
" Bry, cepetan kamu kesini. Istrimu....." ucap Nyonya Ruth.
Tanpa menunggu penjelasan dari nyonya Ruth, Bryan mengakhiri panggilan itu dan segera beranjak keluar dari ruang prakteknya. Ia begitu cemas dan khawatir.
" Kenapa dengan istriku? Ya Allah, semoga istriku baik-baik saja. " gumam Bryan sambil terus berjalan meninggalkan gedung rumah sakit.
Buru-buru Bryan masuk ke dalam mobil dan segera keluar dari pelataran parkir rumah sakit. Bahkan karena terburu-buru, Bryan tidak sempat mengganti jas yang ia pakai. Saat ini, ia masih mengenakan jas dokter berwarna putih.
Mobil yang Bryan kendarai memecah kepadatan lalu lintas di ibukota. Bahkan beberapa kali ia sempat mengumpat karena terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan. Beberapa kali juga ia mengusap wajahnya kasar.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya mobil yang Bryan kendarai sampai di depan rumah besar keluarga Adiguna. Ia menghentikan dan memarkirkan mobilnya sembarangan. Dengan terburu-buru, ia turun dari dalam mobil.
" Sayang, jangan naik kesana. " teriak nyonya Ruth merayu Pipit. " Sayang, kamu bisa jatuh nak. Kalau kamu mangganya, biar di ambilkan sama pak Umar. " lanjutnya.
" Mama tenang aja. Pipit udah biasa manjat pohon kayak gini. " sahut Pipit yang sudah mulai memanjat pohon mangga yang berada di halaman belakang rumah.
" Nak....jangan naik ..ingat, kamu sedang hamil. " kini giliran tuan Adiguna yang berteriak.
" Papa sama mama nggak usah khawatir. Pipit dan bayi Pipit pasti akan baik-baik saja. " sahut Pipit sambil tangan kirinya memegang ranting pohon, dan tangan kanannya mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Bryan mengikuti arah suara tuan dan Adiguna yang sedang berteriak-teriak di halaman belakang. Dengan tergopoh-gopoh, Bryan menyusul ke halaman belakang.
" Astaghfirullah haladzim...." pekik Bryan saat ia sampai di halaman belakang dan melihat istrinya sedang memanjat pohon mangga dan sudah hampir sampai di atas.
Bryan berlari menyusul tuan dan nyonya Adiguna.
" Honey...." panggil Bryan.
" Ah, untung kamu cepat datang. Ayo cepat bujuk istrimu untuk turun. " ucap Nyonya Ruth.
" Honey, kamu ngapain? " seru Bryan.
" Manjat pohon lah. Udah tahu nanya. " jawab Pipit santai sambil terus memanjat pohon.
" Iya, aku tahu kamu lagi manjat pohon mangga. Tapi buat apa? Kamu mau makan mangga? Biar...."
" Biar di ambilin sama suami kamu ya nak. Biar Bryan yang manjat pohonnya. " potong nyonya Ruth.
Spontan Bryan menoleh ke Nyonya Ruth, " Ma...." protes Bryan.
__ADS_1
" Ayo cepetan kamu yang manjat. " ujar Nyonya Ruth sambil memukul lengan Bryan.
" Ma, mama tahu sendiri kan, Bryan nggak bisa manjat. Apalagi manjat pohon mangga yang tingginya kayak gini. " sahut Bryan sambil menatap pohon mangga yang menjulang tinggi di depannya. " Kalau manjat istri sih pasti bisa. " gumamnya.
Plak
Nyonya Ruth memukul kembali lengan Bryan. Dan kali ini lebih keras.
" Sakit ma. " protes Bryan sambil mengelus lengannya. " Ma, mending panggilin pak Umar aja deh ma. Biar pak Umar yang manjat. " usul Bryan.
" Dari tadi istrimu di tawarin pak Umar nggak mau. Dia mau manjat sendiri. " jawab tuan Adiguna sambil berkacak pinggang dan mengawasi Pipit yang sedang memanjat pohon. " Setelah ini, aku akan menyuruh orang untuk menebang pohon mangga ini. " gumam tuan Adiguna.
" Papa bener. Daripada bikin anak kita dan calon cucu kita dalam bahaya. " tambah nyonya Ruth.
" Honey, turun yuk. Kamu kalau mau mangga, biar di ambilin pak Umar. Atau kita beli aja di supermarket. Ya? " seru Bryan.
" Nggak mau. Pipit maunya ambil sendiri langsung dari pohonnya. " jawab Pipit dengan teriak karena ia sudah hampir di atas pohon.
" Ya udah, kita cari pohon mangga yang cetek aja. Nanti kamu bisa ambil sendiri nggak usah pakai manjat. " seru Bryan kembali masih merayu istrinya.
" Nggak mau. Orang Pipit udah nyampe juga kok. Nih, lihat. " ujar Pipit yang sudah nangkring di atas pohon.
Bryan, tuan dan nyonya Adiguna menepuk jidat mereka bersamaan.
" Kalau ngidamnya istri Bryan seperti itu, Bryan akan dengan senang hati di rumah tiap hari ma. " sahut Bryan. " Kalau Pipit ma, nyidamnya memang luar biasa. Bahkan dia selalu tidak mau Bryan sentuh. Dia akan marah-marah jika Bryan merayunya. " lanjutnya.
" Ha....ha....ha.... Casanova puasa rupanya. " sahut tuan Adiguna sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk pundak Bryan.
" Abang....ayo naik sini ..Asyik loh di sini. Sambil makan rujak, mangganya fresh from the tree. Ha...ha ..ha .." teriak Pipit yang sedang memakan mangganya dengan mencolokkannya dengan bumbu rujak yang tadi sudah ia bikin di dapur.
Bryan kembali melihat ke atas pohon. Ia menghela nafas berat dan panjang.
Bryan , tuan dan nyonya Adiguna menunggui Pipit sampai ia bosan berada di atas pohon. Entah sudah habis berapa biji mangga selama Pipit di atas pohon.
" Bang, Pipit mau turun sekarang. " teriak Pipit dari atas pohon.
" Sebentar. " sahut Bryan.
" Pa, ada matras nggak? Atau kasur aja deh. Kita taruh di bawah pohon. Buat jaga-jaga kalau Pipit sampai terjatuh. " tanya Bryan kembali panik.
__ADS_1
" Oh, matras? Ada...ada...Ma, cepat panggil pak Umar suruh bawa matras kesini. " sahut tuan Adiguna.
Nyonya Ruth mengangguk lalu segera berteriak memanggil pak Umar, " Pak Umar ..." panggil Nyonya besar.
" Iya nyah. " sahut pak Umar yang kebetulan sedang melintas di halaman belakang.
" Pak, ambilkan matras tebal yang ada di ruang fitness bawa kesini. Cepet ya pak. " titah nyonya Ruth.
" Baik, nyah. " pak Umar segera masuk ke dalam rumah dan mengambil matras.
" Honey, jangan turun dulu, tunggu pak Umar ambilkan matras. " teriak Bryan saat ia melihat Pipit sudah mulai turun.
" Kelamaan. Pipit udah pengen turun. " sahut Pipit sambil terus turun dari pohon secara perlahan.
Bryan segera mendekati pohon mangga itu. Ia bersiap-siap untuk menangkap istrinya jika tiba-tiba istrinya terpeleset atau bagaimana.
Wajah panik dari ketiga orang yang sedari tadi berada di bawah pohon terlihat sangat jelas. Tapi berbeda dengan raut wajah perempuan yang sedang turun dari atas pohon itu. Wajahnya berbinar cerah.
" AWAS BAAANGGG....." teriak Pipit yang membuat ketiga orang itu semakin panik. Apalagi Bryan. Wajahnya benar-benar tegang. Ia lalu menengadahkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap istrinya.
" Ahhh akhirnya...." ujar Pipit saat ia sudah berada di bawah dengan selamat.
Pok.....pok....pok....
Pipit menepuk-nepuk bajunya untuk membersihkannya dari kotoran yang ada di pohon mangga tadi. Lalu menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan tangannya. Setelahnya, ia mengelus perutnya dengan wajah yang sangat puas.
" Honey, kamu mengerjaiku? " ujar Bryan dengan nada suara dan wajah yang datar.
Pipit mengangkat kepalanya saat mendengar suara Bryan yang datar. " Maksudnya mengerjai bagaimana? "
" Tadi kamu teriak sangat kencang. "
" Ya kan Pipit udah mau sampai bawah, tapi Abang menghalangi tempat Pipit landing. Ya Pipit teriak lah. Biar Abang minggir. Eh, malah Abang bengong aja. Jadinya kan Pipit harus sedikit bergeser landingnya. " protes Pipit.
" Aaa...." teriak Pipit saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Bryan mengangkat tubuhnya ala bridal style dan segera membawanya masuk ke dalam rumah. Tuan dan nyonya Adiguna mengikuti mereka dari belakang.
" Bang, Pipit bisa jalan sendiri. " ujar Pipit sambil menggoyangkan tubuhnya supaya Bryan menurunkannya.
" Bisa diam tidak? Kalau kamu tidak diam, aku mencium bibirmu meskipun kamu tidak mau. " ancam Bryan. Dan ancaman Bryan berhasil. Pipit langsung terdiam.
__ADS_1
***
bersambung