Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Cantiknya istriku


__ADS_3

Semua acara resepsi telah usai. Semua tamu undangan sudah meninggalkan ballroom hotel. Tamu yang paling akhir pulang adalah Leora. Ia masih asyik ngobrol dengan Armell juga Pipit. Meskipun ia pernah menyukai Bryan, tapi ia menyadari jika tidak mungkin untuknya untuk mendapatkan dokter Bryan. Iapun berdamai dengan keadaan dan berteman dekat dengan Pipit layaknya ia berteman dengan Armell.


" Wah, sepertinya sudah sangat malam. Tamu-tamunya sudah pada pergi. Tinggal aku sendiri. Sang pengantin juga pasti ingin segera ke kamar kan? " goda Leora ke Pipit membuat Pipit bersemu.


" Iya kakak benar sekali. Hari sudah malam. Kakak memang harus segera pulang. Tidak baik jam segini perempuan masih di luar. " sahut Armell.


" Kamu benar sekali, Mell. Kasihan Arvin juga. " ujar Leora. " Kalau begitu, aku permisi dulu. " pamit Leora sambil beranjak dari duduknya.


" Hati-hati Kak. " sahut Pipit, lalu mereka saling berpelukan dan cipika-cipiki.


Dion yang sedari tadi memang selalu memperhatikan Leora, ketika ia melihat Leora beranjak berdiri, iapun ikut beranjak, membuat Seno, Bryan, tuan Adiguna, juga Rezky menatapnya bersamaan.


" Mau kemana kamu Yon? " tanya tuan Adiguna. " Masak jam segini kamu sudah mau tidur? " canda beliau.


" Maaf, tuan. Ada tugas negara. " sahut Dion sambil menundukkan badannya sedikit.


Dion berlalu dari sekelompok laki-laki itu dan menghampiri Leora.


" Saya antar, nona. " ujar Dion.


Leora menoleh seketika mendengar suara Dion. " Ah, tidak usah tuan. Saya bisa pulang sendiri. Lagian saya juga bawa mobil sendiri. " jawabnya.


" Sudah malam, nona. Tidak baik dan tidak aman seorang perempuan di luar sendirian malam-malam begini. " sahut Dion kekeh .


" Kak, bang Dion benar. Biar di antar bang Dion saja. Lagian memang lebih aman begitu. " ujar Armell.


" Kamu yakin jika di antar kak Dion akan aman, baby? " canda Seno yang juga menghampiri istrinya sambil tersenyum menyeringai ke arah Dion.


Dion menatapnya kesal. " Tolong tuan muda. Jangan mematahkan bunga yang baru mau berkembang. "


" Ha...ha ..ha .." terdengar tawa dari orang-orang yang masih ada di situ ketika melihat wajah kesal Dion.


" Maaf nona. Saya memang seorang playboy. Tapi ke playboy an saya masih kalah dengan ke playboy an dia. " ujar Dion sambil menunjuk ke arah Bryan yang juga telah berdiri di samping istrinya. " Tapi dia bisa insyaf dan mempunyai istri. Jadi saya juga bisa insyaf dan menikah. Dan saya harap, perempuan yang menjadi tambatan hati saya untuk insyaf adalah anda nona. "


" Wuaahhhh..... mantap baaaangggg...." pekik Pipit sambil mengacungi jempol.


Sedangkan Leora yang di modusin sama Dion, hanya bisa menunduk sambil tersenyum.


" Eh ..eh ..udah, buruan di antar pulang itu anak orang. " ujar nyonya Ruth.


" Siap, nyonya. " sahut Dion.

__ADS_1


" Tapi ingat, langsung di antar pulang. Stir mobilnya juga jangan kayak siput. Nggak usah di ajak mampir -mampir. Kalau pengen lama-lama berduannya, segera di halalin. " tambah Nyonya Ruth.


" Oh, siap sekali kalau untuk itu nyonya. Kapan pun saya akan selalu siap untuk menghalalkan nona Leora. Dan menjadikan Arvin sebagai putra saya. " ujar Dion dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Lalu Dion segera mengajak Leora untuk pulang. Tak lupa, Dion mengajak Rezky supaya mengikutinya dengan membawa mobilnya. Karena Leora membawa mobil sendiri, jadi mau tidak mau, Dion membawa mobil Leora.


Sedangkan di dalam ballroom, tuan dan nyonya Adiguna segera meminta undur diri juga. Beliau pulang dengan sopir Nyonya Ruth. Dan Seno juga Armell, sama halnya, berpamitan pulang karena si kecil Danique sudah pulang lebih dulu dengan Siti dan Lilik yang di antar oleh Damar yang sekalian juga mengantar istrinya.


Kini, tinggal sepasang pengantin dan beberapa pegawai hotel yang sedang membersihkan ballroom.


" Honey, capek? " tanya Bryan sambil mengelus tangan istrinya.


" Banget. " jawab Pipit sambil memasukkan sepotong sosis solo ke dalam mulutnya.


" Ke kamar yuk. Kita istirahat. " ajak Bryan.


Pipit mengangguk. " Pipit penasaran sama kamar presiden suit di hotel ini. Kayak apa hebatnya. " ucapnya.


Bryan berdiri dari duduknya dan memasukkan tangannya di bawah paha istrinya, sedangkan tangan yang satunya lagi ia taruh di belakang punggung istrinya. Lalu dalam sekali hentakan, Bryan mengangkat tubuh mungil namun seksi milik istrinya yang membuat Pipit memekik karena terkejut.


" Abaaanggg...." pekiknya sambil memukul bahu Bryan. " Kalau mau gendong bilang dong bang. Pipit kan kaget jadinya. " protesnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Cup


" Honey, ambil kuncinya di saku kemeja. " pinta Bryan saat mereka sudah berada di depan kamar.


Pipit mengambil kunci dari dalam kantong kemeja suaminya dengan agak kesusahan. Setelah dapat, ia menempelkan kartu itu ke depan pintu.


Ceklek


Pintu terbuka. Bryan mendorongnya dengan satu kakinya, sedangkan Pipit kembali mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan.


" Wuaahhhh.....bagus banget....Kayak bukan kamar ini mah. Ini tuh kayak ruang tamu. Gede pisan kamarnya. " celetuk Pipit terheran-heran masih sambil dalam gendongan Bryan. Bryan hanya tersenyum.


" Turunin Pipit bang. " pintanya.


Bryan menurutinya. Ia menurunkan istrinya dari gendongannya. Pipit mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Kamar itu sangat luas, dengan sebuah ranjang king size di tengah-tengah, sofa besar di sisi kamar, meja rias, jendela kaca yang sangat besar full dinding yang bisa memperlihatkan keindahan ibukota saat malam hari.


Lilin warna warni berjajar di setiap pojok kamar. Ada lilin aromaterapi juga yang membuat kamar terasa sangat harum dan menenangkan. Ranjang yang di hias seperti ranjang seorang princess, dengan taburan bunga di atasnya, dan sebuah gambar Mickey dan Minnie mouse yang sedang berciuman di tengah-tengah taburan bunga. Gambar Mickey dan Minnie mouse yang juga di buat dari kelopak bunga dengan berbagai macam warna dan jenis.


Pipit di buat sangat kagum melihatnya. Ia sungguh tidak pernah membayangkan akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari sang suami yang dulu tidak ia sukai.

__ADS_1


Pipit sampai menutup mulutnya yang terbuka karena begitu excited. Ia lalu meminta ponsel suaminya.


" Bang, pinjam handphone nya. " pinta Pipit dengan mengulurkan sebelah tangannya, tapi pandangan matanya tetap tertuju ke gambar itu.


" Buat apa? " tanya Bryan sambil melingkarkan tangannya di perut Pipit, memeluknya dari belakang.


" Buat foto itu. " tunjuk Pipit ke gambar yang ada di atas kasur. " Lucu banget itu bang. " ia kembali fokus ke gambar setelah sesaat menoleh ke Bryan yang ada di belakangnya.


Bryan mengendurkan pelukannya lalu mengambil ponsel dari saku celananya, dan memberikannya ke pipit.


Dengan wajah berbinar-binar, Pipit mengambil ponsel suaminya, lalu mengarahkan ponsel itu ke gambar Mickey mouse yang ada di atas kasur. Mengambil gambar dan mengabadikannya.


" Abang, bisa nggak nanti kita tidurnya di sofa aja? " tanya Pipit sambil menoleh ke arah Bryan.


Bryan mengerutkan keningnya. " Kenapa kita harus tidur di sofa yang sempit kalau ada ranjang yang besar? Kan kita mau unboxing seperti kata kakak ipar kamu. " jawab Bryan.


" Unboxing nya di sofa aja emang nggak bisa ya? " tanya Pipit dengan polosnya.


" Bisa. Tapi sempit. Entar nggak bisa banyak gaya. Jadinya kan mati gaya. "


" Tapi sayang banget sama Mickey dan Minnie mouse nya bang. Pasti entar jadinya berantakan. " ujarnya sambil menatap sendu ke arah kasur.


" Kan emang itu di buat tujuannya buat di berantakin, honey. " sahut Bryan lalu mengecup pundak Pipit yang tidak tertutup oleh gaun.


" Ck. " Pipit berdecak.


" Mending kita mandi dulu yuk. "


" Masak malam-malam gini mandi? Kan tadi sore udah mandi. Dingin kali bang. Entar bikin masuk angin. " sahut Pipit.


" Kan pakai air hangat. Di jamin nggak bakalan masuk angin. Entar kalau masuk angin, aku obatin. Kan suamimu ini dokter. Emangnya badan kamu nggak lengket? " tanya Bryan.


" Ya gerah sih bang. Apalagi pakai gaunnya gede gini. "


" Ya udah, mandi dulu sana. "


" Abang dulu aja deh. Pipit entaran. Masih pengen lihat suasana. "


" Oke deh. Aku mandi dulu. " Bryan melepas pelukannya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Bukannya malas mandi, sepertinya Pipit agak takut dengan malam pertamanya. Hatinya merinding disko saat membayangkan kegiatan malam pertama. Seperti apakah malam pertama itu? Itulah yang ada di benak Pipit. Kalau cuma sekedar ciuman, ia sudah sering menontonnya di film-film. Tapi kalau ML, jujur saja, dia tidak tahu sama sekali.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2