
" Loh, kok udah sampai sini bang? Kapan nyampenya?" tanya Pipit saat ia sampai di ruang tengah lantai dasar.
" Udah dari tadi. " jawab Bryan sambil meletakkan majalah bisnis ke atas meja. " Kamunya aja yang kelamaan. "
" Masak sih? " Pipit melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. " Perasaan nggak deh. Ini baru mau satu jam dari waktu yang Pipit bilang tadi. "
" Kamu ini mandi merk apa? Lama banget. Mandi masak sampai satu jam. " decak Bryan.
" Kalau mandi ya paling setengah jam doang. Pipit kan harus beresin kamar dulu. Tadi pagi belum sempat beres-beres. Emang mandi ada merk'nya bang? "
" Ada. Udah nggak usah di bahas. Makin tambah lama. " sahut Bryan sambil beranjak berdiri.
" Serah deh. Eh, abang udah duhuran? "
" Ini baru mau. Abang sholat di kamarmu. " ujar Bryan.
Pipit mengangguk. " Pipit tunggu di sini. " Pipit sedikit teriak karena Bryan terus berjalan. " Abang, di kamar nggak usah pakai lihat-lihat barang-barangnya akyuh ya .." lanjutnya, sekarang lebih kencang teriaknya.
Bryan menjawab ucapan Pipit dengan melambaikan tangannya sambil berjalan menaiki tangga.
Setelah sekitar 15 menit, Bryan sudah kembali menghampiri Pipit di ruang keluarga.
" Yuk, kita berangkat. " ajak Bryan.
" Eh, udah selesai? " tanya Pipit agak terkejut karena ia masih fokus dengan ponselnya.
" Hem. "
Pipit beranjak bangun dari duduknya sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel kecilnya.
" Yuk. " ajaknya. Lalu mereka segera pergi keluar menuju mobil Bryan yang terparkir di depan rumah.
Setengah jam kemudian, Bryan dan Pipit sampai di tujuan. Bryan mengajak Pipit makan siang sekaligus makan pagi bagi Pipit.
" Kita makan bang? " tanya Pipit sambil mengamati restoran yang ada di depannya.
" Hem. Emang kamu nggak lapar? Dari pagi kamu belum makan. " tanya Bryan sambil melepas seat belt.
" Ya laper lah. " jawab Pipit sambil membuka seat beltnya juga.
Lalu mereka berdua sama-sama turun dari mobil dan berjalan menuju ke restoran. Memesan makanan, menikmatinya, dan segera membayarnya setelah mereka selesai makan.
__ADS_1
Setelah makan, mereka kembali ke mobil.
" Kita terus pulang bang? " tanya Pipit sembari memasang seat beltnya.
" Kita jalan-jalan dulu. Mumpung weekend. Kamu mau kemana? " tanya Bryan sambil memundurkan mobilnya untuk keluar dari area parkir.
" Mmmm.....Kemana ya? " Pipit nampak berpikir. " Pipit bingung. Terserah abang ajalah mau kemana. "
" Mau ke rumah kakak kamu? " tanya Bryan sambil menoleh ke arah Pipit sebentar.
" Nggak lah. Besok pagi aja. " jawab Pipit. Bukannya tidak mau ke rumah kakaknya, tapi ia enggan bertemu dengan Damar. Tapi karena kalau hari Minggu Damar libur, maka besok ia akan ke rumah Armell.
" Oke, kalau gitu, hari ini kita nge-date. Selayaknya orang-orang pada umumnya. Nonton di bioskop, jalan-jalan ke mall. Bagaimana? " tanya Bryan.
" Oke. Ide yang bagus. " jawab Pipit. " Let's go bang. Kita habiskan weekend ini dengan berkencan. " lanjutnya penuh semangat, membuat Bryan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana Bryan tadi. Jalan-jalan ke mall sambil bergandengan tangan, kemudian nonton bioskop, nongkrong di cafe, dan membuat orang lain yang melihat di buat iri. Bercanda tawa sambil bergandengan tangan, membuat mereka terlihat mesra di mata orang lain. Mereka menghabiskan hari Sabtu ini dengan bersenang-senang berdua.
Setelah puas menghabiskan malam Minggu bersama, Bryan mengajak Pipit ke sebuah taman. Membelikannya camilan, dan juga minuman.
" Ke taman juga bang? Ngapain? " tanya Pipit sambil mengamati sekitar.
" Nge-date kan. Tadi kan Abang bilang, kita bakalan nge-date ala orang-orang kebanyakan. " sahut Bryan. " Mmm, mau beli camilan? Ada cilok tuh. Ada dadar gulung juga. Ada sosis bakar..Ada....jasuke..."
" Untuk hari ini, pengecualian. Kamu boleh jajan sesukamu. " jawab Bryan enteng. Karena ia yakin, pipit tidak akan kuat jajan banyak. Ia habis makan malam tadi.
" Yeeee....Asyik....Pipit udah kangen banget jajanan kayak gitu. Jangan nyesel ya bang. " seru Pipit kegirangan.
" Iya ah. Cepetan mau beli apa. "
" Tapi Abang juga ikut makan ya? "
Bryan langsung menggeleng kuat.
" Ihh Abang nggak asyik. " sahut Pipit sambil cemberut. Ia lalu berhenti melangkah. Tidak jadi beli makanan.
" Gitu aja ngambek sih honey. Jadi gemesh. Abang tuh udah kenyang. Perutnya udah nggak muat. " Bryan memberi pengertian.
" Ya udah deh terserah Abang. Pipit mau jajan dulu. Abang yang bayarin. "
" Hem. "
__ADS_1
Lalu Pipit segera melanjutkan langkahnya. Membeli semua jenis jajanan yang ada di situ. Membuat Bryan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia salah tadi menawari istri kecilnya itu untuk membeli jajanan pinggir jalan.
Saat Pipit hendak membeli minuman, Bryan melarang. " Beli air mineral aja. Jangan yang manis-manis lagi. Kamu udah beli jajanan yang banyak mengandung minyak dan lemak. "
" Ihhh, iya..iya pak dokter. " jawab Pipit agak kesal. Ia akhirnya menuruti Bryan untuk membeli air mineral.
Setelah membeli minuman, Bryan lalu mengajak Pipit duduk di bangku taman itu. Nampak di taman itu juga ada beberapa pasangan.
" Hmmm....enak banget kayaknya. Baunya aja enak. " ujar Pipit sambil menghirup aroma makanan yang ia beli tadi. Lalu ia mulai mencicipinya. Nampak wajah bahagia. Bryan merasa senang melihat wajah bahagia istri kecilnya. Hanya dengan makanan kecil yang tak seberapa harganya itu, Pipit terlihat sangat senang.
Dan apa yang di lihat Bryan itu benar adanya. Pipit memang sedang bahagia hari ini. Ia bisa melupakan kegalauannya. Lalu mereka saling mengobrol dengan pipit yang sibuk mengunyah makanan itu.
" Pit, sudah memikirkan apa yang di minta ibu? " tanya Bryan tiba-tiba.
Pipit langsung menoleh. " Ibu emang minta apa bang? " tanya Pipit.
Bryan menghela nafas. Tujuannya mengajak Pipit selama setengah hari ini, adalah untuk membicarakan hal ini. Membicarakan kelanjutan pernikahan mereka. Membicarakan masa depan mereka.
" Menikah secara hukum denganku. "
Pipit langsung terdiam. Bahkan makanan yang masih di dalam mulutnya, terasa kesat. Sehingga susah untuk di telannya.
Pipit benar-benar lupa dengan permintaan ibu ini. Karena sibuk dengan kegalauannya, ia sampai lupa memikirkan permintaan sang ibu.
" Udah di pikirin? " tanya Bryan lagi.
" Abang sendiri gimana? " tanya Pipit penuh ke hati-hatian. Ia meletakkan plastik dadar gulung yang sudah ia makan beberapa tusuk.
" Abang...Abang ikut yang kamu inginkan. Kalau kamu mendaftarkan pernikahan secara hukum, ayo. Kalau kamu cuma ingin secara agama kayak gini...Abang terserah kamu. " ucap Bryan dengan suara yang agak lirih saat di akhir kata-katanya.
" Nggak bisa gitu dong bang. Abang juga harus menentukan sesuai apa yang Abang mau. Jangan asal ikut keinginan Pipit. Abang kan juga punya hidup Abang sendiri. Jangan karena Abang merasa tidak enak sama ibu, tidak enak sama bang Seno, mbak Mell, mama, papa, terus Abang mengikuti semua keinginan pipit. Ya kalau keinginan Pipit juga sesuai dengan keinginan Abang. Kalau nggak, masa depan Abang taruhannya. " cerca Pipit dengan wajah yang agak menunduk.
" Apa boleh Abang bilang, apa yang Abang mau? " tanya Bryan hati-hati.
" Ya boleh lah bang. Pipit kan juga pengen tahu keinginan Abang itu apa. " dengan sekuat tenaga Pipit mengatakan ini. Sebenarnya ia takut dengan jawaban Bryan. Tapi daripada ia terlalu berharap dan akhirnya malah sedih di kemudian hari, mending sedih sekarang sekalian.
" Beneran? Jika Abang mengatakan keinginan Abang, kamu janji bakalan memikirkan keinginan Abang itu? " tanya Bryan kembali.
Pipit mengangguk dengan samar-samar dan penuh keragu-raguan. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Berusaha mengurangi detak jantungnya yang bertalu-talu.
Bryan melihat anggukan Pipit, lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
***
bersambung