Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Mulai resah


__ADS_3

Damar sudah mengetahui cerita bagaimana Pipit bisa menikah dengan dokter Bryan. Ia kini tahu jika Pipit menikah karena paksaan dari warga kampungnya. Damar kini mengerti, dan tidak lagi menyalahkan Pipit.


Jika saat itu ia tidak di minta ibunya untuk pulang ke kampung karena ibunya bilang sedang sakit, maka sudah pasti dirinya yang akan mengantar Pipit pulang ke kampungnya. Maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Pipit tidak akan di paksa menikah dengan dokter Bryan.


Kini Damar hanya bisa menyesal dan menyesal. Ia bahkan sempat berpikir, jika saat itu dirinya yang mengantarkan Pipit pulang, maka bisa jadi dirinya yang akan menikahi Pipit. Dan ia juga tidak akan terjebak pernikahan dengan gadis dari kampungnya.


Beberapa minggu telah berlalu dari saat Damar mengetahui tentang pernikahan Pipit dan Bryan. Pipit juga telah selesai dengan ujiannya.


" Fitria, bisa kita bicara sebentar? " tanya Damar sambil mencekal lengan Pipit yang hendak masuk ke dalam rumah.


" Tunggu sebentar ya bang, Pipit taruh tas dulu ke dalam. Nggak enak juga, Pipit baru pulang kuliah tapi nggak masuk rumah dulu. " sahut Pipit.


Damar mengangguk dan melepas cekalan tangannya dari lengan Pipit. Lalu Pipit segera masuk ke dalam rumah.


Tak berapa lama, Pipit kembali keluar setelah tadi ia menyapa sang kakak dan keponakan kecilnya.


" Bang Damar mau bicara apa sama Pipit? " tanya Pipit saat ia sudah berada di hadapan Damar.


" Mmm....gimana kalau kita keluar? Kebetulan ini sudah waktunya makan siang. Nggak enak juga kita bicara di sini, kalau di lihat non Armell atau tuan muda. "


" Boleh bang. Bentar ya, Pipit ambil kunci mobil Pipit dulu sekalian pamit ke mbak Mell. " jawab Pipit.


Damar mengangguk dan Pipit kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci dan berpamitan ke kakaknya.


Pipit kembali ke luar menemui Damar saat ia sudah selesai berpamitan dan mengambil kunci mobilnya.


" Ayuk bang. " ajak Pipit sambil menyerahkan kunci mobilnya ke Damar.


Damar menerima kunci itu sambil mengangguk, lalu memencet tombol kunci dari remote. Setelah kunci terbuka, Damar membukakan pintu untuk Pipit, lalu Pipit segera masuk. " Makasih bang. " ucap Pipit sambil tersenyum.


Damar membalas ucapan Pipit sambil mengangguk dan tersenyum. Lalu ia mengitari separuh mobil dan membuka pintu kemudi, lalu masuk ke dalam. Perlahan, Damar melajukan mobil untuk keluar dari pekarangan rumah Seno.


Saat mobil keluar dari pekarangan rumah dan membelok kiri untuk mulai masuk ke jalan raya, sekilas Pipit melihat mobil seseorang yang sangat ia kenali masuk ke dalam pekarangan rumah Seno.


' Abang bule...' batin Pipit sambil terus menatap mobil itu dari kaca spion. Tiba-tiba hati Pipit menjadi tidak enak. ' Kenapa masih siang begini bang bule datang ke rumah? Apa mau bertemu denganku? ' tanyanya dalam hati.

__ADS_1


" Kenapa Pit? Kok sepertinya cemas gitu? " tanya Damar sedikit menoleh ke arah Pipit sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan.


" Oh ..Ah .. Nggak pa-pa kok bang. Lagi mikirin tugas kuliah tadi pagi aja. " jawab Pipit beralasan. Tapi hatinya memang sedang tidak nyaman. Tidak seperti dulu, dulu juga pernah ia pergi dengan Damar dan Bryan datang ke rumah. Tapi saat itu, Pipit tidak merasa gimana-gimana. Beda dengan saat ini. Ia seperti merasa bersalah dan berdosa.


Tak berapa lama, mereka sampai tempat tujuan. Damar membelokkan mobilnya masuk ke area parkir. " Nggak pa-pa kan, kita makan di sini? Biar nggak terlalu jauh dari rumah. "


" Iya bang, nggak pa-pa kok. Pipit mah apa aja suka. "


Damar lalu mematikan mesin mobil dan segera membuka pintu dan keluar. Begitu juga dengan Pipit, ia juga segera turun dari mobil.


Saat hendak masuk ke dalam restoran, ponsel milik Pipit berbunyi. Ia sudah bisa menebak siapa yang menelponnya. Pipit segera mengambil ponselnya dari dalam sakunya, dan melihat nama yang tertera di ponsel. Ternyata benar dugaannya, jika Bryan yang menelponnya. Bryan pasti akan memberinya banyak pertanyaan.


" Bang, bang Damar..." panggil Pipit. Damar menghentikan langkahnya. " Bang Damar masuk ke dalam aja dulu ya. Pipit mau angkat telepon dulu. Pesenin makanan yang sama aja kayak bang Damar. "


Damar tersenyum, " Iya. Tapi jangan lama-lama. " jawabnya. Lalu ia segera masuk ke dalam restoran. Damar sudah bisa menebak siapa yang menelepon Pipit, karena tadi ia juga melihat mobil Bryan masuk ke pekarangan rumah Seno.


" Halo, assalamualaikum bang. "


" Waalaikum salam. Kamu jam berapa pulang? " tanya Bryan.


" Halo .. Pipit..." panggil Bryan kala tidak mendengar suara Pipit.


" Iya bang. Maaf. "


" Kamu pulang jam berapa? "


" Insyaallah sekitar satu jam lagi. "


" Oh, ya udah. Abang nanti sore mau ke rumah. "


" Abang sekarang dimana? "


" Ya di rumah sakit lah. Mau dimana lagi? "


" Ya udah bang. "

__ADS_1


" Kamu hati-hati bawa mobilnya ya. Sampai ketemu nanti sore. Assalamualaikum. "


" Waalaikum salam. "


Panggilan di tutup oleh Bryan.


" Abang kenapa bohong ke Pipit kalau lagi di rumah sakit? Dia kan lagi di rumah bang Seno. Kenapa juga abang harus bohong? " ujar Pipit bermonolog sambil menatap ke ponselnya. Ia merasa aneh dan kecewa dengan sikap Bryan. Ia merasa ingin bryan memarahinya karena telah pergi dengan laki-laki lain. Tapi Bryan terlihat cuek dan masa bodoh.


Sedangkan di seberang sana, Bryan menghela nafas beratnya. Ia tahu dari Armell jika Pipit sedang keluar dengan Damar. Hatinya terasa kacau balau, rasa cemas, khawatir bercampur jadi satu. Ingin rasanya tadi saat menelepon Pipit ia bertanya kenapa istrinya itu pergi dengan laki-laki lain. Tapi tiba-tiba ia merasa, ia tidak boleh egois. Ia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ia harus bersabar menghadapi istri kecilnya.


" Uncle, habis teleponan kok jadi melamun? " tanya Armell yang sedari tadi ada di sofa di depannya.


" Siapa yang melamun? "


" Ck. Muka uncle nggak bisa bohongin kita ya nak. " sahut Armell berbicara dengan anaknya yang ada di pangkuannya.


" Dokter, kenapa tadi tidak marahin Pipit? Dia pergi sama laki-laki lain loh. Bahkan laki-laki yang mencintai dia. " ujar Armell.


Bryan mengusap wajahnya kasar. " Lo tahu gimana adik Lo kan? Apa dia bakal nurut terus tiba-tiba nerima gue sepenuhnya jadi lakinya kalau gue marahin dia? " Bryan menjeda omongannya. " Kalau Lo tanya, gue pengen banget marahin dia. Kalau perlu susulin dia, terus gue tarik tangannya gue bawa pulang. Tapi apa dengan cara itu, adik Lo bakal nerima gue? Nggak kan? Yang ada, dia jadi benci sama gue. "


" Jadi beneran nih, dokter Bryan serius sama si Pipit? "


" Gue pernah bilang kan, kalau gue memutuskan untuk menikahi seseorang, maka itu akan jadi pernikahan gue satu-satunya. Kalau gue mau mempertahankan dia jadi bini gue, kalau nggak sama cinta, apalagi? "


" Wuihhh... dokter Bryan si teh celup sekarang sudah bereinkarnasi jadi bubuk kopi nih? Nggak suka celup sana celup sini lagi. Sekarang sekali di masukin, langsung mengendap. " ujar Armell sambil terkekeh.


" Ck. Selalu suka manggil orang seenaknya. " protes Bryan.


" Yakin nih, dokter Bryan udah nggak pernah celap-celup? "


" Demi Tuhan. " jawab Bryan tegas.


" Mell keep jawaban dokter ya. Awas aja kalau sampai adik kesayangan Mell nangis gara-gara dokter celap-celup. "


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2