
" Ck. "
" Bang Dion....."
Dion kembali berpikir apakah ia memang harus bertanya kepada Seno atau tidak.
" Bang..."
" Sen, kamu waktu malam pengantin sama istrimu ngapain? Oh, maksudku, waktu malam pengantin, bagaimana kamu merayu istrimu? " tanya Dion.
" Bang...nggak salah nih seorang Casanova yang sudah sering bermalam dengan banyak wanita, bertanya seperti itu kepadaku? " sahut Seno sambil menahan tawanya. Tidak mungkin ia tertawa sekarang karena Danique tengah tertidur.
" Seno Adiguna, aku bertanya serius. "
" Oke...oke...bang Dion kan tahu sendiri aku tidak ada malam pengantin. Malam pengantinku aku lalui dengan menahan hasratku. "
" Oh iya, aku lupa. Kamu kan mengenaskan waktu itu. "
" Ck. Abang. "
" Kalau begitu, bagaimana malam pertamamu dengan istrimu? Bagaimana kamu merayunya sehingga akhirnya dia mau menghabiskan malamnya bersamamu. "
" Bang... Bukankah bang Dion ahlinya? Bukankah bang Dion sudah sering merayu banyak perempuan hingga mau mengakhiri malamnya denganmu. "
" Yang ini beda. Kau tahu sendiri Leora bagaimana terhadapku. Aku mendekatinya selama berbulan-bulan saja, ia tetap susah aku dapatkan. Udah gitu, sampai sekarang dia masih saja memanggilku tuan. Padahal aku ini sudah menjadi suaminya. Jadi sekarang aku bingung, bagaimana aku mengajaknya menghabiskan malam indah bersamaku. Aku jadi tidak yakin. " ujar Dion yang di akhiri dengan *******.
" Bang...Leora saat ini, mau nggak satu kamar sama bang Dion? " tanya Seno.
" Ya. Dia berada di kamar yang sama denganku. "
" Ya sudah, tunggu apalagi. Jangan kelamaan, keburu dia tidur. Yang penting, pertama buat dia tidak merasa canggung lagi sama bang Dion. Habis itu, keluarkan jurus rayuan mautmu. " ujar Seno.
" Kau itu. Kalau cuma seperti itu juga aku tahu. Yang aku tanya itu, bagaimana membuatnya tidak canggung? "
" Bang, masing-masing manusia itu punya caranya sendiri. Bang Dion tidak bisa bertanya padaku bagaimana meluluhkan istriku waktu pertama kali. Karena sifat istriku dan istrimu tentunya berbeda. Naluri bang. Naluri. Gunakan naluri untuk merayunya. " ujar Seno.
" Ya udah, aku tutup teleponnya. "
Tut...Tut ..Tut ..Dion menutup panggilan itu begitu saja.
__ADS_1
" Aku harus buru-buru menyelesaikan kegiatanku ini. Kalau tidak, bisa-bisa Leora sudah tertidur. " gumam Dion. Dion buru-buru menggosok gigi dan membersihkan mukanya secara kilat.
Setelah selesai, Dion buru-buru keluar dari dalam kamar mandi. Di lihatnya, ternyata Leora masih duduk di depan meja rias menyisir rambutnya yang sebahu.
Dion berjalan mendekati Leora. Melihat Dion menghampiri, Leora segera berdiri dari duduknya.
" Nona... "
" Tuan..."
Lagi-lagi mereka berucap bersamaan.
" Tuan dulu. Tadi kan sudah saya duluan yang bicara. " ujar Leora sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dion tersenyum. Senyuman yang selalu bisa membuat jantung Leora berdetak lebih kencang.
" Nona... Bagaimana kalau mulai sekarang kita memanggil langsung nama saja. Sekarang kita sudah resmi suami istri. Rasanya lucu saja kalau nona Leora masih memanggilku tuan. " pinta Dion.
Pipit tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. " I-iya. Tadi saya juga sempat berpikir seperti itu. Aneh juga jika kita masih saling memanggil tuan dan nona. " ujar Leora.
" Jadi, saya harus memanggil anda apa? " tanya Leora.
" Sepertinya kurang sopan. Anda kan suami saya. Mmmm.... bagaimana kalau saya memanggil Aa'? " tanya Leora.
Dion tersenyum, " Boleh juga. " jawabnya. " Dan aku akan memanggilmu ' sayang '. Bolehkah? "
Leora mengangguk dengan malu-malu. Dion jadi ikut-ikutan tersenyum sambil tersipu malu. Lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Lucu sekali mereka. Maklumlah, menikah tanpa pacaran atau dekat satu sama lain terlebih dahulu.
" Kita tidur sekarang? " tanya Dion. Sungguh pertanyaan yang aneh dan kaku.
" Hah? " Leora sedikit terperanjat. " I-iya. " jawab Leora terbata.
Lalu mereka berdua sama-sama berjalan menuju ranjang. Ranjang yang telah di hias sedemikian rupa untuk pengantin baru. Bunga-bunga bertaburan di atas ranjang, menutupi hampir seluruh ranjang. Mereka naik ke atas ranjang sama-sama, Dion dari kanan dan Leora dari sisi kiri.
Di atas ranjang, suasana kembali canggung. Mereka mau merebahkan tubuhnya, tapi masing-masing di buat salah tingkah.
" Mmm....Sa-sayang...." panggil Dion sambil menggosok tengkuknya.
Leora spontan menoleh. Jantungnya kembali berdebar kala mendengar Dion memanggilnya sayang.
__ADS_1
" E hem. " Dion berdehem menata hati untuk memulai kata-katanya. Ia menggeser tangan kirinya perlahan sampai ke tangan Leora.
Agak terkejut. Itu yang Leora rasakan saat tangan suaminya itu meraih dan menggenggam tangannya Leora memandang ke sembarang arah.
Sedikit demi sedikit, Dion mulai menggeser duduknya hingga mendekati leora, saat ia merasa tidak penolakan saat ia menggenggam tangannya.
Leora menoleh ke arah Dion, dan ternyata, Dion pun sedang menoleh ke arahnya. Hidung mereka saling bersentuhan kala mereka sama-sama menoleh. Terkejut, dan bagai ada sengatan listrik, Leora terpaku. Melihat dari jarak yang begitu dekat wajah tampan suaminya itu.
Leora mengedip-ngedipkan matanya yang membuat bulu mata lentiknya bergoyang. Dion mengecup bibir Leora. Hanya mengecup. Menempelkan bibirnya ke bibir Leora. Leora masih terdiam karena terpaku. Matanya pun membelalak menatap suaminya yang menjadi sangat dekat.
Merasakan suatu benda kenyal menempel di bibirnya, jantung Leora berdebar makin kencang. Ingin rasanya ia menjauh dan melepas bibir suaminya. Tapi hatinya berkata lain. Ia sangat ingin merasakan ciuman. Karena ia belum pernah merasakannya selama ini. Jikalau pun dulu ia pernah di cium oleh Robert, Daddy-nya Arvin, ia sedang dalam keadaan tidak sadar alias mabuk. Dan ia juga tidak mengenal laki-laki itu.
Leora memejamkan matanya merasakan benda kenyal itu. Melihat Leora memejamkan matanya dan tidak menolak, Dion semakin memberanikan diri untuk mencium. Bukan hanya sekedar kecupan. Ia mulai melu*** bibir seksi itu. Bahkan tangannya ia taruh di belakang tengkuk Leora untuk memperdalam ciumannya.
Leora yang memang belum berpengalaman, hanya diam saja tidak merespon atau membalas ciuman suaminya. Ia hanya berusaha menyelami sambil mempelajari.
Dion menggigit kecil bibir bawah Leora dan membuat Leora sedikit terkejut hingga membuka mulutnya. Kesempatan yang diinginkan oleh Dion. Ia segera mengeksplor isi mulut istrinya menggunakan lidahnya.
Aneh. Itu yang Leora rasakan. Tapi hal aneh itu sangatlah menyenangkan. Dion tersenyum tipis saat merasakan sedikit demi sedikit, Leora mulai membalas perlakuannya. Meskipun masih sangat kaku, tapi Dion menyukainya.
Tangan Dion merambat turun ke leher. Mengusap leher Leora sekilas, kemudian semakin ke bawah lagi. Saat tangannya sudah berada di atas resleting baju istrinya yang berada di punggung, Dion menghentikan ciumannya.
Mereka saling berpandangan dengan kabut gai***.
" Bolehkah aku melakukannya? " tanya Dion dengan suara beratnya.
Masih sambil menatap wajah suaminya, Leora mengangguk perlahan. Bagaikan sebuah air di gurun pasir, Dion segera melanjutkan aktivitasnya Ia merebahkan tubuh istrinya. Lalu ia mulai membuka baju istrinya satu persatu tanpa melepas pagutan bibir mereka.
Selesai istrinya dalam keadaan polos, Dion pun segera melepas pakaiannya semua. Leora sedikit membuang pandangannya ke sembarang arah karena merasa malu saat melihat tubuh polos suaminya. Bahkan cacing Dion sudah berubah bentuk menjadi seekor Anaconda.
Tak lama, Dion kembali mengungkung tubuh istrinya dan menikmati setiap jengkal tubuh istrinya. Leora mulai mende*** tidak karuan saat bibir Dion mulai bermain di puncak da**nya. Desa*** yang membuat Dion semakin menggila. Tapi ia tetap memperlakukan Leora dengan sangat lembut. Bahkan kala ia mulai melakukan penyatuan, Dion melakukannya secara perlahan. Meskipun bukan yang pertama, tapi Dion ingin memberikan pengalaman indah untuk istrinya. Pengalaman yang tidak akan pernah Leora lupakan. Dion tahu, meskipun ia bukan yang pertama, tapi bagi Leora, malam ini adalah pengalaman pertamanya.
Bahkan saat Dion melakukan penyatuan, Leora sedikit menahan rasa sakit. Bagaimanapun ia hanya pernah di masuki sekali dan itupun sudah sangat lama. Jadi, milik Leora masih terasa sempit bagi Dion yang Anaconda lumayan besar meskipun tidak sebesar ular piton Bryan.
Setelah sama-sama mengalami pelepasan, Dion melepas penyatuan mereka, dan segera berguling ke sebelah Leora. Ia mengecup kening Leora sambil mengatakan, " Terima kasih banyak, sayang. Aku mencintaimu. " Lalu Dion menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya yang masih polos. Mereka segera masuk ke alam mimpi setelah malam yang panjang itu.
***
bersambung
__ADS_1