
Hari berganti dengan hari. Hari ini, Seno, Armell, Pipit, juga Bryan, dan si kecil baby Dan akan pergi ke kampung halaman Pipit untuk menjenguk sang ibu yang sudah 3 bulan lebih tidak bertemu.
Saat ini, mereka sudah berkumpul di rumah Seno. Semua barang-barang keperluan mereka sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Mereka pergi ke kampung halaman Pipit dengan membawa mobilnya Pipit, karena Pipit ingin mengantar ibunya kemana-mana dengan mobil barunya itu saat di kampung nanti.
" Semua sudah siap? Kebutuhan si kecil, jangan sampai ada yang ketinggalan. " ujar nyonya Ruth sambil menggendong si kecil yang telah berusia 4 bulan itu.
" Sudah semua ma. Kita tinggal berangkat. "
" Kalian hati-hati di jalan ya. Jangan lupa ngabarin mama kalau sudah sampai sana. "
" Siap nyonya. " jawab Bryan sambil memberikan hormat ke nyonya Ruth seperti memberi hormat ke bendera.
" Kamu ini. " omel Nyonya Ruth.
" Ya udah yuk, sayang, ikut mommy. " ujar Armell sambil mengulurkan tangannya di depan baby Dan. Dan baby Dan segera menyambut uluran tangan sang mommy. Kini Danique sudah berpindah tangan.
" Kalian berdua, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut. " kini tatapan tajam penuh dengan ultimatum nyonya Ruth layangkan ke Seno dan Bryan.
" Mama tenang aja. Kami pasti hati-hati. " jawab Seno mewakili semuanya. " Kami pamit dulu ma, pa. " pamitnya ke nyonya Ruth dan tuan Adiguna sambil menjabat dan mencium punggung tangan mereka. Lalu diikuti oleh Bryan, Pipit, juga Armell.
" Jangan rewel dan ya sayang. " ujar nyonya Ruth ke baby Dan lalu mencium dahi, dan kedua pipi baby Dan.
Lalu tuan Adiguna juga melakukan hal yang sama, sambil berkata, " Kalau pengen pup, pas kalau di pangku sama Daddy atau uncle aja ya. " ucapnya sambil tersenyum menyeringai. Beliau tahu jika dua orang itu sangat tidak suka dan tidak bisa melihat pup bayi.
" Papa ini. " protes Seno.
" Minta uang saku sama grandpa baby. Cucunya mau jalan-jalan, masak iya nggak di kasih uang saku. Grandpa pelit ya nak. " ucap Bryan sambil melirik ke arah tuan Adiguna.
" Ck. Danique perginya sama Daddy-nya. Dia sekarang lebih kaya daripada aku. Semua aset perusahaan sudah jadi milik dia. Bahkan gajiku sekarang tinggal gaji pensiunan. " sahut tuan Adiguna.
" Sudah ..sudah ..sana cepetan berangkat. Keburu siang, nanti sampai sana kemaleman. " ujar Nyonya Ruth menengahi pembicaraan yang bakalan sampai siang itu.
" Iya ma. Kami berangkat dulu. Assalamualaikum. " pamit Armell.
__ADS_1
Lalu mereka segera berbalik badan dan berjalan menuju mobil Pipit yang sudah siap di depan pintu. Armell melambaikan tangan mungil milik baby Dan sambil berjalan ke arah grandpa sama grandma nya.
" Bye bye...grandpa...bye bye grandma..." ujar Armell dengan suara mirip anak-anak.
" Bye bye ..sayang ...Emmuach..." sahut Nyonya Ruth sambil memberi ciuman jauhnya. Sedangkan tuan Adiguna melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Bryan telah masuk ke belakang kemudi. Ia yang akan menyetir lebih dulu. Lalu Seno menyuruh Pipit duduk di samping Bryan. Ia, Armell dan baby Dan akan duduk di jok belakang.
" Damar...." panggil Seno ke damar yang sedari tadi memperhatikan mereka. Lebih tepatnya memperhatikan Pipit.
" Iya tuan. " sahut Damar lalu segera berlari mendekati Seno.
" Saya titip rumah. Jaga baik-baik. Dan tinggal lah di sini sampai kami kembali. " ucap Seno setelah Damar berada di depannya.
" Baik, tuan. " Sahut Damar sambil menganggukkan kepalanya. " Selamat jalan, tuan, nona. " ucap Damar ke Seno juga ke Armell. " Hati-hati di jalan dokter Bryan. " ucap Damar sambil menganggukkan kepala ke Bryan yang sudah berada di belakang kemudi. Damar melirik sekilas ke arah Pipit yang berada di samping Bryan.
" Ya udah, kami berangkat dulu. " ucap Seno sambil menepuk pundak Damar. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil. Sedangkan Damar segera memberi isyarat ke satpam untuk membuka pintu gerbang.
π§
π§
Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam, Bryan dan yang lainnya akhirnya sampai di depan rumah mungil nan asri milik ibu Armell. Perjalanan yang biasa mereka tempuh selama 5 jam, kali ini mereka menempuhnya selama 7 jam. Karena mereka membawa seorang bayi. Jadi jika baby Dan sudah merasa bosan, maka mereka akan berhenti dan membawa baby Dan keluar dari mobil dan jalan-jalan.
Mereka keluar bersamaan dari dalam mobil dan Pipit segera membuka gerbang kayu yang ada di depan rumahnya.
" Assalamualaikum..." ucap Pipit saat tiba di depan pintu. Rumah itu nampak sepi karena hanya ibunya yang tinggal di sana. Lampu depan, lampu tengah, sudah pada hidup karena saat itu sudah pukul setengah 6 petang.
" Waalaikum salam..." jawab sang ibu dari dalam. Beliau nampak berjalan cepat keluar.
" Masyaallah...." sang ibu nampak terkejut saat melihat semua anak-anaknya juga cucunya tiba-tiba ada di hadapannya, beliau sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
" Ibu ..." seru Pipit lalu memeluk tubuh ibunya. Ibu membalas pelukannya. " Sehat kan Bu? " tanya Pipit sambil matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
" Iya. " jawab ibu sambil mengangguk. " Ibu sehat. " lanjutnya.
Lalu pelukan mereka saling mereka lepaskan. Kini giliran Armell yang memeluk tubuh ibunya karena baby Dan sedang dalam gendongan Bryan. Lalu Seno juga melakukan hal yang sama yang sebelumnya menjabat tangan sang ibu mertua baru memeluknya.
Terakhir, Bryan juga melakukan hal yang sama seperti Seno ke ibu mertuanya. Setelah berpelukan dengan semua anak-anaknya, Bu Ani lalu mengambil cucunya dari gendongan Bryan.
" Duhhhh, cucu nenek udah besar ya. Uluh....uluh....gemolnya badan kamu nak..." ujar Bu Ani sambil mencium seluruh wajah baby Dan dan membuat Danique terkekeh geli.
" Eh, ayo masuk. Kok malah masih pada di depan pintu. " ajak sang ibu. Lalu semua masuk ke dalam rumah.
" Abang bule mau Pipit buatin minum apa? Jahe panas, teh, atau kopi? "
" Yang pasti, jangan kasih dia teh celup kalau kamu ingin dia berubah. " sahut Seno dan sesaat kemudian ia mendapat gaplokan dari Bryan.
" Jahe panas aja. " jawab Bryan.
" Bang Seno sama juga mau jahe panas? Atau mau teh celup? Kalau mau, Pipit cariin yang bisa di celup. " ujar Pipit yang membuat kakak iparnya menatapnya tajam.
" Hati-hati kamu kalau bicara. Kalau sampai dengar kakak kamu, bisa hancur kebahagiaanku. " ucap Seno.
" Ya udah, Abang mau minum apa? " tanya Pipit sambil tersenyum jahil.
" Kopi aja. " jawab Seno. Lalu Pipit masuk ke dalam menyusul sang ibu dan sang kakak yang sudah masuk duluan.
Seno dan Bryan duduk menyandarkan punggungnya di sofa sambil memejamkan matanya lelah, sambil menunggu Pipit atau Armell membawa minuman mereka.
***
bersambung
Double up gengs.... Jam segini othor udah up dua episode yach...jadi kalian jangan minta nanti sore up lagi...Capek nulisnya...βΊοΈβΊοΈ... insyaallah besok othor update lagi....
Salam lope-lope sekarung deh buat kalian semua....ππππ
__ADS_1