
" Damar, sini kamu. " panggil sang ibu sambil melambaikan tangannya.
Damar mendekat ke ibunya dengan malas.
" Mau kemana kamu? Kok bawa-bawa tas kamu? Mau ke rumah mertua kamu? " tanya sang ibu.
" Mau balik ke Jakarta Bu. Mau kerja, cari duit. Ibu sekarang udah kasih tambahan tanggung jawab ke Damar, jadi Damar harus lebih rajin lagi kerjanya. " jawab Damar dengan malas sambil menaruh tas ransel di pundaknya.
Ibu langsung mengambil tas itu dengan paksa. Karena Damar tidak bersiap-siap, ibu bisa dengan mudah mengambil tas Damar.
" Apa-apaan kamu ini? Nikah aja baru kemarin kok istrinya udah main di tinggalkan saja. " protes sang ibu.
" Ada apa lagi Bu? Semua yang ibu minta, udah Damar lakukan. Damar udah menikah dengan gadis pilihan ibu. Apa lagi sekarang? " ujar Damar memelas.
" Kamu tidak akan bisa kembali ke juragan kamu, kalau kamu belum melakukan kewajiban kamu sebagai seorang suami kepada Imel. " ujar ibu tegas
" Kewajiban yang bagaimana lagi Bu? Kalau untuk menafkahi dia, ibu nggak usah khawatir. Asalkan Damar udah balik kerja di keluarga Adiguna, Damar akan kasih nafkah tiap bulan ke dia. "
" Bukan kewajiban itu yang ibu maksud. "
" Lalu apa Bu? "
" Menggauli istrimu. Jika masih tidak mengerti, tiduri istrimu. " ujar sang ibu dengan suara agak keras.
Damar melongo mendengar ucapan ibunya. " Bu, meniduri seseorang bukan hal yang mudah. Mana bisa Damar meniduri perempuan yang bahkan Damar baru mengenalnya kemarin pas hari pernikahan. Damar nggak cinta Bu sama dia. " kekeh Damar.
" Damar, justru pernikahan yang baik itu ya seperti ini. Mengenal, terus menikah. Berhubungan dengan yang sudah halal, itulah yang dianjurkan agama kita. Nggak ada pacar-pacaran, langsung nikah. "
" Bu .."
" Ibu nggak mau tahu. Jika kamu ingin kembali ke Jakarta secepatnya, maka lakukan dengan istrimu malam ini. Tas kamu, dompet kamu, ibu sita. Akan ibu kembalikan jika kamu sudah melakukan kewajibanmu. " ujar sang ibu, lalu beliau pergi dari hadapan Damar dengan menenteng tas dan dompet Damar yang berhasil beliau ambil tadi.
Damar menggeram sambil mengusap wajahnya kasar. Ia lalu menghempaskan pantatnya di atas sofa dengan kencang. Ia menjambak rambutnya dengan kedua tangannya dan kedua siku ia letakkan di atas kedua lututnya.
Damar terus berpikir, ia merasa sangat dilema. Bagaimana caranya ia meniduri istrinya, sedangkan rasa suka saja tidak ada di hatinya. Apa mungkin peliharaan yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik celananya bisa on?
Lalu apa kabar dengan gadis belia yang ia cintai dengan sepenuh hati dan juga mencintainya? Dan gadis itu sedang merindukan dan menunggunya untuk kembali.
' Pipiiiittt....' Damar memanggil gadis yang ia cintai dalam hatinya. ' Maafkan Abang....' serunya.
" Kopinya mas. " ucap seorang gadis yang membuat Damar yang sedang galau terkejut. Ia lalu menengadahkan kepalanya dan melihat istri barunya meletakkan secangkir kopi di atas meja.
__ADS_1
Imel tersenyum manis ke Damar saat Damar melihatnya sebentar. Damar mengalihkan pandangannya malas melihat perempuan yang sudah ia nikahi kemarin itu.
Senyuman yang terbit di bibir Imel meredup seketika. Hatinya terasa perih. Tapi Imel berusaha menguatkan hatinya, ia harus terima jika suaminya bersikap dingin kepadanya. Bagaimanapun juga, dialah yang mencintai, bukan suaminya. Dialah yang menginginkan pernikahan ini, bukan Damar.
" Imel ke belakang dulu ya mas." pamit Imel ke Damar dengan menundukkan kepalanya.
Damar tidak menjawab. Ia malah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan memejamkan matanya. Lidahnya terasa malas hanya untuk sekedar menjawab pamitan istrinya.
Selama seharian ini, Damar di buat galau oleh permintaan sang ibu pagi tadi. Bahkan kini saat malam menjelang, kakinya terasa berat untuk di bawa masuk ke dalam kamar. Damar mengambil ponselnya dan membuka galeri hpnya. Di dalam galerinya, banyak foto-foto Pipit yang ia ambil secara diam-diam. Ia pandangi foto itu dengan rasa bersalah yang menggelayuti hatinya.
" Sudah malam. Kenapa belum tidur? " tanya sang ayah.
" Bentar lagi yah. " sahut Damar.
" Maafkan ayah nak, sudah membuat pilihan hidup yang tidak sesuai dengan keinginanmu. " ayah Damar merasa sangat bersalah terhadap anaknya. Tapi beliau juga tidak bisa melakukan apapun.
" Sudahlah yah. Semuanya sudah terjadi, tidak perlu di sesali. "
" Loh, kok malah pada ngobrol disini? Sudah malam loh ini. " ujar sang ibu yang tiba-tiba nongol. " Ayah, sebaiknya ayah segera istirahat. Ingat, ayah tidak boleh kecapekan. "
" Iya Bu. Ayah istirahat sekarang. " sahut sang ayah. " Dam, ayah ke kamar dulu. " pamit sang ayah sambil menepuk pundak Damar. Damar hanya mengangguk dan tersenyum.
Lalu ayah Damar pergi, meninggalkan Damar bersama sang ibu.
" Ini, ibu tadi bikinin jamu buat kamu. Biasanya kalau pulang, kamu selalu minta di buatin jamu sama ibu." ujar sang ibu sambil mengangkat segelas jamu yang beliau buat tadi.
Damar menerima gelas yang di ulurkan oleh sang ibu.
" Cepetan di minum, di habisin, terus masuk kamar. Istrimu sudah masuk ke kamar sedari tadi. " seru ibu.
Damar mengangguk, lalu segera menenggak jamu buatan sang ibu. Tapi setelah jamu itu ia minum separo, Damar menghentikan minumnya.
" Bu, kok rasanya agak aneh, nggak seperti biasanya? " tanya Damar sambil melihat jamu di dalam gelas.
" Oh, itu...tadi ibu beli bahannya bukan di langganan ibu. Mungkin kualitasnya beda dari yang biasanya. " ujar sang ibu dengan agak bingung dengan pertanyaan Damar. " Udah, Cepetan di habisin. Kalau mengendap nanti makin nggak enak. " lanjutnya.
Damar kembali menenggak jamu itu sampai habis tak bersisa. Setelah gelas itu kosong, ibu mengambilnya dari tangan Damar sambil dengan senyum smirknya.
" Selamat menjalani malam panjang yang indah. Hati-hati dan pelan-pelan kalau mau menggarap sawah. Istrimu itu masih perawan. Ibu tadi cuma campur ramuan penguatnya dikit kok. " seru sang ibu sambil tersenyum.
" Maksud ibu penguat apa? "
__ADS_1
" Penguat belalai gajah kamu, biar nggak letoy. Ibu jamin, dia akan langsung berdiri tanpa harus kamu mencintai istri kamu. " seru sang ibu sambil menunjuk bagian bawah Damar dengan dagunya.
Damar mengikuti arah pandang sang ibu. Jadi.....
" Ibu ..." pekik Damar. " Ibu tega ya ngerjain anak sendiri. " protes Damar geram.
" Ibu cuma bantuin menyelesaikan masalah kamu. Ibu tahu, sedari pagi kamu galau, bingung gimana caranya biar belalaimu berdiri saat bersama istri yang belum kamu cintai itu. Nah, kan...ibu kasih solusinya. " sahut sang ibu sambil tersenyum menyeringai.
" Bu ...." teriak Damar. Tapi kemudian ia menundukkan kepalanya menatap gajah kecilnya. Sepertinya ramuan sang ibu sangat manjur. Gajah kecil itu seperti sudah mulai bertransformasi menjadi lebih besar dan akan semakin membesar dan berdiri tegak.
" Sepertinya mang tukang jamu tadi bener. Buruan masuk ke dalam kamar. Kasihan tuh gajah kamu, bentar lagi marah-marah dia. " seru sang ibu kembali.
Damar menggeleng, " Nggak Bu. Damar mau tidur di sini aja. "
" Itu terserah kamu, kalau kamu masih ingin berlama-lama di sini untuk mengenal istrimu lebih lama lagi, ibu malah senang. Tapi kalau kamu sudah merindukan gadis yang kamu cintai, cepat selesaikan kewajiban kamu malam ini. " seru ibu lalu beliau melenggang meninggalkan Damar sendiri di ruang tamu.
" Tega banget si emak..." gerutu Damar yang sudah mulai merasa nyeri dan keras di bagian bawahnya. Tubuhnya juga sudah mulai memanas, keringat mulai keluar.
" Oke, sesuai keinginan emak ..Ayo, gajah kecilku, kita lakukan kewajibanmu sekarang, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jadi besok kita bisa kembali ke Jakarta. " gumam Damar menyemangati dirinya.
Ia lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pelan pintu kamarnya, dan menutup dengan perlahan juga. Terlihat sang istri sedang membersihkan wajahnya dengan kapas dan pembersih wajah. Dia langsung menoleh saat mendengar suaminya masuk ke dalam kamar.
" Mas. " sapanya. Ia langsung berdiri dan hendak berjalan ke almari untuk mengambilkan baju ganti untuk sang suami.
" Nggak usah. " seru Damar.
' Ngapain ambilin baju segala. Bukankah yang kamu mau nanti aku telanjang. ' batin Damar sambil melirik istrinya yang sedang berjalan kembali mendekati tempat tidur.
Damar naik ke atas ranjang mendahului sang istri. Saat istrinya sudah menyusul naik ke atas tempat tidur, Damar langsung membalikkan tubuhnya dan menindih sang istri dan membuat istrinya terkejut setengah mati.
" Ini kan yang kamu mau? Kita lakukan secepatnya. Cepat di mulai, maka akan cepat selesai. " ujar Damar sambil menaikkan gaun tidur milik istrinya.
Hanya dengan melakukan pemanasan ala kadarnya, Damar segera menunaikan kewajiban yang sedari pagi di bicarakan sang ibu. Dengan gerakan cepat, tanpa menghiraukan sang istri yang nampak menahan sakit namun juga nikmat, Damar memuntahkan lahar panasnya ke dalam rahim sang istri.
**Flash back off
***
bersambung**
...Nah, guysss ....udah nggak penasaran lagi kan? Cus ..besok kita kembali ke Jakarta.... Kembali ke Bryan dan Pipit... Melihat bagaimana Bryan dan Pipit akan saling mendekatkan diri.....
__ADS_1
...Jangan lupa di like ya....😍😍...
...Salam lope-lope sekarung.......