Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Hareudang


__ADS_3

" Wah, beneran bang, kita terlambat. " ujar Pipit sambil menengok ke dalam hall saat mereka tiba di hotel.


Terlihat di dalam hall, kakak juga kakak iparnya sudah berada di atas panggung. Pipit memajukan langkahnya perlahan, lalu mengintip dari pojok pintu.


" Wuaahhhh....Megah banget...Ada pohon sakuranya juga... Canggih bener WO-nya yak, bisa nanem pohon sakura di dalam gedung gini... gede-gede lagi pohonnya.." celoteh Pipit terkesima dengan pemandangan yang ada di dalam hall, membuat Damar sedikit terkekeh melihat kepolosan gadis belia di hadapannya.


Damar melangkah masuk ke dalam ruangan melewati Pipit yang masih asyik mengintip sambil sesekali berjinjit.


Melihat Damar masuk ke dalam hall tanpa mengajak dirinya, Pipit segera meraih ujung jas Damar bagian lengan. Membuat si pemilik berhenti melangkah dan menoleh.


" Bang Damar mau kemana? " tanya Pipit setelah Damar menoleh ke arahnya.


" Masuk ke dalam. " sahut Damar sambil menunjuk dalam hall dengan jari telunjuk kirinya.


" Kok Pipit nggak di ajak sih? " protes Pipit sedikit kesal, bahkan ia memanyunkan bibirnya ke depan.


Damar di buat makin gemas rasanya.


" Kirain non Fitria mau ngintip aja dari sini. " sahut Damar sambil terkekeh.


" Ihhh...ya nggak lah bang Damar yang ganteng... Pipit juga mau masuk, tapi takut, nggak PD. "


" Takut? " tanya Damar sambil mengernyit.


" Iya, kan Pipit pakai high heels kayak gini. Pipit mana pernah pakai high heels yang tingginya sampai 7 senti. Pakai yang hell'snya 2 senti aja nggak pernah. Pipit kan biasanya pakai sepatu sneaker, jadi Pipit takut jatuh. Masak iya Pipit jalannya harus slow motion atau harus merembet dinding. Di kira cicak dong. " celoteh Pipit panjang lebar.


Memang sedari tadi, Pipit selalu mengamit lengan Damar, ia takut jatuh karena mengenakan high heels.


" Tapi tidak enak di lihat keluarga anda, nona, jika anda meminta saya menggandeng nona. " sahut Damar keberatan.


Pipit kembali memanyunkan bibirnya. Kali tidak dua-duanya, tapi hanya bibir bawahnya. " Berarti Abang tega nih kalau Pipit jatuh kesrimpet, terus di ketawain orang satu gedung ini. " gerutunya, membuat Damar ingin menyaplok bibir itu rasanya.


" Bang Damar nggak sayang nih sama Pipit. "


" Sayang kok. "


Pug


Damar segera menepuk mulut lemesnya. Kok bisa kebablasan gini sih. Gerutu Damar dalam hati.


" Abang beneran sayang sama Pipit? ," tanya Pipit dengan wajah berbinar.


" Maaf, nona. Mulut saya keceplosan. Tadi nona bicara panjang lebar, jadi saya tidak sengaja mengikuti ucapan nona. " sahut Damar mengelak.


" Kirain .." sahut Pipit dengan nada kecewa.


Pipit semakin mendekati Damar, lalu kembali meraih lengan Damar dan mengamitnya. Sebenarnya Damar masih merasa keberatan,, tapi ia juga tidak tega membiarkan Pipit berjalan sendiri dengan susah payah. Karena ia sedari tadi memperhatikan Pipit, anak itu memang terlihat susah berjalan karena high heels nya.

__ADS_1


Baru satu langkah mereka melangkah, Pipit menghentikan.


" Bentar bang..." ucapnya lalu melepas lengan Damar. Lalu ia memegang bahu Damar sebagai pegangan karena ia akan berpindah tempat. Damar hanya memperhatikan tanpa mengeluarkan pertanyaan atau apa.


" Nah, gini baru bener. " ujar Pipit setelah ia berpindah posisi menjadi di sebelah kiri Damar. Ia kembali mengamit lengan Damar. " Ibu bilang, perempuan itu kalau jalan, sebaiknya di sebelah kiri laki-laki. Kalau di sebelah kanan itu kurang afdhol. "


Mereka kembali melangkah setelah posisi mereka berubah. Damar nampak tersenyum tipis mendengar perkataan Pipit tadi. Seorang gadis belia, bahkan masih ABG, mempunyai pandangan seperti itu. Sungguh luar biasa menurut Damar.


Saat Damar dan Pipit sudah berada di dalam hall, ada sepasang netra biru yang sedari tadi memperhatikan.


" Seperti kenal .." gumamnya. Ia terus memperhatikan, sampai akhirnya Damar dan Pipit semakin masuk ke dalam dan mendekatinya.


" Itu kan Pipit..." gumamnya kembali. Ia begitu terpesona dengan penampilan Pipit hari ini. Gaun yang indah yang memperlihatkan bentuk tubuh aslinya, membuat laki-laki itu mengusap dagunya. Pipit yang biasanya selalu mengenakan kaos juga celana, terlihat berbeda saat mengenakan gaun seperti ini. Ia terlihat begitu anggun dan cantik. Bahkan ia sama sekali tidak terlihat seperti anak SMA.


Setelah kejadian terciduknya dirinya saat sedang melakukan hal yang tidak-tidak oleh Pipit, Bryan sama sekali belum pernah bertemu kembali. Bahkan bertukar pesan saja tidak pernah, karena ia pernah mengirimkan pesan ke Pipit, tapi tidak di balas oleh Pipit.


Jantung Bryan tiba-tiba berdetak dengan kencang. Apalagi ketika Pipit semakin mendekatinya meskipun pandangan Pipit sama sekali tidak tertuju kepadanya. Ia bahkan menjadi salah tingkah sendiri.


Bryan mengalihkan pandangannya ke baby Arvin yang kini duduk bersama sang mama, Leora dan tuan Abraham. Sedari awal, Bryan duduk bersama mereka, karena ia tidak punya keluarga yang datang di pesta sahabatnya itu.


Untuk mengalihkan perhatian, ia kembali mengajak Leora juga tuan Abraham untuk ngobrol sambil sesekali menggoda baby Arvin. Tapi netranya juga sesekali melirik ke arah Pipit yang terlihat sedang berbicara hangat dan sedikit mesra dengan Damar. Itu menurut pandangan dan pikiran Bryan ya guys🤭🤭. Karena musik yang keras, membuat Pipit maupun Damar harus saling mendekatkan tubuh mereka saat ingin berbicara.


Melihat hal itu, tiba-tiba membuat tubuh dan hati Bryan memanas. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari Pipit dengan mengajak Leora mengobrol, tapi tetap saja matanya ingin melihat ke arah Pipit. Sedangkan Leora, sangat menikmati obrolannya bersama Bryan.


Ketika melihat Pipit sedang berdiri sendirian di pojokan tanpa ada Damar di sampingnya, tiba-tiba Bryan berdiri. Ada rasa ingin menghampiri sosok Pipit yang sedang sendirian.


" Mau kemana dok? " tanya Leora saat melihat Bryan beranjak dari duduknya.


" Hai. " sapa Bryan kala ia sampai di dekat Pipit.


Pipit menoleh ke arah samping. " Eh, om dokter. " sapanya balik sambil mengalihkan pandangannya ke depan kembali.


" Lo kenapa di sini sendirian? Nggak gabung sama keluarga Lo? " tanya Bryan basa-basi.


" Entar aja om. Mereka masih sibuk tuh. " sahut Pipit sambil menunjuk keluarganya dengan dagunya.


Bryan menghela nafas berat ketika mendapati sikap Pipit berubah terhadapnya.


" Tadi Lo kayaknya sama Damar. Kok Damarnya nggak ada? Kemana dia? " Bryan masih tetap berusaha mengajak Pipit ngobrol.


" Lagi di panggil temennya, di depan. "


Kali ini, Bryan mengusap wajahnya kasar. Sungguh susah bicara dengan bocah kecil begini. Batin Bryan.


" Lo ada hubungan sama Damar? " tanya Bryan to the point. Memang hal ini yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Akhirnya, ia bisa menanyakannya juga.


Pipit mengangguk sekenanya. Bryan merasa kecewa. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, lalu ia mengamati sekeliling. Lalu ia menunduk sambil mengatur debar jantungnya.

__ADS_1


" Kalian pacaran? " tanya Bryan kembali setelah ia mengangkat kepalanya.


" Maunya sih. Tapi kenyataannya tidak, kita hanya berteman dan dekat. "


Huft....Plong ..


Itu yang di rasakan Bryan di dalam hatinya. Ia menyunggingkan sedikit senyumannya.


" Jadi Lo suka sama Damar? " tanya Bryan kembali. Ia sangat ingin tahu hati si ABG ababil itu.


Belum sempat ia mendapatkan jawaban dari Pipit, terlihat ibu Pipit memanggil, mengajak Pipit bergabung dengan keluarga Adiguna di sebuah meja yang telah di siapkan.


Pipit nampak mengangguk ke ibunya, sambil berkata, " Sebentar. "


Pipit melongok ke arah pintu masuk, berharap ia segera melihat Damar memasuki ruangan kembali. Bryan mengikuti arah pandang Pipit sebentar, lalu kembali memandang Pipit.


" Lo, nungguin Damar? " tanyanya.


" He em.." sahut Pipit sambil mengangguk. " Lama amat sih bang Damar. Ibu udah manggil lagi." gerutu Pipit. Lalu ia kembali menatap ke depan. Kini ganti Nyonya Ruth yang memanggilnya.


Pipit mengangguk ke nyonya Ruth sambil berkata, " Sebentar, ma. "


Pipit kembali menoleh ke arah pintu masuk, tapi Damar masih belum terlihat.


" Kenapa harus nunggu Damar? Ibu sama Tante Ruth udah manggil Lo dari tadi. "


" Pipit takut jalan kesana sendiri. "


" Takut? "


" Takut jatuh, om. Om nggak lihat, Pipit pakai high heels tinggi bener kayak gini? Pipit takut kesrimpet terus jatuh kalau nggak ada yang megangi. "


Bryan dengan senang hati menyodorkan telapak tangannya di depan Pipit, membuat Pipit terkejut dan sedikit melangkah mundur.


" Ayo. " ajaknya sambil menggoyangkan tangannya dan menggerakkan kepalanya ke arah ibu Pipit berada.


Pipit masih belum bergeming.


" Mau nggak, di anter kesana? Kalau nunggu Damar bisa lama. Dia pasti ada pekerjaan yang harus di selesaikan. "


Dengan ragu-ragu, Pipit mengangkat tangannya perlahan dan meraih uluran tangan Bryan. Bryan tersenyum manis dan menatap wajah Pipit dengan mata birunya.


Bryan menggenggam tangan Pipit, lalu menuntunnya berjalan ke tempat sang ibu. Pipit semakin mempererat genggaman tangannya ke tangan Bryan kala mereka sudah mulai melangkah. Bryan menjadi berbunga.


" Lo cantik hari ini. " bisik Bryan di telinga Pipit, membuat Pipit sedikit menjauhkan tubuhnya karena terkejut.


" Om jangan macem-macem ya...."

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2