
Hari berganti dan bulanpun berganti. Kini, rumah tangga Armell juga Seno telah kembali baik-baik saja. Bahkan mereka akan mengadakan resepsi pernikahan beberapa hari lagi. Pipit juga sang ibupun kembali datang ke Jakarta. Tapi kali ini, nyonya Ruth tidak memperbolehkan mereka tinggal di rumah Seno. Beliau mengajak Pipit juga ibunya untuk tinggal di rumah besar keluarga Adiguna.
Selama beberapa bulan tidak bertemu, hubungan Pipit dan Damar ada kemajuan. Mereka sering ngobrol lewat telepon maupun berkirim pesan. Entah semenjak kapan, Damar mempunyai perasaan khusus terhadap Pipit. Tapi dengan sepenuh hati, ia menekan perasaan itu supaya tidak ada orang yang tahu maupun menyadarinya. Karena ia tahu diri, ia merasa tidak layak untuk sang adik ipar dari atasannya.
Pipit yang memang seorang gadis supel yang pandai bergaul, mampu meluluhkan hati seorang Damar yang begitu tak tersentuh oleh gadis manapun. Beberapa kali ibunya di Jawa mengenalkan dia dengan gadis, tapi tidak ada satupun yang masuk ke hatinya. Bahkan gadis-gadis kota yang tertarik dengannya juga tak sedikit. Tapi lagi-lagi, ia sama sekali tidak berminat. Tapi dengan Pipit yang hanya bertemu beberapa kali, dan di tambah komunikasi lewat handphone, mampu membuat hatinya bergetar.
Damar begitu senang saat ia mendapat tugas dari Seno untuk menjemput Pipit dan ibunya dari kampung halamannya. Ia senang karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya. Tapi ia agak sedikit kecewa, ketika ia telah menjemput Pipit dari kampungnya, tuan muda Adiguna alias Seno menyuruhnya mengantar ke rumah besar. Dengan begitu, ia tidak bisa sering-sering bertemu dengan sang pujaan hati.
Hari ini, adalah hari resepsi pernikahan Seno dan Armell. Semua para tamu undangan telah hadir. Nyonya Ruth dan tuan Adiguna juga ibu Armell telah sampai di hotel tempat resepsi itu di adakan. Semua sudah selesai di dandani. Begitu juga dengan si pengantin lama rasa baru itu.
" Astaghfirullah Bu, Pipit mana? " tanya Armell ketika ia sudah selesai berdandan dan ia ingat jika Pipit masih ada di rumah besar. Karena tadi saat berangkat, Pipit tidak datang bersama mereka. Ia harus mengikuti kelas online terlebih dahulu. Bahkan Nyonya Ruth menyuruh salah satu MUA untuk mendandani Pipit di rumah besar.
" Aduh, iya. Ibu sampai lupa. Dia belum ada yang jemput. " jawab sang ibu.
" Sebentar lagi acara akan segera di mulai. Aduhhh, minta tolong siapa ya buat jemput? " Armell bermonolog sendiri. " Oh iya, bang Damar. " lanjutnya.
Lalu Armell mengambil ponselnya dan segera menghubungi Damar.
Di tempat lain, yaitu di dekat pintu masuk hall hotel, Damar sedang mengecek semua persiapan resepsi pernikahan bersama dengan Rezky, asisten Seno. Saat ia sedang memberi pengarahan ke semua anggota keamanan, ponselnya berdering. Ia segera undur diri dan mengangkat panggilan dari ponselnya itu.
" Halo, nona. "
" ..... "
" Oh, baik, nona. "
Setelah mendapat panggilan dari sang nona muda Adiguna, senyum tipis terbit dari sudut bibir Damar. Ia segera melangkah menghampiri Rezky.
" Kak, aku mendapat tugas lain. " ujarnya ke Rezky. Ia dan Rezky sudah seperti kakak dan adik.
" Mau kemana lo? " tanya Rezky.
" Nona muda memintaku menjemput adiknya di rumah besar. "
" Lho, bukannya semua sudah ada di sini? "
" Belum kak. Dia belum ikut kesini karena dia harus ikut sekolah online terlebih dahulu. "
__ADS_1
" Cie...cie...sudah tahu sampai segitunya..." goda Rezky. Sepertinya hanya Rezky yang tahu perasaannya terhadap adik ipar dari bosnya.
" Ck! Mulai deh. " sahut Damar. " Ya udah, aku cabut dulu. " pamit damar sambil melambaikan tangannya dan berlari kecil keluar dari dalam hotel.
" Semoga kalian berjodoh. " gumam Rezky.
🧚
🧚
🧚
" Lho...bang Damar yang jemput? " sapa Pipit yang baru turun dari tangga.
Damar sedikit terkejut karena saat itu ia sedang fokus ke layar ponselnya karena beberapa bawahannya melaporkan kondisi di hotel. Ia menoleh ke arah tangga dan pandangannya seolah langsung terkunci di sana. Ia seperti melihat bidadari yang turun dari khayangan. Pipit terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun berwarna putih yang panjangnya hanya sampai lutut itu.
Damar bahkan tidak menyadari saat langkah Pipit semakin mendekat ke arahnya. Pipit menjadi mengernyit, heran kenapa Damar malah melamun sembari menatap intens ke arahnya. Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Apakah ia terlihat aneh dengan gaunnya?
" Bang ..." panggil Pipit. Tapi yang di panggil masih asyik dengan arah pandangannya. " Bang Damar..." panggil Pipit lagi dengan suara sedikit keras sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Damar.
Damar menjadi terkejut dan pipinya bersemu merah karena merasa ketahuan telah melamun karena saking terpesonanya ia dengan bidadari yang ada di depannya itu.
" A-ah tidak nona. Saya baik-baik saja. " jawabnya gugup. " Apa nona sudah siap? " tanya Damar mengalihkan pembicaraan.
" Sudah sih bang. Tapi, bagaimana penampilan Pipit menurut Abang? Apakah aneh? " tanya Pipit sembari meneliti kembali penampilannya. " Mama ini yang milihin bajunya. Pipit nggak pantes ya pakai gaun kayak gini? Tadi Pipit juga udah ogah di dandani, di make up in kayak gini. Tapi mama maksa. " celotehnya.
Damar jadi mengulum senyum mendengar celotehan Pipit. " Nona cantik kok. Gaunnya juga cantik nona kenakan. Nyonya Ruth tidak salah memilihkan gaun itu untuk nona. " jawab Damar.
" Ihhhh Abang, kenapa manggilnya pakai nona lagi sih. Nggak enak di dengernya bang. " protes Pipit sambil menampakkan wajah kesalnya.
" Maaf, nona. Saya sudah pernah bilang sama nona, saya tidak bisa sembarangan memanggil nona Fitria hanya dengan nama saja. " sahut Damar.
" Tapi kemarin kan Abang bisa tuh panggil Pipit pakai nama saja. " sungut Pipit.
" Iya...itu karena hanya ada kita berdua saja, nona. " sahut Damar salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ini juga kita lagi berdua aja. Nggak ada orang lain disini. " sahut Pipit sambil memperhatikan ke sekeliling.
__ADS_1
" Beda, nona. Kita sedang ada di rumah besar keluarga mertua kakak anda. Meskipun tidak terlihat, di sini banyak mata yang memperhatikan kita. "
" Ck. " Pipit berdecak kesal.
" Eh, tapi by the way busway, abang ganteng banget hari ini. Biasanya juga ganteng, tapi hari ini makin terlihat ganteng. Terlihat keren. " puji Pipit sambil memperhatikan penampilan Damar yang memang tidak seperti biasanya.
" Nona bisa saja. " sahut Damar sambil sedikit menunduk karena ia merasa berbunga-bunga di puji oleh sang pujaan hati. " Terima kasih,nona....atas pujiannya. " ia kembali mendongakkan kepalanya.
Pipit mengangguk sambil tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat seorang Damar susah tidur tiap malam ketika ia teringat akan Pipit.
" Kalau nona sudah siap, lebih baik kita berangkat sekarang. Acara akan segera di mulai. Bahkan kita berangkat sekarangpun, kita akan terlambat sampai sana. " canda Damar sambil tersenyum.
Pipit menepuk jidatnya perlahan, " Pipit sampai lupa kalau kita harus segera pergi. "
" Oh, bentar bang...Tas Pipit ketinggalan. " ujar Pipit.
" Ini tas anda, nona. " baru saja Pipit hendak balik badan untuk mengambil tasnya, seorang pelayan datang dengan membawa tasnya.
" Terima kasih banyak. " ucap Pipit ke pelayan itu. Ia agak terkejut saat pelayan itu tiba-tiba memberikan tasnya yang tertinggal di kamarnya tadi . Pelayan itu segera undur diri setelah membalas ucapan terima kasih dari Pipit dengan menganggukkan kepalanya.
" Lihat kan nona? Di rumah ini banyak mata yang tidak terlihat oleh kita. " ujar Damar, lalu mereka sama-sama tergelak dengan kaki yang melangkah bersamaan menuju mobil yang akan membawa mereka ke tempat resepsi.
Ini dia penampakan si DAMAR SALEH PUTRA alias bang Damar ya guys ...
Dan ini penampakan si " FITRIA AMERA UMMA " alias si Pipit.
Kalau untuk penampakan om dokternya, besok ya guys....
****
bersambung
Udah bersambung lagi aja ya guys.....🤭🤭🤭
__ADS_1
Hari ini, othor agak kurang ide mau nulis apa. Karena ada beberapa dari reader yang bertanya-tanya kok ceritanya di ulang, gitu? Jadi othor agak bingung, mau nulis apa, biar ceritanya tetap nyambung, keterkaitan antar tokoh terlihat, tanpa membuat para reader bingung, " kok bisa seperti ini ya? Kok bisa dekat ya, tokoh A dan B? Kok bisa gitu gimana ceritanya ya? " ...biar tidak ada pertanyaan² macam itu juga....
Jadi hari ini, othor agak kenceng larinya, ke resepsi Seno dan Armell. Sambil menceritakan kedekatan Pipit sama Damar sudah seperti apa...Terus nanti, gimana Pipit sama Bryan juga...