
" Ssshhhh.... Pelan-pelan bang... sakit...perih..." rengek Pipit manja saat bagian bawahnya di olesi salep oleh suaminya.
Mendengar istrinya kesakitan, sambil mengoles salep, Bryan meniupnya pelan untuk mengurangi rasa perihnya.
" Udah. " ucap Bryan sambil mengambil ****** ***** milik Pipit dan memakaikannya. Bryan memperlakukan Pipit bagai seorang putri. Pipit menjadi tersanjung oleh perlakuan Bryan selama menjadi istrinya. Ia tidak pernah menyangka kalau Bryan akan begitu manisnya. Selama ini Pipit mengira, Bryan hanya bisa menggombal ke cewek-cewek.
" Abang..."
" Hem? " Bryan menoleh sebentar ke Pipit sebelum melanjutkan aktivitasnya memakaikan baju ke istrinya itu.
" Apa sebelumnya abang juga berperilaku manis seperti ini sama perempuan-perempuan yang habis bermain sama abang? " tanya Pipit hati-hati.
Bryan tersenyum, lalu ia duduk di hadapan Pipit sambil merengkuh tubuh Pipit masuk ke dalam pelukannya. Ia memeluk Pipit sebentar sambil mengecup kening Pipit.
" Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. " jawab Bryan mantap sambil menatap netra coklat milik Pipit. " Sehabis aku memakai mereka, maka aku akan langsung meninggalkan mereka tanpa pernah mau tidur satu ranjang dengan mereka. " lanjutnya.
" Kenapa? Abang memperlakukan mereka berbeda dengan saat Abang sama Pipit? "
" Ya jelas beda, honey. Pertama, karena kamu adalah istriku. Kedua, karena aku sangat mencintaimu. Dan hanya mencintaimu. Ketiga, melakukan dengan yang halal, rasanya jauh lebih nikmat. Keempat, karena istriku masih tersegel. Jadi kamu kesakitan saat aku melakukannya, dan setelah kita melakukannya. " sahut Bryan.
" Emang perempuan-perempuan yang dulu nggak kesakitan saat di serang sama ular piton Abang? "
" Ya nggak mungkin mereka kesakitan, honey. Karena bagi semua perempuan-perempuan itu, bukan aku yang pertama buat mereka. "
Pipit membelalakkan matanya karena terkejut, " Kok bisa? Berarti orang sini banyak yang melebihi batas ya? "
" Bisa jadi. Aku juga tidak tahu kenapa mereka berkelakuan seperti itu. "
" Abang kecewa dong saat melakukannya, dan ternyata mereka sudah jebol duluan? "
Bryan menggeleng sambil tersenyum, " Tidak. Karena aku tidak berniat merusak masa depan seorang gadis. Aku memang sengaja melakukannya dengan yang sudah pernah. "
" Jadi honey, aku sama sekali tidak pernah memperlakukan perempuan manapun seperti aku memperlakukan kamu. Karena hanya kamu gadis yang berhasil membuatku jatuh cinta. "
" Tapi sekarang nggak gadis lagi. "
" Iya. Tapi itu membuatku lebih mencintaimu lagi. Karena aku yang membuatmu tidak gadis lagi. " ujar Bryan sambil mengusap rambut Pipit. " Sekarang kamu istirahat dulu bentar. Biar obatnya merasuk, dan tidak sakit lagi. Habis itu, kita turun, makan malam ke restoran. Tadi siang kita tidak sempat makan siang. "
" Salah siapa coba kita nggak makan siang? "
" Iya, salah aku. I am sorry. " ujar Bryan sambil tersenyum.
Pipit melingkarkan tangannya ke tubuh Bryan. Menelusupkan kepalanya di dada bidang milik Bryan. Mengecup kecil dada bidang itu.
" Honey, jangan mancing lagi. Dia sudah tidur anteng ini. Jangan di bangunkan. Kalau kamu bangunkan, milik kamu bisa bengkak lagi sebelum sembuh. " pinta Bryan menggeram.
__ADS_1
Pipit mendongak, lalu tertawa menampilkan jejeran giginya yang putih. Lalu ia kembali menyandarkan kepalanya di dada Bryan.
🧚
🧚
Pipit dan Bryan sekarang sedang dalam perjalanan pulang setelah menginap di hotel berbintang milik keluarga Permana selama dua malam.
Pagi tadi, sebelum mereka meninggalkan hotel, mereka membuat satu kali lagi kenangan indah di kamar hotel mewah itu. Mereka mengulangi kegiatan mereka seperti di pagi hari sebelumnya. Bergulat, berpacu, dan bergerilya sebelum mereka meninggalkan kamar hotel.
" Bang, kok kita jalan kesini? Ini kan jalan ke rumah bang Seno. " Pipit menatap jalanan yang ada di depan, kanan, dan kirinya. Pipit berpikir, suaminya akan membawanya pulang ke apartemen. Bukankah mereka sepakat setelah acara resepsi, Bryan akan membawanya tinggal bersama? Tapi ini, yang Pipit lihat, jalanan yang mereka lalui adalah jalanan menuju rumah kakak iparnya.
" Bang, abang mau nyuruh Pipit tinggal di rumah bang Seno lagi?? " tanya Pipit kembali sambil menoleh ke arah suaminya. Ia kembali bertanya karena sang suami tidak menjawab pertanyaannya.
" Bukankah abang bilang, setelah kita resmi menikah secara hukum dan agama, terus habis acara resepsi, Abang bule bakalan ngajak Pipit pindah tinggal sama Abang? " tanyanya lagi.
" Kita memang akan tinggal bersama. " jawab Bryan enteng sambil tersenyum dan menoleh sekilas ke Pipit.
" Maksudnya, Abang bakalan tinggal di rumah bang Seno, gitu? Yakin Abang mau ngajak Pipit tinggal di sana? Abang nggak cemburu kalau Pipit sering ketemu sama bang Damar? " tanya Pipit lagi.
" Nanti kamu juga bakalan tahu. Udah ah, jangan kepo. Kepo itu menyiksa loh. Kalau masalah Damar.... cemburu sih, dikit doang. Kan dia sekarang udah mau berbaikan sama istrinya. Bahkan Damar membeli sebuah apartemen di kalangan elit untuk tempat tinggal mereka. Dia bilang, mau memberi tempat tinggal yang layak buat anak yang akan lahir kelak, juga sama istrinya. " jelas Bryan.
Akhirnya Pipit diam, tidak bertanya lagi. Benar apa yang di katakan suaminya, kepo itu menyiksa. Lahir dan batin. Mending dia mengikuti alur saja. Toh, sebentar lagi dia juga akan mendapatkan jawaban.
Benar sekali. Saat mobil yang di kendarai suaminya masuk di perumahan elit yang sama dengan rumah kakak iparnya, Pipit agak memicingkan matanya. Tapi saat mobil itu hanya melewati depan rumah kakak iparnya dan malah berhenti di depan rumah persis sebelah rumah kakak iparnya, sepertinya Pipit tahu jawabannya. Apalagi dia melihat mobilnya terparkir cantik di depan rumah itu.
Tanpa menunggu lama, Pipit segera turun dari mobil. Ia menatap rumah itu kagum. Rumah yang tidak terlalu besar, minimalis, tapi sangat indah dan terkesan mewah.
" Ini kejutannya. " ucap Bryan dengan wajah berbinar.
Tapi di tanggapi Pipit dengan biasa saja. Ia tidak terlihat terkejut sama sekali. Tidak seperti ekspektasi Bryan, yang saat dia bilang kalau rumah itu kejutan untuk istrinya, istrinya itu akan langsung berjingkrak dan memeluk dirinya.
" Kalau ini mah Pipit udah tahu sebenarnya. "
" Kok bisa? " tanya Bryan menyelidik.
" Kan Pipit beberapa kali lihat Abang di sini waktu rumah ini masih dalam proses pembangunan. Sebenarnya Pipit bertanya-tanya sih waktu itu. Tapi Pipit membuat kesimpulan sendiri kalau rumah ini pasti milik Abang. " jawab Pipit enteng.
" Ck. Meskipun begitu, pura-pura terkejut, terus girang, kan bisa? " gerutu Bryan dengan suara pelan.
Tapi tak urung, Pipit mendengar gerutuan suaminya itu. Ia tersenyum, lalu tanpa aba-aba, ia memeluk tubuh suaminya erat. Ia membelitkan kedua tangannya di punggung suaminya. Dan meletakkan kepalanya di dada bidang Bryan.
" Makasih, Abang. Maaf kalau Pipit nggak terkejut. Kalau di suruh pura-pura terkejut, Pipit juga nggak bisa. Tapi pipit seneng banget Abang buat rumah buat kita. Apalagi rumahnya berdampingan dengan rumah mbak Mell. " ujar Pipit, membuat Bryan terkekeh.
Memang benar-benar sesuatuhhhh istrinya ini. Tidak suka basa-basi, suka to the point, kadang tidak tahu malu juga. Bryan tersenyum lebar sambil membalas pelukan istrinya dan mencium puncak kepala Pipit.
__ADS_1
" Ayo kita masuk. Kamu belum lihat dalamnya seperti apa kan? " ajak Bryan.
Pipit mengangguk, lalu mereka berjalan saling bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.
" Surprise...." teriak semua orang yang ada di dalam rumah itu saat Pipit dan Bryan masuk ke dalam rumah. Terkejut, so pasti. Bukan hanya Pipit saja yang terkejut. Tapi juga Bryan. karena dia tidak tahu menahu tentang kejutan dari keluarganya. Tuan dan nyonya Adiguna, Seno, Armell, baby Dan, Damar, Dion, Rezky, Siti, Lilik, Arvin, juga Leora yang di undang khusus oleh Dion.
Semua berkumpul, rumah di hias sedemikian rupa sehingga nampak lebih cantik. Bahkan nyonya Ruth yang paling heboh, sampai mendatangkan tukang dekorasi rumah.
Banyak makanan yang tersedia. Camilan dan beberapa minuman. Rumah itu nampak ramai oleh pesta kecil-kecilan yang di rancang oleh sang ibu negara.
Setelah acara peluk-pelukan, mereka saling ngobrol. Laki-laki membuat kelompok sendiri, dan para wanita juga membuat kelompok tersendiri.
Danique bagitu anteng dalam pangkuan ontynya. Sedangkan Arvin anteng dalam pangkuan Armell.
" Bagaimana Pit? Udah gol ? " tanya Nyonya Ruth tanpa basa-basi.
Pipit tersenyum malu-malu. " Udah dong ma. Masak di bela-belain nginep di hotel berbintang tapi belum nyetak gol. " jawabnya.
" Nggak kamu tendang kan uncle B waktu dia unboxing kamu? " tanya Armell.
" Ihh, nggak lah mbak. Masak iya suami sendiri di tendang. Meskipun hampir sih...he...he...he... habisnya sakit. " ucapnya lirih.
" Ha...ha...ha..." para wanita tertawa bersama-sama.
Melihat para wanita yang tertawa terbahak-bahak, para lelaki menoleh ke arah mereka. Apalagi si Dion. Dia yang sedang gencar-gencarnya modusin si Leora, juga ikut melirik ke arah Leora yang nampak ikut tertawa juga.
" Gimana rasanya unboxing anak gadis? " tanya Seno ke Bryan sambil mengupas kulit kacang.
" Wiiiisss....Mantap broooo....Tiada duanya. " jawab Bryan penuh semangat.
" Benar kan apa kata papa dulu? Perawan itu lebih menggigit. " tambah tuan Adiguna.
" Papa benar sekali. Saking menggigitnya, jadi pengen terus. " jawab Bryan.
" Jangan terlalu vulgar. Ada yang belum punya pasangan gulat entar malam. " sahut Seno sambil melirik ke arah Dion dan Rezky.
" Tuan tenang saja, tidak lama lagi saya juga saya akan menghalalkan Ikke. Saya juga akan merasakan yang menggigit. " jawab Rezky.
Sedangkan Dion, hanya memasang wajah kesalnya.
" Sudahlah Yon. Leora juga sama menggigitnya. Dia juga baru sekali kepakeknya. " ujar tuan Adiguna.
" Tuan tenang saja. Saya sudah mantap memilih dia. Mau menggigit ataupun tidak, yang penting saya masih bisa menggigitnya. Paling tidak, saya tidak akan merasa bersalah jika harus melihat dia meringis kesakitan saat saya menggigitnya. " jawab Dion.
Hah...Selalu saja pembicaraan yang unfaedah yang tercipta.🤦🤦
__ADS_1
***
bersambung