Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Yang gantengnya itu.....


__ADS_3

Hari berganti dengan minggu. Setelah acara jalan-jalan dadakan singkat waktu itu, Bryan dan Pipit kembali ke rutinitas mereka. Bryan kembali ke rumah sakit dan Pipit kembali kuliah. Karena sudah sering ijin cuti, jadi mereka memutuskan untuk menunda acara honeymoon mereka. Mereka akan menunggu saat Pipit sedang liburan akhir semester.


" Hari ini, kuliah jam berapa ? " tanya Bryan ketika mereka sedang sarapan.


Setelah tinggal di rumah baru, Pipit selalu mengharuskan mereka berdua untuk sarapan di rumah. Dia juga sekarang sudah mulai pintar memasak. Ia sering belajar memasak dari Lilik, pembantunya Seno di saat ia pulang dari kampus.


" Ada kuliah umum jam sembilan. Pihak kampus bilang, akan ada seorang dokter terkenal yang mengisi kuliah umum itu. " sahut Pipit.


Bryan tersenyum tipis, " Siapa nama dokternya? "


Pipit mengendikkan bahunya. " Lupa. Eh, nggak tahu ding. " jawab Pipit asal.


Bryan menghela nafas berat. Ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu sang istri jika dokter yang di undang oleh kampusnya adalah dia. Bryan ingin tahu, bagaimana kehidupan kuliah istrinya.


" Bang, Pipit berangkat dulu ya. Takut terlambat. Udah jam delapan. "


" Kuliahnya kan masih jam sembilan, honey. "


" Iya kan mahasiswa harus datang lebih dulu. Masak iya, pembicaranya udah masuk ruangan, Pipit malah baru nongol. Ogah kalau di hukum sama dosen. " cerocos Pipit.


" Ya udah, hati-hati di jalan. Beneran nggak mau berangkat bareng? " tanya Bryan.


" Nggak usah. Pipit bawa mobil sendiri aja. Kasihan Abang kalau harus mondar-mandir. Assalamualaikum " pamit Pipit lalu ia menyalami suaminya dan mencium punggung tangannya.


" Waalaikum salam, hati-hati. " sahut Bryan lalu mengecup kening Pipit.


🧚


🧚


" Katanya, dengar-dengar berita, nanti pembicaranya itu dokternya ganteng loh. Kece badai busway pokoknya. " ujar sahabat Pipit yang bernama Naomi.


" Masak?? Denger dari mana? " tanya Pipit.


" Itu... mahasiswa yang lain pada ngomongin. " sahut Naomi.


Mereka berdua sedang jalan beriringan menuju auditorium yang berada di gedung tengah, dekat dengan fakultas ekonomi.


" Lo pasti bakalan suka. " tebak Naomi.


" Nggak bakalan. Kan kamu tahu sendiri aku udah.." ucap Pipit. " punya Suami. " bisiknya. " Yang gantengnya itu ...beuh ....buju buneng dah...di Jakarta ini nggak bakal bisa nemuin yang kayak laki aku. Jangankan di Jakarta, di Indonesia aja nggak ada. " ucap Pipit dengan bangganya.


Tapi Naomi malah mengerutkan dahinya. " Maksud Lo ape? Ya kagak ade lah. Pan laki lo kagak kembar, oneng. " ujar Naomi dengan logat Betawi nya.


" Kamu tuh yang oneng. Ya jelas nggak ada yang sama lah kalau carinya orang indo. Kan suami aku bule...Asli Perancis. Asli Made in Perancis kalau di kasih label. "


" Busyeeet... Beneran laki lo orang Perancis? Nggak percaya gue. " elak Naomi.


" Serah deh ah. " jawab Pipit.


" Oke. Berarti entar kalau beneran dokter yang di undang di mari itu cakep, Lo nggak boleh naksir. Jatah gue itu berarti. " ucap Naomi.


" Iya. Sono ambil deh. "


" Pit....Pipit.... Fitria..." panggil seseorang.

__ADS_1


Pipit menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang memanggilnya.


" Ada suare tapi kagak ade wujud. " ucap Naomi. " Lo juga denger kan, ada yang manggil-manggil elo? " tanyanya.


" Iya. Ini juga lagi gue cari mahkluknya ada di mana. " sahut Pipit.


" Beneran Fitria. " orang yang manggil Pipit tadi tiba-tiba ada di sebelah Pipit.


" Astaghfirullah haladzim...." pekik Pipit dan Naomi berbarengan.


" Kataknye sape sih???? Yang di biarin loncat di mari???" seru Naomi karena terkejut.


" Bukan katak semprul. Mahluk berjenis manusia ini. " sahut Pipit.


" Roy...??? Kamu kok .." ucap Pipit.


Tidak di sangka dan tidak di duga, Pipit hari ini bertemu dengan mantan kekasihnya waktu di SMA dulu. Roy Dewantara, kekasih terakhir dari Pipit sebelum dia menikah dengan Bryan. Kenapa cowok itu bisa ada di Jakarta? Di kampusnya lagi. batin Pipit.


" Hai, apa kabar Fitria? " tanya Roy sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Pipit.


Pipit nampak ragu menerima uluran tangan Roy. Dosa nggak sih udah punya suami tapi bersentuhan sama laki-laki lain? Tanya Pipit bimbang. Ah, nggak kali ya. Kan cuma salaman ini, nggak menaikkan syahwat. batinnya lagi.


Dengan masih ragu, akhirnya Pipit menerima uluran tangan dari Roy.


" Apa kabar? " tanya Roy kembali.


" Baik. Kamu sendiri gimana? " tanya Pipit.


" Aku juga baik. Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi. Nggak nyangka ya. "


" Aku memutuskan kuliah di sini saat aku dengar kamu tinggal di Jakarta dengan kakak kamu. "


" Kok gitu? "


" Iya. Karena aku masih belum bisa move on dari kamu. Aku berharap, setelah aku tinggal di Jakarta, aku bisa bertemu kamu lagi. Dan sepertinya Tuhan mendengar doaku. Hari ini, kita bisa bertemu lagi. " ujar Roy sambil tersenyum manis.


' Mampus lo Pit....Siapa suruh dulu kamu main mau aja pas dia nembak? Cinta mati beneran kan? ' batin Pipit.


" Jadi, kamu kuliah di sini? " tanya Pipit berusaha untuk santai.


" Iya. Aku ambil jurusan ekonomi manajemen. " jawab Roy.


' Wih, hebat juga ni anak, bisa keterima kuliah di sini. Tapi ya...nggak aneh sih, kan orang tuanya kaya raya. ' gumam Pipit dalam hati.


" Eh, sepertinya kamu juga kuliah di sini. " ujar Roy selanjutnya setelah melihat penampilan Pipit dan juga perempuan yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka berada di samping Pipit.


" I-iya. " jawab Pipit.


" Ekonomi juga? Kamu ambil apa? Akuntansi? Kalau manajemen pasti nggak mungkin. Soalnya hampir satu tahun kita kuliah di sini, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan kamu. "


" Bukan. Aku ambil kedokteran. " jawab Pipit.


" Wah, hebat kamu ya. Kamu bisa memenuhi cita-cita kamu. " jawab Roy. " Tapi, bukankah kedokteran gedungnya ada di barat sana? Kok kamu ada di sini? "


" Mau ada kuliah umum di auditorium. "

__ADS_1


" Ohh. Ka..."


" Ayo buruan. Udah hampir jam sembilan. Bisa mampus kita kalau terlambat masuk. " ujar Naomi sambil menyenggol lengan Pipit.


" Maaf, Roy. Aku harus segera masuk. " pamit Pipit sambil menunjuk arah auditorium.


" Aku turut berdukacita atas kepergian ibu. Maaf, aku tidak bisa datang ke rumahmu. Soalnya aku sedang ada di Jakarta waktu itu dan ayahku melarang ku pulang. " jelas Roy.


" Tidak apa-apa. Aku ngerti kok. Aku pergi dulu ya. " pamit Pipit sambil melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan Roy.


Roy tersenyum sambil menatap punggung Pipit yang semakin lama semakin menjauh.


Sedangkan dari tempat parkir, seseorang yang tadi baru saja keluar dari mobilnya nampak geram melihat istrinya berbincang dengan laki-laki yang sudah pasti diingatnya. Bryan mengepalkan tangannya dan sangat ingin menghajar laki-laki itu jika saja dia tidak ingat jika dirinya sedang berada di dalam kampus.


Melihat istrinya yang sudah berlalu, Bryan juga segera berlalu karena sebentar lagi pukul sembilan tepat.


Pipit dan Naomi masuk ke dalam auditorium dan karena mereka datang sedikit terlambat, mereka tidak mendapatkan tempat duduk di depan. Mereka mendapatkan tempat duduk di urutan ketiga.


Tepat pukul sembilan, dosen memasuki ruangan auditorium dengan seorang laki-laki berjas maroon di belakangnya. Laki-laki yang berprofesi sebagai seorang dokter muda itu nampak sangat gagah berjalan memasuki auditorium bersama seorang dosen yang sudah nampak berumur.


Riuh suara mahasiswa memenuhi ruangan kala melihat pembicara tamu yang akan memberikan kuliah umum kepada mereka. Mereka sangat mengagumi sosok tampan dan gagah yang ada di atas mimbar.


" Mohon tenang dulu. " suara sang dosen mulai terdengar. " Jika kalian tidak diam, maka kuliah umum hari ini saya batalkan. " lanjutnya kala mahasiswa masih saja riuh.


" Yaaaaa.....Jangan dong pak...." teriak protes para mahasiswa.


Sang dosen tersenyum tipis kala ancamannya mampu membuat mahasiswa yang tadinya riuh, kini langsung terdiam. Mereka hanya saling berbisik. Dosen itu tahu, setelah melihat sosok dokter yang akan mengisi kuliah umum mereka hari ini, maka mereka pasti tidak akan rela jika kuliah umum itu di batalkan.


Sedangkan sang dokter tamu, dengan manik mata birunya sedang sibuk menelisik dan mencari sosok cantik yang sangat ingin ia lihat di sana. Setelah matanya menemukan sosok istrinya yang berada di barisan ketiga dari kursi-kursi yang berjajar dan entah sedang melakukan apa, karena semenjak tadi, istrinya itu sibuk sendiri tanpa memperhatikan kedatangannya. Tak urung, Bryan menerbitkan senyum simpul dari kedua sudut bibirnya.


" Wahhh....Beneran ganteng banget dokter itu. " puji Naomi.


" Fit....Lo harus lihat. Tapi ingat kata-kata Lo tadi ya. Jangan sampai lo naksir. Dia jatah gue. " ujar Naomi dengan hebohnya sambil menyenggol lengan Pipit terus-menerus.


" Apaan sih? " tanya Pipit tanpa memindahkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya. Sedari tadi ia mengirim pesan ke suaminya, tapi belum di buka hingga sekarang.


" Angkat kepala Lo. Lihat ke depan. Kuliahnya udah mau mulai. " ujar Naomi.


Mau tidak mau, Pipit segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, membenahi posisi duduknya, serta memegang bolpoin dan memangku sebuah note.


Alangkah terkejutnya Pipit saat ia mendongakkan kepalanya dan melihat sosok laki-laki yang sedari tadi ia rindukan berdiri dengan gagahnya di atas panggung.


Pipit menelan salivanya berulang kali tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya. Begitu juga dengan Bryan. Ia juga menatap intens ke arah Pipit dan mengulas sebuah senyum tipis.


" Eh, kedip ngapa? Awas ya...Lo tadi bilang nggak bakalan naksir karena Lo udah punya laki yang di Indonesia kagak ade kembarannye. Gue tahu, dokter itu emang cakep bener. " ancam Naomi dengan tatapan mata yang tidak berpindah dari sosok tampan yang ada di atas panggung.


" Jangan macem-macem kamu ya Indomi...Awas kamu godain suami aku. Aku hajar beneran deh. " ancam Pipit balik.


" Maksud Lo? " tanya Naomi sambil memandang Pipit yang menatapnya tajam.


" Dia itu, laki-laki yang gue maksud. Laki-laki limited edition yang ada di Indonesia. Orang indo nggak ada yang bisa nyamain wajah tampannya. " sahut Pipit sambil menunjuk ke arah panggung.


" Ha????" sahut Naomi dengan terbengong dan dengan tatapan tidak percaya.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2