah. Mencari teman bicara untuk menghilangkan kegalauan yang kemarin sudah sempat hilang. Siapa tahu mama Ruth sudah pulang.
Sampai di bawah, ia bertemu dengan mama Ruth dan tuan Adiguna yang baru saja masuk ke dalam rumah.
" Mama..." panggil pipit.
" Sayang...Duh, maafin mama ya. Mama mengajak kalian makan malam malah tiba-tiba papa mengajak mama bertemu teman lamanya. "
" Nggak pa-pa ma. " sahut Pipit sambil tersenyum.
" Kalian sudah makan malam kan pastinya. Si anak bule mama pasti sudah mengajak kamu makan malam ya. "
" Anak bule? " Pipit mengernyit.
" Suami kamu. Siapa lagi? "
" Abang bule? Kok mama bisa berpikir kalau bang bule ajakin Pipit makan malam? "
" Kan tadi sore dia datang kesini, nyariin kamu. Terus mama bilang aja kamu lagi di rumah kakak kamu. Dia bilang mau jemput kamu terus ajakin kamu makan malam di rumah ini. Soalnya tadi mama minta kalian untuk makan malam di sini. "
" Bang Bryan tadi sore kesini ma? Terus dia bilang mau jemput Pipit? "
" iya. Dia bahkan sangat buru-buru tadi saat mau menjemputmu. Seolah-olah dia sudah sangat merindukanmu. " ujar mama Ruth sambil tersenyum menggoda.
" Beneran ma? Tapi tadi Pipit nggak ketemu sama Abang bule ma. "
" Loh, kok bisa? " tanya mama Ruth tak percaya. " Coba kamu telpon deh. Coba tanyain. " titah sang mama.
" Iya deh ma. " sahut Pipit. Ia langsung menghidupkan layar ponselnya dan segera menscroll mencari nama sang suami.
Setelah menemukan nama ' Abang bule ' , Pipit langsung menekan tombol telepon.
Tut...Tut ..Tut ..nomer yang anda tuju sedang berada di luar servis area...
Pipit menjauhkan ponsel dari telinganya. " Nggak bisa di telpon ma. Mbak Vero yang jawab. "
" Ha? Siapa itu mbak Vero? Dasar anak kurang aj*r...Bilangnya udah insyaf! Ini malah bawa perempuan lagi. " ujar mama Ruth dengan wajah memerah menahan emosi.
" Perempuan siapa ma? " Pipit ikut-ikutan panik.
__ADS_1
" Lha tadi mbak Vero. Dia yang jawab teleponnya kan? Berarti dia lagi sama perempuan lain. " ujar sang mama.
Pipit langsung menepuk jidatnya sendiri. " Ma...Mama sayang, mbak Vero itu operator telepon. Ponselnya bang bule sedang tidak aktif. "
" Ooohhh...." mama Ruth manggut-manggut. " Coba ulangi lagi deh. "
Pipit mengangguk, lalu ia kembali menekan tombol telepon di nama Abang bule.
Tut...Tut ..Tut .. nomer yang anda tuju sedang berada di luar servis area.
" Masih sama ma. Ponsel Abang mati. " ujar Pipit.
" Ah, mungkin dia ada pasien gawat, dan harus di Operasi. Jadi ponselnya di matikan. Paling, besok juga sampai sini lagi. " ujar sang mama.
" He em. " sahut Pipit.
" Kamu udah makan sayang? " tanya mama Ruth sambil merangkul bahu Pipit.
" Sudah ma, tadi habis sholat isya. "
" Ya udah, kamu istirahat aja dulu. "
" Iya ma. Pipit ke kamar dulu ya ma. Malam ma. " pamit Pipit sambil mencium pipi kanan mama Ruth.
" Malam, sayang. " sahut mama Ruth sambil membelai pipi Pipit.
Akhirnya Bryan memutuskan untuk mengambil penerbangan malam itu juga. Toh berangkat besok pagi maupun berangkat malam ini, sama saja bagi Bryan. Istri kecilnya juga tidak akan ikut ke Perancis dengannya. Mengingat hal itu membuat Bryan kembali harus menghela nafas panjang.
Ia segera mengganti nomer ponselnya dengan nomer Perancis. Lalu ia mengirim pesan ke Seno.
📩 Bro, gue berangkat ke Perancis malam ini. Paman bilang penyakitnya semakin parah.
Isi dari pesan Bryan. Lalu ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa saat kemudian, penumpang dengan tujuan Perancis sudah di panggil untuk segera masuk ke dalam pesawat.
Di lain tempat, Seno membuka dan membaca pesan dari Bryan.
" Anak ini. Selalu saja seperti ini. " gumam Seno setelah ia membaca pesan dari Bryan. Ia akan selalu khawatir terhadap sahabatnya jika sahabatnya itu bilang akan pergi ke Perancis. Bryan selalu tidak baik-baik saja sepulang dari Perancis. Bahkan pernah suatu ketika, ia harus berangkat ke Perancis, karena mendapat kabar jika sahabatnya itu harus di rawat di rumah sakit karena saking paniknya Bryan bertemu sang bibi dan perempuan yang pernah membullynya habis-habisan, Bryan jatuh pingsan.
" Kenapa mas? " tanya Armell.
" Bryan. Dia bilang harus berangkat ke Perancis malam ini juga. "
" Bukannya dia akan berangkat besok ya? Bukannya dia juga akan membawa Pipit? "
" Aku juga tidak tahu, baby. Dia hanya bilang kalau pamannya sakitnya semakin parah. "
" Coba kamu telepon dia mas. "
__ADS_1
" Iya, ini aku sedang mencobanya. Tapi sepertinya ponselnya mati. " Seno menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu memencet ikon telepon kembali. Masih tetap sama.
" Tidak bisa. Ia juga tadi mengirimiku pesan menggunakan nomer Perancis. Itu berarti ia sudah ada di bandara. Ah, anak itu selalu saja membuatku khawatir. " umpat Seno.
" Oh iya mas, dia bilang kan akan pergi sama Pipit. Coba Mell hubungi Pipit. Siapa tahu bisa. " ujar Armell, ia lalu segera mengambil ponselnya, dan menghubungi pipit. Setelah beberapa kali mencoba, ponsel Pipit tidak bisa di hubungi.
" Nggak bisa juga mas. Mungkin mereka sudah masuk ke pesawat. Jadi ponselnya di matikan. "
" Syukurlah jika Pipit jadi pergi sama dia. Bryan bilang, traumanya bisa ia kendalikan saat Pipit berada dalam pandangan matanya. " Seno nampak menghela nafas lega.
" Ya udah. Besok kita coba menghubungi mereka lagi. Sekarang kita istirahat aja dulu. " ajak Armell.
Seno segera menaruh ponselnya di atas meja dan ia segera mengangkat tubuh Armell.
" Mas .." pekik Armell terkejut.
" Apa sih beb? "
" Kaget tahu nggak. Mas ngapain gendong-gendong Mell? "
" Kangen baby. Beberapa malam kamu nyuekin aku terus. "
" Ck. Kan mas tahu sendiri, Danique agak nggak enak badan. Jadinya dia rewel terus. "
" Makanya, sekarang mumpung Dan sedang anteng, kita ngadon adik buat dia. " bisik Seno dengan mengerlingkan matanya.
" ihh, mas ah...Ganjen tahu, pakek ngerlingin mata segala. Geli tahu ngelihatnya. " protes Armell.
Tanpa basa-basi, Seno langsung merebahkan tubuh Armell di atas tempat tidur dan mulai menempelkan bibirnya ke bibir Armell. Ia melu**** bibir itu dengan penuh ga**ah.
Ketika sedang asyik-asyiknya, Armell mendorong tubuh Seno, dan menghentikan aktivitasnya.
" Mas tadi bilang mau ngadon adik buat Dan? Nggak ya mas...Mell nggak mau kalau gitu. " protes Armell dengan nafas tersengal-sengal.
" Kok nggak mau? "
" Mell kan udah pernah bilang mas. Bikin adik buat Dan, besok kalau Dan udah dua tahun. Kasihan kalau dia harus punya adiknya sekarang. "
" Haduh, baby. Yang aku bilang tadi hanya istilah. Aku janji, Danique akan punya adik nanti setelah dia dua tahun. Kita cuma buat adonannya sekarang, tapi jadinya dua tahun lagi. Come on baby, Martinez udah ngeluh nih. " ujar Seno.
" Beneran ya mas. Pakai pengaman. Mell belum ikut program KB loh ini. " ucap Armell.
Seno mengangguk, lalu kembali menyerang Armell tanpa ampun. Bahkan mereka melakukannya berulang-ulang sehingga membuat Armell kelelahan dan langsung jatuh tertidur pulas.
***
bersambung
__ADS_1