Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Awas kamu


__ADS_3

Saat Bryan usai mandi, Pipit sedang berdiri di depan dinding kaca menikmati pemandangan kota Jakarta dengan kerlap kelip lampu dari lantai gedung hotel bintang lima itu. Pipit begitu tersanjung dan tak menyangka jika Jakarta yang terkenal dengan kemacetannya, jika di lihat dari atas pada malam hari seperti ini, akan terlihat begitu indah.


Saking asyiknya Pipit memandang keluar, sampai-sampai ia tidak menyadari jika suaminya telah keluar dari dalam kamar mandi. Melihat ekspresi wajah Pipit yang seperti anak kecil ( meskipun sedikit udik ), Bryan sangat gemas. Ia menghampiri Pipit perlahan, lalu memeluknya dari belakang.


" Astaghfirullah...Abang ngagetin aja. " seru Pipit.


" Kaget ya. Sorry....I am sorry kesayangannya aku...Jadi gemes. " sahut Bryan lalu mengecup pipi Pipit berulang-ulang.


" Udah selesai mandinya bang? " tanya Pipit sambil kembali memandang kota.


" He em " jawab Bryan sambil meletakkan dagunya di atas pundak Pipit dan sesekali mengecup pundak yang polos itu.


" Cepet amat? Biasanya lama kalau mandi malam-malam. " tanya Pipit bernada ledekan.


" Kan malam ini istimewa. Buat apa di kamar mandi lama-lama kalau malam ini aku bisa berduet. Nggak lagi solo karir terus. " sahut Bryan.


" Hish....Di kata konser. " sahut Pipit.


" Buruan mandi honey. Biar aku bisa cepet bayar cash. "


Pipit mencibir. " Kemarin aja pas Pipit lagi pengen di cash, Abang kasihnya kredit mulu. Sekarang, sepertinya Abang juga harus kredit lagi deh. "


Bryan mengerutkan keningnya, " Maksudnya, honey? "


" Pipit lagi nggak bisa di cash Abang bule sayang. Lagi ada tulisannya di larang masuk. No enter. " jawab Pipit.


" Honey, jangan bercanda. Aku sudah berbulan-bulan tersiksa solo karir terus karena ulah usilmu." ucapnya sambil mengangkat kepalanya yang tadi bersandar di atas pundak Pipit. " Masak di hari yang sangat aku nanti-nantikan, malah di segel luar dalam. Lagian seingatku, sekarang bukan saatnya kamu kedatangan tamu bulanan. " lanjutnya memelas.


" Ya kan wajar bang. Tamunya datang nggak pasti tanggalnya. Namanya juga tamu yang datangnya sesuka hati. " jawab Pipit.


" Yah ..." sahut Bryan. Ia lalu berjalan dengan lesu menuju ke almari dimana tas tempat bajunya tersimpan. Ia mengambil celana boxernya dan kaos oblong berwarna putih dan segera memakainya. Padahal tadi dia udah sengaja hanya pakai handuk yang melilit di pinggangnya, dengan tujuan biar nanti tidak usah susah-susah melepas pakaian.


Di belakangnya, Pipit tersenyum smirk. Rasanya sangat puas jika sudah mengerjai suaminya. Ia berjalan mendekat ke arah Bryan.


" Bang, ini tolongin bantuin buka gaunnya. Susah ini. Pipit nggak bisa buka sendiri. " pinta Pipit dengan suara manja.


Bryan menghela nafas panjang dan berat. Dengan gerakan tangan yang lemas, dia membantu membuka resleting gaun pengantin Pipit yang berada di belakang. Bahkan peliharaannya sudah melemas juga. Kecewa karena ia tidak bisa menengok kandang barunya.

__ADS_1


" Udah. " ujar Bryan, lalu ia berjalan ke dinding kaca di mana Pipit tadi berdiri. Pipit mengamati dengan senyuman tipis. Ia lalu mengambil baju tidur yang telah ia siapkan dari dalam tasnya, kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.


Bryan mengusap kasar wajah juga menyunggar rambutnya. Mengusap bibir juga dagunya berulang-ulang sambil berkacak pinggang. Ia kesal, ia ingin marah, tapi harus marah sama siapa. Malam yang ia nanti-nantikan sepertinya masih harus di pending lagi.


" Huh. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena dulu aku terlalu meremehkan perempuan. " gumam Bryan.


Berulang kali ia mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar. Hingga suara pintu kamar mandi terbuka terdengar di telinganya. Ia menoleh. Dan saat itu juga, ia menelan salivanya dengan susah payah.


Sang istri keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut setengah basah dan tergerai, bertelanjang kaki, dan memakai baju tidur yang membuat peliharaan Bryan bereaksi.


Baju tidur berbahan kain tipis bahkan menerawang lengan panjang, warna navy, yang membuat kulit kuning langsat Pipit terlihat memancar di sela-sela kain tipis itu. Bahkan saking tipisnya, br* berwarna senada dengan baju tidur itu yang di kenakan Pipit terlihat jelas dari luar. Cel*** da*** yang berjenis G-st**** juga terlihat dari luar.


Nafas Bryan menjadi memburu. Tapi dia tidak berani mendekati Pipit. Karena Bryan masih tetap berdiam diri sambil terus menatapnya dengan pandangan berkobar, Pipit berinisiatif mendekatinya.


" Honey, stop. " pinta Bryan sambil mengangkat tangannya. " Bisa nggak kamu ganti baju kamu? Please honey, jangan buat aku menderita lagi. Aku sudah berusaha keras menahannya biar nggak perlu bersolo lagi malam ini. " pinta Bryan kembali dengan nada memelas.


Tapi tidak di indahkan Pipit. Ia tetap berjalan mendekati Bryan dengan senyuman menggoda. Sampai depan Bryan, Pipit menarik tangan Bryan yang terangkat tadi untuk memeluk pinggangnya, lalu ia mengalungkan tangannya ke leher Bryan, mendekatkan bibirnya ke bibir Bryan, lalu mencium bibir itu sesaat.


Tidak ada respon dari sang suami. Pipit melepas ciumannya, lalu menatap ke dalam manik mata biru milik suaminya, lalu menurunkan satu tangannya dan meraih tangan Bryan yang ada di pinggangnya, ia arahkan ke bagian bawahnya yang sebelah belakang.


Bryan mengerutkan keningnya, lalu meraba bagian belakang Pipit lebih ke dalam. Ia tersenyum setelah menyadari sesuatu.


" Kamu membohongiku honey? Seneng banget ya bikin suami tersiksa. Awas kamu. " seru Bryan.


Lalu Bryan mendorong tubuh Pipit dan di jatuhkan di atas ranjang, membuat gambar Mickey dan Minnie mouse tadi berantakan. Ia berada di atas tubuh Pipit. Mengamati wajah cantik itu beberapa saat sampai akhirnya ia menjatuhkan bibirnya di atas bibir sang istri.


Ciuman yang lembut, perlahan, tapi penuh dengan makna cinta. Berdua saling berbagi rasa. Ciuman itu lama-lama berubah menjadi luma***, yang membuat tubuh keduanya memanas. Membuat hati keduanya berdesir. Rasa yang belum pernah Bryan rasakan saat ia sedang mengungkung banyak perempuan selama ini.


Rasa memiliki yang membuatnya ingin berlama-lama dalam posisi seperti ini. Rasa yang membuatnya benar-benar melayang. Tidak seperti saat ia bersama wanita-wanitanya selama ini. Yang saat mereka memulai, Bryan selalu melakukannya dengan cepat karena segera ingin mengakhirinya.


Bryan meminta Pipit untuk membuka mulutnya. Saat sang istri membuka mulutnya sedikit, ia langsung menerobos masuk. Mengabsen tiap inci mulut istrinya. Mengajari sang istri hal baru yang indah untuk di lakukan.


Tangan Bryan yang semula menopang tubuhnya di kedua sisi samping istrinya, kini satu tangannya telah mulai menjelajah. Memberi sentuhan lembut di leher sang istri, yang kemudian semakin turun ke bawah, mendarat sempurna di atas dua buah melon yang nampak segar.


Bermula bermain di atas baju tidur, lalu karena semakin penasaran, Bryan menyingkap baju tidur itu, dan menjelajah ke dalam. Merasa baju tidur itu sedikit mengganggu, Bryan melepas baju tidur tipis milik Pipit dengan sekali tarikan, baju itu koyak dan terlepas dari tubuh sang istri.


Iapun melepas kaos oblongnya karena merasa tubuhnya sudah mulai terasa panas. Setelah melepas kaos oblongnya, ia mendaratkan bibirnya di leher sang istri. Mencumbu di sana, membuat Pipit melenguh.

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama di sana, bryan mengalihkan pandangannya ke bawah. Dua gunung kembar identik itu sedikit menyembul. Penasaran dengan bagaimana bentuk asli gunung itu, Bryan menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Pipit dan melepas pengait br* Pipit. Setelah pengait itu terlepas, Bryan menarik penutup itu, hingga kini ia bisa memandang dengan takjub bentuk asli dar gunung kembar identik milik Pipit.


Meskipun Pipit masih berusia hampir 19 tahun, tapi bentuk gunungnya sudah berisi. Kalau Bryan bilang, udah enak buat di petik. Rasanya pas, manisnya juga pas.


Puas memandangi gunung itu, Bryan kembali menyusuri gunung itu dengan tangan handalnya. Membuat Pipit memejamkan matanya merasai rasa yang baru pertama kali ini ia rasakan. Rasa yang indah dan unik yang membuatnya ingin meminta lebih.


Puas merema* dan memil*** puncaknya, dan mendengar suara indah istrinya saat mendesis dan mende***, Bryan segera meraup gunung kembar itu. Merasainya dengan mulutnya. Menyes**, menji***, mengecup, menci**. Membuat Pipit semakin meremas rambut coklat bryan.


" Ssshhh...baaang....mmmpphh..." teriaknya.


" Enak honey? " tanya Bryan di sela-sela kegiatannya.


Pipit mengangguk sambil memejamkan matanya erat menikmati setiap rasa yang tercipta karena ulah suaminya.


" Baaanggg....kok rasanya aneh...Bawah Pipit rasanya berkedut bang...Kayak ada yang mau keluarhhh...Aahhhh...." teriak Pipit. " Abaaanggg.....Ahhhhhh..... Mmmmpptt....Aaahhhh...." tubuh Pipit bergetar dan menggeliat.


Bryan tersenyum lebar. " Itu namanya pelepasan, honey. " bisik Bryan saat ia sudah kembali ke atas.


Tubuh Pipit terasa lemas setelah ia berteriak dan merasa entah kenapa tadi. Ia masih tetap memejamkan matanya dan mengumpulkan tenaganya kembali.


" Masih ingin merasai yang seperti tadi honey? " tanya Bryan sambil membelai wajah istrinya.


Pipit mengangguk.


" Kita lakukan dengan mata terbuka, honey. Ayo, buka matamu. "


Pipit mengikuti permintaan suaminya. Ia membuka matanya. Melihat tubuh kekar milik suaminya, membuat Pipit menelan salivanya. Bahkan matanya tidak berkedip melihat perut sixpack milik Bryan.


Bryan mulai kegiatannya kembali. Mengulangi apa yang ia lakukan tadi. Memberikan pengalaman yang kedua kalinya untuk sang istri. Setelah tadi yang pertama berhasil membuat istrinya teriak. Yang kedua kalinya ini, ia pastikan sang istri akan berteriak lebih kencang.


Merasa ia ingin segera memberikan pengalaman baru untuk istrinya, Bryan beranjak dari tubuh Pipit, dan membuka celana boxernya.


" Astaghfirullah haladzim.... Subhanallah....." jerit Pipit dengan suara melengking.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2